"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."
Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.
Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.
Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbingan atau Sayang-Sayangan?
...Selamat Membaca...
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
“Kata Celine kamu makan mangga muda dan kedondong?”
Gerakan tangan Asyara yang sedang membalikkan lembar skripsinya terhenti. Ia menatap Aksa. Ekspresinya berubah cemberut, antara kesal dan malu karena ketahuan. Ia tak menyangka Celine akan cerita pada Aksa.
“Celine cerita ke bapak?” tanya Asyara ketus.
Aksa mengangguk, santai. Pria itu melipat tangannya di dada, terlihat begitu angkuh. Senyum miring terbit di wajahnya ketika ia menatap Asyara. “Celine sudah tau.”
Seketika Asyara melotot. Spontan ia berdiri dari kursinya. “Apa?! Celine udah tau?”
“Iya Asyara.”
“Sejak kapan?!” tanya Asyara panik.
“Sehari setelah kita makan malam, sepertinya,” jawab Aksa ragu.
Asyara terduduk. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Bapak kenapa bilang sih? Kalau Celine mikir macem-macem sama saya gimana? Kalau dia marah sama saya gimana?” Asyara menangis dengan dramatis. Air matanya sama sekali tidak keluar, tak lama ia memelototi Aksa dengan garang.
“Tidak sopan melotot begitu pada dosenmu Asyara,” tegur Aksa. Nadanya datar, namun tersirat nada lembut di sana. Sebenarnya Aksa tak benar-benar menegur, justru ia menahan senyum melihat reaksi Asyara yang menurutnya lucu dimatanya.
“Ya salah bapak! Kenapa ngasih tau Celine, terus nggak bilang sama saya?!” ketus Asyara.
Aksa tertawa kecil. Ia menopang wajahnya, menatap Asyara lebih dekat. “Baik, saya minta maaf. Tapi soal mangga muda itu, kamu—”
“Saya cuma lagi mau! Bukan ngidam apalagi hamil! Saya nggak mual-mual, nggak ada pusing! Intinya… saya nggak ngerasain tanda-tanda kehamilan selama dua minggu ini!” tegas Asyara. Matanya menatap Aksa berani.
Aksa membalas tatapan itu. Intens. Tidak berkedip beberapa saat, membuat Asyara lama kelamaan menjadi salah tingkah. Asyara mencoba berdehem beberapa kali, lalu memalingkan wajahnya menatap ke arah lain. Rasa gugup kembali menyerangnya.
Bagaimana tidak salah tingkah? Aksa menatapnya sambil menopang wajahnya dengan tangan. Bukan tatapan dingin khas dosen killer seperti biasa, melainkan tatapan yang penuh kelembutan dan senyum tipis di wajahnya.
“Kenapa jadi natap gue sih?” gumam Asyara.
Asyara tidak munafik. Aksa itu termasuk ke dalam jajaran dosen dengan wajah tampan, meski terkenal killer. Tak jarang juga banyak dosen-dosen wanita yang terlihat sering berusaha mendekati Aksa. Pun sama halnya dengan mahasiswi seangkatan Asyara yang kadang memberikan makanan atau bingkisan kepada Aksa secara diam-diam. Dari mana Asyara tahu? Tentu dari Celine, sahabatnya sendiri.
Dan sekarang? Posisinya adalah Asyara yang pernah tidur dengan Aksa meski secara tidak sengaja. Terlebih lagi Aksa yang mendesaknya agar Asyara mau dinikahi, sebelum perjanjian itu.
“Jadi bagaimana? Kamu tidak mau cek ke dokter?”
Begitu mendengar pertanyaan itu, kesadaran Asyara seketika kembali. Ia menatap Aksa lagi, lalu menggeleng keras. “Enggak pak, saya yakin saya nggak hamil.”
“Baik kalau begitu, kita lanjutkan saja bimbingan skripsi kamu,” ucap Aksa.
Mode dosen killernya kembali. Ekspresi lembut yang sempat Asyara lihat berganti menjadi ekspresi datar dengan tatapan tajam. Asyara menghembuskan nafas panjang, lalu menyerahkan skripsinya, yang anehnya ditahan Aksa. Sehingga lembaran Skripsi itu tetap berada di depan Asyara.
“Buka revisi yang sudah kamu kerjakan,” titah Aksa.
Namun berbeda dari biasanya, Aksa memilih bangkit dari kursinya. Pria itu melangkah memutari mejanya, menuju tempat Asyara duduk. Berdiri di belakang Asyara, kemudian menundukkan badannya, menyangga sebelah tangannya di tepi meja hingga kepalanya berada tepat di samping wajah Asyara
Asyara seketika membeku. Ia meneguk ludahnya susah payah. Mencoba tetap tenang dengan posisi mereka yang terlalu dekat serta debaran jantungnya yang mulai menggila. Saking dekatnya, Asyara bisa merasakan hembusan nafas Aksa yang beraroma mint. “Ini deket banget! Anjir!”
“Di bagian sini, materi ini tidak nyambung dengan paragrafnya sebelumnya,” jelas Aksa, “Lalu dibagian sini, metode penelitian kamu salah, sesuaikan dengan judulnya Asyara.”
Tapi sepertinya, penjelasannya tentang metodologi penelitian mendadak menguap. Asyara justru tak fokus pada penjelasan Aksa. Ia justru fokus pada Aksa sendiri. Aksa yang sadar akan hal itu menolehkan kepalanya, membuat jarak mereka semakin terkikis drastis.
Aksi tatap-menatap di antara keduanya tak terelakkan. Asyara yang terpaku pada wajah Aksa. Dengan jarak sedekat itu, ia bisa merasakan aroma segar cendana dan kayu cedar yang pekat yang merasuki hidungnya—memberi kesan ketenangan, karismatik dan kemewahan yang memang melekat pada diri Aksa.
Sementara di posisinya sendiri, begitu ia menatap Asyara, tatapannya terkunci d satu titik. Manik cokelat pekat milik gadis itu yang menyerap seluruh perhatiannya—hangat, dalam, dan tenang, membuat Aksa cukup lama untuk menyadari betapa berbahaya posisi mereka saat ini
“Ini bimbingan atau sayang-sayangan?”
Keduanya serentak menoleh, mendapati Celine yang bersandar pada kusen pintu sambil melipat tangan di dada. Asyara segera menjauhkan kepalanya dan pura-pura sibuk pada lembaran skripsinya sementara Aksa langsung berdiri tegak memasang ekspresi datarnya kembali.
“Sejak kapan kamu disitu Celine?”
Celine menyeringai. Ia mulai melangkah masuk ke dalam. “Sejak kapan ya? Sejak Asya natap papa, waktu papa ngejelasin? Sejak papa yang juga natap Asya? Kapan ya?”
Asyara yang sedang menunduk menatap skripnya seketika membelalak. Rona kemerahan mulai menjalar dari telinga ke pipinya. Ia menutup mata sambil berdecak pelan.
“Ya kan Sya? Papa ganteng banget ya? Sampe terdiam gitu ngeliatin mukanya papa,” goda Celine lagi sambil tertawa kecil. Ia duduk di sofa yang tak jauh dari tempat Aksa dan Asyara berada.
“Celine, cukup,” tegur Aksa.
Celine mengangguk, “Iya deh yang belain calon istrinya,” godanya lagi.
“celine diem nggak?!” Kali ini Asyara berdiri. Menatap Celine garang. “Siapa? Siapa yang calon istri pak Aksa?!”
“Ya lo lah, Asyara paling cantik tapi bar-bar.”
“Nggak! Sejak kapan gue jadi calon istri papa lo?!” balas Asyara. Ia melirik Aksa yang justru hanya diam seolah setuju dengan ucapan Celine. “Pak kok diem aja sih?! Ngomong dong!”
“Celine benar, kamu kan memang calon—”
“Nggak. Bapak inget perjanjian kita kan?!” tegas Asyara. Wajahnya semakin memerah. Ia semakin terpojok oleh ayah dan anak itu yang bersekongkol. “Saya nggak mau nikah saya bapak, kalau saya nggak hamil! Lagi pula sampe sekarang saya nggak ada mual-mual tuh? Biasa aja!”
“Yaelah, itu mah biasa. Banyak kok orang hamil yang nggak mual-mual,” celetuk Celine, “Lagian… yang penting itu, lo udah menstruasi, bulan ini?”
Asyara terdiam.
Tawa Celine meledak begitu saja melihat keterdiaman Asyara. Disusul Aksa yang terkekeh kecil. “Asya sayang, bukan nggak. Tapi belum. Inget nggak? Siapa yang semalam minta mangga muda sama kedondong di restoran? Katanya seger banget loh.”
“Celiiiiine!”
“Iya, mama Asyaaa.”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...