"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______
"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______
Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.
Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.
Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.
Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Ruang makan utama Istana Blackwood yang megah diselimuti oleh keheningan yang kaku. Di bawah kilau gantung kristal era modern yang membiaskan cahaya lembut ke atas meja panjang berbahan kayu mahoni lapis emas, hanya terdengar denting halus sendok perak yang bergesekan dengan porselen mahal.
Dinding-dinding ruangan dihiasi oleh lukisan potret para leluhur keluarga kerajaan yang menatap dingin ke arah empat orang yang sedang menikmati sarapan pagi mereka.
"Ibu susu?"
Pertanyaan itu keluar dari bibir Yang Mulia Ratu Baxeena—ibu dari Arthur. Suaranya halus, namun sarat akan penekanan dan wibawa khas seorang penguasa wanita.
Ratu Baxeena meletakkan cangkir teh porselennya dengan sangat perlahan di atas tatakan, lalu menatap lurus ke arah putra tunggalnya yang duduk di sisi kanan meja.
Raja Edmund Alistair Blackwood, yang duduk di kepala meja, hanya menghela napas panjang. Wajah sang Raja tampak letih oleh urusan pemerintahan, namun sorot matanya tak mampu menyembunyikan rasa prihatin atas kabar yang baru saja didengarnya mengenai sang cucu, Tuan Muda Ocean.
"Kondisi pencernaan Ocean memang memerlukan perhatian khusus jika ia tidak bisa menerima susu buatan," ujar Raja Edmund seraya mengusap dagunya dengan tenang. "Ayah akan segera memerintahkan pihak penyeleksi Istana untuk mencari dan menyeleksi kandidat ibu susu secara ketat. Kita harus memastikan latar belakang, kesehatan, serta silsilah wanita itu bersih sebelum diizinkan mengasuh pewaris Blackwood."
Sebelum Raja Edmund sempat mengisyaratkan perintah pada sekretaris kerajaan yang berdiri di sudut ruangan, Arthur langsung memotong dengan suara tenang dan lugas.
"Tidak perlu, Ayah," sahut Arthur. Ia menyeka bibirnya dengan serbet kain sebelum melanjutkan. "Savea sudah menemukan ibu susu yang tepat untuk Ocean. Wanita itu akan datang ke istana pagi ini."
Mendengar ucapan Arthur, Ratu Baxeena tidak langsung memberikan tanggapan. Yang Mulia Ibu Ratu hanya mengalihkan pandangannya, melirik sekilas ke arah Dixie Savea Lopez yang duduk elegan di samping Arthur.
Tatapan Ratu Baxeena tidak memancarkan kehangatan sedikit pun—hanya ada pendar penilaian yang dingin dan penuh jarak. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sang Ratu kembali mengalihkan perhatiannya pada hidangan sarapannya, mengabaikan keberadaan menantunya seolah Savea hanyalah bagian dari ornamen ruangan.
Savea, yang merasakan penolakan implisit tersebut, tetap mempertahankan senyum tipis di wajahnya. Ia mengepalkan jemarinya di balik serbet di pangkuannya, menahan gelombang kemarahan yang biasa mendidih setiap kali berada di dekat ibu mertuanya.
Beberapa saat kemudian, atmosfer kaku di ruang makan berpindah ke dalam area pribadi. Di dalam kamar tidur mewah berornamen kayu mahoni milik Arthur dan Savea, ketegangan itu berlanjut dalam kesunyian yang berbeda.
Arthur berdiri di dekat lemari pakaian besar (walk-in closet), menanggalkan jas resminya dan merapikan lengan kemeja putih yang tergulung hingga siku. Pria itu berbalik sejenak, menatap istrinya yang berdiri di dekat jendela besar.
"Aku harap kau memberikan yang terbaik untuk Ocean," ucap Arthur dengan nada datar namun menyisakan garis ketegasan yang tak bisa dibantah. "Proses seleksi yang kau lakukan harus benar-benar menjamin keselamatan dan kesehatan putra kita."
Savea memutar tubuhnya, menatap Arthur dengan binar mata yang sulit diartikan. "Ocean juga putraku, Arthur. Tentu saja aku memberikan yang terbaik untuknya. Kau tidak perlu meragukan kasih sayang seorang ibu pada anaknya."
Arthur tidak membalas ucapan itu. Ia mengangguk tipis, lalu memutar tubuhnya kembali, melangkahkan kaki menuju pintu walk-in closet untuk bersiap mandi dan membersihkan diri sebelum menjalankan tugas kedinasan istana.
Namun, tepat saat langkah kakinya menyentuh ambang pintu, suara Savea kembali memotong keheningan ruangan.
"Kapan kau akan menyentuhku, Arthur?"
Deg.
Langkah kaki Arthur terhenti seketika. Punggungnya yang tegap dan kokoh membeku di tempat. Ruangan berplafon tinggi itu mendadak terasa makin menyempit, diselimuti oleh kecanggungan yang pekat dan membakar.
Arthur tidak langsung menjawab. Ia berdiri diam selama beberapa detik yang terasa menyiksa, sebelum akhirnya perlahan berbalik. Wajah tampannya yang tegas sama sekali tidak menunjukkan gejolak emosi—hanya ada tatapan dingin, hampa, dan penuh dengan kepastian yang menyakitkan.
"Maafkan aku, Savea," ucap Arthur, suaranya rendah namun menghantam telak. "Tidak akan pernah."
Tanpa menunggu balasan, tanpa memberi ruang sedikit pun untuk perdebatan, Arthur kembali berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang closet, membiarkan pintu tebal itu terdorong menutup di belakangnya.
Di tengah kamar yang luas itu, Savea berdiri membeku. Wajah cantiknya memucat sebelum akhirnya merona merah akibat amarah yang membakar habis sisa ketenangannya. Matanya menyalang menatap pintu yang baru saja tertutup di hadapannya.
Napasnya memburu kasar. Kedua tangannya terkepal begitu erat hingga kuku-kukunya memutih dan menancap di telapak tangan. Rasa hina, marah, dan penolakan yang terakumulasi bertahun-tahun meledak sekaligus di dalam dadanya.
Dengan tubuh gemetar hebat, Savea melayangkan pukulan keras ke udara, menyalurkan keputusasaan yang tak bersuara.
"Bajingan!" umpatnya lurus dari celah giginya yang mengatup rapat.
Tatapan matanya yang menyalang kini beralih pada meja rias berbingkai perak di sudut ruangan. Tempat di mana botol-botol parfum kaca bermerek, perhiasan mahal, dan perlengkapan kecantikannya tertata rapi.
"Arggghhh!!!"
Savea menjerit histeris, menyapu bersih seluruh barang di atas meja rias dengan satu kibasan tangan yang brutal. Botol-botol kaca pecah berkeping-keping di atas lantai marmer, perhiasan berhamburan, dan cairan harum menyeruak membasahi udara kamar yang dingin.
Napas Savea tersengal-sengal. Ia mencengkeram tepi meja rias, menatap bayangan dirinya di dalam cermin yang kini penuh dengan pantulan retak.
Benedictus Arthur Blackwood tidak akan pernah menyentuh dirinya. Kenyataan pahit itu terus menggerogoti jiwanya setiap hari.
Tiga tahun yang lalu, Savea menggunakan cara gila yang tidak pernah diduga oleh siapa pun demi mengikat pria itu. Ia menyayat urat nadinya sendiri di dalam kamar yang berdarah, mengancam akan mengakhiri hidupnya berulang kali jika Arthur—pria yang telah menjadi sahabatnya sejak usia 13 Tahun—tidak bersedia menikahinya.
Pria itu menyetujuinya, bukan karena cinta atau hasrat, melainkan karena rasa tanggung jawab, rasa kasihan, dan beban persahabatan masa lalu yang dimanipulasi dengan sempurna oleh Savea.
Namun, pernikahan itu hanyalah sebuah sangkar emas yang hampa. Meski telah resmi menyandang gelar istri dari calon penguasa, pria itu tidak pernah sekali pun menyentuh tubuhnya. Tidak ada malam pengantin, tidak ada kecupan manis, dan tidak ada kehangatan di atas ranjang mereka.
Hingga tiba saat ulang tahun pernikahan mereka yang kedua. Savea, yang haus akan pengakuan dan posisi yang makin kokoh di dalam lingkungan Istana Blackwood, menyampaikan permohonan terakhirnya: ia ingin memiliki seorang anak. Seorang pewaris yang akan mengunci posisinya di istana ini selamanya.
Arthur mengabulkan permohonan itu. Namun, bukan dengan menyerahkan dirinya. Pria itu memilih jalur medis—membawanya menjalani prosedur bayi tabung Tanpa sepengetahuan Pihak Kerajaan. Hamil tanpa adanya penyatuan. Sebuah proses steril, dingin, dan mekanis yang memastikan bahwa tidak ada sentuhan fisik yang terjadi di antara mereka.
Savea hamil. Ia melahirkan Ocean, seorang anak laki-laki yang sah secara hukum dan darah sebagai keturunan Blackwood. Namun, di balik kebanggaan dan statusnya sebagai ibu dari sang pewaris, kenyataan pahit itu tetap tidak berubah: ia adalah seorang istri yang tidak pernah disentuh oleh suaminya sendiri.
Savea menegakkan tubuhnya, mengusap air mata kemarahan yang menetes di pipinya. Tatapannya kembali mengeras, dipenuhi oleh dendam dan tekad yang makin membara.
Jika ia tidak bisa mendapatkan hati dan tubuh Arthur, maka ia akan memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengambil kekuasaan dan posisi yang telah ia perjuangkan dengan darahnya sendiri.
Dan pagi ini, ibu susu yang telah ia pilih secara khusus akan melangkahkan kaki masuk ke dalam Istana Blackwood.