Saat Dewa Turun ke Dunia
"Satu jari... cukup untuk memusnahkan satu kota."
Dalam sekejap, Kota Tai berubah menjadi lautan abu. Jutaan nyawa lenyap tanpa perlawanan. Di antara seluruh penduduk, hanya seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang selamat—Li Tianxuan.
Sebelum menghilang, sosok dewa memasuki tubuhnya.
Sepuluh tahun kemudian, Li Tianxuan melangkah keluar dari Kota Tai yang telah tersegel oleh Formasi Kuno. Namun dunia di luar seolah tak pernah mengetahui kehancuran kota itu. Demi mengungkap kebenaran, ia menempuh jalan kultivasi yang dipenuhi darah, pengkhianatan, reruntuhan kuno, dan peperangan melawan para jenius dari sekte-sekte terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chen Xuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Murid Baru Yang Mengguncang Sekte
Cahaya Formasi Teleportasi perlahan menghilang.
Li Tianxuan membuka matanya pelan.
Sesaat kemudian, ia terdiam.
Pemandangan di hadapannya benar-benar berada di luar imajinasinya.
Di langit, puluhan gunung raksasa melayang bagaikan pulau-pulau surgawi. Air terjun mengalir dari gunung-gunung itu, namun airnya tidak jatuh ke tanah. Sebaliknya, air tersebut berubah menjadi kabut spiritual yang menyelimuti seluruh sekte.
Bunga-bunga spiritual bermekaran di setiap sudut.
Burung-burung roh terbang bebas di langit.
Energi Spiritual di tempat ini bahkan puluhan kali lebih pekat dibandingkan tempat mana pun yang pernah didatangi Li Tianxuan.
Di depan mereka berdiri sebuah gerbang batu raksasa setinggi puluhan meter.
Di atas gerbang itu terukir tiga huruf besar yang memancarkan aura pedang.
SEKTE PEDANG LANGIT.
Sementara itu, sebuah tangga batu yang sangat panjang membentang hingga ke puncak gunung utama.
Di sisi kiri dan kanannya tertancap ratusan pedang kuno dengan ukuran berbeda-beda.
Masing-masing memancarkan aura tajam seolah mampu membelah langit.
Li Tianxuan memperhatikan semuanya tanpa berkata apa pun. Saat ia hendak melangkah...
Tepukan pelan mendarat di bahunya.
"Selamat datang di Sekte Pedang Langit!"
Wu Feng tersenyum lebar sambil merentangkan satu tangannya.
Li Tianxuan hanya melirik tangan yang berada di bahunya.
Tatapan dingin itu membuat Wu Feng langsung menarik tangannya.
"Haha... kau benar-benar seperti gunung es."
"Aku penasaran kapan wajahmu bisa tersenyum."
Li Tianxuan tidak menjawab. Ia kembali berjalan memasuki gerbang sekte.
Wu Feng hanya menggeleng sambil tertawa kecil.
"Benar-benar aneh."
...
Semakin jauh mereka berjalan, semakin besar rasa kagum yang muncul dalam hati Li Tianxuan.
Ratusan murid sedang berlatih pedang. Sebagian bermeditasi di atas batu besar.
Sebagian lagi melayang di udara menggunakan pedang terbang. Dentingan senjata terdengar dari segala arah.
Seluruh sekte dipenuhi semangat kultivasi.
Li Tianxuan perlahan mengepalkan tangan.
"Inilah... dunia para kultivator."
Matanya kemudian menyapu ke segala arah. Ia mencari sosok Yuan Gu. Namun pria tua itu sama sekali tidak terlihat. Karena tidak menemukan siapa pun yang dikenalnya, Li Tianxuan memutuskan berjalan-jalan mengelilingi sekte.
Sementara itu...
Wu Feng justru melompat ke udara. Sebuah pedang terbang muncul di bawah kakinya.
Dengan kecepatan tinggi ia melesat menuju gunung utama.
Di puncak gunung itu berdiri Aula Utama Sekte Pedang Langit. Tempat berkumpulnya Ketua Sekte dan para Tetua.
Wu Feng membuka pintu aula lalu membungkukkan badan.
"Murid memberi hormat kepada Guru, para Tetua, dan Ketua Sekte."
"Guru... Tianxuan telah tiba."
Yuan Gu mengangguk pelan.
"Baik."
Wu Feng segera mundur.
Setelah pintu tertutup kembali, suasana aula menjadi hening.
Qin Haoran, Ketua Sekte Pedang Langit, memandang Yuan Gu dengan sorot mata dalam.
"Jadi... bocah itu benar-benar keluar dari Kota Tai?"
Yuan Gu mengangguk.
"Ya."
"Dan aku sendiri telah melihatnya."
Qin Haoran menarik napas panjang.
Beberapa tahun lalu ia pernah mencoba memasuki Kota Tai berdasarkan petunjuk sebuah kitab kuno.
Namun sebuah formasi misterius menolaknya.
Semakin ia memaksa masuk, semakin besar tekanan yang diterimanya.
Pada akhirnya, ia memilih mundur.
Kini...
Seorang pemuda yang bahkan belum genap berusia dua puluh tahun justru berhasil keluar dari tempat itu.
Bagaimana mungkin?
Qin Haoran perlahan berdiri.
"Bawa dia menemuiku."
"Aku ingin melihat sendiri seperti apa bocah itu."
Yuan Gu mengangguk pelan.
Tubuhnya menghilang dari aula.
...
Sementara itu...
Li Tianxuan masih berjalan mengelilingi sekte.
Tiba-tiba...
Brukk!
Seseorang menabraknya dari samping.
Seorang gadis cantik berbalut jubah hijau terjatuh ke tanah.
"Ah!"
Gadis itu langsung menunjuk Li Tianxuan.
"Wajahmu memang tampan, tapi kenapa kau sengaja menyentuhku?"
Suara nyaringnya langsung menarik perhatian para murid.
"Ada apa?"
"Siapa bocah itu?"
"Murid baru?"
Dalam waktu singkat puluhan murid telah mengelilingi mereka.
Li Tianxuan hanya berdiri diam. Tatapannya tetap sedingin biasanya.
"Aku tidak menyentuhmu."
Gadis itu langsung menunjuk wajah Li Tianxuan.
"Masih berani menyangkal? Semua orang melihatnya!"
Beberapa murid mulai berbisik.
"Berani sekali."
"Baru masuk sekte sudah berbuat onar."
Di tengah keramaian...
Seorang pemuda berpakaian putih berjalan perlahan sambil memainkan kipas lipat di tangannya.
Semua murid langsung memberi jalan.
"Itu Senior Ji Mo."
"Murid peringkat dua puluh."
Ji Mo memandang Li Tianxuan dari atas ke bawah.
Tatapannya dipenuhi rasa tidak suka.
Ia sudah mendengar bahwa seorang murid baru diterima langsung oleh Tetua Yuan Gu tanpa mengikuti ujian masuk.
Sementara dirinya dahulu hampir mati demi bisa menjadi murid Sekte Pedang Langit.
Bagaimana mungkin ia menerima perlakuan istimewa seperti itu?
Ji Mo menutup kipasnya.
"Karena tidak ada yang tahu siapa yang benar..."
"Bagaimana kalau diselesaikan dengan aturan sekte?"
"Arena Pertarungan."
Li Tianxuan menatap Ji Mo.
"Tidak masalah."
...
Satu jam kemudian.
Arena Pertarungan dipenuhi lautan manusia.
Li Tianxuan berdiri sendirian di atas arena. Lima murid yang menantangnya telah dikalahkan satu per satu. Tak seorang pun mampu bertahan lebih dari beberapa jurus.
Sorak-sorai memenuhi arena. Ji Mo menggertakkan giginya.
"Dasar sampah."
"Akhirnya aku harus turun tangan sendiri."
Tubuhnya melompat ke atas arena. Seluruh murid langsung bersorak.
"Senior Ji Mo!"
"Habisi dia!"
"Senior Ji Mo sudah berada di Ranah Lautan Spiritual Tingkat Delapan!"
"Bahkan kultivator Ranah Inti Roh Tingkat Pertama pernah dikalahkannya!"
Ji Mo tersenyum puas mendengar pujian itu.
Ia mengarahkan kipasnya ke Li Tianxuan.
"Bocah."
"Ini kesempatan terakhirmu."
"Berlutut, akui kesalahanmu, lalu keluar dari Sekte Pedang Langit."
"Aku akan membiarkanmu hidup."
Li Tianxuan mengangkat pedangnya perlahan.
Tatapannya tetap dingin.
"Aku hanya tahu satu hal. Orang yang menyuruhku berlutut... belum lahir."
Mata Ji Mo langsung dipenuhi niat membunuh. "Kalau begitu... Matilah!"
Whoosh!
Keduanya bergerak hampir bersamaan.
Dentang!
Pedang dan kipas bertabrakan, memercikkan cahaya ke segala arah.
Dalam beberapa tarikan napas, puluhan jurus telah dipertukarkan.
Kecepatan mereka membuat sebagian besar murid hanya mampu melihat bayangan.
Ji Mo tiba-tiba muncul di belakang Li Tianxuan.
Pedangnya menebas lurus ke arah leher.
Namun...
Tepat sebelum bilah pedang itu mengenai sasarannya...
BOOM!
Gelombang energi yang mengerikan meledak dari langit.
Seluruh arena bergetar hebat.
Ji Mo terlempar puluhan meter.
Bahkan para murid di sekitar arena ikut terpental akibat tekanan yang luar biasa.
Semua orang mendongak bersamaan.
Wajah mereka langsung berubah pucat.
"S-siapa...?"
Suara gemetar terdengar di seluruh arena.