Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan Hingga Subuh

Cahaya putih menyilaukan melesat dari ujung tongkat Larasati, menyelimuti tubuh Sekar dalam sekejap, energi penyegar yang membakar semangat mengalir cepat ke seluruh ototnya yang tadi lemas oleh kelelahan.

Sekar merasakan tubuhnya seolah dialiri kembali kehidupan baru, rasa berat yang tadi membebani setiap gerakannya menguap perlahan digantikan oleh kesegaran asing yang membuat kepalanya sedikit pusing sebelum akhirnya stabil. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu lebih cepat, seolah darahnya baru saja diganti dengan sesuatu yang jauh lebih hidup. Matanya menangkap sesuatu berkilau di antara rerumputan beberapa langkah darinya, bilah parang miliknya yang terlempar saat pertarungan melawan Bayangkara tadi, tergeletak menunggu untuk kembali digenggam.

Ia melompat cepat, menyambar gagang parang itu tepat ketika Kalabayu melancarkan terjangan pertamanya.

"Sekar, aku akan terus menopangmu!" teriak Larasati dari belakang, tongkatnya bercahaya semakin terang, menyalurkan aliran energi tanpa henti ke tubuh Sekar yang kini bergerak lebih cepat dari sebelumnya.

Di ambang batas kelelahan yang seharusnya sudah melumpuhkannya, tambahan kekuatan magis dari Larasati memberi Sekar kesempatan untuk mengimbangi kecepatan Kalabayu yang jauh melampaui manusia biasa. Ia mencengkeram bilah parangnya erat-erat, menghindar dari cakar raksasa yang menyapu udara tepat di atas kepalanya, membalasnya dengan tebasan cepat ke arah kaki depan monster itu.

Kalabayu meraung, lukanya yang tergores parang Sekar mengeluarkan cairan hitam kental, namun sama sekali tidak mengurangi amarahnya. Justru sebaliknya, raungan itu semakin ganas, cakar dan taringnya menyambar lebih liar dari sebelumnya.

Tebasan demi tebasan saling berbalasan di tengah kegelapan malam yang perlahan memudar, digantikan pendar kemerahan fajar yang mulai menyentuh ujung horizon jauh di balik pepohonan. Sekar bergerak lincah, memanfaatkan setiap celah yang tercipta dari gerakan Kalabayu yang mulai kehilangan kesabaran, namun setiap tebasannya hanya mampu melukai permukaan kulit tebal makhluk itu tanpa pernah benar-benar menembus lebih dalam. Peluh membasahi seluruh tubuhnya, bercampur percikan darah hitam dari luka-luka kecil yang berhasil ia torehkan di sekujur tubuh Kalabayu.

"Sial, kulitnya terlalu keras," desis Sekar, napasnya memburu meski energi dari Larasati terus mengalir tanpa henti, memaksa tubuhnya tetap bergerak melampaui batas wajar seorang manusia.

Kalabayu mengamuk hebat, melancarkan hantaman brutal beruntun, memaksa Sekar melompat mundur berkali-kali menghindari cakar dan gigitan yang bisa merobek tubuhnya dalam sekali kena. Salah satu hantaman berhasil menyerempet bahunya, membuatnya terhuyung beberapa langkah sebelum berhasil menstabilkan kembali kuda-kudanya. Larasati di belakang terus memompa energi penyembuhan setiap kali sebuah tebasan berhasil menggores kulit Sekar, matanya sendiri mulai memerah menahan lelah, keringat bercampur darah segar mulai mengalir tipis dari hidungnya akibat energi magis yang terkuras terlalu cepat.

"Laras, kau tidak apa-apa?" tanya Sekar cemas, sempat menoleh sekilas melihat kondisi Larasati yang semakin pucat.

"Fokus ke Kalabayu!" balas Larasati tegas, mengabaikan darah di hidungnya sendiri, terus mengarahkan tongkatnya dengan tangan yang mulai gemetar.

Pertarungan itu berlangsung tanpa henti, jam demi jam terasa seperti keabadian yang menyiksa. Sekar merasakan tenaganya kembali menipis meski buff dari Larasati terus menopangnya, tubuhnya sendiri sudah dipenuhi luka gores baru di sana-sini, sebagian dalam sebagian dangkal, namun ia menolak berhenti barang sedetik pun. Setiap kali kesadarannya nyaris goyah, bayangan wajah Galih yang tergeletak tak berdaya di belakangnya kembali membakar tekadnya untuk terus berdiri.

Langit di ufuk timur perlahan berubah dari hitam pekat menjadi jingga kemerahan, menandakan fajar yang mulai menyingsing setelah pertarungan panjang tanpa jeda ini. Kalabayu, meski sudah dipenuhi luka gores di sekujur tubuhnya, masih berdiri kokoh, geramannya masih menggema mengancam di antara pepohonan yang mulai tersinari cahaya pagi.

Sekar merasakan sisa tenaganya hampir habis sepenuhnya, kakinya gemetar hebat menahan beban tubuhnya sendiri, namun matanya tetap fokus mengamati setiap gerakan Kalabayu, mencari satu celah kecil yang bisa mengubah keadaan.

Larasati, dengan sisa tenaga terakhirnya, mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, melepaskan satu ledakan cahaya terang yang membutakan sesaat, membuat Kalabayu mengaung kesakitan sambil menutup matanya sekilas, cukup lama untuk membuka celah yang selama ini dicari Sekar. Tangannya sendiri gemetar hebat mempertahankan tongkat itu tetap terangkat, wajahnya pucat pasi namun matanya tetap menyala oleh tekad yang sama kuatnya dengan Sekar.

"Sekarang!"

Sekar melompat tinggi, mengerahkan seluruh sisa tenaga yang tersisa di kakinya, mengayunkan parangnya dengan kekuatan penuh tepat ke arah leher Kalabayu, titik lemah yang selama pertarungan panjang ini tersembunyi rapat di balik gerakan defensif makhluk itu.

Bilah parang itu menembus dalam, menyayat urat besar di leher Kalabayu hingga darah hitam kental menyembur deras membasahi rerumputan di bawahnya. Raungan terakhir Kalabayu menggema keras memenuhi hutan, gema yang seolah membawa seluruh amarah dan keputusasaan makhluk itu sebelum tubuh raksasa itu terhuyung, limbung, dan akhirnya ambruk menimbulkan dentuman keras yang mengguncang tanah di sekelilingnya, tepat saat matahari menerbitkan sinar pertamanya menembus kabut pagi yang mulai menipis.

Keheningan menyelimuti hutan sesaat setelah dentuman itu mereda, hanya menyisakan suara napas Sekar yang tersengal-sengal, memandangi tubuh raksasa Kalabayu yang kini tergeletak tak bernyawa di hadapannya.

Ia berhasil. Kalabayu, boss penguasa hutan yang bahkan pemburu Tingkat 3 pun enggan menantangnya sendirian, kini tergeletak tak bernyawa berkat sisa tenaga terakhirnya dan bantuan tak ternilai dari Larasati.

Namun sedetik setelah kesadaran itu meresap, seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya seolah lenyap sepenuhnya. Kakinya melemas, pandangannya mengabur, dan Sekar ambruk tak sadarkan diri di atas rumput basah yang sudah bercampur darah hitam Kalabayu, tubuhnya terkulai lemas di samping Galih yang masih terbaring pingsan sejak tadi malam. Parangnya terlepas dari genggaman untuk kedua kalinya malam itu, kali ini bukan karena kalah, melainkan karena kemenangan yang menuntut harga terakhir dari tubuhnya yang sudah tidak sanggup lagi menahan apa pun.

Larasati, yang menyaksikan kemenangan itu dengan mata berkaca-kaca, mencoba melangkah mendekat namun kakinya sendiri sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Ia terduduk lemas di tanah, tongkat sihirnya jatuh dari genggaman, energinya benar-benar terkuras habis tanpa sisa setelah menopang Sekar sepanjang pertarungan tanpa henti.

Cahaya pagi yang hangat perlahan menyelimuti ketiga sosok yang tergeletak di tengah hutan itu, dua di antaranya tak sadarkan diri, satu lagi terduduk lemas kehabisan tenaga, dikelilingi jejak pertarungan panjang yang baru saja berakhir dengan kemenangan yang dibayar mahal oleh kelelahan luar biasa. Burung-burung mulai berkicau kembali di ranting pepohonan, seolah hutan itu sendiri perlahan bangkit dari mimpi buruk semalam, tidak menyisakan apa pun selain bangkai raksasa Kalabayu dan tiga sosok manusia yang selamat karena keteguhan hati yang tidak pernah mereka duga akan diuji sejauh ini.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!