Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Gemuruh badai di luar Istana Blackwood perlahan meredup, namun keheningan yang tersisa di dalam kediaman megah itu justru terasa semakin mencekam. Di dalam kamar utama, deretan koper kulit mewah berhias ukiran perak terhampar terbuka di atas karpet beludru.
Alistair bergerak cepat tanpa ragu. Dengan jemari tangannya yang masih berbekal ketegasan seorang komandan militer, ia melipat jas, dokumen penting, dan barang-barang pribadi milik keluarganya. Keputusannya sudah bulat. Istana ini bukan lagi tempat yang aman bagi wanita yang dicintainya dan anak-anak yang dibawanya.
Di dekat pintu balkon, Violet berdiri mematung. Gadis remaja berusia tiga belas tahun itu mengamati setiap gerak-gerik ayahnya dengan tatapan dewasa yang melampaui usianya.
Gaun panjangnya berkibar pelan tertiup angin sore. Wajahnya yang mewarisi keanggunan dan ketegasan Alistair tampak tenang, namun matanya yang tajam memancarkan kecemasan yang tertahan.
"Kita benar-benar akan pergi hari ini, Ayah?" tanya Violet dengan suara jernih khas remaja yang mulai beranjak dewasa.
Alistair menghentikan kegiatannya sejenak, lalu menatap putri sulungnya dengan kehangatan seorang ayah. "Ya, Violet. Kita tidak akan tinggal satu malam lagi di bawah atap yang penuh racun ini."
Baxeena yang duduk di tepi ranjang mengusap perutnya yang sudah membuncit tua. Napasnya terengah halus, menahan beban fisik dan kelelahan mental setelah berjam-jam diterpa gelombang kemarahan Ratu.
Air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya melihat betapa gigihnya sang suami pasang badan membela mereka.
Namun, kabar tentang pengemasan barang-barang sang Putra Mahkota merambat bagai api menyambar jerami kering. Tak butuh waktu lama hingga berita itu sampai ke telinga Ratu Lizzeebeeth Blackwood.
BRAAK!
Pintu ganda kamar terdorong buka hingga membentur dinding pualam.
Ratu Lizzeebeeth berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Gaun kebesarannya yang megah tampak kontras dengan raut wajahnya yang pucat pasi dan berantakan oleh rasa tak percaya. Matanya menatap koper-koper yang sudah tertutup rapi di atas lantai.
Ratu tidak pernah menyangka. Dalam mimpi terburuknya sekalipun, ia tak pernah membayangkan bahwa Alistair—putra kebanggaannya, calon raja yang ia tempa dengan hukum istana yang keras—akan benar-benar nekat meninggalkan takhta dan garis keturunan Blackwood demi seorang perempuan asal Los Angeles.
"Kau berani melawan titah tanpa memikirkan bagaimana kedepannya?!" teriak Ratu Lizzeebeeth dengan suara melengking yang memecah kesunyian koridor. Tangannya mengacung gemetar ke arah Alistair. "Kau benar-benar telah terpengaruh karena wanita itu! Kau ingin meninggalkan istana?! Maka pergilah bersama istrimu! Tapi kau ingin bawa ke mana cucuku Violet?!"
Suara bentakan sang Ratu bergema liar. Violet mendengus pelan, melangkah mundur mendekati Mommy Baxeena secara protektif, sementara Alistair langsung meletakkan koper di tangannya dan maju membentengi Baxeena dan Violet.
"IBU RATU BENAR-BENAR KETERLALUAN!" teriak Alistair dengan suara menggelegar yang menenggelamkan kemarahan ibunya.
Dada Alistair naik turun oleh amarah yang mendidih. Matanya berkilat bahaya, memancar dari kelelahan batin seorang pria yang sudah terlalu lama menahan kepedihan melihat keluarganya ditindas.
"Kau menyakiti istriku selama aku tidak ada!" lanjut Alistair dengan nada menuduh yang sangat tajam, menunjuk langsung ke arah Ratu. "Apa Ibu benar-benar memikirkan tidak ada darah bangsawan yang ada pada dirinya sehingga Ibu begitu membencinya?! Apa gelar dan silsilah lebih penting bagi Ibu daripada kebahagiaan dan keselamatan cucu serta menantu Ibu sendiri?!"
Ruangan itu seketika dibanjiri hawa melankolis yang teramat pekat. Baxeena memegang dada yang terasa sesak, berusaha menahan tangis agar tidak semakin memperkeruh suasana, sementara perutnya terasa kram ringan akibat tekanan emosi yang meluap-luap.
Namun, alih-alih membalas bentakan Alistair dengan kemarahan dingin seperti biasanya, Ratu Lizzeebeeth mendadak membeku.
Bahu sang Ratu yang biasanya tegap tegak menantang kini tampak merosot. Raut kejam dan penuh keangkuhan di wajahnya perlahan luntur, berganti menjadi retakan keputusasaan seorang wanita yang hancur dari dalam. Air mata yang tak pernah disaksikan siapa pun di istana ini perlahan menetes membasahi pipinya yang terpoles riasan sempurna.
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Ratu Lizzeebeeth melepaskan mahkota kesombongannya. Alasan sebenarnya di balik kebencian mendalam yang ia pupuk selama bertahun-tahun akhirnya pecah dari bibirnya dengan suara parau yang bergetar hebat.
"Kau pikir ini soal darah bangsawan?!" bisik Ratu dengan napas tersengal, air matanya kini mengalir makin deras. "Menjadi wanita Los Angeles dan tidak memiliki darah bangsawan... masih bisa aku terima, Alistair! Aku bisa menutup mata Karena status sosialnya!"
Alistair tertegun. Baxeena menahan napasnya, menatap sang Ratu tak percaya.
"Lalu kenapa Ibu begitu membencinya?!" tuntut Alistair, suaranya melunak sedikit oleh rasa terkejut.
Ratu Lizzeebeeth menatap Alistair dengan pandangan terluka yang teramat dalam—sebuah tatapan seorang ibu yang kesepian dan terlupakan.
"Karena kau..." suara Ratu terputus oleh isakan yang berusaha ia tahan. "Karena kau, putraku... lebih banyak meluangkan waktu untuk Baxeena sejak kau masih muda dulu. Karena sejak wanita ini hadir di hidupmu, kau tidak pernah lagi menatapku dengan penuh cinta sebagai seorang anak!"
Kata-kata itu jatuh bagai belati yang menusuk dada ruangan.
"Kau begitu cepat dewasa, Alistair... Putra kecilku begitu cepat tumbuh dan menjauh," lanjut Ratu dengan derai air mata yang tak lagi tertahan. Ia menatap Baxeena dengan binar kecemburuan murni—bukan kecemburuan seorang musuh politik, melainkan kecemburuan seorang ibu yang kehilangan tempat di hati putranya.
"Aku iri padamu, Baxeena..." bisik Ratu, suaranya pecah menahan rasa sakit batin yang terpendam belasan tahun. "Aku iri melihat bagaimana Alistair begitu leluasa bercerita padamu... Bagaimana dia tertawa bebas, menangis, dan menjadi dirinya sendiri di hadapanmu. Sedang padaku? Pada ibunya sendiri? Dia selalu kaku. Dia selalu berdiri tegak sebagai seorang pangeran, tidak pernah menjadi dirinya sendiri di depanku!"
Ratu menyapu air matanya dengan punggung tangan yang gemetar, menatap Baxeena dengan keputusasaan yang telanjang.
"Jadi... bolehkah aku merasa cemburu?!" seru Ratu dengan nada memohon yang menyayat hati. "Bolehkah aku merasa terbakar saat putra yang kumuntahkan dengan darah dan nyawaku sendiri... malah begitu mencintaimu setengah mati? Sedangkan aku, ibunya... dia bahkan tidak pernah menyayangiku sebagai seorang ibu! Dia hanya menghormatiku seakan aku memang wajib dihormati karena aku seorang Ratu, bukan karena aku ibunya!"
Deg.
Jantung Alistair seolah berhenti berdetak seketika. Tubuhnya membeku di tempat. Kata-kata ibunya menghantam dadanya begitu keras hingga ia tak sanggup menyusun sepatah kata pun.
Bayangan masa kecilnya yang dipenuhi latihan ketat, etiket kerajaan, dan jarak dingin yang dibangun oleh aturan istana mendadak berputar di kepalanya. Ia tidak pernah menyadari bahwa di balik tembok dingin kesempurnaan ibunya, ada ketakutan mendalam akan kehilangan cinta seorang anak.
Baxeena juga tertegun di tepi ranjang.
Rasa benci dan sakit hati yang sempat memenuhi dadanya perlahan terangkat, berganti menjadi rasa haru dan empati yang amat dalam. Ia melihat seorang wanita terpukul yang terkurung dalam sangkar kemegahan yang diciptakannya sendiri.
Ratu Lizzeebeeth melangkah pelan mendekati Baxeena. Untuk pertama kalinya, Ratu menundukkan kepalanya di hadapan wanita yang selalu ia caci.
"Aku mohon padamu, Baxeena..." bisik Ratu dengan suara parau, menatap langsung ke dalam mata Baxeena dengan derai air mata yang belum mereda. "Jangan ambil seluruh cinta Alistair... Bisakah kau sisakan sedikit... sedikit saja cinta itu untuk aku, ibunya?"
Keheningan melingkupi ruangan itu. Alistair berdiri terpaku dengan mata berkaca-kaca, memandang ibunya yang kini terlihat begitu rapuh.
Baxeena perlahan mengusap air mata yang menetes di pipinya sendiri. Ia menatap Alistair, lalu beralih menatap Ratu Lizzeebeeth yang berdiri menanti jawaban di tengah serakan koper dan retakan takhta yang tak lagi berarti.
untung lawan nya xeena 😝
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭