Indonesia
NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:225.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saniya Syamira : 01

“Mbak Saniya saja. Aku gak mau! Aku ini cantik, seorang sarjana magister, memiliki karir cemerlang, fisik sempurna, masa mau dijodohkan sama duda 2 anak, mana pernah gagal menikah sebanyak dua kali dengan wanita sama, yang benar saja, Pa?!” tolak gadis berwajah oval, lirikan mata tajam, kulit putih gading.

Sang ibu menimpali. Demi menyelamatkan putri bungsunya dari perjodohan dengan seorang pria menurut mereka tidak baik, dia tega menyodorkan putri lainnya yakni, si sulung.

“Umur Saniya sudah 26 tahun, dan sampai sekarang dia belum juga menikah. Mumpung pria tersebut seorang duda, maka pantas dengannya yang cacat, gak punya kaki kanan,” katanya acuh tak acuh.

“Ami!” sang kepala keluarga menurunkan nada suaranya, pertanda tak suka dengan pemilihan kalimat wanita berumur 52 tahun yang duduk di seberangnya. “Saniya juga putrimu, terlahir dari rahimmu. Bisa-bisanya kamu begitu enteng menyebut kekurangannya?”

“Aku bicara fakta, Mas! Sudah berapa kali kita mencoba menjodohkan Saniya, tetapi selalu ditolak karena dia cacat, berakhir gak laku-laku,” ibu dari tiga orang anak itu tak terima ditegur.

Wanita yang tengah dibicarakan ada diantara mereka. Duduk tenang pada sofa tunggal ruang keluarga. Ia diam, sorot mata seperti biasa — teduh.

“Jika Saniya yang maju dengan kondisi dia tidak sempurna, itu akan jauh lebih sulit. Yarash Wilman bukan pemuda lajang, dia memiliki anak perempuan beranjak remaja dan seorang batita, tolong kamu pikirkan dampak terburuknya, Ami,” ia berharap wanita telah membersamainya selama puluhan tahun mau mengerti.

Amira tetap pada pendiriannya. “Cukup, Mas! Dia cuma gak punya satu kaki, bukannya lumpuh. Dari dulu selalu Saniya yang kamu pikirkan, utamakan, sementara Fauzia dirimu abaikan, dinomorduakan.”

Tiba-tiba sebuah suara lembut namun tegas menyela, menghentikan perdebatan akan berbuntut panjang apabila tidak cepat dicegah.

“Saniya bersedia menikah dengan Yarash Wilman. Tolong atur bagaimana baiknya, aku nurut.” Tangan berkulit halus, jemari lentik, menarik kruk disandarkan pada tepi sofa.

Dibalik rok panjang bagian bawah mengembang, kaki kanannya tak lagi sempurna, diamputasi bagian lutut ke bawah. Ia hanya memakai sebelah sandal rumahan.

“Selamat malam semuanya.” Kepalanya menunduk sampai rambut coklatnya terayun menutupi sepasang mata hazel yang diwarisi dari sang ayah keturunan Turki.

Saniya Syamira, menggerakkan kruk bagian atas dijepit ketiak agar langkah kaki seimbang meski terlihat timpang.

Putri kedua dari tiga bersaudara itu berjalan menuju lift hunian mewah keluarga Hadi. Tak terlihat ekspresi kecewa maupun sedih, sebaliknya … dia bersikap tenang, padahal baru saja menerima perjodohan dengan sosok asing. Belum pernah ditemuinya.

“Sudah puas kamu Amira? Terus menerus menyakiti hatinya. Di mana naluri keibuanmu?” cecar pria paruh baya bernama Gustav Hadi.

Amira bergeming, bahkan tidak berkedip. Maniknya kering, raut wajah tetap tenang, seolah tak merasa bersalah setelah kalimat sarkasme tajamnya tadi.

“Karena dia kita kehilangan Yuga Hadi. Seandainya saja Saniya tak bersikeras memaksa menyusul ke rumah sakit, putra pertamaku masih hidup hingga kini. Dia pasti menjadi sosok pria hebat, kebanggaan keluarga Hadi,” ujarnya datar.

Jika sudah menyinggung kejadian 18 belas tahun lalu, Gustav menjadi lemah, perasaannya langsung melankolis mengingat putra sulungnya tewas ditempat kejadian dalam keadaan mengenaskan akibat kecelakaan mobil.

Waktu itu cuaca sedang buruk. Gustav dirawat dirumah sakit pasca operasi usus buntu. Amira dan si bungsu Fauzia menemani, sementara Saniya tinggal di rumah.

Saniya sangat dekat dengan ayahnya, dia tengah mengalami penurunan daya tahan tubuh, suhu badannya panas, terus saja merengek minta diantarkan ke rumah sakit ingin bertemu ayahnya. Yuga Hadi tidak tega melihat adiknya sedih seraya menahan sakit.

Pada saat itu usia Yuga sudah 11 tahun, dia berinisiatif menggendong Saniya yang masih berumur 8 tahun, lalu meminta sopir mengantarkan mereka ke rumah sakit.

Ditengah perjalanan, akibat hujan deras disertai petir serta angin kencang, sang sopir kehilangan konsentrasi, mobil yang dikemudikannya menabrak pembatas jalan hingga terguling dua kali.

Kecelakaan maut tersebut merenggut dua nyawa sekaligus — Yuga Hadi, dan sopir.

Saniya terjebak, terlindungi dalam pelukan kakaknya, tetapi harus kehilangan salah satu kaki yang terjepit bodi mobil.

“Sebaiknya kita tidur,” katanya lesu sambil mengusir bayang-bayang mengerikan yang hingga kini masih terus menghantuinya.

“Tidak, sebelum kamu menghubungi pihak Yarash. Beri kabar ke mereka jika Saniya setuju, dan pinta sesegera mungkin datang melamar. Hatiku selalu sakit bila menatap wajahnya yang mirip Yuga,” Amira telah memutuskan, enggan memikirkan perasaan putri keduanya.

Fauzia Serla duduk anggun, kaki kanannya bertumpu di atas lutut kiri. Sorot matanya berkilat dengan sudut bibir tertarik samar. ‘Cepatlah kamu menikah, Mbak. Supaya dia bisa sesegera mungkin kumiliki.’

Pria telah berumur 54 tahun, beruban, kulit mulai dihiasi bercak gelap akibat akumulasi paparan sinar matahari, mengambil ponsel tergeletak di atas meja.

Gustav menghubungi ayahnya Yarash Wilman, mengkonfirmasi bahwa putrinya bersedia menikah dengan duda beranak dua.

“Apa kata mereka?” tanya Amira, terlihat tak sabaran.

“Besok malam mereka bertamu kemari,” jawabnya singkat, tidak terlihat kegembiraan pada nada suara maupun ekspresi.

Fauzia dan ibunya langsung sumringah, mereka menyambut antusias, dan berencana akan melakukan persiapan sebaik mungkin.

***

Keesokan harinya menjelang malam — hunian mewah berlantai tiga, pada meja makan besar dengan dua belas kursi, terhidang menu lezat hasil olahan chef keluarga Hadi.

Terdapat perbedaan dari malam-malam sebelumnya yang terkesan dingin, terlebih bila Saniya ikut makan bersama keluarganya.

Malam ini, kuntum bunga mawar merah segar, menguarkan aroma manis nan lembut, tertata rapi dalam vas yang diletakkan di atas meja makan, pot-pot pajangan sudut rumah lantai satu.

Sang nyonya dan tuan rumah sudah berpakaian rapi, siap menyambut tamu penting dari keluarga kelas atas dan cukup disegani.

Sementara di lantai dua, pada kamar dekat dengan balkon belakang — sosok anggun sedang mematut diri di depan cermin rias.

“Maaf, aku mengingkari janji kita. Memilih melepaskan hubungan tak pernah mendapatkan restu kedua orang tuamu.” Dilepasnya cincin bertahtakan batu permata kecil yang terpasang pada jari manis tangan kiri.

Saniya menyimpan cincin pemberian sang kekasih setahun lalu ke dalam kotak beludru, lalu menyimpannya di laci meja rias.

Dipandangnya sedikit lama bekas memutih membentuk ring cincin pada jemari. Bibirnya terkatup, sementara hati berkecamuk.

“Ini yang terbaik, setidaknya aku bisa sedikit menebus rasa bersalah kepada Mama. Akibat sifat kekanak-kanakanku dulu, bang Yuga meninggal dunia.” Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskan cepat.

Saniya mengambil kaki palsu telah dipasangi flat shoes hitam pasangan kaki kirinya.

Ia tersenyum hambar sambil memandangi kaki buatan manusia, menggantikan ciptaan Tuhan.

Tok!

Tok!

“Mbak, calon suamimu sudah menunggu di bawah. Buruan keluar!”

.

.

Bersambung.

1
Fera Susanti
pahit Tatiana..sepahit omongan kamu😔
Betri Betmawati
racun itu tita minum lh biar hilang semua nya😁😁 canda
memang ayah dan suami idaman banget ya mas yarash
Betri Betmawati
mungkin kah benih cinta mulai tumbuh?
Iccha Risa
cerewet banget lah si tita ini, ramuan mujarab ibu tiri Yo pasti manjur, tenang ga pahit dikasih madu tuh....
Iccha Risa
waduhh rasanya pecah kali ni pala, pada nangis sih anaknya
Iccha Risa
ciwit ciwit itu mah bang iyakan , bocil ini kan jahill 🤣
Sugiharti Rusli
semoga saja resep minuman yang Saniya buat berdasarkan resep dari mantan art di rumah ortunya dulu cocok buat si Tita yah,,,
Sugiharti Rusli
terkadang yah hal" yang seperti apa yang Tatiana alami tuh memang butuh sentuhan seorang ibu, meski di sana juga ada art perempuan juga sih,,,
Sugiharti Rusli
ampun bocil, sotoy beud banget yah dia dan mana kalo dikasih tahu ga terima pulak yah😝😝😝
Bang Fay
biar dia minum dulu baru kasih tau yg buat ibu tiri nya
Betri Betmawati
itu mas yarash cemburu kah
itu nada sepesial tau mas yarash
Engkar Sukarsih
aduh...aduh Abang ganteng Ardan,bikin gemes banget 🤗🤗🤗itu botol bukan di kompres ke perut.malah di pukul - pukul ke perut 😌😌😌😌
lyani
betul
Sartini 02
ceritanya sangat menarik
sryharty
makanya mas yarash jangan main nyosor aja,,jadi deg2 ser kan mami sani nya
sryharty
ada yg cemburu neh
Moms Rafi-alhusaini 🌺
udh kaya tempat posyandu pada nangis 🤣🤣
Moms Rafi-alhusaini 🌺
rame banget 🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
duh kira2 di buang gak pas tau kalo saniya yang buat .. ngerepotin ya anak tiri nakal ini ...dah besar sih jadi mudah di doktrin sama ibu kandung nya yang jahat
Moms Rafi-alhusaini 🌺
sekarang nangisnya panggil mami Saniya 🤣
sutiasih kasih: sdh ada nyaman si ardan ke mami saniya....
tpi gengsinya msih setinggi monas🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!