Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Air Mata Sang Ibu
Di ruang komando logistik bawah tanah yang dingin, keheningan terasa begitu mencekik. Cahaya dari puluhan monitor satelit memantulkan wajah Mia Zimmer yang kini sepucat kertas. Tangannya yang lentik gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada tepi meja konsol untuk menopang tubuhnya.
Dari headset di telinganya, pengakuan Gideon mengalun seperti melodi mimpi buruk yang mengungkap kebenaran paling kuat.
Potongan-potongan ingatannya yang hilang selama bertahun-tahun kini merangsek masuk layaknya kepingan kaca yang menembus otaknya. Enam tahun yang lalu, saat ia masih muda dan naif, ia ingat pergi ke sebuah kelab malam di Kota Khanh bersama teman-temannya. Lalu, semuanya gelap. Ia terbangun berminggu-minggu kemudian di sebuah rumah sakit dengan diagnosis trauma psikologis dan amnesia disosiatif, sementara keluarganya mengklaim ia hanya pergi "berlibur" untuk menenangkan diri.
Ternyata, selama masa kehilangannya itu, ia telah dibius dan disekap. Dan malam itu, ia adalah wanita di dalam kegelapan; seseorang yang tidak dikenal yang berhubungan dengan Arthur setelah pria itu dibius dan dibiarkan berkeliaran di jalanan.
Air mata mengalir deras dari kedua pelupuk mata Mia. Layar monitor di hadapannya menampilkan rekaman satelit seorang gadis kecil berbaju lusuh di tengah reruntuhan api.
Itu putriku. Darah dagingku dan Arthur, batin Mia, dadanya terasa seolah dibelah dua oleh rasa sakit dan kerinduan yang tiba-tiba meledak. Pantas saja instingnya selalu menariknya pada Arthur. Takdir mereka telah terikat dengan cara yang paling kejam, namun menghasilkan sebuah kehidupan yang berharga.
Silas Mercer menatap Mia dengan penuh kekhawatiran. "Nona Mia... Anda—"
"Silas," potong Mia. Suaranya bergetar hebat karena isak tangis, namun sedetik kemudian, raut wajahnya mengeras oleh tekad seorang ibu yang anak kandungnya sedang berada di ambang kematian. Gadis muda yang rapuh itu kini telah tiada. "Kirimkan koordinat pelarian Gideon ke earpiece Arthur sekarang! Blokir semua jalur udaranya! Jangan biarkan bajingan itu lolos!"
Mia menekan tombol komunikasi langsung ke telinga Arthur.
"Arthur..." panggil Mia. Suaranya menembus deru hujan dan api di Kota Khanh, membawa beban emosional yang luar biasa berat. "Arthur... selamatkan dia. Selamatkan putri kita!"
Mendengar suara wanita yang dicintainya mengklaim anak itu dengan penuh keyakinan, sisa-sisa keraguan di hati Arthur menguap sepenuhnya.
Enam tahun yang lalu, ia diusir dari Summer Manor, dibiarkan begitu saja berkeliaran di jalanan Kota Khanh, dibius oleh seseorang yang tidak ia kenal, dan akhirnya berhubungan dengannya. Penderitaan itu nyaris membunuhnya.
Arthur menanggalkan jas hitamnya yang berlumuran darah. Dengan gerakan yang sangat lembut namun cepat, ia membalut tubuh kecil putrinya dengan jas tersebut, melindunginya dari dinginnya hujan, lalu menggendongnya erat di punggung menggunakan sabuk taktisnya.
Gadis kecil itu membenamkan wajahnya di ceruk leher Arthur, mengalungkan lengan mungilnya. "Paman... panas... dadaku panas..." rintihnya, efek Formula Somatik mulai membebani jantung kecilnya.
"Bertahanlah, Sayang. Ayah di sini. Ayah tidak akan membiarkan apa pun menyakitimu," bisik Arthur dengan suara bariton yang bergetar.
Mata sang Jenderal kembali menatap ke depan. Sinar matanya tidak lagi memancarkan ketenangan seorang ahli strategi, melainkan amukan murni dari seorang dewa perang yang keluarganya diancam. Waktu tersisa kurang dari empat puluh menit.
"Bos, Gideon bergerak menuju landasan bawah tanah di Sektor Utara panti asuhan! Dia berniat melarikan diri menggunakan kereta bawah tanah pribadi!" lapor Silas melalui komunikator.
"Dia tidak akan pergi ke mana pun," desis Arthur.
Arthur melesat ke depan bagaikan peluru kendali. Kali ini, ia tidak lagi menghindar atau membuang waktu menangkis serangan. Sisa pasukan elit Gideon yang berjumlah puluhan orang mencoba memblokir lorong menuju Sektor Utara dengan barikade tameng baja dan senapan mesin ringan.
"Tembak! Tembak monster itu!" teriak komandan musuh.
Hujan peluru berhamburan. Namun, Arthur memusatkan seluruh energi Qi di tubuhnya hingga menciptakan perisai tak kasat mata yang mendistorsi udara di sekelilingnya dan putrinya. Peluru-peluru itu memantul seperti kerikil yang menabrak dinding baja.
Hanya dengan menggunakan tangan kanannya, Arthur menghancurkan barisan depan musuh. Ia meninju perisai baja padat hingga penyok dan menembus dada pemegangnya, lalu menyambar senapan mesin musuh dan menggunakannya sebagai tongkat pemukul. Setiap ayunannya mematahkan tulang belulang; setiap langkahnya meninggalkan jejak kematian. Darah membasahi lantai beton, namun tidak setetes pun Arthur biarkan mengenai putrinya.
Lengan kirinya yang terluka bakar terasa seperti ditusuk ribuan jarum karena pergerakan ekstrem itu, namun Arthur menelan rasa sakitnya mentah-mentah.
Dalam waktu kurang dari lima menit, Arthur telah meratakan seluruh barisan pertahanan terakhir Gideon, menembus gerbang besi bawah tanah seberat lima ton hanya dengan satu tendangan yang kuat.
Di dalam stasiun bawah tanah yang remang-remang, Gideon Summers baru saja hendak melangkah masuk ke dalam gerbong kereta lapis baja. Di tangannya, ia memegang sebuah tabung kaca kecil berisi cairan biru bercahaya penawar Formula Somatik.
Mendengar suara pintu baja raksasa yang hancur, Gideon berbalik. Wajahnya yang arogan seketika memucat pasi melihat Arthur berdiri di ambang pintu, berlumuran darah, dengan aura pembunuh yang membuat udara di stasiun itu terasa hampa.
"K-kau... bagaimana kau bisa melewati mereka secepat itu?!" Gideon mundur selangkah, kakinya gemetar.
Arthur tidak menjawab. Ia melangkah maju perlahan, setiap pijakan sepatunya bergema mematikan di stasiun yang sepi itu.
Panik, Gideon mengangkat tabung penawar itu dan mendekatkannya ke tepi peron kereta yang berada di atas rel beraliran listrik tegangan tinggi. "Berhenti di sana, Arthur! Satu langkah lagi, aku akan menjatuhkan penawar ini ke rel! Putrimu akan mati dengan jantung meledak!"
Langkah Arthur terhenti. Matanya menatap tajam ke arah tabung kaca tersebut. Waktu putrinya tersisa kurang dari sepuluh menit sebelum mutasi somatik itu menghancurkan organnya secara permanen.
"Menyerahlah," perintah Gideon dengan senyum putus asa. "Patahkan kakimu sendiri, atau—!"
WUSSS!
Sebelum kalimat Gideon selesai, Arthur telah bergerak melampaui batas persepsi visual manusia. Ia menggunakan teknik Flash Step tingkat tertinggi dari Kemiliteran dulu, sebuah gerakan yang mengorbankan robeknya serat otot kakinya sendiri demi kecepatan.
Gideon bahkan belum sempat mengedipkan mata ketika tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang menusuk di pergelangan tangannya.
SRAAAK!
"AAARRRGGGHHH!"
Gideon menjerit histeris hingga pita suaranya nyaris putus. Tangan kanannya yang memegang tabung penawar itu telah terpotong rapi dari lengannya oleh pisau militer Arthur. Darah muncrat membasahi peron.
Arthur menangkap potongan tangan itu di udara, mengambil tabung penawarnya dengan tenang, lalu menendang dada Gideon hingga pewaris palsu Utara itu terpental menabrak gerbong kereta dan jatuh terkapar tak berdaya.
Arthur tidak memedulikan Gideon yang menangis dan bergulingan memegangi lengannya yang putus. Sang ayah segera menurunkan putrinya dari punggungnya dan membaringkannya dengan lembut di atas lantai beton. Napas gadis kecil itu kini sangat dangkal, dan urat-urat kebiruan mulai menjalar di lehernya.
"Bertahanlah, Nak. Ayah di sini," bisik Arthur dengan air mata yang menggenang. Tangannya yang berlumuran darah membuka segel tabung tersebut, lalu menyuntikkan cairan biru bercahaya itu tepat ke arteri leher putrinya.
Arthur dan Mia (yang mendengarkan melalui komunikasi) menahan napas bersamaan.
Cairan biru itu masuk ke dalam aliran darah gadis kecil itu. Urat-urat kebiruan di kulitnya seketika berhenti menyebar. Cahayanya meredup, seolah penawar itu berhasil menetralisir mutasi Formula Somatik.
Arthur menghela napas lega yang luar biasa panjang.
Namun, sedetik kemudian, mata gadis kecil itu tiba-tiba terbelalak lebar. Tubuhnya menegang hebat seperti tersengat listrik. Dan kemudian... seluruh pergerakan di dadanya berhenti total.
Napasnya hilang. Detak jantungnya lenyap. Tubuh mungil itu jatuh terkulai lemas di pelukan Arthur.
"Tidak... tidak, tidak!" Arthur membelalakkan matanya, menempelkan telinganya ke dada sang putri, namun hanya ada keheningan. "Mia! Mia, jantungnya berhenti! Jantungnya berhenti!" teriak Arthur panik ke dalam earpiece-nya.
Di ujung ruangan, Gideon yang terkapar bersimbah darah, tertawa dengan suara serak yang mengerikan.
"Kukatakan padamu itu adalah penawarnya, Kakak," batuk Gideon, memuntahkan darah. "Tapi aku tidak pernah bilang... bahwa tubuh anak berusia lima tahun akan sanggup menahan efek samping dari proses netralisasinya! Kau tidak menyelamatkannya... Kau baru saja membunuhnya!"
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...