Indonesia
NovelToon NovelToon
KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi / Sistem
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Dekapan di Balik Pendar Biru

Sinar lampu jalanan memantul basah di atas aspal setelah gerimis tipis menyirami jalanan kota. Di dalam kabin sedan hitam yang berjalan perlahan membelah kemacetan, Bayu Anggara duduk di kursi penumpang depan seraya meninjau ringkasan berkas riset pada layar tabletnya. Bayu mengenakan kemeja biru tua yang terpotong rapi dengan kacamata berbingkai titanium tipis yang menegaskan ketenangan di wajahnya.

"Macetnya parah banget sore ini, Bay," keluh Dimas seraya memukul pelan lingkar kemudi. "Padahal tadi Melisa kirim pesan ke gue, dia mau menyusul ke perpustakaan daerah naik taksi online buat ngelanjutin pengujian algoritma kita."

Bayu membetulkan letak kacamatanya, menatap keluar jendela kendaraan. "Jalanan memang licin setelah hujan, Dim. Semoga perjalanan Melisa tidak terganggu."

Tiba-tiba, jam tangan titanium di pergelangan tangan kiri Bayu bergetar hebat. Pendar merah berkedip cepat, menyalurkan frekuensi suara Jarvis yang mendesak langsung ke earphone mikro di telinga Bayu.

"Peringatan bahaya fatal, Bayu!" lapor Jarvis mendetail. "Truk kontainer berbobot dua puluh ton di persimpangan jalan utama mengalami gagal fungsi sistem rem pada kecepatan tinggi. Skenario tabrakan beruntun terdeteksi dalam delapan detik. Melisa berada tepat di dalam taksi yang berada di lintasan utama truk tersebut!"

Mata Bayu membelalak seketika, raut wajahnya berubah tegang. "Dim, menepi di balik bus pariwisata itu sekarang juga!"

"Hah?! Ada apa, Bay?!" tanya Dimas kaget, spontan membanting kemudi ke bahu jalan.

"Melisa dalam bahaya maut!" tegas Bayu dengan nada suara yang bergetar penuh kecemasan mendalam.

Tanpa menunggu kendaraan Dimas berhenti sempurna, Bayu menekan kenop biometrik jam tangannya dua kali.

Wusss!

Lapisan sel nano perak memancar instan menyelimuti seluruh tubuhnya. Dalam hitungan satu detik, Ksatria Baja melesat dari balik bayangan bus, terbang rendah secepat kilat membelah udara sore yang dingin.

Di persimpangan jalan utama, suara klakson nyaring berbunyi histeris. Sebuah truk kontainer raksasa melaju tak terkendali, menghantam pembatas beton dan menyeret dua sedan. Tepat di jalur lintasannya, sebuah taksi warna putih terjebak di tengah persimpangan. Di dalam taksi itu, Melisa membelalakkan mata ketakutan, membeku melihat moncong truk raksasa yang bergerak menghantam pintu penumpangnya dalam hitungan detik.

"Tidaaak!" jerit Melisa histeris seraya memejamkan mata rapat-rapat dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Brak!

Suara benturan logam bergema keras mengguncang udara. Namun, rasa sakit yang dibayangkan Melisa sama sekali tidak terjadi.

Bumi serasa berhenti berputar. Melisa perlahan membuka matanya yang berair.

Pintu sedan taksi tersebut telah terlepas dari engselnya, tetapi bukannya terhantam truk, tubuh Melisa telah melayang lembut di udara, didekap secara aman oleh sepasang lengan berbahan zirah baja kokoh berwarna hitam kelabu. Pendar garis biru jernih menyala redup di sepanjang bodi zirah, membendung gelombang kejut ledakan dan serpihan besi di belakang mereka.

Truk raksasa itu berhenti total dua meter di belakang mereka, ditahan oleh perisai medan kinetik murni yang dipancarkan dari punggung zirah Ksatria Baja.

Di tengah debu yang berterbangan dan riuh sirine lalu lintas, dunia di sekitar mereka serasa mendadak sunyi. Ksatria Baja mendarat perlahan di atas trotoar sepi di tepi jalan, tetap mendekap tubuh Melisa di dadanya dengan tingkat kehati-hatian yang amat tinggi, seolah membawa barang kaca yang sangat rapuh.

Melisa menahan napasnya, jantungnya berdegup sangat kencang. Ia mendongak, menatap langsung ke arah visor zirah berdesain futuristik di depannya. Di balik lempengan baja yang dingin, ia dapat merasakan kehangatan tubuh yang amat nyata dan detak napas yang begitu menenangkan.

"Kamu... tidak apa-apa, Melisa?" tanya Ksatria Baja dengan suara berat yang mengalun sangat lembut, penuh dengan kekhawatiran tulus yang tak mampu disembunyikan.

Melisa tertegun, matanya bergetar menatap pendar sensor mata zirah tersebut. "K-Ksatria Baja...?"

"Apakah ada bagian tubuhmu yang terluka atau sakit?" tanya Ksatria Baja lagi, jemari zirahnya mengusap pelan lengan Melisa untuk memastikan wanita itu tidak terguncang.

Melisa menggelengkan kepalanya perlahan, matanya tidak bergeming menatap wajah berzirah di depannya. Ada rasa aman yang luar biasa yang mendadak menyusup ke seluruh jiwanya, rasa aman yang terasa begitu familiar di hatinya.

"Aku... aku tidak apa-apa," bisik Melisa dengan suara gemetar, jemari tangannya tanpa sadar menyentuh permukaan dada zirah baja yang hangat. "Terima kasih... Kamu menyelamatkanku tepat waktu..."

"Syukurlah," helaan napas lega terdengar jelas dari balik topeng Ksatria Baja.

Melisa memperhatikan tatapan mata berpendar biru di balik visor zirah itu dari jarak hanya beberapa sentimeter. Tatapan itu terasa begitu dalam, begitu tulus, dan penuh empati, tatapan yang secara ajaib mengingatkannya pada seseorang yang belakangan ini selalu mengisi pikirannya.

"Kenapa..." suara Melisa terhenti sejenak, tatapannya menyiratkan keraguan dan kekaguman yang bercampur menjadi satu. "Kenapa tatapan matamu... dan caramu memegangku... terasa sangat dekat dan tidak asing bagi hatiku?"

Jantung Bayu di balik zirah mendadak berdesir hebat. Melalui earphone, suara Jarvis berbisik jernih.

"Peringatan: Frekuensi detak jantung Melisa berada pada tingkat respons emosional romantis murni. Indeks kedekatan psikologis meningkat pesat pada angka sembilan puluh enam persen."

Ksatria Baja perlahan menurunkan tubuh Melisa hingga kedua kaki mahasiswi itu memijak landasan trotoar dengan stabil, namun salah satu tangan berzirahnya tetap menahan pinggang Melisa dengan lembut agar wanita itu tidak limbung karena syok.

"Mungkin karena saya hanyalah seseorang yang akan selalu ada untuk memastikan kamu tetap aman, Melisa," jawab Ksatria Baja dengan nada suara yang teratur, hangat, dan sangat menenangkan.

Pipi Melisa merona merah di bawah remang lampu jalan. Kata-kata sederhana itu terasa begitu manis dan menyentuh bagian terdalam jiwanya. "Kamu... kenal namaku?"

"Seluruh kampus tahu mahasiswi terbaik yang berprestasi dan berhati tulus ini," sahut Ksatria Baja santai seraya mengulas senyum di balik zirah. "Tetaplah di sini. Polisi dan tim medis sudah menuju ke lokasi untuk menolong pengemudi taksi dan pengemudi truk."

"Tunggu!" panggil Melisa cepat seraya memegang lengan baja sang pahlawan sebelum ia sempat melangkah mundur.

Ksatria Baja menoleh kembali, menatap Melisa.

"Apakah aku... bisa bertemu denganmu lagi?" tanya Melisa dengan tatapan mata yang penuh harapan dan getaran emosi yang begitu jujur.

Ksatria Baja menatap Melisa sejenak, merasakan hangatnya genggaman jemari Melisa pada pergelangan zirahnya.

"Saya akan selalu ada di dekatmu, Melisa. Kapan pun kamu membutuhkan perlindungan," jawab Ksatria Baja tulus.

Wusss!

Dengan dorongan pendorong gravitasi yang amat halus agar tidak mengejutkan Melisa, Ksatria Baja membubung tinggi ke udara, melintasi garis langit malam dan menghilang di balik awan.

Melisa berdiri terpaku di trotoar, memandangi langit malam tempat sosok berzirah itu menghilang. Tangannya menyentuh dadanya yang masih berdegup kencang, menyisakan kehangatan dekapan yang begitu membekas di dalam jiwanya.

Beberapa menit kemudian, di ujung jalan yang ramai oleh mobil polisi dan sirine ambulans, Bayu berjalan terburu-buru menghampiri Melisa. Kemeja birunya sedikit berantakan dan rambutnya terurai alami.

"Melisa!" panggil Bayu dengan nada panik seraya memegang kedua bahu Melisa, menatap wanita itu dari atas ke bawah dengan cemas. "Kamu tidak apa-apa?! Dimas bilang ada kecelakaan besar di persimpangan ini!"

Melisa menoleh, melihat Bayu berdiri di depannya dengan tatapan mata yang sama persis, tatapan khawatir yang penuh rasa peduli tulus.

"Bayu..." bisik Melisa, tersenyum hangat seraya menggelengkan kepala. "Aku tidak apa-apa, Bayu. Ksatria Baja... baru saja menyelamatkanku dari maut."

Bayu menghembuskan napas lega yang amat panjang, mengusap dadanya. "Syukurlah... Terima kasih Tuhan kamu selamat, Melisa. Aku benar-benar takut terjadi hal buruk padamu."

Dimas yang baru saja berlari mendekat menepuk bahu Bayu, melemparkan senyuman penuh arti kepada sahabatnya. "Gue denger Ksatria Baja tadi mendekap Melisa dan nahan truk raksasa itu pakai perisai kinetik, Bay! Gila banget!"

Melisa menatap Bayu dengan binar mata yang penuh rasa hangat. "Iya, Bayu... dan anehnya, saat dia mendekapku... aku merasa sangat dekat dengannya, sama seperti saat aku berada di dekatmu."

Bayu membetulkan letak kacamatanya pelan, mengulas senyum paling hangat di wajahnya. "Mungkin karena dia dan aku sama-sama ingin kamu selalu selamat, Melisa."

Di bawah naungan lampu kota yang membiru, momen romantis yang terukir di antara bahaya jalanan malam itu menjadi awal dari ikatan batin yang semakin dalam. Melisa merasakan getaran cinta yang tak terucapkan, sementara Bayu Anggara berjanji dalam hatinya untuk selalu menjadi perisai terkuat bagi wanita yang paling berharga dalam hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!