“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Apa ini?!"
Elara langsung menatap pria itu dengan raut wajah kesal.
Dia memata-mataiku?!
Di ponselnya terdapat pesan yang mungkin dari orang suruhannya, dan di dalamnya ada foto dirinya yang sedang berada di cafe bersama pria bertopeng yang ditemuinya kemarin.
Elara mengepalkan ponsel di tangannya, menahan emosi yang mulai mendidih. Jadi selama ini dia mengawasi setiap gerak-gerikku?
Matanya kembali menelusuri isi pesan di layar. Ada laporan lengkap tentang keberadaannya hari ini, bahkan detail pertemuannya dengan pria itu.
"Nyonya bertemu dengan pria misterius di kafe. Mereka membicarakan aset dan kepulangannya. Mereka terlihat sangat akrab."
Elara menggertakkan giginya. Sialan, dia tahu soal itu juga.
Dia menatap Dreven yang masih terlelap di sofa, napasnya teratur, ekspresinya terlihat damai—kontras dengan sikapnya sehari-hari.
"Apa dia juga tahu tentang perusahaanku?"
Perasaan Elara menjadi tak tenang, dia tak tahu apakah Dreven pria yang benar-benar bisa dipercaya atau tidak. Tapi, bagaimana jika dia membeberkan ini? Situasinya akan sangat sulit jika keluarga Roselyn mengetahui tentang perusahaan yang diam-diam ia bangun selama ini.
Elara menarik napas dalam, mencoba meredakan kegelisahannya. Aku harus memastikan.
Perlahan, dia mengambil ponsel Dreven kembali dan mulai menelusuri percakapannya lebih dalam. Tidak ada bukti bahwa pria itu mengetahui tentang perusahaannya—belum.
Namun, ada satu pesan yang menarik perhatiannya.
"Tempatkan lebih banyak orang untuk mengawasinya. Aku ingin tahu setiap langkahnya."
Elara mencengkram ponsel itu lebih erat. Dia belum tahu, tapi dia curiga.
Jika Dreven sampai menemukan kebenaran tentang perusahaannya, bukan hanya kebebasannya yang terancam, tetapi juga semua yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
Dengan cepat, Elara meletakkan kembali ponsel itu di tempatnya dan melangkah mundur. Dia harus bergerak lebih cepat, sebelum pria itu mengetahui sesuatu yang seharusnya tetap menjadi rahasia.
---
"Bagaimana? Apakah kau sudah menemukannya?"
"Belum Nyonya, mata-mata sudah tersebar untuk mencari siapa yang mengadopsi anak itu. Sepertinya seseorang sengaja menyembunyikan jejaknya sehingga kami sulit menemukannya."
Seorang wanita berpakaian mewah menatap tajam ke arah bawahannya yang berlutut di hadapannya. Gaun sutra berwarna biru tua membalut tubuhnya, sementara perhiasan berlian menghiasi leher dan tangannya.
"Kau bilang seseorang menyembunyikannya, katamu?" Suaranya tajam dan penuh kekuasaan, menusuk udara dengan ketegasan mutlak.
Pelayan yang berlutut semakin menundukkan kepalanya. "Ya, Nyonya. Kami sudah menelusuri banyak keluarga, tapi belum menemukan keberadaan anak itu. Sepertinya ada yang sengaja menyembunyikan jejaknya, membuat pencarian kita semakin sulit."
Wanita itu menghela napas panjang, jari-jarinya yang berhiaskan cincin emas mengetuk-ngetuk pegangan kursi dengan ritme yang menyeramkan.
"Anak itu seharusnya sudah lenyap bertahun-tahun lalu. Tapi jika dia masih hidup dan seseorang masih melindunginya..."
Matanya menyala penuh perhitungan.
"Temukan dia. Jika dia masih bernapas, pastikan itu tidak berlangsung lama."
"Baik."
---
"Kau sudah bangun?" Elara bertanya dengan santai sambil memasukkan makanannya ke dalam mulut.
Dreven yang sudah berpakaian rapi di kursi rodanya langsung mendekat dan menyeruput kopi yang ada di depannya, "Setelah sarapan kita pergi."
Elara mengernyit bingung, "pesawat akan take off jam sebelas, kenapa buru-buru?"
Namun Dreven tak menjawab yang membuat Elara penasaran.
Hingga saat pelayan sudah membawa koper mereka untuk dibawa ke mobil, Elara akhirnya mau tidak mau mengikuti pria itu.
Dalam perjalanan mereka saling diam, bahkan Dreven yang semalam menggila kini lebih tenang.
Apa dia masih dalam pengaruh obat? pikirnya.
Saat mobil mereka tiba di salah satu klub, Elara mengerutkan dahinya. Apakah pria itu akan pergi ke klub di pagi hari?
Tapi begitu Dreven turun dari mobil dengan bantuan kursi roda elektroniknya, ada beberapa orang yang keluar dari dalam. Elara menatap mereka yang tampak sangat akrab dengan Dreven.
Bahkan beberapa wanita disana mencium pipi Dreven tanpa sungkan seolah terbiasa.
Elara menghela nafasnya pelan, tak tahu apa maksud Dreven mengajaknya menemui teman-temannya itu. Tapi satu hal yang pasti, dia tak akan turun dari mobil ini.
Dreven menyadari Elara masih duduk diam di dalam mobil. Dengan senyum miring, dia menggerakkan kursi rodanya mendekat dan membuka pintu mobil.
"Kau tidak turun?" tanyanya santai, sementara salah satu wanita masih menempel di kursi rodanya.
Elara hanya menatapnya dingin. "Tidak tertarik."
Salah satu pria yang berdiri di belakang Dreven tampak tertarik, "Wah.. apa ini kakak ipar? Lebih cantik dari rumornya."
Dreven langsung menatap tajam temannya itu, "jaga bicaramu!"
Pria itu tertawa kecil, mengangkat tangan seolah menyerah. "Santai, brother. Aku hanya memujinya."
Elara tetap diam, tapi matanya menyipit sedikit, memperhatikan interaksi di antara mereka. Jelas sekali Dreven tidak suka jika ada orang lain yang terlalu memperhatikannya.
Dreven mendengus kesal, lalu masuk ke dalam mobil, "Ayo kita berangkat. Kalian bawa mobil sendiri."
Teman-teman Dreven bersorak lalu masuk ke dalam mobil mereka. Sedangkan Elara yang mendengar itu terkejut.
"Kita?! Kau mengajak mereka dalam liburan ini?!"
Elara menatap Dreven dengan tajam, merasa tak percaya. "Kau serius?"
Dreven menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi mobil, menyalakan rokoknya sebelum menjawab, "Kenapa tidak? Mereka juga butuh liburan."
Elara mendecak pelan, menahan amarah yang mulai muncul. Dia berpikir bulan madu ini hanya akan melibatkan mereka berdua, tapi ternyata pria itu seenaknya sendiri membawa rombongan teman-temannya.
"Kalau begitu, aku tidak ikut," katanya dingin.
Dreven menoleh padanya, matanya menyipit sedikit. "Siapa yang butuh persetujuanmu? Ikut saja, kau akan menikmatinya."
Elara menatap tajam pria itu, hingga akhirnya ia mendengus kesal. Dia benar-benar merasa dijebak sekarang.
---
"Anda ingin jus atau anggur, nyonya?" Seorang pramugari menghampiri Elara saat duduk diam di kursinya.
"Tidak, aku butuh ruang pribadi," katanya dengan datar, dia sudah cukup jenuh melihat pesta kecil yang diadakan di pesawat pribadi ini. Dia hanya ingin tidur dan tak ingin berbaur.
Pramugari itu mengangguk sopan. "Baik, nyonya. Jika membutuhkan sesuatu, silakan panggil saya."
Elara hanya mengangguk sebelum berdiri dan berjalan ke bagian belakang pesawat, mencari tempat yang lebih tenang. Musik, gelak tawa, dan suara botol beradu dari pesta kecil di dalam kabin terasa mengganggu pikirannya.
Dia membuka pintu ke salah satu ruang privat dan masuk, menutup pintunya dengan tenang. Begitu duduk di sofa empuk, dia menghela napas panjang.
Seharusnya aku menolak perjalanan ini sejak awal.
Tapi ini bukan sekadar liburan atau bulan madu biasa. Karena dia sendiri yang meminta lokasi tujuan ini.
Dubai.
Tempat dimana dia ingin membeli beberapa tanah disana, menurut informan beberapa bulan kedepan ada pembangunan infrastruktur oleh pemerintah. Dia harus membeli tanah itu untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk perusahaannya.
"Setidaknya teman-temannya membuat pria itu sibuk, sehingga aku mudah untuk pergi tanpa diketahui."
---
Sementara itu, di luar Dreven dan teman-temannya masih asik dengan aktivitas mereka. Bahkan sekarang mereka bermain kartu untuk membunuh rasa jenuh selama perjalanan panjang mereka.
Permainan kartu dimulai dengan penuh antusiasme. Gelas-gelas berisi anggur dan sampanye berserakan di meja kecil di tengah kabin, sementara tawa menggema di antara mereka.
"Aturannya sederhana," ujar seorang pria dengan rambut kecokelatan, mengocok kartu dengan cekatan. "Yang kalah harus menuruti permintaan pemenang tanpa pengecualian."
"Jangan menangis kalau kalah," seorang wanita berambut pirang menantang Dreven sambil menggigit ujung sedotannya dengan genit.
Dreven hanya menyeringai. "Bermainlah dulu, baru bicara besar."
Kartu mulai dibagikan, dan ekspresi mereka satu per satu berubah seiring kartu terbuka di tangan masing-masing. Beberapa tersenyum percaya diri, sementara yang lain mendecak pelan.
Saat permainan semakin memanas, tumpukan chip di tengah meja bertambah banyak. "Kita tambah taruhannya?" tanya seorang pria berkemeja putih dengan smirk di wajahnya.
"Tentu," Dreven menimpali tanpa ragu. "Tapi pastikan kau siap menanggung akibatnya."
Bersambung
karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/