Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

​Sebuah perusahaan tidak bisa berjalan hanya mengandalkan inisiatif karyawannya; ia membutuhkan Standard Operating Procedure (SOP) dan Key Performance Indicator (KPI). Setelah kamar di- setting sesuai standar kebersihan (seiketsu), Sarah perlu memastikan bahwa disiplin ini dipertahankan (shitsuke). ​Di balik pintu kamar, terdapat sebuah papan tulis putih (whiteboard) berukuran sedang yang sebelumnya penuh dengan coretan spidol permanen berisi umpatan, gambar anarki, dan nama-nama anggota geng. Sarah telah menghabiskan waktu lima belas menit menyemprotkan alkohol ke papan tersebut dan menggosoknya hingga bersih. Ia kemudian menemukan satu-satunya spidol boardmarker berwarna hitam yang tintanya belum kering. Dengan tulisan tangan tegak bersambung yang presisi bagaikan hasil cetakan komputer, Sarah mulai menyusun konstitusi baru untuk ruangannya.

...​SOP KAMAR BELLA ANASTASIA (Revisi V.1.0)...

...​Area Tempat Tidur: Selimut dan sprei harus dilipat dan dirapikan membentuk sudut simetris maksimal 5 menit setelah bangun tidur (Batas toleransi: 05:05 pagi)....

...​Manajemen Limbah: Tidak ada sampah padat maupun cair yang diizinkan menginap di dalam ruangan. Keranjang sampah harus dikosongkan setiap pukul 19:00 WIB....

...​Kebijakan Pakaian: Pakaian kotor wajib dimasukkan ke dalam keranjang penatu. Pakaian bersih wajib digantung sesuai palet warna (gelap ke terang)....

...​Zona Belajar: Meja belajar adalah zona khusus aktivitas akademis. Benda non-akademis (komik, alat makeup, makanan) dilarang diletakkan di atas meja....

...​Jam Malam & Pemeliharaan Aset: Lampu utama dipadamkan pukul 22:00 WIB. Waktu tidur minimal 7 jam adalah mandatori untuk pemulihan sel aset biologis....

​Sarah mundur selangkah, membaca lima aturan dasar itu dengan kepuasan. Bagi remaja normal, aturan ini mungkin terlihat seperti penjara militer, namun bagi Sarah, ini adalah fondasi dasar peradaban manusia profesional. ​Setelah SOP lingkungan selesai, kini saatnya menentukan KPI pribadi. Ia menarik kursi ke meja belajarnya yang kini rapi, membuka laci, dan mengeluarkan tumpukan rapor serta hasil ujian Bella. ​Ia membolak-balik lembaran nilai tersebut. Matanya memicing, membedah angka-angka merah yang menghiasi kertas itu bagai darah yang berceceran di laporan keuangan perusahaan.

​Matematika: 45 (Bawah Standar Kelulusan)

​Fisika: 30 (Status Kritis)

​Bahasa Inggris: 55 (Butuh Perbaikan Ekstensif)

​Sejarah: 40 (Defisit)

​Absensi: Alpa 15 hari dalam satu semester

​"Surat Peringatan Ketiga (SP-3)," Sarah bergumam sendiri. "Jika di perusahaan, karyawan dengan absensi seperti ini sudah dipecat dengan tidak hormat tanpa pesangon." ​Ia mengambil buku catatan bersampul hitam yang ia temukan (satu-satunya buku yang belum dicoret-coret) dan mulai menuliskan target strategisnya untuk semester depan.

...​Key Performance Indicator (KPI) - Q1/Semester Ganjil:...

...1. Divisi Akademik: ​Mengubah rata-rata nilai dari skala 40 menjadi minimal 85 (Target Kenaikan Kinerja: 112.5%)....

...​Zero Alpa. Tingkat kehadiran 100%....

...​2. Divisi Sosial & Citra Publik: ​Rebranding citra dari "Berandal/Pembuat Onar" menjadi "Siswa Teladan/Kompeten". ​Melakukan terminasi hubungan atau restrukturisasi terhadap organisasi non-formal "Geng Tengkorak"....

...​3. Divisi Kesehatan & Kebugaran: ​Meningkatkan massa otot dan stamina. Lari pagi 3 kilometer setiap hari pukul 05:30....

...​Konsumsi nutrisi seimbang, eliminasi total gula olahan, nikotin (jika ada), dan makanan ringan....

​Sarah menutup buku catatannya, target sudah jelas ditetapkan. Ia tidak memikirkan mengapa ia bisa masuk ke dalam tubuh ini, atau apakah ia bisa kembali ke tubuh aslinya. Kepanikan eksistensial adalah pemborosan waktu produktif. Ia ada di sini sekarang. Dan selagi ia memegang kendali penuh atas perusahaan bernama "Bella", ia akan membawanya mencetak profit tertinggi. Tiba-tiba, ponsel Bella yang tergeletak di kasur bergetar hebat. Sebuah nada dering musik rock cadas yang memekakkan telinga memecah keheningan, membuat Sarah sedikit terlonjak. Ia berjalan mendekat dan mengambil ponsel tersebut. Layarnya retak di bagian sudut, menunjukkan notifikasi dari aplikasi chat.

...​500+ Unread Messages in Group: BONE BREAKERZ (Geng Tengkorak)...

​Sarah memijat pelipisnya. Ini dia liabilitas terbesarnya. Divisi toksik yang harus segera ia tangani. Ia duduk di pinggir kasur dan mulai melakukan audit forensik terhadap isi chat geng tersebut. ​Membaca riwayat percakapan Geng "Bone Breakerz" memberikan Sarah pemahaman yang komprehensif mengenai budaya perusahaan yang sedang ia hadapi. Geng ini beranggotakan sekitar lima belas orang, mayoritas adalah siswa kelas 11 dan 12 di SMA Garuda.

​Dari percakapan tersebut, Sarah mengidentifikasi beberapa tokoh kunci (Key Personnel):

​Dion, wakil ketua. Bertindak sebagai Chief Operating Officer (COO) lapangan. Suka berkelahi, provokator utama, namun tampaknya sangat loyal kepada Bella.

​Rindi, bendahara (Tukang palak). Bertugas mengumpulkan "uang keamanan" dari siswa-siswa nerd di sekolah.

​Tono & Bono, Prajurit infanteri kelas bawah (entry-level staff). Tugasnya membolos, nongkrong di warung, dan menjadi jumlah massa jika terjadi tawuran.

​Dan Bella? Bella adalah Chief Executive Officer-nya. Sang Bos.

​Sarah menganalisis mengapa gadis yang tubuhnya ditempati jiwanya ini bisa memimpin geng berandalan ini. Jawabannya ditemukan di riwayat chat bendahara. Bella adalah penyandang dana utama (Angel Investor), uang saku bulanan Bella yang besar dari orang tuanya digunakan untuk membelikan rokok, membayar tagihan makan di warung, dan bahkan mem- bail out (menebus) anggota geng yang tertangkap aparat desa atau keamanan sekolah, Bella membeli loyalitas mereka dengan kapital.

​"Model bisnis premanisme bersubsidi," desis Sarah jijik. "Ini adalah praktik corporate governance (tata kelola perusahaan) yang korup. Uang dibakar untuk kegiatan operasional yang merusak, Return on Investment-nya hanya berupa 'rasa ditakuti' yang rapuh. Sangat bodoh."

​Pesan terbaru di grup chat muncul secara real-time:

​Dion (15:30): Woi Bos! Besok Senin nih. Gimana rencana kita buat nyerang anak OSIS yang kemarin nyita raket nyamuk kita? Lo udah siapin strategi belom?

​Rindi (15:32): Iya Bos, sekalian besok nagih uang keamanan ke anak kelas 10. Kas kita udah menipis nih buat nongkrong.

​Sarah mengetuk-ngetukkan jarinya ke layar ponsel yang retak. Naluri pertamanya sebagai HRD adalah menekan tombol 'Leave Group' dan memecat mereka semua. Namun, pengalamannya menangani serikat pekerja garis keras di perusahaannya dulu mengajarkan satu hal: memutus hubungan secara sepihak dan tiba-tiba tanpa strategi mitigasi (exit strategy) hanya akan menimbulkan sabotase dan perlawanan frontal.

​Jika ia tiba-tiba keluar dari geng dan memotong pendanaan, mereka akan berbalik menyerangnya. Mereka akan mengganggu target akademiknya. Itu adalah interupsi operasional yang tidak bisa ia toleransi.

​"Jangan pernah menghancurkan mesin yang buruk jika kamu bisa mendaur ulangnya menjadi traktor pembajak sawah," prinsip Sarah berdengung di kepalanya.

​Ia tidak akan keluar dari geng. Ia adalah Bos-nya. Artinya, ia memiliki executive power (kekuasaan eksekutif). Ia akan menggunakan kekuasaan itu untuk merombak total tujuan (Objective and Key Results) geng ini. Dari preman sekolah yang merugikan, menjadi aset tenaga kerja yang bisa ia manfaatkan untuk kelancaran masa SMA-nya.

​Sarah tidak membalas pesan tersebut. Aturan manajemen komunikasi nomor satu: Biarkan bawahan Anda gelisah dalam keheningan pemimpinnya; itu membangun otoritas.

​Ia mematikan layar ponsel dan meletakkannya di laci, masalah geng akan ia selesaikan besok pagi dalam rapat (Morning Briefing). Hari ini, masih ada satu elemen krusial dari "perusahaan" ini yang belum ia audit "Manajemen Rumah Tangga".

​Berdasarkan ingatannya yang perlahan tersinkronisasi dengan sisa memori Bella, orang tua Bella (Pak Anton dan Bu Merry) adalah pengusaha ekspor-impor yang 90% waktunya dihabiskan di luar negeri atau luar kota. Rumah besar ini dikelola secara teknis oleh satu orang, Bi Inah Asisten Rumah Tangga (ART). ​Sarah keluar dari kamar. Ia harus bertemu dengan Facility Manager rumah ini, mengevaluasi sistem manajemen domestik, dan memastikan ketersediaan dukungan operasional harian.

​​Pukul 16:00 WIB. Sarah melangkah turun dari tangga pualam melingkar menuju lantai satu rumah. Suasana rumah ini terasa megah namun dingin, seperti museum yang sepi pengunjung. Dari arah dapur, terdengar suara dentingan spatula dan panci, diikuti aroma tumis bawang putih. Sarah berjalan mengendap dengan langkah tegap ke arah sumber suara. Di sana, seorang wanita paruh baya berusia sekitar awal lima puluhan sedang menggoreng tempe sambil bersenandung lirih. Pakaiannya sederhana, dan rambutnya dikuncir rapi. ​Sarah berdiri di ambang pintu dapur, mengamati postur kerja wanita itu selama tiga puluh detik. Gerakannya cekatan, kebersihan area dapur (kitchen counter) terjaga dengan baik. Penilaian awal: Pekerja keras dan memiliki standar kebersihan dasar yang mumpuni.

​"Ekhem." Sarah mendehem pelan untuk mengumumkan kehadirannya.

​Bi Inah terlonjak kaget. Ia memutar tubuhnya sambil memegang spatula seperti senjata pertahanan diri. Ketika matanya menangkap sosok yang berdiri di ambang pintu, mulut Bi Inah terbuka perlahan, spatulanya hampir terlepas dari genggaman. ​Orang yang berdiri di sana adalah Non Bella atau setidaknya, makhluk yang memiliki struktur wajah Non Bella. Namun, gadis itu memakai kaus putih polos tanpa satu pun coretan tengkorak. Rambut hijau menyalanya yang biasa ia banggakan kini lenyap, digantikan potongan pendek yang kaku dan belum diwarnai hitam sempurna namun jauh lebih waras. Wajahnya bersih dari riasan hitam iblis. Dan yang paling mengerikan bagi Bi Inah adalah postur tubuh gadis itu. ​Bella biasanya berjalan membungkuk, menyeret kakinya seperti zombi pemalas, dan menatap orang dengan pandangan merendahkan atau muak. Sosok di depan Bi Inah ini berdiri dengan tulang punggung lurus tegak 90 derajat, bahu ditarik ke belakang, dan tatapan matanya setajam silet, tatapan yang biasa dilihat Bi Inah pada diri Tuan Anton jika sedang memarahi bawahan di telepon.

​"N-Non... Non Bella? Non sakit? Atau... Non kesambet jin penunggu pohon mangga di depan?" Bi Inah mundur selangkah, siap-siap melafalkan ayat kursi.

​Sarah tidak tersenyum, namun otot wajahnya sedikit merileks untuk tidak terlalu mengintimidasi. "Selamat sore, Bi Inah. Saya sehat. Secara fisik dan mental, saya berada dalam kondisi optimal. Tolong matikan kompornya sejenak. Ada beberapa hal terkait operasional rumah tangga yang perlu kita koordinasikan. Silakan duduk di meja makan."

​Kalimat itu diucapkan dengan intonasi formal yang sangat kaku, penuh dengan diksi (operasional, koordinasikan, optimal) yang tidak pernah sekalipun keluar dari mulut Bella yang biasanya hanya berkata, "Bi, bikinin mi rebus dong, lama amat sih lo!"

​Bi Inah mematikan kompor dengan tangan bergetar, lalu berjalan tertatih-tatih mengikuti Sarah ke ruang makan besar. Sarah menarik kursi dan duduk di ujung meja, posisi Head of the Table (Pemimpin Rapat). Ia menunjuk kursi di sebelah kanannya, mempersilakan Bi Inah duduk.

​"Bi Inah," Sarah memulai, menyatukan kedua tangannya di atas meja, posisi standar HRD saat mewawancarai kandidat. "Berdasarkan tinjauan saya hari ini, ada banyak inefisiensi dalam pengelolaan rumah tangga ini. Namun, saya menyadari hal itu sebagian besar disebabkan oleh perilaku masa lalu saya yang merusak (destructive). Untuk itu, secara formal, saya menyatakan permohonan maaf atas disrupsi yang telah saya timbulkan selama ini."

​Bi Inah mematung, matanya membulat sempurna. Non Bella minta maaf? Secara formal? Bi Inah mencubit pahanya sendiri keras-keras di bawah meja, memastikan ia tidak sedang bermimpi akibat kelelahan.

​"M-maaf... Non? Non serius?"

​"Saya selalu serius terkait manajemen, Bi," jawab Sarah mantap. "Mulai hari ini, terjadi restrukturisasi dalam sistem manajemen rumah tangga ini. Saya telah menyusun SOP baru. Silakan dicatat secara mental."

​Sarah menguraikan poin-poinnya dengan jelas dan runtut,

"Pertama, Bi Inah dibebastugaskan secara total dari kewajiban membersihkan kamar tidur dan kamar mandi pribadi saya. Area itu adalah teritori saya dan menjadi tanggung jawab pemeliharaan saya sepenuhnya. Hal ini akan memotong beban kerja harian Bibi sebesar estimasi 25%."

​Bi Inah mengangguk pelan, otaknya masih berusaha mencerna. Selama ini, membersihkan kamar Bella adalah mimpi buruk. Mulai dari menemukan puntung rokok di karpet, hingga pecahan botol beling.

​"Kedua," lanjut Sarah, "Fokuskan sisa jam kerja Bibi untuk pemeliharaan area publik rumah ini, dan yang paling utama, penyediaan logistik nutrisi. Mulai besok pagi, saya meminta Bibi menyiapkan jadwal menu (meal plan). Saya butuh sarapan padat protein pukul 05:45 pagi, bekal makan siang untuk di sekolah, dan makan malam pukul 18:30. Hilangkan segala bentuk junk food, mi instan, dan gula berlebih dari inventaris dapur. Apakah alokasi anggaran belanja bulanan dari orang tua saya mencukupi untuk perubahan menu ini?"

​Bi Inah tergagap, "C-cukup, Non. Tuan dan Nyonya selalu transfer uang belanja rutin. Biasanya uangnya sisa banyak karena Non selalu minta uang tunainya untuk jajan di luar, dan melarang Bibi masak yang sehat-sehat."

​Sarah mendengus dalam hati. Pantas saja nutrisi anak ini kacau balau, uang pangannya dia korupsi sendiri untuk biaya operasional geng.

​"Bagus," kata Sarah. "Mulai sekarang, tidak ada lagi pengalihan dana belanja untuk kepentingan pribadi saya. Seluruh dana digunakan untuk operasional rumah. Dan yang ketiga..."

​Sarah menatap Bi Inah dengan pandangan yang tiba-tiba melembut, sebuah taktik manajemen yang sering ia gunakan untuk memenangkan hati karyawan setelah memberikan instruksi keras. Ia tahu, Bi Inah adalah pilar utama rumah ini. Ia harus membuat wanita ini loyal padanya, bukan sekadar patuh karena takut.

​"Saya akan mengimplementasikan sistem Bonus Kinerja Bulanan (Monthly Performance Bonus)."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!