perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita yang tak di kenal
Aku masih duduk termenung di ruang tengah. Pikiranku terus berputar untuk mencari jalan keluar. Bagaimana aku bisa segera mendapatkan uang untuk membeli susu anak-anak ku. Aku menghela napas panjang.
Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan dan salam dari dari luar.
"Assalamualaikum...!!"
Lamunanku langsung buyar. Aku menoleh ke arah pintu utama. Siapa yang datang siang-siang begini? Karena biasanya jarang sekali ada tamu yang berkunjung kerumah saat jam seperti ini.
Aku segera bangkit dari sofa, lalu berjalan ke arah pintu utama. Sebelum membuka pintu, aku berhenti sejenak. Aku mendekati jendela yang tertutup korden. Dengan hati-hati aku mengintip dari celah korden. Kedua mataku langsung tertuju pada sosok yang berdiri di depan pintu, yaitu seorang wanita yang sangat cantik, rambut panjangnya terurai rapi. Pakaiannya pun terlihat modis dan mahal. Wanita itu menggunakan dress pendek yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Aku juga melihat mobil keluaran terbaru yang terparkir di halaman rumah.
"Assalamualaikum." Ucap wanita itu lagi.
Dengan ragu, aku membuka pintu secara perlahan. Wanita itu langsung tersenyum kepadaku.
"Walaikumsallam. Maaf, mbak ini siapa, Ya? Dan mencari siapa?" Tanyaku.
"Maaf kalau saya sudah mengganggu waktu anda. Bolehkah saya masuk terlebih dahulu? Di luar sangat panas." Jawab nya yang langsung berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban dariku.
Aku bingung dan sedikit terkejut dengan sikapnya. Namun, aku segera menyusulnya masuk ke dalam rumah.
Wanita itu terlihat sedang mengamati setiap sudut rumah. Kemudian berhenti pada sebuah foto keluarga kami yang tergantung di dinding ruang tamu. Tatapannya cukup lama.
Kemudian , wanita itu berjalan semakin masuk ke dalam rumah, menuju ke arah dapur. Aku mengikutinya dari belakang.
"Maaf... Mbak ini sebenarnya mencari siapa?" Tanyaku lagi, namun ia hanya diam saja tidak menjawab pertanyaanku.
Aku mulai merasa tidak nyaman, karena bagaimanapun juga ini adalah rumahku. Dan dia ada orang asing, tapi sikapnya sungguh sangat tidak sopan.
"mbak... Mbak ini sebenarnya ada keperluan apa datang kerumah saya? Mbak sedang mencari siapa? Mari kita berbicara di ruang tamu saja." Ajak ku.
Wanita itu tetap diam saja, tidak menggubris pertanyaanku. Wanita itu hanya menatap ke arah ku dengan tatapan sinis. Lalu dia pun berjalan menuju ke arah ruang tamu. Aku pun mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di ruang tamu, ia langsung duduk di sofa dengan santai. Aku pun juga ikut di sofa yang bersebarangan dengannya. Suasana hening. Mata wanita itu terus saja mengamati sekeliling rumah.
"Rumah nya besar juga, ya. Perabotannya juga lengkap, meskipun bukan perabotan mewah. Dapurnya tadi juga terlihat bersih." Ucapnya dengan santai yang membuatku semakin penasaran.
"Terimakasih atas pujiannya. Tapi kalau boleh saya tau, mbak ini siapa? Dan ada keperluan apa mbak datang kerumah saya?" Tanya ku lagi dengan pertanyaan yang sama. Karena aku belum mendapatkan jawaban.
Wanita itu menyenderkan punggungnya ke sofa dengan santai.
"Sebelum saya mejawab pertanyaan mbak. Bisakah buatkan saya minum terlebih dahulu. Saya ini kan tamu. Saya ingin minum yang segar-segar." jawab wanita itu dengan senyum kecil.
"Baik mbak. Sebentar saya siapkan." Ucapku sambil berdiri dari sofa.
Kemudian aku berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur segera ku buatkan segelas es jeruk, karena tadi wanita itu bilang ingin minum yang segar-segar.
Setelah minuman sudah siap. Segera kubawa menuju ruang tamu. kemudian meletakkannya di atas meja di hadapan wanita itu.
"Silahkan diminum, Mbak." Ucapku mempersilahkan dengan sopan.
Wanita itu pun langsung meminumnya, sambil ke dua mata nya terus melihat sekeliling ruang tamu. Yang membuatku semakin penasaran.
"O,ya, kamar kecilnya di mana, ya? Saya ingin buang air kecil terlebih dahulu." Ucap wanita itu.
Belum sempat aku menjawabnya, wanita itu langsung berdiri dari sofa. Dan dengan santainya berjalan menuju ke arah kamar mandi yang berada di samping dapur.
Aku hanya bisa memperhatikannya dengan bingung. Baru kali ini aku menerima tamu yang berbeda dari yang lain.
Tidak lama kemudian wanita itu muncul dan kembali duduk di sofa. Ia meminum es jeruknya lagi, lalu meletakkannya di atas meja.
"Mbak sendirian dirumah?" Tanya wanita itu tiba-tiba.
"Saya dirumah dengan kedua anak saya. Kebetulan mereka sedang tidur. Kalau boleh saya tau, Mba ini siapa dan dari mana? Ada keperluan apa datang kesini?" Tanyaku balik bertanya.
"Jadi begini mbak. Kebetulan saya lewat sini. Saya sedang mencari alamat rumah calon suami saya." Jawab nya dengan santai.
Sesaat aku terdiam setelah mendengar ucapan wanita itu. Calon suami? aku merasa aneh.
"Oh, ...apakah mbak sudah ketemu alamatnya? Tapi kok aneh, ya. Masak mbak tidak tau alamat rumah calon suami sendiri?". Tanya ku polos. Aku menepis semua pikiran-pikiran yang buruk datang di pikiranku.
"Iya,, soalnya dia sangat sulit di hubungi sampai sekarang. Tapi ini saya tetap mencoba untuk menghubunginya terus. Apakah saya boleh menunggu disini, Mbak? Saya hanya butuh tempat untuk menunggu sampai calon suami saya bisa di hubungi." Jawab wanita itu dengan sebuah senyuman tipis yang menghiasi wajah cantiknya.
Mendengar ucapan wanita itu, aku langsung berpikir sejenak. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Namun aku mencoba menenangkan pikiranku menepis semua pemikiran buruk yang datang.
Belum sempat aku menjawab permintaan wanita itu, tiba ponsel wanita itu berdering. Wanita itu langsung merogoh tas nya untuk mengambil ponsel. Kemudian melihat ke layar ponselnya. Senyuman tipis langsung menghiasai wajah cantik nya.
"Sebentar ya, Mbak. Ini calon suami saya yang telepon. Saya jawab dulu." Ucap wanita itu.
"Silahkan, Mbak." Jawabku singkat.
wanita itu pun menjawab telepon dari calon suaminya.
"Hallo, sayang. Kamu itu kemana aja sih? Susah sekali dihubungi. Nanti aku marah lho. Ini aku sudah sampai di perumahan tempat tinggalmu. Capek lho aku, sayang. Terus ini aku mampir di rumah orang. Maaf, mbak,,, namanya siapa?" Tanya wanita itu tiba-tiba kepadaku.
"Nama saya Jasmine, Mbak." Jawabku segera.
"Oh,,, Nama nya mbak Jasmine, sayang. Kamu kenal tidak? Kalau kenal cepat datang kesini, ya. Aku tunggu. Mbak Jasmine baik banget, aku di buatkan es jeruk yang segar olehnya. Cepetan kesini ya, sayang." Ucapnya , dan langsung memutuskan panggilan itu.
Sampai disini aku makin merasa bingung dengan tingkah wanita itu. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh.
"Mbak, kalau boleh saya tau, sebenarnya alamat rumah calon suami mbak di sebelah mana. Kalau memang masih di sekitar perumahan sini, mungkin saya mengenalnya. Nama calon suami mbak siapa?" Tanyaku pelan.
"Tidak usah repot-repot,mbak. Sebentar lagi calon suamiku datang untuk menjemputku." jawab wanita itu dengan tersenyum.
"Tidak apa-apa, Mbak. Sama sekali tidak merepotkan. Mumpung anak-anak saya masih tidur. Memangnya mbak gak pernah di ajak calon suami mbak untuk berkunjung kerumahnya,ya?" Tanyaku penasaran.
"Sama sekali belum pernah, Mbak. Aku tidak tau kenapa dia seperti itu. Apalagi sekarang , setelah dia mengetahui kalau aku sedang berbadan dua." Ucapnya dengan nada sedih.
Mendengar ucapannya, membuatku langsung terkejut. Bagaimana bisa dia tidak tau alamat rumah calon suaminya di tambah keadaannya yang sedang hamil. Sungguh sangat tega laki-laki itu, sangat tidak bertanggung jawab.
...****************...
Terimakasih sudah membaca..
Jangan lupa like dan follow 😘