Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Lari dari Pernikahan / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anna Brenda

Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.

Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.

Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.

Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ia Merelakannya

Roxanna mengangguk perlahan, merasakan campuran lega dan gugup sementara ia menaiki tangga menuju kamarnya. Setiap langkah terasa berat, dan ia berpegangan pada pegangan tangga untuk membantu gerakannya, sadar bahwa Chris tengah memperhatikannya.

Tatapan Chris begitu dalam, penuh kekhawatiran dan kelembutan tertentu yang membuatnya merasa diperhatikan dengan cara yang sudah lama tak ia rasakan. Cara Chris tersenyum saat teringat bahwa sang bayi bergerak dalam kandungannya seakan menghangatkan hatinya, bahkan di tengah kekalutan.

Sementara Roxanna menaiki tangga, Chris berdiri sejenak di area resepsionis, membiarkan pikirannya mengalir. Ia bukan ayah kandung sang bayi, tapi ia merasakan ikatan yang tak terjelaskan dengan kehidupan yang tengah tumbuh itu.

Gagasan bahwa Roxanna dan bayinya keluar dari hidupnya membuatnya sangat resah. Ia tak mau kehilangan kesempatan menjadi bagian dari kisah itu.

Setelah menguasai diri, Chris kembali bekerja, tapi pikirannya jauh melayang. Ia melayani para pelanggan dengan senyum sopan, tapi setiap tawa atau percakapan di sekelilingnya terasa jauh, seolah ia berada di dunia yang terpisah. Pikiran tentang Roxanna dan sang bayi memenuhi benaknya sampai ia menyadari bahwa ia harus menemuinya.

Dengan tekad bulat, ia menuju dapur. Sembari menyiapkan santap siang lezat yang kaya nutrisi dan protein—sesuatu yang ia tahu penting bagi Roxanna dan bayinya—pikirannya dipenuhi harapan.

Ia ingin momen itu terasa istimewa. Gagasan itu membuatnya bersemangat sekaligus gugup.

Dengan hidangan yang tertata rapi dan segelas jus segar di tangan, Chris menaiki tangga. Setiap langkah menambah harapannya; ia ingin merasakan sang bayi menendang saat ia menyentuh perut Roxanna. Harapan untuk menjalin ikatan dengan makhluk kecil itu tumbuh dalam dirinya.

Sesampainya di depan pintu kamar Roxanna, ia ragu sejenak, teringat pagi yang tegang ketika ia bersikap kasar padanya. Campuran penyesalan dan kerinduan menyergapnya; ia ingin meminta maaf atas kata-kata pedasnya dan mungkin menemukan cara untuk memulihkan ikatan di antara mereka.

Ketika akhirnya ia masuk ke kamar, ia melihat Roxanna duduk di ranjang, tampak sedikit lebih tenang sekarang setelah sendirian. Tatapan Roxanna bertemu dengan tatapannya, dan sesuatu di udara berubah; ada ketegangan yang begitu terasa di antara mereka. Chris tersenyum lembut sembari meletakkan piring di meja samping ranjang.

"Aku menyiapkan sesuatu yang istimewa untukmu," katanya, mencoba mencairkan suasana.

Roxanna menatap makanan itu lalu menatapnya, terkejut oleh perhatiannya. Selain bersyukur atas kepeduliannya, ia juga merasakan ketakutan lama itu kembali muncul: bagaimana caranya menceritakan kebenaran tentang pernikahannya?

Tapi saat itu, ia hanya ingin menikmati kehadiran Chris.

"Terima kasih," jawabnya dengan tulus.

Chris melangkah maju dan ragu sebelum menyentuh perut Roxanna. Ia ingin merasakan gerakan kecil itu lagi; ingin menjadi bagian dari pengalaman ajaib itu. Ketika akhirnya ia meletakkan tangannya di perut Roxanna yang membulat, sebuah tendangan kecil mengejutkan keduanya.

"Wah!" seru Chris dengan antusiasme tulus di matanya. "Dia bersemangat sekali hari ini!"

Roxanna tersenyum malu sementara matanya berbinar oleh haru dari momen yang mereka bagi itu. Itu adalah ikatan tak terduga di antara mereka; sesuatu yang melampaui kata-kata yang tak terucap tentang kenyataan pelik mereka.

Pada saat itu, Chris menyadari bahwa ia tak hanya ingin hadir dalam hidup Roxanna dan bayinya; ia juga ingin melindungi mereka dari segala luka di masa depan. Ketakutan untuk kembali ditinggalkan masih membayanginya bagai bayang-bayang, tapi saat itu semuanya terasa mungkin.

Dan mungkin ada ruang untuk pengampunan dan rujuk di antara mereka.

Chris mengambil piring dan gelas jus itu, merasakan ringannya momen tersebut berkontras dengan ketegangan yang menggantung di udara. Ia mendekati Roxanna, yang duduk di ranjang, dan dengan lembut membantunya bangkit. Dengan senyum menenangkan, ia menuntun Roxanna ke meja agar bisa makan siang dengan lebih nyaman. Cara Chris menopangnya terasa begitu alami, seolah mereka sudah lama melakukannya.

Sementara Roxanna mulai makan dalam diam, Chris menyempatkan mengamati detail kamar itu. Ia menyadari kamar itu perlu dibersihkan, mengingat dulu ia hanya tidur di sana, dengan buku-buku yang menumpuk tak teratur di meja samping ranjang. Dengan gerakan hati-hati, ia mulai merapikan ruangan, menaruh segalanya di tempat semestinya. Saat membuka laci meja, ia melihat obat-obatan yang harus diminum Roxanna dan teringat anjuran dokter serta doula, pendamping kehamilan itu. Ia memastikan semuanya tertata, mengecek apakah Roxanna mengikuti arahan dengan benar.

Keheningan di kamar itu terasa pekat dan sarat perasaan tak terucap. Chris merasa perlu memecah suasana tegang itu, tapi sekaligus sulit menemukan kata-kata yang tepat. Ketika akhirnya ia selesai mencuci piring dan gelas di wastafel, ia berbalik ke arah Roxanna dan, dalam dorongan spontan, keduanya menyebut nama satu sama lain bersamaan.

"Roxanna," ucapnya.

"Chris," sahutnya.

Sesaat keterkejutan menggantung di antara mereka sebelum Chris mengambil inisiatif.

"Kau dulu," ia menawarkan, memberi isyarat dengan satu tangan agar Roxanna bicara.

Roxanna ragu sejenak, tatapannya terpaku ke lantai sementara ia menimbang kata-katanya. Akhirnya, dengan helaan napas dalam dan suara bergetar, ia berkata,

"Kurasa lebih baik kita tak melangkah lebih jauh dari sekarang ini."

Chris mengernyitkan dahi, bingung dan cemas. Beban pagi itu masih segar dalam ingatannya.

"Kenapa? Apakah karena yang kukatakan tadi pagi? Maafkan aku... aku hanya tak ingin hancur lagi. Menyatukan kembali kepingan-kepingan tak menjamin semuanya akan tetap utuh setiap saat."

Kata-kata Roxanna bagai bilah tajam yang mengiris kerapuhan momen itu. Roxanna menatap matanya dan menjawab,

"Bukan itu. Lebih baik kita tak membangun harapan atas sesuatu yang tak pasti."

Chris merasakan gelombang keputusasaan menjalari tubuhnya; ia ingin memperjuangkan mereka, tapi ia tahu ia harus menghormati perasaan Roxanna.

"Baiklah," katanya dengan berat hati. "Kau benar. Yang kita jalani bersama itu indah. Dan kalau kau ingin melanjutkan hidup sendiri, akan kuhormati. Hanya saja, jangan pergi dari hidupku."

Permohonannya bergaung di udara yang berat di antara mereka. Roxanna mendekat padanya dengan tatapan rapuh di matanya.

"Tentu saja tidak. Dan aku pun takkan sanggup," jawabnya dengan suara tercekat haru.

Chris tersenyum kaku, tapi senyum itu nyaris tak mampu menutupi keputusasaan dalam dirinya. Hatinya hancur berkeping-keping; setiap serpihan melambangkan harapan yang runtuh—momen-momen bahagia yang mungkin terjadi; janji-janji yang kini terasa begitu jauh. Pedihnya begitu dalam, seolah setiap bagian hatinya diremukkan oleh beban penolakan.

Chris merangkul Roxanna dalam pelukan erat; sebuah gerakan naluriah mencari ketenangan dalam kedekatannya. Roxanna membalas pelukan itu dengan kuat, seolah ingin menyalurkan segenap kasih dan pengertiannya lewat sentuhan hangat itu.

Keduanya larut dalam lautan emosi yang bertentangan.

Lalu, nyaris bagai bisikan yang mereka bagi tanpa benar-benar menyadari betapa dalam makna pernyataan diam itu, keduanya berkata bersamaan dalam hati,

"Aku mencintaimu."

Tapi kata-kata itu tersesat di antara mereka; masing-masing percaya bahwa yang lain tak sungguh-sungguh mendengar janji yang dibisikkan pada angin ketidakpastian itu.

Cinta itu ada di sana, tapi terselubung oleh ketakutan dan kegamangan.

Roxanna tak ingin kehilangan Chris, tapi untuk saat ini ia memutuskan tak menceritakan pernikahannya yang jelas masih berlaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!