Indonesia
NovelToon NovelToon
Sembilan Reinkarnasi Naga Primordial

Sembilan Reinkarnasi Naga Primordial

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Dikhianati oleh murid kepercayaannya saat mencoba menerobos batas keabadian, Kaisar Dewa Ye Xuan mati dan jiwanya terlempar melewati sungai waktu. Tiga ribu tahun kemudian, ia terbangun di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama—seorang "sampah" tanpa meridian kultivasi di kota terpencil. Dengan ingatan masa lalunya dan teknik terlarang Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, Ye Xuan memulai kembali perjalanannya dari bawah untuk membelah langit, menginjak-injak para jenius sombong, dan menuntut darah dari mereka yang mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Awan kelabu yang tebal menggulung di atas Puncak Makam Pedang, menghalangi masuknya sinar matahari. Tidak ada pepohonan hijau atau aliran sungai yang jernih di gunung ini. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanyalah tanah berbatu tandus yang dipenuhi oleh ribuan pedang berkarat, patah, dan terbengkalai yang menancap tak beraturan.

​Angin yang berhembus di tempat ini tidak membawa kesejukan, melainkan siulan tajam yang terdengar seperti ribuan hantu yang meratap. Itu adalah pusaran badai Qi Pedang—sisa-sisa niat membunuh dan obsesi bela diri dari para leluhur Sekte Pedang Azure yang telah gugur berabad-abad lalu.

​Penatua Lu Zifeng mendaratkan pedang terbangnya di perbatasan bawah gunung tersebut. Ia tidak berani melangkah lebih jauh dari gerbang batu yang telah lapuk termakan usia.

​"Tuan Muda Ye, di sinilah batasnya," ucap Lu Zifeng dengan nada sedikit cemas. "Puncak Makam Pedang dibagi menjadi tiga zona: Luar, Tengah, dan Dalam. Semakin tinggi Anda mendaki, badai Qi Pedangnya semakin ganas. Jangankan Anda yang berada di Alam Kondensasi Qi, murid pelataran dalam di tingkat Pembentukan Fondasi pun akan terkoyak menjadi kabut darah jika memaksakan diri masuk ke Zona Tengah."

​Ye Xuan menurunkan Pedang Besi Bintang dari bahunya dan menancapkannya santai ke tanah berbatu. Matanya menyapu hamparan pedang patah di lereng gunung. Bukannya takut, sepasang pupil hitam itu justru memancarkan kilatan antisipasi yang buas.

​"Ini adalah Medali Murid Pelataran Luar sementara Anda," Lu Zifeng menyerahkan sebuah lempengan kayu giok. "Satu bulan dari sekarang, bel Ujian Sekte Luar akan berbunyi di Puncak Utama. Jika Anda membutuhkan sesuatu sebelum itu... aku khawatir aku tidak bisa membantu. Perintah Patriark mutlak. Anda harus bertahan hidup di sini sendirian."

​Ye Xuan mengambil medali itu tanpa meliriknya, lalu melangkah melewati gerbang batu.

​"Penatua Lu," suara Ye Xuan terdengar saat punggungnya mulai tertelan kabut kelabu. "Kau cukup cerdas untuk tidak memihak anjing-anjing tua di aula tadi. Pertahankan kecerdasanmu itu, dan kau mungkin akan mendapatkan kursi Patriark di masa depan."

​Lu Zifeng mematung di tempat. Kata-kata itu terdengar sangat arogan, bahkan memberontak, namun entah mengapa, mendengar nada bicara pemuda itu, sebuah getaran ambisi tanpa sadar merayap di dada sang Penatua Inti Emas. Saat ia kembali menatap ke depan, siluet Ye Xuan telah sepenuhnya menghilang ke dalam badai pedang.

​Srak! Srak!

​Baru lima ratus meter Ye Xuan mendaki Zona Luar Puncak Makam Pedang, pakaian kasarnya telah robek di belasan tempat. Angin yang mengandung serpihan Qi elemen logam menyapu tubuhnya layaknya pisau cukur yang tak terlihat. Garis-garis luka dangkal mulai bermunculan di lengan dan pipinya, meneteskan butiran darah merah.

​Namun, langkah Ye Xuan tidak melambat sama sekali.

​Di dalam Dantiannya, benih Qi Naga Primordial bergetar hebat. Meridiannya yang sebelumnya sempat retak akibat memaksakan diri menggunakan Jari Penghancur Bintang kini berdenyut perih, merespons masuknya elemen logam brutal dari lingkungan sekitar.

​"Fisik fana ini terlalu lemah," gumam Ye Xuan tanpa sedikit pun rasa sakit di wajahnya, seolah tubuh yang sedang berdarah itu bukan miliknya. "Jika aku ingin menembus Alam Dewa kembali, aku tidak bisa hanya mengandalkan Qi. Aku harus membangun tungku dari daging dan darahku sendiri."

​Ia terus berjalan menanjak, mengabaikan luka yang semakin banyak. Ia melewati batas Zona Luar dan melangkah masuk ke Zona Tengah.

​Di sini, badai pedang bukan lagi sekadar angin tak kasat mata. Qi elemen logam telah memadat menjadi bilah-bilah cahaya putih yang melesat liar di udara. Suara benturan logam bergema memekakkan telinga.

​Crash!

​Sebilah Qi pedang menghantam dada Ye Xuan. Jika mengenai murid Kondensasi Qi Bintang Lima biasa, tebasan itu akan membelah tulang rusuk mereka. Namun, tubuh Ye Xuan hanya terdorong mundur setengah langkah, menyisakan luka sayatan sedalam satu sentimeter yang memancarkan darah.

​"Di sini cukup."

​Ye Xuan menjatuhkan Pedang Besi Bintang Jatuhnya ke tanah berbatu hingga menimbulkan suara dentuman berat. Ia melipat kakinya dan duduk bersila tepat di tengah-tengah jalur badai pedang yang paling ganas.

​Ia mengubah segel tangannya. Seni Sembilan Reinkarnasi Naga: Tubuh Fisik Tirani Naga - Tahap Pertama, Tulang Besi Kulit Perunggu!

​Begitu teknik itu diaktifkan, pori-pori di seluruh tubuh Ye Xuan terbuka lebar. Bukannya menahan serangan badai pedang, ia justru menghisap Qi elemen logam liar itu ke dalam tubuhnya secara paksa.

​BZZZZT!

​Rasa sakit yang luar biasa, setara dengan dicincang hidup-hidup oleh ribuan pisau daging, meledak di setiap sel sarafnya. Qi pedang liar itu masuk dan mulai mencabik-cabik otot, urat, dan meridiannya dari dalam.

​Namun, tepat sebelum meridiannya hancur, Qi Naga Primordial yang tebal dan tirani bangkit dari Dantiannya. Seperti seekor naga purba yang menelan pedang-pedang fana, Qi keemasan itu membungkus Qi logam liar, memecahnya, dan memaksa esensi ketajamannya menyatu ke dalam darah, sumsum, dan tulang Ye Xuan.

​Proses perusakan dan penyembuhan ini terjadi secara konstan. Dihancurkan oleh badai pedang, lalu disatukan kembali oleh Qi Naga menjadi bentuk yang jauh lebih padat dan keras.

​Darah segar yang keluar dari pori-porinya perlahan mengering, membentuk kepompong darah kental yang menyelimuti tubuh pemuda itu.

​Satu hari berlalu. Tiga hari. Sepuluh hari.

​Gunung itu tetap sunyi dari kehidupan, hanya diisi oleh lolongan angin pedang yang tak kenal ampun.

​Tepat pada hari kedua puluh delapan.

​Di perbatasan bawah Puncak Makam Pedang, tiga sosok berpakaian biru dengan lambang pedang di dada mereka melangkah melewati gerbang batu pelapuk. Mereka adalah murid pelataran luar Sekte Pedang Azure. Ketiganya memancarkan fluktuasi Alam Kondensasi Qi Bintang Enam puncak, dan salah satu dari mereka, seorang pemuda jangkung berwajah licik bernama Zhao Ming, telah setengah langkah menyentuh Bintang Tujuh.

​Zhao Ming adalah cucu keponakan dari Penatua Zhao Ying, tetua yang menentang keras masuknya Ye Xuan di aula utama.

​"Kakak Zhao, apakah kita benar-benar harus memetik Rumput Tulang Pedang di Zona Luar ini? Angin di sini sangat tajam, jubah pelindungku sudah mulai robek," keluh salah satu murid sambil menahan terpaan angin kelabu.

​Zhao Ming mendengus dingin. "Berhentilah merengek. Kakek menyuruh kita ke mari bukan hanya untuk mencari rumput sialan itu, tapi juga untuk memeriksa mayat bocah sombong dari Kota Awan Merah itu. Sudah hampir sebulan, bocah Bintang Lima itu pasti sudah dicincang menjadi pasta daging oleh badai pedang di sini."

​Murid ketiga tertawa sinis. "Patriark benar-benar murah hati membiarkannya memilih kuburannya sendiri. Tuntutannya di aula utama sungguh konyol. Siapa yang dia pikir dirinya?"

​Ketiganya terus berjalan mendaki sambil mengumpulkan beberapa helai Rumput Tulang Pedang yang tumbuh di antara celah batu. Rumput ini menyerap elemen logam dan sangat berharga untuk meracik pil penempa tubuh tingkat rendah.

​Tanpa terasa, keserakahan membawa mereka menyentuh perbatasan Zona Tengah.

​"Berhenti," Zhao Ming tiba-tiba mengangkat tangannya, wajahnya menegang. "Jangan melangkah lebih jauh. Badai pedang di depan sana sudah berwujud bilah cahaya. Masuk ke sana tanpa perlindungan Tetua sama saja mencari mati."

​Kedua pengikutnya mengangguk pucat, berniat mundur. Namun, pandangan murid kedua tiba-tiba tertuju pada sebuah bayangan di tengah badai bilah cahaya tersebut, sekitar seratus meter di depan mereka.

​"K-Kakak Zhao... lihat itu! Di sana ada bongkahan batu berwarna merah darah. Tunggu, itu bukan batu... ada pedang raksasa tertancap di sebelahnya!"

​Zhao Ming menyipitkan matanya. Di tengah badai maut yang bahkan ditakuti oleh murid Pembentukan Fondasi, sosok kepompong berkerak darah duduk bersila dengan tenang. Tidak jauh darinya, Pedang Besi Bintang hitam pekat menancap kokoh, tak tergores sedikit pun oleh angin pedang.

​"Itu pedang rongsokan milik si sampah Ye Xuan!" Zhao Ming terbelalak. Ia lalu menyeringai lebar. "Hahaha! Lihatlah, dia benar-benar mati mengenaskan! Darahnya sampai mengering dan membeku menutupi seluruh tubuhnya seperti kepompong busuk. Kakek akan sangat senang mendengar laporan ini!"

​"Sayang sekali pedang besinya terlalu berat untuk kita bawa turun sebagai bukti," kekeh pengikutnya. "Mari kita lempar beberapa batu ke mayatnya, sekadar untuk bersenang-senang sebelum kembali."

​Murid itu memungut sebongkah batu seukuran kepalan tangan, melapisisnya dengan Qi Bintang Enam, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah kepompong darah tersebut.

​Wush!

​Batu itu melesat membelah angin, mengarah tepat ke kepala sosok yang disangka mayat itu.

​Namun, tepat sepuluh meter sebelum batu itu mengenai sasarannya, sesuatu yang mengerikan terjadi.

​KREK... KRAAAK!

​Kepompong darah yang tebal itu tiba-tiba retak. Garis-garis cahaya berwarna perunggu keemasan memancar dari dalam celah-celah retakan tersebut. Batu yang dilempar oleh murid itu mendadak hancur menjadi debu bahkan sebelum menyentuh kulit kepompong, dihancurkan semata-mata oleh tolakan aura fisik yang baru saja meledak.

​Badai bilah pedang yang mengamuk di Zona Tengah seketika terhenti. Angin tajam yang semula merobek segalanya tiba-tiba berbelok arah, seolah ketakutan untuk menyentuh sosok yang duduk di sana.

​"A-apa yang terjadi?! Kenapa badai pedangnya berhenti?!" Zhao Ming mundur selangkah, bulu kuduknya berdiri. Insting bahayanya berteriak layaknya sirine kematian.

​BOOM!

​Kepompong darah itu meledak berkeping-keping.

​Dari balik debu kemerahan, sesosok pemuda perlahan bangkit berdiri. Pakaian atasnya telah hancur sepenuhnya, memperlihatkan tubuh bagian atas yang ramping namun dipenuhi otot-otot yang terbentuk sempurna. Kulitnya tidak lagi pucat, melainkan memancarkan kilau perunggu samar yang menyerupai logam purba yang tak bisa dihancurkan.

​Ye Xuan memutar lehernya hingga berbunyi gemeretak renyah. Ia menarik napas panjang, dan seketika pusaran energi spiritual di sekitarnya tersedot habis ke dalam Dantiannya.

​Fluktuasi auranya meledak. Alam Kondensasi Qi Bintang Enam! Dan dengan kepadatan Qi Naga Primordial miliknya, batas kemampuannya kini telah melonjak ke tingkat yang tak bisa diukur oleh akal sehat fana.

​Ye Xuan membuka matanya. Sepasang pupil hitamnya kini berkilat dengan seutas cahaya pedang berwarna perak. Ia perlahan menoleh, menatap tiga murid luar yang kini mematung dengan wajah seputih mayat di batas Zona Luar.

​"Kalian datang melempar batu," suara Ye Xuan tidak keras, namun terdengar jelas di telinga ketiga murid itu bagai bisikan dewa kematian, menembus jarak seratus meter. "Apakah sekte ini sengaja mengirim tiga ekor lalat untuk menguji seberapa keras kulit baruku?"

1
Marthen
menyerah akan selamat
meLawan maka akan ada patriark yang baru
Marthen
kebanggaan fana artinya kebanggaan dunia bawah bila baik ke dunia atas hanya dijadikan pengawal penjaga pintu gerbang
preeeeeetttttttt
Fajar Fathur rizky
bikin yexuan hancurkan kultivasi jianwuji bikin jianwuji jadi sampah
Marthen
up thor
sibaweh abduh
bagus sekali ceritanya thor
Marthen
up thor
Visitor8053
Ye Xuan mantap mendapatkan ilmu hebat
Marthen
sudah tgl 4....uo lagi thor 👍
Marthen
asyiiiik panggung dominasi.....
Marthen
hutan binatang buas bagi masyarakat awan ini adalah hutan kematian tetapi bagi mantan kaisar dewa ini adalah kebun binatang yg berisi hewan2 jinak preeeetttt
Marthen
jozzzzz
Marthen
kelinci percobaan beryjung tumbaL
Marthen
assl yg betul ye xuan...kata2mu ini kami tunggu di alam semesta atas sebagai inti cerita pembalasan dendam kepada mo yuan
ARay
nekat boleh, oon jangan coy... ngotak dikit dah
Fajar Fathur rizky
cepat bantai zhao ying beserta keluarganya dan klan zhao pajang mayat mereka di sekte itu
Fajar Fathur rizky
cepat bantai klan zhao sampai ke akar akarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!