Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Beberapa bulan kemudian, batalyon tempat Sarif bertugas mengadakan kegiatan bakti sosial berupa pengobatan massal dan pelayanan kesehatan keliling di salah satu desa yang menjadi wilayah binaan. Sejak subuh, truk militer dan beberapa kendaraan dinas telah bersiap membawa tim kesehatan beserta perlengkapan medis menuju lokasi.
Sarif memimpin tim medis yang bertugas memberikan pemeriksaan kesehatan, konsultasi, pengobatan, hingga penyuluhan tentang pola hidup sehat kepada masyarakat. Sementara itu, para ibu Persit, termasuk Tara, ikut dilibatkan untuk membantu kelancaran kegiatan. Ada yang mengatur alur pendaftaran pasien, menyiapkan obat sesuai arahan tenaga medis, mendampingi lansia, menenangkan anak-anak yang takut diperiksa, membagikan makanan tambahan dan vitamin, hingga memberikan edukasi sederhana mengenai kebersihan serta gizi keluarga. Desa yang biasanya sepi mendadak ramai dipenuhi warga yang datang sejak pagi dengan penuh antusias.
Melihat senyum bahagia mereka setelah mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis membuat rasa lelah seharian seolah menghilang begitu saja. Di sela-sela kesibukan, Tara sempat memperhatikan Sarif yang terus berpindah dari satu pasien ke pasien lain tanpa mengenal lelah.
Meski peluh membasahi wajahnya, senyum ramahnya tidak pernah hilang. Saat itulah Tara semakin memahami bahwa pengabdian seorang prajurit tidak selalu dilakukan dengan mengangkat senjata. Ada kalanya pengabdian diwujudkan melalui stetoskop, obat-obatan, dan tangan yang tulus membantu masyarakat.
Sementara bagi para ibu Persit, kehadiran mereka bukan sekadar menemani suami bertugas, melainkan menjadi bagian dari semangat gotong royong yang menghubungkan TNI dengan rakyat. Di perjalanan pulang, Tara menatap Sarif yang tertidur kelelahan di dalam kendaraan dinas. Senyum kecil terukir di bibirnya. Hari itu ia kembali belajar bahwa kebahagiaan terbesar bukan berasal dari kemewahan, melainkan dari melihat begitu banyak orang pulang dengan tubuh yang lebih sehat dan hati yang lebih tenang karena kepedulian yang mereka berikan bersama.
***
Kegiatan bakti sosial kesehatan keliling yang semula terdengar menyenangkan perlahan berubah menjadi ujian kecil bagi Tara. Program itu direncanakan berlangsung selama satu bulan penuh di beberapa desa terpencil sehingga tim medis harus lebih sering berada di lapangan daripada di markas.
Selama itulah Sarif bekerja bersama beberapa tenaga kesehatan lain, termasuk seorang dokter perempuan yang baru bergabung di batalyon. Dokter itu masih beradaptasi dengan lingkungan dinas sehingga cukup sering menghubungi Sarif untuk menanyakan prosedur pelayanan, stok obat, jadwal pemeriksaan, hingga berbagai hal teknis yang berkaitan dengan pekerjaan.
Hampir setiap malam, ponsel Sarif berbunyi. Kadang saat sedang makan malam, kadang ketika mereka baru saja hendak beristirahat. Sarif selalu mengangkatnya dengan singkat, menjawab seperlunya, lalu kembali menyimpan ponselnya. Bagi Sarif, semua itu adalah bagian dari tanggung jawab sebagai senior di tim kesehatan.
Namun bagi Tara yang belum pernah menghadapi situasi seperti ini, perasaan tidak nyaman mulai tumbuh sedikit demi sedikit. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua pembicaraan itu pasti tentang pekerjaan. Ia juga mengenal karakter Sarif yang begitu profesional.
Meski begitu, setiap kali nama dokter perempuan itu muncul di layar ponsel, hati Tara tetap terasa mengganjal. Ia tidak marah, tidak pula melarang Sarif bekerja, hanya saja muncul rasa khawatir yang sulit ia jelaskan.
Sejak itu, setiap pagi Tara mencoret satu tanggal di kalender yang ditempel di dapur. Satu hari berlalu. Tinggal dua puluh sembilan hari. Esoknya ia mencoret lagi. Tinggal dua puluh delapan hari. Begitu seterusnya. Kalender itu berubah menjadi tempatnya menghitung mundur hingga kegiatan bakti sosial selesai. Ia tersenyum setiap kali berhasil mencoret satu kotak tanggal, berharap waktu berjalan lebih cepat agar rutinitas mereka kembali seperti semula.
Sarif beberapa kali menyadari istrinya lebih sering melamun. Tara tetap menyambutnya dengan senyum, tetap menyiapkan makan malam, tetap bercerita tentang murid-murid lesnya. Namun senyum itu tidak lagi sering diikuti tawa lepas seperti biasanya. Ada sesuatu yang sedang disembunyikannya. Sarif belum mengetahui apa penyebabnya, sementara Tara sendiri masih berusaha berdamai dengan perasaannya. Ia tidak ingin menjadi istri yang posesif atau mudah curiga. Di sisi lain, ia juga sedang belajar bahwa mencintai seorang prajurit berarti belajar mempercayai orang yang dicintai, bahkan ketika keadaan sedang menguji rasa percaya itu.
Malam itu, Sarif baru pulang setelah seharian mengikuti kegiatan bakti sosial kesehatan keliling. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia langsung menyadari ada yang berbeda dari Tara, begitu mendengar suara mobil memasuki halaman, istrinya akan berlari ke teras sambil membawa segelas air atau sekadar menyambutnya dengan celoteh panjang. Kali ini Tara tetap menyambutnya, tetap tersenyum, tetapi senyumnya terasa dipaksakan. Bahkan selama makan malam, ia lebih banyak diam.
Sarif akhirnya meletakkan sendoknya. "Sayang."
Tara mengangkat kepala.."Iya?"
"Kamu kenapa sih?"
"Kenapa apanya?" Tara buru-buru menggeleng. "Nggak kenapa-kenapa."
Sarif tersenyum tipis. "Kamu itu kalau bohong kelihatan."
Tara menunduk beberapa saat. Jarinya memainkan ujung taplak meja sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. "Ya... aku memang bukan dokter."
Sarif mengernyit. "Hah?"
"Tapi...aku juga istimewa, kan?"
Beberapa detik Sarif hanya menatap istrinya, lalu tanpa sadar ia terkekeh pelan. "Hei...Kenapa istriku ini?"
Tara akhirnya mengaku juga. "Aku cemburu."
"Cemburu?"
"Sama Dokter Anggraini." Ruangan kembali hening.
Sarif tidak tertawa. Ia juga tidak menyalahkan Tara. Ia justru menggeser kursinya lebih dekat.."Boleh aku tahu kenapa?"
Tara menggigit bibirnya. "Soalnya beliau sering menghubungimu. Hampir setiap hari. Aku tahu pasti urusan pekerjaan. Aku juga percaya sama Abang. Tapi... tetap aja hatiku nggak nyaman. Aku jadi ngerasa... aku nggak sepintar dia. Aku cuma guru les bahasa Inggris. Aku takut suatu hari nanti Abang bosan sama aku."
Sarif langsung menggenggam kedua tangan istrinya. "Tatap aku."
Perlahan Tara mengangkat wajah.
"Dokter Anggraini adalah rekan kerjaku. Itu saja. Beliau sering bertanya karena masih baru di satuan. Kalau besok ada dokter laki-laki baru pun, aku akan membimbingnya dengan cara yang sama."
Tara mendengarkan tanpa menyela.
"Lalu tentang kamu..." Sarif tersenyum hangat. "Kamu tahu kenapa aku jatuh cinta sama kamu?"
Tara menggeleng.
"Karena kamu bukan Dokter Anggraini."
Tara berkedip bingung.
"Aku memilihmu bukan karena gelarmu. Bukan karena pekerjaanmu. Bukan karena kamu paling pintar. Aku memilihmu karena kamu Tara. Perempuan yang selalu membuatku pulang dengan senyum. Yang bisa membuat rumah ini terasa hangat. Yang mengajar anak-anak dengan sepenuh hati. Yang rela belajar menjadi istri tentara meski awalnya tidak tahu apa-apa. Itu semua tidak bisa digantikan oleh siapa pun."
Mata Tara mulai berkaca-kaca. "Jadi...aku masih istimewa?"
Sarif tersenyum. "Bukan masih. Memang dari awal kamu istimewa. Tidak pernah berubah."
Air mata Tara akhirnya jatuh, tetapi kali ini bukan karena cemburu. Ia merasa lega karena tidak memendam perasaannya sendirian.