"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 - akhirnya ke ungkap
Indah berjalan tertunduk lesu, langkahnya terasa berat. Hatinya hancur — merasa gagal, merasa mengecewakan semua orang. Saat melintas di lorong rumah sakit yang agak sepi, kakinya tak sengaja menginjak lantai licin. Tubuhnya miring ke depan, hampir jatuh seketika.
Namun sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sepasang tangan kekar dengan sigap menangkapnya dari belakang. Indah tertegun, jantungnya berpacu liar. Saat ia menoleh perlahan, mata mereka saling bertatapan — Rizki. Wajahnya begitu dekat, tatapannya tajam namun lembut, napas mereka hampir menyatu. Jantung Indah rasanya ingin copot. Setelah sekian lama, akhirnya mereka bisa sedekat ini lagi.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Rizki pelan, suaranya terdengar begitu akrab.
"Enggak apa-apa, Rizki..." jawab Indah pelan, pipinya memerah merona.
Rizki melepaskan pelukannya perlahan, namun matanya tak lepas dari wajah Indah. "Jalannya hati-hati. Ternyata sifat mudah jatuhmu itu belum hilang ya," ucapnya dengan senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan.
Indah semakin malu mendengarnya. Ternyata... dia masih ingat. Masih ingat masa kecilku, saat aku sering jatuh dan dia yang selalu menolongku. Hati Indah menghangat, rasa sedihnya perlahan hilang berganti rasa haru.
"Kamu... masih ingat saja," gumamnya pelan, menunduk menahan malu.
Namun di saat yang sama, di ujung lorong itu — Daffa berdiri kaku. Matanya membelalak melihat pemandangan itu. Indah hampir dipeluk oleh pria asing yang tampan itu. Tatapan Daffa berubah dingin, hatinya perih seketika. Tanpa menunggu lebih lama, ia berbalik dan pergi dengan langkah cepat, seakan tak ingin melihat lebih jauh lagi.
Daffa berjalan cepat menghampiri mereka, matanya menatap tajam ke arah Rizki — sosok laki-laki asing yang tadi sedekat itu dengan Indah.
"Indah..." panggil Daffa dengan nada yang terdengar tegang.
Indah menoleh, sedikit terkejut. "Iya? Ada apa, Daffa?"
"Ikut aku. Aku mau kasih tau hal penting," ucap Daffa singkat, tanpa menunggu jawaban ia langsung menggenggam tangan Indah.
"Ada apa sih? Buru-buru banget," tanya Indah bingung, mencoba mengejar langkah cepat Daffa.
"Ini penting, lu harus tau sekarang."
Indah menoleh sebentar ke arah Rizki, melepaskan tangannya perlahan. "Riz, aku pergi dulu ya..."
Tanpa sempat Rizki menjawab, Daffa sudah menggandeng tangan Indah dan membawanya pergi menuju ruang kerjanya. Langkahnya terlihat cemas sekaligus kesal, seakan ada sesuatu yang berat yang harus segera ia sampaikan — atau mungkin ia hanya tak bisa menahan rasa cemburu yang tiba-tiba meledak saat melihat mereka berdua tadi.
Rizki berdiri terpaku di tempat, menatap punggung mereka yang menjauh. Pikirannya mulai berkecamuk.
"Laki-laki itu... begitu dekat dengan Indah. Apakah dia pacarnya? Kok aku baru tahu Indah sudah punya kekasih ya?"
Sesuatu yang asing dan tak nyaman merayap di dadanya. Ia menggeleng pelan, berusaha menepis perasaan itu. "Kenapa aku memikirkan ini sih? Bukan urusanku lagi. Kami sudah lama tidak sedekat dulu. Biarlah dia bahagia dengan siapa pun pilihannya."
Namun entah mengapa, hatinya terasa berat. Kenangan masa kecil mereka yang dulu begitu akrab kini berputar di kepalanya — seakan ada sesuatu yang terlewat, sesuatu yang belum sempat ia sampaikan sebelum mereka terpisah oleh waktu dan keadaan. Dengan langkah berat, Rizki pun berbalik pergi, mencoba melupakan pemandangan yang baru saja ia lihat.
Sesampainya di ruang kerja, Daffa langsung memperlihatkan rekaman CCTV di layar komputernya.
"Indah, lihat deh CCTV ini. Hasil laporan lab tadi ditukar oleh seseorang," ucap Daffa tegas sambil menunjuk sosok yang masuk ke ruangan administrasi.
Indah menatap layar itu lekat-lekat, matanya perlahan membelalak. Rasa sedih dan marah bercampur jadi satu. "Jadi... bukan aku yang ceroboh. Ternyata ada orang yang sengaja berbuat jahat padaku..."
"Iya, itu bukan salahmu," tegas Daffa.
"Dia jahat banget sama aku... Salah apa aku padanya?" suara Indah bergetar, matanya berkaca-kaca.
"Gue udah selidiki. Sepertinya ini orang dalam. Gak mungkin orang luar bisa masuk pakai kartu akses begitu. Dan kayaknya dia punya dendam pribadi sama lo," ucap Daffa dengan tatapan tajam, seakan sudah punya dugaan siapa pelakunya.
"Makasih ya, Daffa... Lu sering banget bantuin gue," ucap Indah tulus, tak bisa menahan haru lagi. Tanpa sadar ia langsung memeluk Daffa erat.
Daffa terkejut sesaat, namun seketika itu juga ia membalas pelukan itu dengan lembut, menepuk punggung Indah pelan. "Udah... tenang aja. Semuanya udah gue urus. Izin praktik lo gak akan dicabut. Jangan sedih lagi. Papa juga udah tau kalau bukan salah lo."
"Makasih banyak ya, Daffa..." bisik Indah di pelukannya, merasa jauh lebih tenang sekarang.
Di balik pintu yang sedikit terbuka, Mawar menatap tajam ke dalam ruangan itu. Matanya membelalak melihat pemandangan di hadapannya — Indah dan Daffa sedang berpelukan erat. Wajahnya memerah menahan amarah, tangannya terkepal kuat hingga buku jarinya memutih.
"Sialan! Gue pikir rencana gue bakal berhasil, izin praktiknya dicabut, dia diusir dari sini... Ternyata gagal total!" gerutunya dalam hati, penuh kekesalan yang meledak-ledak. "Lihat saja lu, Indah! Lu pikir menang begitu saja? Lu gak bakal bisa hidup tenang di sini!"
Tiba-tiba rasa takut menyusup di hatinya. Daffa sudah menyelidiki dan tahu bukan salah Indah. Bagaimana kalau sampai ketahuan bahwa dialah pelakunya?
"Semoga Daffa gak pernah tahu kalau gue yang melakukannya... Kalau sampai dia tahu gue yang menukar hasil lab itu, yang ada Daffa pasti benci sama gue. Dia pasti gak akan pernah mau ngomong sama gue lagi."
Mawar mundur perlahan, menjauh dari pintu itu dengan wajah tegang. Rencananya gagal, tapi ia tidak akan menyerah. Justru sekarang ia harus lebih berhati-hati — dan lebih licik lagi. Sebelum kebenaran terungkap, ia harus segera menyingkirkan Indah dari rumah sakit ini, dari kehidupan Daffa, selamanya.
Mawar makin nekat karena ketakutan! Dia tahu kalau ketahuan, semuanya berakhir. Jadi dia akan berusaha lebih keras dan lebih berbahaya untuk menyingkirkan Indah sebelum Daffa menemukan bukti yang mengarah padanya.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lebar. Mawar berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit memburu, wajahnya pura-pura cemas.
"Kak Daffa! Aku dari tadi cariin kamu, ternyata kamu di sini!" serunya lantang, matanya melirik tajam ke arah Indah yang sedang melepaskan pelukan dari Daffa.
Indah buru-buru mundur selangkah, menunduk malu. Ya Tuhan... kenapa dia datang pas lagi seperti ini? batinnya gelisah.
Daffa menghela napas kasar, kesal karena momen itu terganggu. Sialan, wanita ini lagi-lagi mengganggu. Udah tau gue lagi berduaan sama Indah, tapi tetap saja datang.
"Mau apa, Mawar?" tanyanya tegas, nada suaranya terdengar dingin.
"Kita dipanggil ke ruangan nomor 5. Katanya dibutuhkan tenaga medis ahli di sana. Soalnya aku masih belajar, belum berani menangani pasien itu sendirian," jawab Mawar dengan wajah memelas, seolah-olah dia benar-benar butuh bantuan. Padahal di dalam hatinya, dia tersenyum licik — berhasil memisahkan mereka berdua.
Daffa mengangguk pelan, lalu berbalik ke arah Indah sejenak. "Ya sudah, gue ke sana dulu ya. Tunggu di sini dulu, nanti gue balik lagi."
😏💥 Mawar makin licik! Dia sengaja memisahkan mereka, dan sekarang Daffa pergi bersamanya. Siapa tahu di ruangan nomor 5 itu juga ada jebakan yang sudah disiapkan Mawar untuk Indah, atau justru untuk membuat Daffa makin kesal pada Indah? 👀