Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam dirumah sederhana
Bu Marlina menyambut kedatangan Baska dengan keramahan yang mengingatkan pemuda tersebut pada suasana kekeluargaan yang jarang sekali dia rasakan belakangan ini, mengingat kesibukannya sendiri yang membuat interaksi dengan keluarga di rumah menjadi begitu terbatas. "Wah, terima kasih ya, Nak, udah nganterin Zia pulang. Ayo masuk, kebetulan Ibu baru masak, mumpung masih anget."
"Terima kasih, Tante. Maaf jadi merepotkan," ujar Baska dengan sopan, melepas sepatunya di depan pintu sebelum melangkah masuk ke ruang tamu sederhana namun tertata rapi tersebut.
Zia segera mengambilkan handuk kecil untuk Baska yang masih sedikit basah akibat hujan, sebuah perhatian kecil yang membuat pemuda tersebut merasa begitu diperhatikan. "Ini, Mas, biar nggak masuk angin. Duduk dulu, saya bantuin Ibu di dapur sebentar."
Sementara Zia membantu ibunya menyiapkan meja makan, Baska duduk di ruang tamu sambil memperhatikan berbagai foto keluarga yang terpajang di dinding, mendapati beberapa foto masa kecil Zia yang membuatnya tersenyum sendiri melihat betapa lucunya gadis tersebut sejak kecil. Tidak lama kemudian, Bu Marlina kembali ke ruang tamu, mengajak Baska untuk berbincang sambil menunggu makan malam siap sepenuhnya.
"Baska kerja di mana, Nak?" tanya Bu Marlina dengan penuh perhatian, ingin mengenal lebih jauh sosok yang telah mengantarkan putrinya pulang tersebut.
"Saya kerja di bagian keuangan perusahaan distribusi, Tante. Kantornya nggak jauh dari sini," jawab Baska dengan sopan, menjelaskan pekerjaannya dengan singkat namun jelas.
"Oh, bagus itu. Terus kok bisa kenal sama Zia?" lanjut Bu Marlina, penasaran mengenai awal mula pertemuan antara putrinya dengan pemuda tersebut.
Baska sedikit tersenyum mengingat kembali kejadian tersebut. "Ceritanya lucu sih, Tante. Waktu itu saya main padel di tempat Zia kerja, terus kepala saya kena smash bola sampai berdarah. Zia yang ngobatin saya waktu itu."
Bu Marlina tertawa kecil mendengar cerita tersebut, membayangkan kejadian yang cukup dramatis namun berujung pada pertemuan yang mengubah kehidupan kedua anak muda tersebut. "Wah, jodoh emang nggak ke mana ya. Untung Zia sigap, dari kecil emang dia anaknya perhatian sama orang lain."
Percakapan tersebut berlanjut dengan santai, membahas berbagai topik ringan hingga akhirnya Zia kembali dari dapur mengumumkan bahwa makan malam sudah siap. Mereka bertiga duduk mengelilingi meja makan sederhana tersebut, menikmati hidangan sayur asem, ikan goreng, dan sambal terasi yang menggugah selera, sebuah menu sederhana namun terasa begitu istimewa bagi Baska yang jarang sekali menikmati makan malam dengan suasana kekeluargaan seperti itu.
"Enak banget, Tante masakannya," puji Baska dengan tulus, menyantap hidangan tersebut dengan lahap, sebuah pujian yang membuat Bu Marlina tersenyum bangga.
"Makasih, Nak. Kalau suka, sering-sering aja mampir ke sini," jawab Bu Marlina dengan penuh keramahan, memberikan undangan terbuka yang membuat Zia diam-diam tersenyum menyaksikan interaksi hangat antara ibunya dengan pemuda yang belakangan semakin sering muncul dalam kehidupannya tersebut.
Sepanjang makan malam tersebut, Baska juga bercerita sedikit mengenai kehidupannya sendiri, termasuk kebiasaannya yang dulu begitu malas beraktivitas di luar rumah, sebuah pengakuan yang membuat Bu Marlina tertawa geli. "Jadi Zia yang bikin kamu jadi rajin olahraga sekarang ya?"
Baska tersipu mendengar pertanyaan tersebut, melirik sekilas ke arah Zia yang juga terlihat sedikit salah tingkah. "Bisa dibilang gitu, Tante. Zia emang punya cara sendiri buat bikin orang berubah."
Setelah makan malam tersebut selesai dan hujan di luar mulai mereda, Baska pamit pulang dengan perasaan yang begitu hangat, jauh berbeda dari kesendirian yang biasa dia rasakan setiap malam di rumahnya sendiri. "Terima kasih banyak ya, Tante, Zia, buat malam ini. Saya pulang dulu."
"Hati-hati di jalan ya, Mas Baska," ujar Zia sambil mengantar Baska hingga depan pintu, tersenyum menyaksikan pemuda tersebut menaiki motornya dan melambaikan tangan sebelum akhirnya menghilang di tikungan jalan tersebut, meninggalkan Zia dengan perasaan hangat yang terus dia bawa hingga malam itu berakhir, menandai satu lagi langkah penting dalam perjalanan hubungan yang perlahan namun pasti mulai terjalin di antara mereka berdua.
Setelah menutup pintu, Zia kembali ke ruang makan untuk membantu ibunya membereskan piring-piring kotor, wajahnya masih menunjukkan sedikit senyum yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. Bu Marlina, yang memperhatikan ekspresi putrinya tersebut, tidak bisa menahan diri untuk memberikan komentar.
"Zia, Ibu suka sama Baska. Sopan, ramah, dan yang paling penting, dia keliatan tulus banget," ujar Bu Marlina sambil mencuci piring, memberikan penilaiannya secara terbuka mengenai pemuda yang baru saja meninggalkan rumah mereka tersebut.
"Ih, Ibu kok udah kayak mau jodohin aja," jawab Zia sambil tertawa malu, meski dalam hatinya dia merasa lega mengetahui bahwa ibunya memberikan kesan positif terhadap Baska.
"Habisnya jarang-jarang lho, Ibu lihat kamu seneng kayak gini tiap ada yang deket sama kamu. Biasanya kamu jaga jarak sama pelanggan," ujar Bu Marlina dengan bijaksana, mengamati perubahan sikap putrinya yang menurutnya cukup signifikan tersebut.
Zia terdiam sejenak, menyadari kebenaran dalam ucapan ibunya itu. Malam itu, sebelum tidur, dia kembali memikirkan kehangatan yang baru saja dia rasakan, semakin yakin bahwa perasaannya terhadap Baska bukan sekadar ketertarikan sesaat, melainkan sesuatu yang mulai tumbuh menjadi lebih dalam dan bermakna.