Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Ruby
Bab 13
Kesal. Kepala Ruby jika digambarkan dengan animasi mungkin sudah berasap. Demi mengembalikan mood dan mendinginkan hati dan kepala, ia mampir ke mall. Shopping skincare dan parfume. Sebenarnya ia ingin ke salon untuk perawatan tubuh dan wajah, tapi perlu waktu lama. Lebih baik membeli produk dan gunakan sendiri di rumah.
Mampir pula ke counter minuman viral. Es boba dan es matcha menjadi pilihan. Abaikan dulu kandungan gula dan karbo di dalamnya. Ingin merajuk dengan pulang ke apartemen, tapi tidak berani setelah diserbu nasihat melalui pesan dari dua arah. Mama dan papanya. Entah dapat bisikan dari mana kalau dia baru saja bersiasat untuk berulah.
...Papa...
Ruby, membina rumah tangga tidak mudah. Jangan mengikuti jejak papa dan mama kamu. Mulai bertanggung jawab akan hidupmu
...Mama...
Ruby sayang, ingat ya nak, surgamu sekarang adalah suami kamu. Jaga hubungan dengan suami kamu dan anak-anak. Buat rumah menjadi nyaman. Mama percaya kamu akan menjadi istri yang baik
Mobilnya beriringan dengan mobil yang dikendarai pak Budi melewati pagar dan parkir. Menghabiskan es boba sebelum keluar dari mobil dan menenteng es matcha yang masih separuh.
“Hai, anak-anak. Gimana sekolah kalian hari ini, seru ‘kan?”
“Biasa aja,” jawab Jelita.
“Masa sih? Sekolah Abang Adly gimana?”
“Sama kayak Jelita.”
Ruby mengernyitkan dahi. “Masa harus sama. Emang kalian satu kelas, satu bangku?”
“Kami beda sekolah,” jawab Adly lalu menghampiri dan mencium tangan ibu tirinya begitu pun dengan Jelita.
“Ya ampun, berasa tua banget. Baru kali ini loh, ada yang cium tangan sama aku.” Ruby terkekeh. “Sekolah kalian kayaknya flat aja ya, jadi monoton. Nanti aku kasih tips and trik biar sekolah lebih menarik.” Ruby menjentikan jarinya.
Jelita dan Adly saling tatap.
“Tante, kita harus panggil apa?” tanya Jelita.
“Panggil … mami nggak mungkin, sudah milik ibu kandung kalian. Gimana kalau Bunda, iya Bunda Ruby. Lebih kekinian. Coba panggil aku Bunda.”
“Bun-da,” ucap Jelita.
“Bunda,” lirih Adly.
Ruby tertawa. “Ayo masuk, istirahat. Di sekolah kalian masuk geng anak-anak serius dan kutu buku kayaknya.”
Tidak ingin menunda waktu, Ruby menempati ruang kerja Bara. Membuka laptop dan dokumen yang diberi jejak oleh dosen pembimbingnya itu. baru setengah jam ia sudah menyerah. Menggaruk kepala dan merengek kesal.
“Nggak ngerti, udah kelamaan gak dipake mikir otak gue. Heran itu dosen, kok bisa inget terus materi begini ya.”
...Pak Bara...
^^^Mas suami, bantu istrimu menyelesaikan. ini ya^^^
^^^Foto (dokumen berserakan di meja dan laptop yang menyala)^^^
^^^Kalau gak dibantu, aku kabur^^^
***
Pukul 3 sore, Bara kembali ke ruang kerjanya setelah rapat dengan rektor. Banyak pesan masuk karena ponselnya tertinggal di meja. Pesan dari Jelita kalau mereka sudah sampai rumah dan panggilan Bunda untuk Ruby.
“Bunda,” ucap Bara. “Terserah dia saja.”
Termasuk pesan dari beberapa mahasiswa terkait kegiatan mahasiswa juga mahasiswa yang nilainya mata kuliah Bara ada masalah. Menarik nafas membuka room pesan dengan Ruby, ancaman dan penampakan ruang kerjanya yang berubah menjadi tidak estetik. Fix ia harus membeli obat darah tinggi sebelum makin parah dan menjadi stroke.
Yang mendesak lainnya, permintaan Rendra agar dipertemukan dengan orangtua Ruby untuk membicarakan hubungan selanjutnya dan rencana pesta.
“Bara, jadi ngopi gak?”
Husen, rekan sejawat Bara menyembulkan kepala di tengah pintu.
“Jadi.” Bara kembali beranjak, bersama Husen menuju café kampus. Sore begini, aktivitas di tempat itu mulai menurun. Koridor tertentu mulai sepi.
“Tampang lo kayak suami nggak dapat jatah dari istri tahu nggak. Kaku kayak kanebo kering,” ejek Husen lalu terkekeh. “Makanya cepet kawin, biar tersalurkan Ra. Di Umur kita begini, kebutuhan biologis juga mempengaruhi psikologis.”
“Sok tahu. Psikologis kamu juga sering kacau kalau ada masalah sama istri.”
“Beda ceritalah. Udah terima aja adek ipar lo. Masalah dia janda, toh elo duda. Atau Bu Berta noh, meski umurnya udah kepala 4 kayaknya masih gress,” tutur Husen lalu terkekeh.
“Saya sudah menikah.”
“Hah, serius lo!”
Bara mengangguk, masih fokus menatap ke depan berjalan di koridor.
“Kapan, kok diem-diem aja.”
“Baru beberapa hari, nanti kami adakan resepsi,” sahut Bara lagi. Cepat atau lambat informasi ini harus disampaikan.
“Sama siapa, perasaan lo nggak pernah keliatan deket sama perempuan. Kayak Jaya noh, nikah sama mahasiswinya. Awet muda dia, dapet yang bening. Tapi ya gitu, nikah sama usia lebih muda tantrum mulu.”
“Istri saya pun dulu mahasiswi, sampai sekarang pun masih. Dia belum lulus.”
“Hah, yang bener. Namanya siapa?”
Sudah berada di area café, di bagian beranda beberapa meja terisi oleh para mahasiswa yang menyapa Bara juga Husen. Hanya dijawab dengan anggukan dan senyum.
Memilih meja agak sudut setelah memesan kopi. Husen masih penasaran, mencecar kembali identitas istri Bara.
“Namanya Ruby. Ruby Silvia Gunawan.”
“Ruby yang model itu? Yang hampir di DO, serius dia?”
Bara mengernyitkan dahi lalu mengangguk.
“Hebat lo bisa naklukin dia. Udah cantik, tinggi, sopan, mana enak dilihat. Cewek sempurna. Kok bisa muka lo kayak orang tertekan gitu, nikah sama Ruby.”
Bara menarik nafas, mengingat bagaimana sosok Ruby sampai membuatnya terlihat bagai orang tertekan.
“Gimana rasanya unboxing dia, masih perawan ‘kan? Enak pastinya."
Enak dari mana, pegang aja belum, batin Bara.
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭