Aku menikahi dia, tapi justru pamannya yang membuatku kehilangan akal. Setiap kali pria itu menatapku, ada bara yang tak bisa kupadamkan. Di mata keluarga, pria itu hanyalah paman dari suamiku. Di hatiku, dia adalah pria yang tak pernah boleh kusentuh. Namun, semakin aku menghindar, semakin dekat dia datang, membawa bisikan-bisikan yang memecah pertahananku. Bagaimana jika cinta ini terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RITUAL LIMA HANTU
“Ah itu.. eum aku hanya menebaknya saja!” kata Riana dengan wajah sedikit ketakutan.
“Menebak?” kata Eric dengan nada meragukan.
“Jangan-jangan kau sengaja ya menahanku, agar aku tidak tahu tentang kepergiannya!”
“Tidak… aku tidak begitu. A-aku hanya benar-benar menebak saja!” jawab Riana sambil mengelus-elus perutnya.
Eric melilrik perut Riana yang mulai terlihat membesar. Dia menatap sebentar kepada Riana lalu berkata. “Hari ini kau pulang sendiri dulu Ok!”
Riana mengangguk mesi dalam hati merasa cemburu, Tak perduli dia sudah sekeras apa pun menarik perhatian Eric. Namun, lagi-lagi pasti hatinya selalu tertarik lagi kepada Seline. “Aku harap bumi benar-benar menelam wanita itu sampai menghilang!”
Pada saat ini Eric tiba di rumah, kepulangannya ini hanya untuk mengambil Mobil off-road adalah kendaraan yang dirancang untuk melewati medan yang sulit atau tidak beraspal, seperti jalan tanah, lumpur, bebatuan, pasir, tanjakan curam, dan jalur hutan.
Perjalanan jalur darat pun dimulai. Memang sedikit memakan waktu, tapi hatinya yang memutuskan untuk melakukan ini. Sedari dulu Seline memang ringan tangan untuk menolong sesama. Menjadi relawan bukanlah sesuatu yang distujui oleh Eric sedari mereka berpacaran dulu.
Seline pun menahan diri selama ini, karena dia mengetahui Eric tidak menyukai jika dia menjadi relawan di area yang terkena dampak bencana alam.
Pada saat ini, matahari sudah mulai naik. Si bocah bisu berlari tanpa arah. Dalam hati berdoa tidak bertemu hewan buas, berdoa bertemu dengan seseorang yang bisa menjadi Dewa Penolong. Sementara itu, Xander dan tim gabungannya sedang memetakan gambaran tentang bentuk dan kondisi permukaan wilayah terdampak bencaran, tinggi-rendahnya tanah dan bentuk alamnya. Terutama mana jalan yang masib bida dilalui dan mana yang tidak bisa dilalui.
Pemetaan ini akan sangat membantu nantinya ketika mereka memulai menyisiri jalan, melakukan pencarian di lapangan. Sementara, itu di dalam goa, Seline masih terduduk dengan tangan terikat, kaki terikat. Dia duduk bersandar di dinding goa.
Seline memperhatikan susunan barang yang baru saja tersusun rapih. lima mangkuk beras, lima cawan minuman, dupa, lilin, kertas jimat, dan lima figur kertas.
“Sepertinya aku pernah melihat lima figur itu!” Seline tanpak lebi keras memperhatikan.
“Ritual Lima Hantu!” pikirnya.
“Apa dia sedang membuat perjanjian darah!” gumam pelan Seline yang mulai semakin merinding.
Dalam Ritual Lima Hantu dipercaya bukan sekadar roh biasa. Mereka adalah lima roh pendendam yang mewakili lima arah dan hanya dapat dipanggil untuk satu tujuan membalas dendam kepada seseorang melalui garis darahnya.
Darah keluarga dianggap sebagai “jalan pulang” bagi roh. Semakin dekat hubungan darahnya, semakin kuat hubungan itu. “Apakah yang sebenarnya di incar adalah Si Bocah Bisu!” pikir Seline yang merasa jelas tidak ada ada hubungan darah dengan pria asing itu.
Dalam ketegangan setidaknya dia bisa bernapas lega, Si Bocah Bisu pada saat ini pasti sudah berlari jauh dari goa ini. Sementara itu, di tempat Xander. Tiba-tiba operator drone menggeser sudut kamera . dia memperhatikan sebuah titik panas muncul di layar, lalu dia berkata, “Drone menangkap sesorang yang yang bergerak, bukan Hewan! Ini… visual seseorang yang sedang berlari!”
“Tunggu dulu, ini… dia adalah seorang anak kecil!”
“Tepatnya di mana?” tanya Xander, otaknya langsung berpikir. Ini adalah area terdampak bencana, megapa ada anak kecil terpisah dari tenda pengungsian.
“Anak itu berlari di antara pepohonan!” kata si operator lagi.
Si Bocah Bisu sesekali tersandung akar dan hampir terjatuh. Tubuh kecilnya terlihat jelas melalui kamera thermal, memancarkan warna terang di tengah hutan yang dingin.
“Ya dia, Kemungkinan anak-anak.”
Tempat yang semula dipenuhi suara peralatan mendadak sunyi. Operator mengikuti pergerakannya dari udara. Anak itu terus berlari tanpa arah yang jelas. Pakaiannya tampak basah dan kotor. Sesekali ia menoleh ke belakang, seolah sedang menghindari sesuatu atau mencari seseorang.
Xander menatapi layar, “Dia sendirian?”
“Sepertinya.” Jawab si operator Drone. Lalu dia memperbesar gambar. “Tidak ada orang lain di sekitar anak itu!”
“Tandai Koordinatnya. Kita dan tim pergi ke sana.”
Drone kemudian mengubah arah, mengikuti pergerakan anak tersebut dari atas. Di layar, tubuh kecil itu terus bergerak berlari. Xander juga telah menyiapkan mobil Off Road. Mereka semua termasuk K9 langsung berangkat menuju koordinat yang telah di tandai. Sementara si operator sambil terus memantau kemana si Bocah berlari.
Pada saat ini, si pria asing tiba kembali ke goa. Kedua matanya langsung memicing, “Kemana dia?”
Si pria asing menatap kepada Seline, “Katakan dia pergi ke mana?”
Seline tertawa lalu berkata, “Siapa suruh bodoh, kau tidak mengikatnya sama sekali!”
“Plak!” sebuah tamparan mendarat di pipi Seline. Pria asing itu berpikir dengan menyandera Seline maka si Bocah Bisu akan patuh padanya. Dan dia juga tidak berpikir jika Si Bocah Bisu itu malah berani melarikan diri menjelajahi hutan sendirian.
Sudut bibir Seline berdarah, “Apapun kutukan yang ingin kau lakukan tidak akan bisa berhasil!”
“Plak!” sebuah tamparan mendarat lagi di pipi Seline. Pipi putihnya langsung merah dan sedikit membengkak, terasa kebas.
Rupa Seline sudah terlihat acak-acakan. Seline merasa limbung karena dua tamparan keras tadi. “Kalau begitu kau saja yang gantikan dia!”
Napas Seline tersengal, dia mengeratkan rahangnya, menatap marah kepada pria asing yang tengah menyanderanya. “Kau gila, benar-benar sudah gila!”
Pria itu berdiri lalu berkata diselingi dengan tawa, “Kalian para wanita penghianat, kalian pantas mati!”
“Tenang saja, nanti aku akan menguburmu dengan baik. Seperti yang lainnya!” kata Si Pria asing itu.
“Yang lainnya!” pikir Seline. “Apa Si Bocah Bisu itu mengetahui sesuatu tentang ini. Jika tidak bagaimana mungkin dia bisa bermain sampai sejauh ini!”
Di luar goa, jauh di luar Goa. Pada Akhirnya Tim Gabungan Xander menemukan lokasi Si Bocah Bisu yang sedang terkapar karena lelah berlari dengan kencang sedari tadi. Daya tempurnya sudah tiris habis. Namun, terlihat SI Bocah Bisu itu ingin bangkit berdiri, teringat dengan Seline dia merasa harus bisa mencari bala bantuan seperti janji hatinya.
Baru saja berdiri dan akan terjatuh lagi, Sebuah tangan besar langsung menopangnya, “Jangan pingsan dulu!”
Binar mata putus asa si Bocah Bisu langsung terbakar semangat lagi. Ada orang yang menemukannya, dalam hati benar-benar menemukannya. Xander langsung mendudukan Si Bocah Bisu ke batu besar.
Dia membukakan sebuah botol air mineral. “Ini Minum pelan-pelan, lalu ceritakan kepada kami apa yang terjadi!”
Si Bocah Bisu meminum air itu, lalu dia mengusap tenggorakannya, sambil menggelengkan kepalanya. Xander menatapnya dalam-dalam lalu memahami, “Kau tidak bisa bicara!”
seline kamu polos bed
thor pengen visuaaaaalllllll
biar halu ny enak🤭
semoga si pelakor kena jebakan Batman..niat hati menjebak Selin malah dia yg terbukti bersalah
suka banget dg ketegasan tuan Mo..tapi lebih suka lagi kalau mereka di izinkan berpisah biar Selin jadi adik ipar saja 🤭
pph you the best,,,tp maaf bentar lg bkal jd istri paman
xender aku mau satuuuu