Indonesia
NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekuatan Lain

Kami berfoto bersama.

"Ada apa May.. Sepertinya kamu menatap Judith aneh begitu" kata Abang Rey.

Aku menatap Judith tidak biasa, aku memandangnya dengan rasa khawatir.

"Ah, tidak" kataku.

"Kalau begitu malam ini kalian berdua sekamar saja" kata Abang Rey.

"Ibu setuju, biarkan mereka berdua di kamar mama yang lebih luas diatas" kata Ibu.

"Baik" kataku.

Aku mengangguk setuju, sekaligus waspada.

Kami beristirahat ke kamar,

Aku masuk lebih dulu ke kamar Ibu, memastikan semuanya tidak ada yang mencurigakan.

Aku berbaring duluan.

Ketukan pintu.

Pintu dibuka.

"Hai... " kata Judith di ikuti Abang Rey mengangkat kopernya di belakang.

Aku mengangguk pelan.

"Boleh aku di sisi kiri dekat pintu" pinta Judith.

"Boleh, tentu saja" ucapku bergeser.

Aku menatap langit-langit kamar Ibu.

"Maaf kalau aku tidurnya tidak bisa diam" kata Judith lagi.

Karena dia banyak bergerak bolak balik, gelisah.

"Tidak masalah.. " kataku.

Aku mencoba memejamkan mata dan aku masih waspada, Judith menghidupkan lampu tidur.

Suasana kamar menjadi lebih gelap.

"Aku berkenalan dengan Rey waktu kami kuliah, hubungan kami putus nyambung. Aku dari keluarga biasa, Ibu dan Ayahku berkerja di sebuah pertanian" kata Judith bercerita tanpa kutanya.

Aku membuka mata,

berbaring miring ke arahnya,

"Kenapa kamu berkata begitu, keluarga kami adalah keluarga yang terbuka tidak seperti yang kamu bayangkan" ucapku.

"Banyak kebiasaan yang aku tidak terlalu paham, dan sepertinya Ibu Rey tidak menyukaiku" katanya sambil menatap langit-langit.

Wajahnya kali ini sangat mirip dengan Swanzi hanya saja tidak ada make up hitam.

Mungkin saja Judith adalah seorang yang mirip dengan Swanzi di dunia ini.

Aku hanya berburuk sangka karena terlalu waspada.

Tiba-tiba dia menghadapku miring kesamping, aku tercekat kaget dan memegang gelangku.

Dia menyentuhnya, "gelangmu sangat cantik.

Kamu suka barang antik ya? "

"Tidak juga" kataku berbalik berbalik terlentang agar tidak berhadap-hadapan.

Lalu dia berbalik terlentang juga.

"Kuharap kita bisa berteman" katanya.

"Baiklah" ucapku.

Kami menarik selimut dan kulihat Judith sudah tidur pulas.

**

Pagi-pagi udara sejuk, aku segera berangkat berkerja.

Kulihat Judith masih terlelap.

Kutinggalkan dia sendiri, tidak ada mimpi buruk dan hal buruk yang aku pikirkan terjadi.

Aku berencana sarapan di rumah sakit karena tidak sempat jarak dari kediaman kakek dan rumah sakit lumayan jauh.

Setelah berpamitan dengan Bibi Sarah, aku berangkat karena yang lain belum bangun.

Mobilku melaju di jalan raya.

Tiba-tiba ada truk menyalip membawa kayu melaju di depanku. Mengerem mendadak.

Dengan kecepatan yang aku miliki tidak mungkin aku dapat mengerem, aku terkejut lalu lubang besar berwarna hitam seperti menyedotku masuk bersama mobilku aku berteriak menutup mata.

Gelang ku bercahaya terang seperti neon.

"Brakkkkk" benturan keras menimpa kayu besar.

bumper depan mobilku menabrak kayu dengan kuat.

air bag keluar dari stir mobilku.

Kepalaku terbentur kaca.

Berdarah.

Aku keluar mobil terhuyung-huyung.

Aku dihutan.

Di depan ada Danau tempat teratai emas, gemericik air terjunnya terdengar jelas.

Pagi ini masih gelap.

aku merapalkan mantra untuk kembali.

hutan ini masih terlalu gelap.

hanya cahaya lampu mobil yang hidup.

Tidak bisa kepalaku terasa sakit.

Aku pingsan.

**

Aku terbangun percikan air mengenai wajahku dan kicauan burung.

Aku terhuyung-huyung masuk ke mobil, ban mobil terjebak di tanah berlumpur.

Aku mulai memundurkan mobil, suara mobil meraung di tengah hutan.

Heels ku tertelan di tanah lumpur.

Kulepas sepatu itu membuka bagasi kutemukan sepatu kets putih.

Kumatikan mobil, aku mencuci wajahku, wajahku yang berdarah. Luka wajahku kutempel dengan kelopak bunga teratai yang langsung kupetik dari danau.

Sekejap luka itu hilang.

Aku rapalkan mantra, pintu itu terbuka.

"Mau kemana" tanya seorang di belakangku dengan menodongkan pedang.

aku berbalik.

"Raja Yuko! "

**

"Lepaskan ikatanku" kataku

"Dengan begini kamu bisa kembali" katanya

"Apa maksud kalian? kalian mencelakai aku"

Raja Yuko menggunakan kuda di depan aku di ikat berjalan.

"Kalau kami tidak memanggilmu kamu tidak akan kembali" katanya.

"Memanggil! Jadi kalian sengaja mencelakai aku" kataku berteriak sambil berjalan.

Kuingat lagi aku datang bukan dengan keinginanku tapi melalui lubang hitam.

Mobilku ditinggal di hutan.

Dua Anaconda mengintai di dahan kayu di atas mobil siap menerkam.

**

Aku kesal kenapa seenaknya mereka melakukan ini padaku.

Aku kembali ke kamarku di istana.

Terpaksa aku kembali menggunakan pakaian jubah kuning yang sudah di siapkan rapi diatas meja, sungguh keterlaluan!

mantraku tidak berhasil aku kesal.

pasti mereka menyegelku sesuka hati.

Aku keluar kamar.

Melangkah menuju kediaman Swanzi.

Tiba disana tidak ada orang.

"Dia kemana?"

di belakangku tiba-tiba ada Raja Yuko dengan pakaian berwarna biru ikat kepala biru dan di dahinya ada lambang teratai emas.

"Jangan mengejutkanku tiba-tiba" aku kesal.

Aku pergi meninggalkan mereka, mereka bingung dengan tingkahku.

Aku berhenti di sebuah bangku terbuat dari bangku di pinggir kolam.

Kakiku sakit rasanya, aku tersesat di istana yang luas ini.

Raja Yuko mendekat dia datang sendirian mungkin saja mengikuti dari tadi.

"Aku ingin kembali berkerja, dengar... perkerjaanku banyak, keluargaku akan panik jika aku menghilang tiba-tiba" kataku setengah memohon pada Raja Muda ini.

"Kamu akan kembali jika kamu sudah tenang, dan kamu harus ikut aku berangkat keluar istana"

kata Raja Yuko.

Aku diam menatapnya, seenaknya memerintah.

Dalam hati kalau saja kau tidak tampan, wajahmu saja tidak sudi aku lihat, hah!

Pikiran konyol apalagi Mayanzaaaaaaaa!!!!!

Memangnya aku rakyatnya.

Tapi aku tetap ikut.

Patuh dan penurut daripada aku di ikat atau dikurung di penjara lagi.

Ternyata mereka punya kekuatan menarik aku ke Dunia mereka, apalagi kata Bibi Sarah, dia sering melihat Kakek kedatangan tamu.

Aku duduk di kereta, sementara mereka menunggangi kuda.

Rasanya aku mabuk didalam kereta ini, aku keluar dari kereta duduk di samping pengemudi.

Melihat pemadangan yang indah sampai ke pemukiman kumuh dan sepi, kami mulai turun berjalan.

Suasana indah itu berbeda, lebih gelap, aroma busuk juga tercium di hidungku yang peka.

Beberapa orang berjalan membawa bungkusan makanan.

Kami masuk ke sebuah bangunan kayu yang agak besar.. Berpagar tinggi.

Barang-barang yang kami bawa dari istana tadi di turunkan.

Disana kulihat dengan jelas Swanzi menyuapi orang-orang yang terluka dengan obat-obatan dan bau dupa dimana-mana.

di bangunan itu banyak orang berbaring mata mereka merah, sebagian tidak bergerak dan berbau busuk.

Beberapa pengawal membawa mereka keluar.

Aku mengikuti Raja Yuko.

Tiba-tiba pengawal membantu Raja Yuko membuka bajunya. Punggungnya terluka.

dan telapak hitam menempel disana.

"Kenapa kau tidak minta Swanzi mengobati pasti dia tau obatnya" kataku.

"Dia tidak tau" kata Raja Yuko.

Aku meminta pengawal membawakanku teratai dan air kolam suci.

"Kenakan saja pakaianmu" mungkin agak lama kataku.

Aku mau keluar tapi tanganku ditarik.

Jangan keluar, sore hari kekuatan itu semakin kuat.

"Kekuatan apa? " tanyaku sambil mengintip dari celah-celah keluar.

Raja Yuko malah tertawa.

"Kamu takut" katanya berbisik

"Buat apa takut, kataku menepis tangannya" baru kusadari di tangannya melingkar gelang giok yang sama seperti yang kupunya.

Seperti gelang berpasangan.

Aku cepat menarik tanganku.

"Kekuatan wabah itu semakin kuat sore hari, hanya swanzi yang mampu menahan kekuatan itu diluar"

"kenapa hanya dia?" tanyaku.

Pintu dibuka, Swanzi dan dayang datang.

Matanya menatapku tajam.

Tangannya di perban kain hitam.

"Akhirnya kamu datang juga" katanya.

"Aku datang karena terpaksa" kataku.

"Obati mereka" perintahnya.

**

Aku ikuti langkah mereka dan masuk ke sebuah ruangan.

Semua orang itu terluka, hanya luka biasa oleh sabetan pedang. Luka-luka setelah perang.

Entah kenapa sepertinya seluruh mantra itu menuntunku untuk menyelesaikan tugas mengobati dengan ramuan yang ada.

Bukan dengan cara kedokteran yang aku punya. Cahaya itu keluar dari tanganku..

**

Aku kelelahan dan lapar, perutku keroncongan sejak pagi belum sarapan dan ini sudah malam.

aku menyadar di pojokan,

pasien-pasien itu pulang dengan senang.

"Nona.. Nona bisa ikut kami" kata pengawal.

Aku ikuti dan kembali di ruangan Raja Yuko tadi.

"Sekarang obati aku" katanya

"Aku lapar tidak ada tenaga" kataku

"Lancang!" kata pengawal membentakku

"sudahlah buatkan dia makan"kata Raja Yuko

setelah makan dan kenyang aku mengantuk dan menguap.

"Semua yang kamu minta sudah disiapkan" katanya.

"Aku lupa siapkan satu ayam hidup, ayam berwarna putih"

"Hah, kamu mempermainkan aku?" kata Raja Yuko mendekat.

"Siapa suruh memintaku datang mendadak, aku juga hampir mati kataku" dia menatapku berkata begitu.

"Pengawal, ambilkan ayam sesuai yang dia minta"

Pengawal keluar kamar, aku bersandar di dinding rasanya pinggangku mau patah dan jubah yang aku kenakan ini terlalu berat, untung aku tidak menggunakan hiasan rambut juga.

**

Aku tertidur tengah malam aku terbangun tepatnya di bangunkan.

Aku mencuci muka.

Ada Swanzi di kamar ini juga entah kapan datangnya mungkin dia memang menemani Raja dari tadi pikirku.

"Apa yang kamu pikirkan" kata swanzi tau apa yang ada dalam pikiranku.

"bagus kalau kamu bisa membaca pikiranku" kataku.

Raja Yuko berbaring tengkurap.

Atasan jubahnya sudah dilepas.

Punggungnya terlihat jelas luka terbuka dan menghitam.

Kuambil kelopak bunga teratai kuhancurkan kutambahkan air suci. Kurapalkan mantra kutempelkan ke tubuh Raja Yuko.

"Arrrrrghhhh... " Raja Yuko berteriak keras aku lupa kalau menyumbat mulutnya.

Tapi kalau aku menyumbat mulutnya aku di todong pengawal lagi.

Biarlah...

Swanzi menatapku melihat luka raja menghilang lenyap cahaya keemasan dan luka menghitam itu terbang menghilang aku panik tidak ke arah ayam...

Ayam masih tidak apa-apa.

Tadi aku berpikir asal...

Karena ketika lukaku disembuhkan binatang berwarna putih berubah warna aku pikir akan ada tempat berpindah.

Tapi disini berbeda...

**

Sudah Pagi.

Ayam berkokok..

Aku duduk di luar bersama orang- orang yang terluka.

memperhatikan Swanzi dengan telaten mengobati.

Aku mulai berpikir bahwa dia tidak seburuk penampilannya.

Swanzi menatapku..

Lalu memalingkan muka..

**

Swanzi adalah anak biasa, dia tidak memiliki kekuatan apapun dan diwariskan ilmu pengobatan dari Ayahnya.

Hidup damai dengan orang tuanya di istana.

Namun setelah wabah melanda seluruh Negeri Zink.

Mereka kehilangan Tabib Zhi yang pergi entah kemana.

Di usia 18 Tahun Swanzi hidup yatim piatu, ibunya meninggal oleh wabah.

Swanzi sempat terkena wabah namun sesuatu yang lain mengambil jiwanya.

Sejak itu dia mampu mengobati orang dan sangat di takuti.

Tapi dia juga patuh kepada Raja Yuko.

Kisah ini diceritakan oleh pengawal ketika aku membantu membalut luka para pengawal.

"Tabib Swanzi orang baik... " kata pengawal yang kubalut lukanya hari ini lukanya menganga banyak gigitan seperti duri.

"Kakimu terluka awalnya kenapa? " kataku.

"Anda tabib baru yang datang itu?

Lukaku karena tanaman monster? Kekuatan gaib menggunakan tanaman monster itu menyerang kami"

"Jadi sebenarnya siapa yang melakukan ini semua, apakah ada pimpinan kekuatan jahat itu seperti raja? " tanyaku

"Nona tabib, dari mana anda datang, seharusnya anda tau musuh anda adalah kekuatan jahat. Yang menyerang kita adalah orang-orang yang mati oleh wabah, pada sore menjelang malam mereka semakin kuat mereka di pimpin oleh Raja Yuko VII yang sudah mati."

Aku terbelalak tidak percaya.

Di depanku berdiri Raja Yuko VIII dia tidak marah pengawal mengatakan itu padaku.

setelah aku membalut luka aku bacakan mantra penyembuhan.

Luka itu sembuh namun pengawal kularang banyak bergerak.

Luka biasa tidak perlu dengan teratai emas.

Kadang terlintas di pikiranku mengobati dengan cara kedokteranku.

Mengobati komat kamit seperti ini mengeluarkan banyak energi.

Aku merasa tubuhku melemah.

**

Aku mandi di bak air kayu,

tidak berniat kembali.

Sambil berendam, aku memikirkan bagaimana keadaan duniaku.

mungkin mereka mengerti kehilanganku beberapa hari apalagi aku hilang berserta mobilku.

Aku juga sudah pamit ke Bibi pagi itu bahwa aku akan sibuk banyak pasien di Rumah Sakit.

Setelah mandi, aku berganti pakaian.

Beberapa pakaian yang di bawa di bungkusan pakaian dengan kain sutra, aku memilih menggunakan jubah putih dengan sedikit sulaman daun bambu berwarna kuning emas.

rambutku ku gelung menyerupai jambul tinggi dengan sumpit setelah kutemukan tusuk konde berwarna emas kuganti dengan tusuk konde.

Tusuk konde yang kuat untuk berjaga-jaga.

**

"Nona.. Makan malam sudah siap" suara dari luar ketukan pintu.

ketika aku membuka pintu sebuah bayangan hitam masuk menerobos ingin menyerangku, tubuhku di dorong terjatuh, aku terhindar dari serangan itu.

Raja Yuko memelukku, aku bangkit berdiri melihat pelayan terjatuh dengan gemetar memendang dinding di belakang yang terkoyak.

Bayangan itu kembali aku berdiri entah dari mana aku mendapatkan kemampuan itu.

Tiba-tiba aku menahan serangan dengan telapak tanganku..

Keluar cahaya keemasan membentuk bunga teratai.. Bayangan itu pergi seperti mengeluarkan raungan keras.

"Raja, apakah anda baik-baik saja" kataku raja yang tadi melompat memelukku masih jatuh di lantai.

Aku membantunya berdiri sekelilingku tanpa ku sadari penuh dengan penjaga dan Swanzi yang menatapku dengan tajam.

"Tidak apa-apa, kamu harus berhati-hati. Ikut kami ke ruang utama" kami bergegas berpindah ke ruang utama, tempat pengungsian.

Seluruh ruangan ditutup rapat sementara itu Swanzi merapalkan mantra yang tidak aku mengerti.

Kadang dia menjerit-jerit menangis sendiri.

seperti kerasukan kekuatan lain...

**

𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!