Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 29, BAYANGAN DI PUNCAK KEKUASAAN
Beberapa tahun berlalu. Benua Est hidup dalam damai yang belum pernah ada sebelumnya. Tujuh kerajaan tetap mempertahankan penguasa dan kebudayaan masing-masing, namun mereka bersatu dalam Persekutuan — saling membantu saat panen gagal, saling melindungi saat bahaya datang, dan bertemu setiap musim semi untuk membicarakan urusan seluruh benua. Zhoo dikenal bukan sebagai kaisar atau raja tertinggi, melainkan sebagai Penjaga Persekutuan — orang yang bertugas memastikan bahwa tidak ada yang tertindas dan tidak ada yang dirampas haknya.
Namun damai itu tidak datang tanpa harga. Zhoo semakin jarang pulang ke rumah lamanya. Ia semakin jarang berjalan di antara rakyatnya tanpa dikelilingi pengawal. Orang-orang melihatnya bukan lagi sebagai pemuda yang berjalan di antara mereka, melainkan sebagai simbol — sesuatu yang agung namun jauh. Dan di antara teman-temannya sendiri, perubahan itu juga terasa.
Kael menjadi penasihat terdekatnya, namun ia semakin sibuk dengan urusan negara, dan persahabatan masa lalu mereka perlahan berubah menjadi hubungan atasan dan bawahan. Arvin menjadi panglima tertinggi pasukan Persekutuan — dihormati oleh semua orang, namun ia semakin pendiam, seolah selalu melihat bayangan perang di mana pun ia berada. Ryn menjadi kepala pengintai — menjaga keamanan Persekutuan dari ancaman yang tidak terlihat, dan ia sering kali menghilang berbulan-bulan tanpa kabar.
Hanya Elara yang tetap sama. Ia tidak mengambil jabatan resmi apa pun, namun setiap orang tahu bahwa dialah tempat Zhoo kembali. Ia yang mendengarkan keluh kesah rakyat yang tidak berani berbicara kepada Penjaga. Ia yang menasihati Zhoo saat ia mulai lupa. Dan ia yang selalu mengingatkannya pada siapa dirinya sebenarnya.
Suatu sore, saat musim gugur tiba, Zhoo dan Elara berjalan di taman istana yang baru saja selesai dibangun — sebuah bangunan megah di perbatasan ketiga kerajaan, tempat mereka berkumpul. Angin berhembus lembut, membawa dedaunan kering yang berwarna merah dan emas.
"Kau bahagia?" tanya Elara pelan, melihat ke arah danau yang tenang.
Zhoo diam sebentar, lalu menjawab jujur: "Kadang aku bertanya-tanya. Apakah aku bahagia? Atau aku hanya terbiasa dengan beban ini? Dulu aku berpikir bahwa jika kita menang, semuanya akan baik-baik saja. Bahwa tidak ada lagi yang menderita. Tapi sekarang... aku melihat bahwa penderitaan tidak hilang begitu saja. Ia hanya berubah bentuk."
"Kau tidak bisa menyembuhkan dunia dalam satu malam," kata Elara lembut. "Kau hanya bisa berusaha membuatnya sedikit lebih baik dari kemarin. Dan itu sudah cukup."
"Tapi kadang aku takut," akui Zhoo pelan. "Aku takut suatu hari nanti aku akan terbiasa dengan kekuasaan ini. Aku takut suatu hari nanti aku akan mulai berpikir bahwa aku tahu segalanya, bahwa aku lebih penting dari orang lain. Aku takut aku akan berubah menjadi Vereon."
Elara berhenti berjalan, lalu memegang bahunya dan menatap matanya dalam-dalam.
"Kau tidak akan pernah menjadi seperti dia, Zhoo. Karena dia tidak pernah bertanya-tanya apakah dia benar. Dia tidak pernah merasa bersalah. Dan dia tidak pernah mencintai orang lain lebih dari dirinya sendiri. Selama kau masih ragu, selama kau masih peduli... kau aman."
Zhoo tersenyum tipis, lalu menggenggam tangannya erat. "Terima kasih. Tanpamu... aku pasti sudah lama tersesat."
Namun di kejauhan, di balik jendela menara, Arvin melihat mereka berdua. Wajahnya serius, dan di tangannya ada laporan tertulis — laporan bahwa ada gerakan pemberontakan di salah satu kerajaan kecil, bahwa orang-orang mulai berbisik bahwa Zhoo telah menjadi terlalu kuat, bahwa persekutuan itu perlahan berubah menjadi kekuasaan yang baru. Dan ada sesuatu yang lain — kabar bahwa putra mahkota Veyra yang masih kecil ternyata tidak mati, dan ada orang-orang yang diam-diam merawatnya, menunggu waktu yang tepat untuk mengembalikan takhtanya.
Perang belum benar-benar berakhir. Ia hanya berubah wujud. Dan Zhoo tahu itu — jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa perjuangannya belum selesai. Bahwa kedamaian itu bukan sesuatu yang bisa dimenangkan sekali dan selamanya — tapi sesuatu yang harus dijaga setiap hari, dengan setiap keputusan yang diambil, dengan setiap kata yang diucapkan.
Ia menatap langit yang mulai berwarna ungu keemasan, dan di dalam hatinya, ia berjanji — apa pun yang terjadi, ia tidak akan pernah lupa siapa dirinya. Ia tidak akan pernah melupakan desa kecil tempat ia lahir, teman-teman yang tumbuh bersamanya, dan orang-orang yang berjuang di sisinya. Dan jika suatu hari ia mulai melupakan... ia berharap seseorang akan mengingatkannya. Bahwa kekuasaan bukanlah tujuan. Tujuannya adalah orang-orang yang berdiri di sisinya.