Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.2 Wawancara Perusahaan
Lily berbalik.
Senyum langsung terlihat di wajahnya.
Tanpa berpikir panjang dia langsung menghambur ke pelukan sang suami.
"Aku merindukan mu sayang setelah seharian tidak bertemu."Bisiknya dengan manja.
Eldrick tersenyum kecil.
Perasaan kecewa yang tadi ia rasakan kini hilang begitu saja setelah sang istri memeluknya. Tiga tahun pernikahan mereka tidak pernah di terpa masalah meski mereka menjalani pernikahan mereka dengan sembunyi-sembunyi.
Eldrick dan Lily bahkan belum di karunia anak. Bukan tanpa alasan. Lily masih ingin mengejar karier. Dia punya impian bekerja di perusahaan suaminya tanpa campur tangan Eldrick.
Tentu saja Eldrick sangat menghargai itu. Itu adalah impian terbesar Lily dan Eldrick dengan senang hati mendukungnya.
"Kamu tidak mengajak ku lagi?"
Lily melerai pelukannya.
"Jangan memulai lagi sayang. Kita hanya suami istri di rumah. Jika di luar, kita harus menjadi asing. Aku tidak ingin mereka tahu jika suami ku adalah orang terkaya di kota ini."
Meski begitu Lily tidak menyangkal pernikahan mereka di depan keluarganya.
Tatapan Eldrick terlihat kecewa tapi dia tidak ingin menunjukkan semua itu. Dia tahu jika Lily begitu berambisi berdiri di atas kakinya sendiri.
"Ayo masuk."
Lily menarik suaminya masuk ke dalam. Eldrick hanya tersenyum kecil dan mengikuti langkah kaki sang istri.
Ke esokan paginya.
Eldrick membuka matanya. Jam baru menunjukkan pukul 6 pagi. Tapi dia sudah melihat kesibukan sang istri.
"Mau ke mana sayang?"
Lily menoleh.
Wanita itu tersenyum kecil.
"Kamu lupa sayang. Nanti ada wawancara di perusahaan Morley. Kamu tidak ingat?"
Eldrick tersenyum kecil.
"Ini baru jam 6 pagi sayang. Wawancaranya jam 9 pagi."
"Lebih cepat datang, lebih baik sayang. Bangunlah, semua sarapan sudah siap."
Lily mengecup pipi suaminya dan berjalan pergi meninggalkan kamar.
Eldrick hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian. Eldrick bangkit dari tempat tidur. Dia membersihkan diri dan bersiap ke kantor.
Sementara itu, Lily sudah berada di dalam taksi. Wanita itu terlihat gugup.
Setibanya di depan perusahaan. Lily turun dari mobil. Dia melangkah masuk ke dalam.
Sejenak Lily terpaku dengan kemewahan gedung itu.
"Apa kamu mau wawancara?"
Lily menoleh.
Seorang wanita berdiri di hadapannya. Dari name tag nya. Wanita di hadapannya itu adalah kepala Hrd di perusahaan.
"Iya bu."
"Lantai 12. Sudah ada beberapa peserta yang datang."
"Baik bu."
Lily melangkahkan kakinya.
"Ana."
Nama itu terdengar familiar bagi Lily.
Lily menoleh karena rasa penasaran.
Dia melihat bagaimana karyawan itu menyambut Ana.
"Bukankah dia bilang, dia sudah di terima?" Gumam Lily masih memandang ke arah Ana.
"Lily, itu kamu?"
Lily menghela nafas kasar ketika Ana mendekatinya. Dia sudah tahu apa yang akan di katakan oleh sepupunya.
"Ana, kita bertemu lagi."
Lily tersenyum canggung.
Mengapa mereka harus bertemu di sana?
Meski mereka berdua adalah keluarga. Lily sama sekali tidak pernah akrab dengan sepupunya itu.
"Kamu mengenalnya?"
Kepala HRD bertanya.
"Dia sepupuku. Ternyata dia juga melamar di perusahaan ini."Ujar Ana terdengar meremehkan.
"Oh, benarkah. Kenapa kamu tidak bilang sedari tadi? Berarti dia juga cucu dari nyonya Colins. Aku memang pernah dengar jika nyonya Colins punya dua cucu yang sangat cantik. Ternyata semua itu benar."Ujar kepala HRD tersenyum kecil.
Ana terlihat kesal mendengar hal itu.
"Kalian berdua masuklah. Tuan Eldrick sendiri yang akan memawancarai kalian."
Mendengar hal itu. Ekspresi Ana seketika berubah. Dia berlalu begitu saja melewati Lily begitu saja.
Setibanya di dalam ruangan. Semua mata tertuju kepada mereka. Terutama ke arah Lily. Semua orang bisa melihat kecantikan alami wanita itu. Hal itu juga yang membuat Ana kesal kepada Lily. Salah satunya dia juga kalah dalam kecantikan.
"Perhatian semua! Di sini ada sekitar 10 peserta setelah melewati seleksi pertama. Perusahaan Morley punya dua lowongan pekerjaan. Tentunya tidak mudah untuk mendapatkannya. Jadi silahkan lakukan yang terbaik."Ujar kepala Hrd tersenyum kecil.
"Baik bu."Jawab mereka serentak.
Ceklek...
Pintu terbuka.
Semua peserta menoleh ke arah pintu. Eldrick selaku CEO tentu saja menjadi impian semua wanita.
"Tampannya!"Gumam salah satu peserta.
"Andaikan dia bisa menjadi suami ku."Timpal yang lain.
Ana yang mendengar hal itu tampak kesal.
Dia menoleh ke arah dua wanita itu dan tersenyum meremehkan.
"Sadari posisimu. Tuan Eldrick tidak akan sudi dengan wanita seperti mu."Ujar Ana meremehkan kedua wanita itu.
Hal itu membuat kedua wanita itu diam. Dia jelas mengenal Ana. Keluarga Ana cukup berpengaruh.
Sementara Ana semakin tinggi hati. Dia semakin merasa jauh lebih baik di antara semuanya.
Ana kembali melihat ke arah Eldrick. Wajah hampir sempurna dan kaya raya menjadi impian Ana untuk menjadi pendamping hidup Eldrick.
"Dia tampan bukan?"
Lily menoleh.
Dia menatap Ana.
"Siapa?"
"Tentu saja tuan Eldrick. Tapi kamu harus tahu satu hal. Jangan pernah bermimpi untuk laki-laki sempurna seperti dia."Ujar Ana tersenyum kecil ke arah Lily.
Lily membalas senyuman Ana.
"Aku rasa kamu juga sedang bermimpi. Dia bahkan tidak mengetahuimu."Jawaban Lily semakin membuat Ana kesal kepadanya.
Meski merasa kesal. Ana harus menahannya. Dia tidak ingin membuat keributan dan membuat Eldrick kesal kepadanya.
Raut wajah Ana jelas menunjukkan kekesalan. Lily jelas menyadari hal itu.
Eldrick yang berada di depan hanya melihat ke arah wanita yang di cintainya.
Sekertarisnya yang melihat hal itu mendekat.
"Tuan!Jangan menatap nyonya seperti itu. Nanti karyawan lain curiga."Bisik sekertaris Eldrick.
Eldrick berdecak kesal mendengarnya.
Dia hanya diam tapi hatinya jelas sedang kesal karena ucapan sekertarisnya.
"Baiklah! Wawancaranya akan segera di mulai."Ujar Kepala Hrd.
Dua jam berlalu..
Semua peserta telah selesai. Eldrick terlihat begitu puas dengan sang istri.
"Hanya dua orang yang lulus. Hasilnya akan di umumkan lima belas menit kemudian." Ujar Eldrick.
Eldrick meninggalkan ruangan itu setelah mengatakan hal itu. Sebelum ia pergi. Dia sempat melirik ke arah sang istri.
"Kalian harus bersiap kalah. Kali ini aku harus membuat kalian kecewa. Terutama kamu Lily."Ujar Ana dengan penuh percaya diri.
Tatapannya begitu meremehkan ke arah peserta yang lain. Ana begitu percaya diri karena orang tuanya sudah menghubungi pihak perusahaan. Wawancara ini hanya formalitas saja.
Meski begitu dia tetap merasa tidak puas karena ada dua orang yang lulus. Dia hanya ingin lulus seseorang diri.
"Maaf membuat kalian menunggu. Hasilnya akan segera di umumkan. Seperti kata tuan Eldrick. Hanya dua orang yang akan lulus. Tentu saja yang lulus adalah orang yang pantas."Ujar kepala Hrd.
"Langsung saja umumkan hasilnya. Aku sudah tidak sabar."Ujar Ana.
"Baiklah. Dua orang yang lulus itu adalah.."