Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Operasi rekonstruksi mikro-bedah yang berlangsung selama lima jam akhirnya selesai menjelang fajar.

Dokter Hendra keluar dari ruang operasi dengan gurat keletihan di wajahnya, namun matanya memancarkan kelegaan.

"Operasi berjalan lancar, Bu Nadya," ujar dokter Hendra saat Nadya menghampirinya di ruang perawatan.

"Kami berhasil menyambungkan kembali fragmen tulang yang patah menggunakan pin khusus, serta memperbaiki ligamen dan jaringan saraf yang rusak. Namun, pemulihan ini membutuhkan waktu dan terapi okupasi yang sangat intensif."

Nadya mengelus dadanya, bernapas lega seraya mengusap air mata syukurnya.

"Terima kasih banyak, Dokter. Terima kasih."

Beberapa jam kemudian, Armand dipindahkan ke kamar rawat inap VVIP yang tenang dan nyaman. Ketika pengaruh obat bius perlahan memudar, Armand membukanya matanya.

Hal pertama yang ditangkap oleh penglihatannya adalah sosok Nadya yang duduk setia di samping ranjang, menggenggam lembut tangan kirinya yang bebas dari infus.

Tangan kanan Armand kini terbalut gips tebal dan perban steril, tersangga rapi di atas bantal khusus.

"Dek," panggil Armand lirih, suaranya serak.

Nadya seketika mendongak, matanya berbinar melihat sang suami telah sadar.

Ia mengecup punggung tangan kiri Armand dan menyapukan jemarinya di pipi suaminya.

"Mas, alhamdulillah. Mas sudah bangun?"

Armand melirik tangan kanannya yang kaku terbalut gips, lalu kembali menatap Nadya dengan sorot mata penuh penyesalan.

"Tangan Mas, Dek. Bagaimana pengerjaan seragam Pak Dermawan? Mas takut tidak bisa menyelesaikan pesanan itu tepat waktu. Mas,"

"Hussh." Nadya meletakkan jari telunjuknya di bibir Armand, memotong kalimat suaminya dengan kelembutan yang menenangkan.

"Jangan pikirkan soal pesanan atau pekerjaan dulu, Mas. Yang paling penting sekarang adalah kesehatan dan pemulihan tanganmu."

Nadya tersenyum manis, memancarkan ketenangan seorang pemimpin sekaligus istri yang luar biasa.

"Dua puluh penjahit baru yang kita rekrut sudah mulai bekerja di bawah pengawasan Siska dan kepala produksi. Pola dan desain awal buatan Mas sebelum kejadian kemarin sudah sangat jelas, jadi mereka tinggal mengikuti arahan. Kalau ada detail rancangan yang butuh persetujuan, Mas cukup mengarahkannya secara lisan dari sini. Mas tidak berjuang sendirian."

Armand menatap Nadya tanpa kedip. Rasa haru yang membuncah membuat dadanya bergetar.

Wanita di hadapannya ini tidak hanya menyelamatkan nyawanya dari cengkeraman maut, tetapi juga menjaga seluruh impian dan martabatnya tetap berdiri kokoh saat ia terpuruk.

"Terima kasih, Dek. Terima kasih untuk semuanya," bisik Armand penuh kehangatan.

Saat suasana haru menyelimuti mereka, pintu kamar rawat inap ketuk pelan.

Siska masuk bersama dua orang pria berjas rapi yang membawa map dokumen tebal.

Salah satunya adalah kepala tim detektif swasta, dan yang lainnya adalah pengacara utama perusahaan Nadya.

"Selamat pagi Bu Nadya, Pak Armand," sapa pengacara tersebut secara hormat.

"Kami membawa kabar perkembangan terkait proses hukum Rian dan Sarah."

Nadya mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak, raut wajahnya seketika kembali tegas dan dingin.

"Bagaimana status mereka?"

Pengacara itu membentangkan laporan resmi di atas meja.

"Rian dan Sarah saat ini berada di bawah pengawalan ketat kepolisian di rumah sakit Bhayangkara akibat luka tembak di kaki Rian. Pihak kepolisian telah menetapkan mereka berdua sebagai tersangka utama atas tindak pidana penganiayaan berat, penculikan berencana, pemerasan, hingga percobaan pembunuhan."

Pengacara itu melanjutkan dengan senyum tipis, "Dengan bukti rekaman audio ultimatum, sampel zat kimia di lokasi penculikan, serta dokumen palsu yang kita amankan, tidak ada celah hukum sedikit pun bagi mereka untuk meloloskan diri. Penangguhan jaminan mereka telah dicabut secara permanen. Pengadilan dipastikan akan menjatuhkan hukuman penjara maksimal tanpa ada peluang remisi."

Armand menarik napas panjang, merasai beban berat yang selama ini menghantuinya akhirnya terangkat sepenuhnya. Rian dan Sarah tidak akan pernah bisa menyentuh kehidupan mereka lagi.

"Pastikan proses hukumnya berjalan hingga tuntas tanpa ada toleransi sekecil apa pun," tegas Nadya mantap kepada sang pengacara.

"Baik, Bu Nadya. Kami pastikan mereka mendapat hukuman setimpal atas semua perbuatannya."

Setelah tim hukum dan detektif pamit keluar, Siska mendekati ranjang Armand seraya menyerahkan sebuah berkas laporan produksi.

"Pak Armand, Pak Dermawan tadi pagi menghubungi saya," ujar Siska bersemangat.

"Beliau sudah mendengar musibah yang menimpa Bapak dan Bu Nadya dari berita kepolisian. Beliau menyampaikan empati yang mendalam dan menyatakan siap memberikan tambahan waktu tenggat produksi agar Pak Armand bisa fokus memulihkan diri!"

Armand tersenyum lebar, matanya berbinar penuh rasa syukur.

Segala intrik, dendam, dan ancaman yang sempat membayang-bayangi perjalanan mereka kini telah runtuh, berganti dengan masa depan yang terang benderang.

Armand meraih jemari Nadya dengan tangan kirinya, meremasnya lembut.

"Terima kasih sudah menjadi pelindung dan takdir terindah dalam hidupku, Dek."

Nadya menyandarkan kepalanya di dada Armand, mendengarkan detak jantung suaminya yang kini berirama tenang dan aman.

"Kita hadapi semuanya bersama-sama, Mas. Mulai hari ini, hanya ada kebahagiaan untuk kita."

Ruangan VVIP itu mendadak diselimuti keheningan yang begitu menyejukkan.

Hembusan angin pagi yang menerobos celah jendela membawa aroma kesegaran setelah badai semalaman usai, seolah ikut merayakan kemenangan dan kebebasan yang akhirnya mendekap kehidupan Armand dan Nadya.

Armand mengelus lembut helai rambut hitam Nadya yang tersandar di dadanya.

Jemari tangan kirinya yang bebas merengkuh bahu sang istri, menikmati tiap detik ketenangan yang dulu terasa begitu mahal untuk mereka miliki.

Rasa sakit di tangan kanannya yang terbalut gips tebal kini tak lagi terasa mengimpit, terkalahkan oleh kehangatan dan rasa syukur yang memenuhi seluruh rongga dadanya.

"Siska," panggil Armand pelan seraya menatap sekretaris setianya yang masih berdiri di dekat pintu.

"Tolong sampaikan rasa terima kasih saya yang mendalam kepada Pak Dermawan. Katakan pada beliau, meskipun saya sedang dalam masa pemulihan, saya akan tetap memantau langsung pengawasan kualitas seragamnya dari sini agar hasilnya tetap sempurna."

Siska tersenyum lebar dan mengangguk mantap. "Siap, Pak Armand. Akan saya sampaikan sekarang juga. Kalau begitu, saya permisi dulu untuk mengecek perkembangan di konveksi."

Setelah Siska pamit dan menutup pintu dengan pelan, Nadya perlahan menegakkan tubuhnya.

Ia menatap wajah Armand yang kini terlihat jauh lebih rileks.

Rona kehidupan telah kembali di paras tampan suaminya, melenyapkan sisa-sisa trauma dan kesakitan dari malam yang mencekam itu.

"Mas," bisik Nadya lembut seraya merapikan kerah baju rawat Armand.

"Mulai sekarang, Mas tidak perlu khawatir lagi. Rian dan Sarah sudah menerima pembalasan atas semua kejahatan mereka. Perusahaan aman, konveksi berjalan lancar, dan yang paling penting, Mas ada di sini, di sampingku, selamat."

Armand menatap manik mata Nadya yang berbinar indah.

Ia menyapukan ibu jarinya mengusap sisa ketakutan yang mungkin masih tertinggal di pipi istrinya.

"Kamu benar, Dek," ujar Armand dengan suara hangat nan mantap.

"Dulu Mas berpikir, kehilangan segalanya adalah akhir dari hidup Mas. Tapi kamu datang dan membuktikan kalau takdir punya cara indah untuk menyembuhkan luka. Kamu bukan cuma menyelamatkan nyawaku, tapi kamu juga mengembalikan martabat dan impianku."

Nadya terkekeh pelan, menyunggingkan senyum goda yang amat dirindukan Armand.

"Kan sudah aku bilang, Mas. Di cerita kita, aku CEO-nya, dan aku tidak akan biarkan siapa pun menyakiti pria yang aku cintai."

Tawa renyah Armand menyembur pelan, memecahkan sisa-sisa khawatir.

Ia merengkuh Nadya semakin erat ke dalam pelukannya, mengecup kening sang istri dengan kecupan panjang yang penuh dengan rasa cinta, penghormatan, dan janji kesetiaan abadi.

Di dalam ruangan bercahaya mentari pagi itu, Armand dan Nadya siap melangkah menyongsong babak baru kehidupan mereka—sebuah lembaran baru yang hanya dihiasi oleh cinta yang tulus, kejayaan karya, dan kebahagiaan yang tak tergoyahkan.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!