Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Hadiah yang Hilang
Pagi itu Nadira sedang bersiap pergi bersama Arga.
Mereka sudah berencana makan siang di luar.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, Nadira merasa sedikit lega.
“Aku sudah siap,” katanya.
Arga tersenyum.
“Cantik.”
Nadira terkekeh.
“Gombal.”
“Aku serius.”
Namun baru saja Nadira mengambil tasnya, Rani muncul di depan pintu.
“Mas.”
Arga menoleh.
“Ada apa?”
“Aku mau bicara.”
“Sekarang?”
Rani mengangguk.
Nadira langsung mundur.
“Kalau begitu, kalian bicara dulu.”
Arga menatapnya.
“Kamu tunggu sebentar.”
Nadira mengangguk.
Ia turun ke ruang keluarga.
Beberapa menit kemudian, Arga menyusul.
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
“Kita jadi makan siang.”
Nadira tersenyum.
“Benarkah?”
“Iya.”
Namun sebelum mereka keluar, Tante Mila tiba-tiba memanggil Nadira.
“Nadira, sebentar.”
Nadira menghampiri.
“Ada apa, Tante?”
“Cincin ini…”
Mila menunjuk kotak kecil di meja.
“Bisa tolong simpan sebentar? Saya takut tertinggal.”
Nadira menerima kotak itu.
“Baik.”
Mila tersenyum.
“Simpan di kamar saja.”
Nadira mengangguk.
Ia membawa kotak tersebut ke kamar.
Setelah meletakkannya di meja, ia segera kembali.
Namun sekitar satu jam kemudian, terdengar suara gaduh dari ruang keluarga.
“Cincinku hilang!”
Nadira yang sedang turun dari tangga langsung berhenti.
Mila berdiri dengan wajah panik.
“Aku yakin tadi ada di kotaknya.”
Rani ikut mencari.
“Sudah dicek semua?”
“Sudah.”
Bu Ratih menatap Nadira.
“Kamu tadi yang membawa kotaknya ke kamar, kan?”
Nadira terdiam.
“Iya, tapi aku langsung meletakkannya di meja.”
“Coba cari di kamar Nadira.”
Nadira langsung menatapnya.
“Bu, saya tidak mengambilnya.”
“Aku tidak menuduhmu.”
“Tapi kenapa harus kamar saya?”
“Karena kamu yang terakhir membawanya.”
Arga segera datang.
“Ada apa?”
Mila menjelaskan.
Arga menatap Nadira.
“Kamu ingat menaruhnya di mana?”
“Di atas meja.”
“Ayo kita cari.”
Mereka masuk ke kamar.
Laci dibuka.
Lemari diperiksa.
Tidak ada cincin.
Nadira mulai merasa panik.
“Aku benar-benar tidak mengambilnya.”
Arga menggenggam bahunya.
“Aku percaya.”
Rani berdiri di pintu.
“Mas…”
Arga menoleh.
“Apa?”
“Coba lihat tas Nadira.”
Nadira langsung menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena kita harus memastikan semuanya.”
Arga menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Tapi kalau cincin itu hilang, kita harus mencari.”
“Aku tahu.”
Arga menatap Rani.
“Tapi jangan menuduh Nadira.”
Rani menunduk.
“Aku cuma ingin membantu.”
Mereka kembali ke ruang keluarga.
Mira terlihat semakin gelisah.
“Kalau tidak ditemukan, bagaimana?”
Bu Ratih berkata,
“Tenang. Kita cari lagi.”
Saat itu Tante Mila tiba-tiba memegang tas kecilnya.
Ia membuka resleting bagian depan.
Matanya membesar.
“Ya Tuhan…”
Semua orang menoleh.
Cincin itu ada di dalam tasnya.
“Kenapa ada di sini?”
Rani segera berkata,
“Mungkin tadi Tante sendiri yang memasukkannya.”
Mila mengangguk bingung.
“Mungkin.”
Nadira hanya diam.
Ia menatap Rani.
Ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Tetapi ia tidak memiliki bukti.
Arga mendekatinya.
“Ayo kita pergi.”
Nadira mengangguk.
Di dalam mobil, Nadira lebih banyak diam.
Arga meliriknya.
“Kamu masih kepikiran?”
“Iya.”
“Aku tahu kamu tidak mengambil cincin itu.”
Nadira menatap Arga.
“Kalau begitu kenapa kamu tidak bertanya kepada Rani kenapa dia langsung mencurigai aku?”
Arga terdiam.
“Aku hanya tidak ingin membuat masalah.”
Nadira tersenyum pahit.
“Lagi-lagi.”
Arga menggenggam setir lebih erat.
“Aku akan bicara dengannya.”
“Jangan hanya bicara.”
Arga menoleh sebentar.
“Maksudmu?”
“Kalau seseorang terus menyakiti aku, jangan cuma bilang mereka salah.”
Nadira menatap ke luar jendela.
“Buat mereka berhenti.”
Arga tidak menjawab.
Sementara itu, di rumah…
Rani masuk ke kamarnya.
Ia mengunci pintu.
Kemudian mengeluarkan sesuatu dari laci.
Sebuah kunci kecil.
Ia tersenyum.
“Kalau begitu, kita lihat sampai kapan kamu bisa bertahan, Nadira.”
Di tangannya terdapat sebuah dokumen.
Dokumen yang berisi sesuatu yang bisa membuat pernikahan Nadira dan Arga berada dalam masalah besar.