Alexa Lily, gadis yang di Adopsi oleh salah satu ketua klan mafia sejak usia enam bulan. Alexa hidup di dalam kemewahan dan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi dibalik itu, Alexa tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Hingga suatu hari Alexa mendapatkan misi dari ayah angkatnya, dan misi itu berhasil ia selesaikan dengan mulus. Terlepas dari itu, Alexa mendapatkan sebuah informasi tentang siapa ayah kandungnya.
Berawal dari Informasi yang ia dapatkan, Alexa mendatangi kediaman ayah kandungnya itu.
Apakah ayah kandungnya itu akan menerima dan mengakui Alexa sebagai anak kandungnya? Atau justru ayahnya hanya menjadikannya sebagai pion untuk keuntungan pribadinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Cukup Menjaga Tapi Tidak Untuk Mencintai
Happy reading 🤗 🤗
Semoga kalian suka🥰🥰
Alexa melepas ciumannya. Ia tersenyum dan menatap Austin yang masih tercengang. Alexa menarik tangan Austin dan melihat cincin yang ia kenakan di tangan pria itu. Alexa mengangkat pandangannya.
"Kamu sudah memakai cincin dari ku. Jadi, kamu sekarang sudah jadi milik Alexa Bleiz." Alexa kembali mencubit pipih Austin. Austin masih diam terpaku. Sementara Liona masih sangat kesal dengan gadis itu.
"Aku pergi dulu." ucap Alexa, ia pergi bersama semua pengawalnya.
Liona mencubit lengan Austin. "Kakak, aku tidak setuju kalau kamu sama dia." Liona memasang wajah cemberut.
Austin menunduk dan memejamkan matanya sebentar. "Dia memaksaku." ucap Austin singkat.
"Aku tidak peduli, pokoknya kakak tidak boleh pacaran dengan wanita Geng itu." Liona duduk di kursi dan menenangkan dirinya.
Austin kembali terdiam. Suasana Toko Bunga itu kembali hening. Hanya Austin dan Liona yang berada di toko itu.
Liona menghela nafas panjang. Ia kembali menatap kakaknya. "Kakak. Kalau kakak tidak bisa lepas dari gadis itu, kita pergi saja dari Kota ini." jelas Liona, ia berdiri dan masuk ke dalam rumahnya. Ia meninggalkan Austin yang masih duduk terdiam.
Sementara itu, di lain tempat. Alexa kembali ke Markas Black Bleiz. Di dalam ruangan bawa tanah dengan cahaya yang redup itu, Theodore sedang duduk dengan segelas kopi di tangannya. Ia sudah menunggu Alexa kembali.
Alexa berjalan mendekat, senyumnya tampak terlihat jelas di sudut bibir gadis itu. Theodore berdiri dan langsung memeluk putri angkatnya itu. Di belakang Theodore, ada Addison yang selalu setia menemaninya. Addison tersenyum melihat mereka berdua berpelukan.
"Putriku, apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang menyakitimu? Bilang pada ayah!" Theodore menatap teduh gadis itu.
Alexa tersenyum, matanya berkaca-kaca. Hanya di Serikat Black Bleiz, ia bisa merasakan hangatnya kekeluargaan. Ayah angkatnya begitu sangat menyayanginya. Air matah Alexa tumpah. Namun, senyum di bibirnya masih terukir.
"Sayang, kok kamu menangis? Siapa yang menyakiti mu? Kamu jangan sedih lagi ya, ada Ayah disini." Theodore kembali memeluk putri angkatnya itu.
"Ayah, terima kasih!" ucap Alexa singkat.
Theodore melepas pelukannya. Ia mengusap air mata yang membasahi pipih putrinya itu. "Terima kasih untuk apa Nak?" tanya Theodore.
Alexa menarik nafas panjang. "Setelah ibu ku meninggal, aku pikir aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku akan tumbuh dan hidup tanpa kasih sayang seorang ibu dan Ayah. Waktu itu, Alexa putus asa banget. Ibuku pergi begitu cepat dan aku tidak tahu siapa ayah kandungku." Alexa terdiam, ada air mata yang berusaha ia tahan agar tidak tumpah lagi.
Alexa mengangkat pandangannya, ia menatap pria paruh baya yang berdiri di depannya dengan tatapan teduh. "Tapi, Alexa bertemu dengan Ayah. Ayah mengadopsi Alexa, dan ketiga kakakku juga menerima kehadiranku di keluarga Bleiz. Di keluarga ini, Alexa baru merasakan hangatnya kasih sayang keluarga. Alexa merasa tidak sendirian lagi. Kalian semua, mengajari Alexa bagaimana menjadi kuat, sampai sekarang ini. Ini berkat didikan dari Ayah. Terima kasih ayah." Alexa tidak tahan lagi membendung air matanya. Ia kembali memeluk Theodore.
Addison yang mendengar percakapan kedua orang itu pun menunduk, ia merasa terharu mendengar cerita hidup dari gadis malang itu.
Theodore mengelus lembut pundak putri angkatnya. "Putriku, Ayah dan kakak-kakak mu akan selalu sayang sama kamu. Kami semua akan selalu menjaga mu. Jangan sedih lagi ya." Theodore kembali mengusap air mata gadis itu.
Theodore menuntun Alexa untuk duduk di sofa. "Nak, ayah memanggilmu kemarin karena ada hal yang harus Ayah katakan kepadamu." ucap Theodore dengan tatapan serius.
Alexa menatap ayahnya penuh tanya. "Apa itu Ayah?" tanya gadis itu.
Theodore terdiam. Ia menatap putrinya. "Ayah baru saja dapat kabar. Kalau kamu telah membunuh Wira Spider dan Bara Lim. Ayah merasa khawatir kalau Ayah Bara Lim, penguasa Serikat Spider Black akan balas dendam kepadamu." Ucap Theodore, wajahnya kelihatan cemas.
"Ayah. Ayah nggak usah cemas. Alexa bisa jaga diri kok." Alexa tersenyum dan meyakinkan ayahnya.
"Ayah percaya padamu, Nak. Tapi, kamu tidak tahu bagaimana liciknya Ayah Bara Lim. Ia bisa melakukan apa saja untuk membalas dendam. Kamu harus selalu waspada." jelas Theodore.
Ruangan itu mendadak hening.
Tiba-tiba saja, Damian dan kedua adiknya itu datang.
"Adik....!" Teriak ketiga pria itu bersamaan dan langsung menghampiri Alexa.
Theodore yang tadinya cemas memikirkan putrinya, mendadak raut wajahnya berubah datar melihat kemunculan ketiga putranya itu.
Damian, Gideon dan Leonard langsung duduk di sebelah Alexa dan merangkul gadis itu.
"Adik, kakak sangat rindu banget..." ucap Damian. Ia mencubit pipih Alexa.
"Aahh,,, kakak sakit. Ayah, lihat kakak!" Alexa mengaduh kepada Theodore.
Theodore yang melihat kelakuan anak-anaknya itu langsung tersenyum bahagia.
"Adik, kalau aku lihat-lihat, kok adik beda ya dari hari-hari sebelumnya." Ucap Leonard sambil memikirkan sesuatu.
"Iya, ada yang aneh sama adik kita." lanjut Gideon.
Alexa membulatkan matanya, ia langsung memegangi pipinya. "Memangnya apa yang beda dari Alexa, kak? Perasaan sama saja kok." Alexa tersenyum.
Damian mengubah posisi duduknya yang tadinya duduk menyamping, sekarang menghadap ke arah Alexa. "Kamu tampaknya berseri-seri." ucap Damian dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Apa jangan-jangan Adik kita ini sudah jatuh cinta." tembak Leonard asal-asalan.
Damian dan Gideon saling menatap. Lalu tatapan mereka mengarah ke gadis yang duduk di tengah-tengahnya.
Alexa merasa terintimidasi oleh ketiga kakaknya itu. "Ihh,,,, kakak ngomong apa sih!" Alexa tersenyum malu. Pipinya merah merona.
"Nah, betulkan tebakanku." Leonard tertawa kecil.
"Nak, ayah tidak melarang mu dekat dengan pria manapun. Tapi, kalau memang ada pria yang kamu suka. Ayah dulu yang harus mengenalnya. Jangan sampai pria itu hanya menipu mu saja lalu menculik mu." jelas Theodore dengan tatapan serius.
"Ayah, Alexa kan bukan anak kecil lagi. Ayah tidak perlu khawatir. Alexa pasti kenalin sama ayah dan Kakak-kakak." Ucap Alexa.
Damian dan kedua adiknya langsung terdiam. Leonard yang awalnya hanya asal menebak, ternyata tebakannya benar.
"Adik punya pria yang disukai! Pupuslah sudah harapanku!" Damian tampak lesu.
Gideon yang tadinya bersemangat karena adiknya datang menemui mereka, kini wajahnya tampak sedih. "Rasanya hatiku seperti teriris-iris oleh pisau tajam. Sakit sekali." Batinnya. Pria itu memegangi dadanya.
Leonard pun sama. Ia menyesal sudah berkata asal seperti itu.
Alexa menatap ketiga kakaknya itu. "Kakak, kalian kenapa? Kok lesu begitu? Belum makan?" tanya Alexa heran.
Ketiga kakaknya itu hanya diam dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah,,, Kakak tenang saja. Nanti aku kenali pria itu ke kakak. Dia itu pria yang sangat baik." Puji Alexa.
Ketiga pria itu langsung tidak bersemangat. Theodore yang melihat tingkah ketiga putranya itu, langsung tersenyum kecil. Ia bisa membaca ekspresi wajah dari ketiga putranya itu.
"Tugas kalian hanya menjaga Alexa. Tidak untuk jatuh cinta padanya." Batin Theodore.
\*\*\*
*Terima kasih teman-teman 🤗*
*Bantu dukungannya ya🌹🌹*
anak angkat di sayang anak kandung dibenci alur cerita begini udah basi..... aku kira menarik cih...