Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
—Mansion Mahawirya, Aula Pesta
“Mengadopsi seorang yatim piatu, sungguh mulia sekali hati Anda!”
Randi—kepala keluarga Pratama memberikan senyum terbaiknya pada para wartawan. “Ini bukan apa-apa, malah kami yang benar-benar bersyukur mendapatkan putri seperti Ophelia. Dia cerdas, memiliki nilai akademis diatas rata-rata dan merupakan anak yang sopan. Bukankah sudah menjadi tugas kami untuk mengembangkan potensinya?”
Para wartawan mengangguk. “Tapi memangnya putri kandung anda, Chelsea tidak keberatan memiliki saudara angkat yang hampir satu usia dengannya? Biasanya remaja akan merasa tersaingi.”
“Tersaingi?” Randi tertawa kecil. Ia menunjuk ke arah sudut pesta, kedua putrinya terlihat bercengkrama dengan akrab. “Sekalipun bukan saudara kandung, mereka sudah memiliki hubungan setara sahabat karib. Chelsea adalah pribadi yang mudah akrab dengan orang lain. Ketika tahu dia akan memiliki saudara angkat pun, dia benar-benar senang.”
“Kemurahan hati sungguh mengalir di darah keluarga Pratama ya? Lalu bagaimana—”
Murah hati katanya?
Ophelia yang mendengarkan para wartawan hanya bisa meminum jus jeruknya dengan perlahan. Apa mereka memang selalu seperti itu?
Berpura-pura buta.
“Senyum sedikit bisa nggak sih?” Chelsea menginjak kaki Ophelia dengan ujung heels-nya kuat-kuat. “Wartawan sedang melihat kesini.”
Ophelia menarik ujung bibirnya sedikit dan menatap Chelsea dengan senyuman tipis. Kakak angkatnya ini memiliki rambut pirang dengan gaun merah yang memperlihatkan kesempurnaan lekuk tubuhnya. Nyonya keluarga Pratama memang memiliki darah Rusia, jadi tidak heran.
Berkebalikan dengan Chelsea, Ophelia memiliki rambut dan mata berwarna gelap, khas asia. Gaunnya pun lebih sederhana, dengan warna pink menjuntai yang terlihat kepanjangan.
Tapi setidaknya, di pesta begini ia merasa paling aman.
Ophelia bisa makan apapun yang dia mau dan tidak ada yang namanya penyiksaan, sekalipun ia yakin kakinya mulai membiru karena diinjak dari tadi.
“Oh, itu Kaiser.” Chelsea merapikan rambutnya sedikit dan menarik tangan Ophelia menuju tengah pesta. Seorang pemuda rupawan dengan jas biru tua terlihat berdiri tegak. Namun wajahnya penuh kehampaan.
Chelsea berdiri tepat di depan pemuda itu dan tersenyum manis. “Kaiser, selamat ulang tahun yang ke-18.”
Ah ya, ini juga adalah pesta ulang tahunnya. Putra kedua dari keluarga yang ada di puncak sosialita, Kaiser Mahawirya.
“Terima kasih,” balas pemuda itu sopan.
Chelsea menyenggol pundaknya sedikit. “Lia, kamu juga harusnya ‘ngucapin dong.”
“Selamat ulang tahun,” ucapnya datar. “Semoga panjang umur.”
Kaiser mengangguk. “Silahkan nikmati pestanya, saya permisi dulu.”
Chelsea berdecak kesal. Ia mencengkeram lengan Ophelia kuat-kuat dan menariknya menuju ruangan lain di mansion mewah itu.
Plak!
“Gara-gara dirimu Kaiser jadi langsung pergi begitu saja!”
Plak!
“Padahal hanya tinggal senyum dan menyapa, kenapa hal seperti itu susah sekali dilakukan sih?! Dasar tidak berguna!”
Ophelia menyentuh pipinya. Rasa panas nan menyengat disertai dengan cairan asin yang keluar dari sudut bibir ini terasa familiar.
Ah, kalau wajahnya yang kena begini dia tidak bisa kembali ke tempat pesta.
Ophelia ingin melawan, tentu.
Tapi itu hanya akan memperburuk keadaan dan akan berakhir dengan hukuman. Jadi lebih baik ia tahan.
“Tunggu di mobil dan jangan sekali-kali masuk lagi ke ruang pesta.” Chelsea mendorongnya. Tatapannya seperti melihat sesuatu yang hina. “Makhluk rendahan seperti dirimu harusnya tidak menginjakkan kaki disini sejak awal.”
Ophelia mengelap sudut bibir dengan telapak tangannya. Ia membuka hak tinggi yang membuat kakinya sakit dan dengan langkah pelan, gadis berusia 17 tahun itu berjalan ke pintu depan.
Disini sepi, mungkin karena semua orang tengah berada di aula menikmati puncak acara. Ophelia menyesal tidak memakan lemon tart lebih banyak disana. Rasanya enak sekali.
Ia menyentuh dinding yang bersih tanpa cela, lukisan keluarga Mahawirya yang terlihat mahal juga tangga yang melingkar—terlihat ingin berada disini lebih lama. Namun ketika hampir sampai ke pintu ganda itu, sebuah suara terdengar di telinganya.
Ting!
Jam yang menunjukkan tepat tengah malam ya?
“Sayang jangan disini, nanti ketahuan!”
Itu suara Yelena?
“Tapi rasanya lebih menantang ‘kan?”
Apa yang dilakukan Ibu angkatnya itu di bawah tangga—oh.
Perselingkuhan?
Dia terlihat bersama seorang pria, dari perawakannya mungkin baru berusia awal dua puluhan. Pria itu terlihat rupawan dengan memakai setelan yang terlihat mahal.
Apa cuma Ophelia atau pria itu mirip dengan Kaiser?
Tapi tidak, Kaiser memakai jas biru tua, pria itu memakai setelan coklat. Dia terlihat bercumbu dengan Nyonya Yelena dan sadar kalau Ophelia sedang melihat mereka.
Lalu kemudian tersenyum.
Ophelia hanya menatap mereka dengan tatapan datar. Terserah. Bukan urusan dia juga.
Ia kembali berjalan ke pintu depan dan membukanya perlahan. Ophelia ingat kalau wajah pria itu sempat ia lihat di lukisan keluarga Mahawirya.
Putra pertama mereka.
Chelsea mengincar si putra kedua, sedangkan Ibunya memiliki hubungan gelap dengan putra pertama. Ironis sekali.
Keluarga Mahawirya adalah kalangan old money yang memiliki aset dimana-mana. Jika dibandingkan dengan keluarga Pratama yang baru saja sukses membuat bisnis sendiri, ketimpangan sosialnya berbeda jauh.
Sekalipun mereka sudah mengadopsi anak yatim seperti dirinya untuk meningkatkan pamor, itu tidak cukup.
Mengincar mereka yang ada di puncak adalah suatu keharusan.
Ophelia melihat ke arah mansion megah itu. Kembang api terlihat berhamburan di langit sana, terlihat seperti bunga-bunga yang sedang mekar.
Kalau ia kabur sekarang, apa nasibnya akan lebih baik? Tapi kabur kemana?
Tempat mana yang akan menerima dirinya?
Kembali ke panti asuhan hanya akan membuat masalah. ia juga tidak punya kerabat.
Lulus sekolah dan mendapatkan pekerjaan adalah hal terakhir yang bisa ia lakukan. Mungkin setelah itu, mungkin. Ophelia bisa memiliki rumah yang tidak perlu dibayar dengan rasa sakit.
Tidak perlu sebesar mansion ini, tempat yang kecil juga cukup.
Benar-benar cukup.
Tapi sayangnya, takdir seakan menolak harapannya itu.
...****************...
—SMA Swasta Maharaja
“Gak tau diri!” Ophelia meringis ketika merasakan jambakan di rambutnya. “Menggoda Kaiser? Dirimu?”
Plak!
“Berdiri di satu ruangan yang sama dengannya pun kau itu tidak pantas!”
Gadis yang menamparnya bukanlah Chelsea. Saudari angkatnya itu ada di belakang sana, tersenyum sinis dan terlihat puas.
Orang-orang yang ada di depannya sekarang adalah kakak kelas Ophelia. Kumpulan gadis yang menyembah Kaiser seakan eksistensi pemuda itu adalah salah satu dari keajaiban dunia.
Fans fanatik yang menjijikkan.
“Dengar ya,” pemimpin mereka, Reine berjongkok di depan Ophelia dan mencengkram rahangnya kasar. “Bukan cuma kaum rendahan seperti dirimu, bahkan putri dari keluarga ternama pun jika dia berani mendekati Kaiser aku tidak akan segan-segan.”
“Oh ya, ingat si Airin itu?” perempuan di samping Reine tertawa. “Sampai sekarang dia masih koma ‘kan ya?”
Yang lain ikut terkekeh, tapi keduanya langsung berhenti tertawa ketika Reine berdecak dan menatap mereka dengan tatapan kesal.
Kalau tidak salah, kecelakaan Airin terjadi di awal semester baru ‘kan?
Itu juga ulah mereka?
“Lihat? Membuat seseorang pergi adalah hal mudah bagiku.” Reine meludahi wajah Ophelia. “Jadi tahu diri dan jangan sekali-kali lagi menggoda Kaiser dasar jalang.”
“...jijikkan.”
“Apa?”
“Aku bilang,” Ophelia mengelap wajah dengan seragamnya. “Kalian itu menjijikkan. Memuja Kaiser sampai segitunya, memang akan membuat dia menyukai kalian? Kalau aku jadi dia aku malah akan jijik duluan.”
Merasa tidak terima, Reine mencoba menendang Ophelia yang masih terduduk di lantai kamar mandi namun kali ini kakinya ia tahan dan sengaja diputar agar dia sendiri yang terjatuh.
Bunyi jatuhnya benar-benar merdu.
Tapi jatuh begitu akan menyebabkan lebam tidak ya? batin Ophelia pelan. Kalau benar-benar ada lebam bisa bahaya nanti.
Brakk!!
Pintu kamar mandi dibuka paksa. Seorang guru perempuan terlihat berdiri disana.
“Ada apa ini?!”
Dan Reine langsung berpura-pura kesakitan.