"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenzo datang
Tepat dua bulan sejak janji yang diucapkan Kenzo di Surabaya, proses kepindahan tugasnya akhirnya rampung. Pagi itu, Rain menerima pesan singkat yang sudah lama dia nantikan.
**Kenzo:** Semua administrasi udah kelar. Aku resmi jadi Finance Manager cabang Surabaya, mulai minggu depan.
Rain menatap pesan itu berulang kali, hampir tidak percaya bahwa penantian panjang mereka akhirnya akan segera berakhir. Air matanya tanpa sadar menetes, bukan karena sedih, melainkan haru yang meluap setelah berbulan-bulan menjalani hubungan jarak jauh yang penuh perjuangan.
**Rain:** Aku nggak sabar!!! Kabarin kalau udah dapet tempat tinggal di sini, ya.
**Kenzo:** Udah, kok. Aku sengaja cari apartemen yang deket sama kantor kamu juga, biar gampang kalau mau ketemu.
Rain tersenyum lebar membaca pesan itu, merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak dia rasakan sepenuhnya sejak kepindahannya ke Surabaya beberapa bulan lalu.
---
Seminggu kemudian, hari pertama Kenzo bekerja di kantor cabang Surabaya tiba. Rain sengaja datang lebih pagi untuk menyambutnya, meski berusaha bersikap profesional di depan rekan-rekan kerja yang lain.
"Selamat datang," sapa Rain, tersenyum lebar begitu melihat Kenzo memasuki lobi kantor dengan penampilan formalnya yang khas.
"Makasih," jawab Kenzo, tersenyum tipis meski matanya menyiratkan kebahagiaan yang sama besarnya. "Rasanya aneh juga, ya, akhirnya kerja satu kantor lagi sama kamu, tapi di kota yang berbeda."
"Aneh yang menyenangkan, kan?" Rain menggoda, meski dalam hati merasakan kelegaan luar biasa karena akhirnya bisa melihat wajah Kenzo secara langsung setiap hari, bukan hanya lewat layar ponsel.
Kabar kedatangan Kenzo sebagai Finance Manager baru dengan cepat menyebar di kantor cabang Surabaya, terutama karena reputasinya yang sudah dikenal luas sebagai salah satu talenta terbaik dari kantor pusat yang berhasil memimpin proyek besar bersama Rain sebelumnya.
Farrel, yang mendengar kabar itu, tampak menyimpan raut wajah yang sulit dibaca, campuran antara terkejut dan sedikit waspada, menyadari bahwa kehadiran Kenzo akan mengubah banyak dinamika yang selama ini dia coba manfaatkan untuk kepentingannya sendiri.
---
Hari-hari berikutnya, kehadiran Kenzo secara perlahan membawa perubahan signifikan dalam dinamika kantor. Sebagai Finance Manager, dia langsung terlibat dalam berbagai rapat lintas divisi, termasuk rapat-rapat yang sebelumnya sering dimanfaatkan Farrel untuk menciptakan ketegangan dengan tim Marketing.
Dalam salah satu rapat evaluasi anggaran, Farrel kembali mencoba taktik lamanya, mempertanyakan validitas data yang disajikan tim Rain dengan nada yang terkesan meragukan.
"Saya rasa proyeksi budget ini masih perlu dikaji ulang," kata Farrel, mencoba mengulang pola lama yang biasa dia gunakan.
Kali ini, Kenzo yang menanggapi langsung dengan analisis tajam khasnya. "Berdasarkan data yang saya terima dari tim Finance, angka-angka yang disajikan tim Marketing sudah sesuai dengan standar perhitungan yang berlaku. Kalau ada keraguan spesifik, saya siap membahasnya secara detail sekarang, dengan data pendukung yang lengkap."
Farrel terdiam sejenak, tidak menyangka akan mendapat tantangan balik yang begitu tegas dan terstruktur dari Kenzo, yang jelas-jelas tidak mudah digoyahkan dengan taktik intimidasi halus seperti yang biasa dia gunakan terhadap Rain sebelumnya.
"Baik, kalau begitu, mungkin kita bisa diskusikan detailnya di lain waktu," Farrel akhirnya mundur, kehilangan momentum yang biasa dia manfaatkan.
Selesai rapat, Rain menghampiri Kenzo dengan senyum penuh kekaguman. "Kamu keren banget tadi. Farrel langsung ciut."
"Dia cuma terbiasa hadapin orang yang nggak berani nantang balik," jawab Kenzo santai. "Aku udah lama kenal tipe orang kayak dia. Mereka biasanya berhenti nyari masalah begitu tahu, taktiknya nggak lagi mempan."
---
Sementara itu, dinamika dengan Vera juga mulai berubah sejak kehadiran Kenzo. Menyadari bahwa Farrel tidak lagi memiliki pengaruh sebesar sebelumnya untuk melindungi manuver-manuvernya, Vera mulai bersikap lebih hati-hati, meski tetap menyimpan sikap kurang tulus yang sudah menjadi kebiasaannya.
Suatu sore, Dito, yang sejak kejadian rapat besar sebelumnya semakin dipercaya oleh Rain melaporkan sesuatu yang mengkhawatirkan.
"Kak Rain, saya denger dari staf lain, Vera lagi coba deketin tim HR buat cari informasi soal evaluasi kinerja kita," lapor Dito, suaranya penuh kewaspadaan.
"Untuk apa dia lakuin itu?" tanya Rain, mengerutkan kening.
"Kemungkinan dia lagi cari celah lain buat nyerang, setelah manuvernya sebelumnya gagal total," jawab Dito. "Atau mungkin dia lagi cari cara buat nyelametin posisinya sendiri, mengingat reputasinya udah mulai dipertanyakan sama beberapa orang di kantor."
Rain menghela napas, menyadari bahwa dinamika politik kantor semacam ini memang tidak akan pernah benar-benar berhenti sepenuhnya, meski dia sudah berusaha fokus pada kerja keras dan integritas sejak awal.
"Terima kasih infonya, Dito," kata Rain. "Kita tetap fokus kerja dengan benar aja. Kalau memang ada yang perlu dipertanggungjawabkan, biar itu terlihat dengan sendirinya lewat hasil kerja, bukan lewat drama."
---
Malam itu, Rain dan Kenzo menghabiskan waktu bersama di apartemen baru Kenzo, menikmati makan malam sederhana sambil membahas perkembangan situasi di kantor.
"Aku seneng banget akhirnya kamu di sini," kata Rain, menyandarkan kepalanya ke bahu Kenzo. "Rasanya beban di kantor jadi lebih ringan, meski masalah kayak Vera dan Farrel belum sepenuhnya selesai."
"Kita hadapin itu bareng-bareng, sama kayak semua tantangan sebelumnya," jawab Kenzo, merangkul Rain erat. "Yang penting, kita berdua sekarang udah nggak perlu lagi hadapin semua ini sendirian dari jarak jauh."
Rain tersenyum, merasakan kebahagiaan yang mendalam meski tantangan di kantor masih menanti di depan. Kehadiran Kenzo bukan hanya membawa dukungan emosional yang lebih nyata, tetapi juga kekuatan tambahan dalam menghadapi dinamika kerja yang penuh intrik sebuah pengingat bahwa perjuangan yang mereka lalui bersama, baik dalam karier maupun hubungan, selalu lebih ringan ketika dihadapi berdua, bukan sendirian.
"Kenzo," Rain memanggil pelan, menatap wajah orang yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya. "Makasih udah selalu ada, dalam bentuk apa pun, baik lewat jarak jauh, maupun sekarang, secara langsung di sini."
"Aku yang harusnya makasih," jawab Kenzo lembut, mengecup dahi Rain penuh kasih sayang. "Karena kamu selalu jadi alasan aku buat terus jadi versi terbaik dari diriku sendiri."
Malam itu, di tengah gemerlap lampu kota Surabaya yang mulai terasa seperti rumah kedua bagi mereka berdua, Rain dan Kenzo menyadari bahwa perjalanan panjang mereka, dari rivalitas kantor yang penuh perdebatan, hingga kini menjadi pasangan yang saling melengkapi dalam setiap aspek kehidupan, baru saja memasuki babak baru yang penuh harapan, meski tantangan-tantangan lain mungkin masih akan terus menghadang di depan.
Mau bagaimana pun, segalanya harus dihadapi, memang sudah biasa juga sih dalam lingkup kerja selalu ada saja yang terjadi, mulai dari karyawan ngejilat atasan, ingin terlihat menonjol dan saling adu domba. Rain selalu berusaha menghindari itu semua. Dia hanya ingin mencari uang, bukan mencari perkara. Dan Kenzo juga seperti nya tipe yang sama. Hanya saja, dia salah perhitungan ketika hati yang tidak ingin dilibatkan, malah tertambat sama cewek yang suka adu argumen dengannya ketika di rapat. Anehnya, sifat judes Rain itulah yang membuatnya penasaran. Rain tidak mencoba mendekatinya dulu ketika mereka bertengkar. Dia selalu mencoba memperbaiki kesalahannya. Dia melihat tekad kuat Rain buat bertahan di dunia kerja yang keras. Sosok tangguh Rain yang Kenzo lihat, malah membuatnya semakin memperhatikan Rain dan yah, karena sering bekerja bersama dan mendapati obrolan mereka nyambung, akhirnya Kenzo benar benar jatuh hati.
Kini, mereka berpacaran dan menghadapi segala cobaan bersama itu rasanya menyenangkan.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...