Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?
Ikuti perjalanannya yang memegangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian aneh
Keringat mulai bercucuran saat keduanya terus bertarung sengit. Nona Xie mengibaskan tangannya berkali-kali, mengirimkan selendangnya melesat ke depan bagaikan tentakel gurita yang lentur dan mematikan. Sementara itu, Pedang Wang Hao berayun membelah udara, memancarkan gelombang Qi yang terus meluap dari tubuhnya.
Di tengah hiruk-pikuk pertarungan itu, perhatian Xuan Han justru teralihkan. Ingatannya kembali pada sosok wanita bergaun hijau dan sebutan "Tuan Putri" yang berulang kali terdengar terkait dengan warisan ini. Rasa penasaran menguasainya. Ia menoleh dan bertanya, “Nona Meng, apa kau tahu siapa Tuan Putri?"
“Tuan Putri? Kedudukannya sangatlah tinggi,” jawab Meng Chahua pelan.
“Setinggi apa?” tanya Xuan Han semakin penasaran.
Meng Chahua menggeleng. “Aku juga tidak tahu pasti. Namun, rumor mengatakan bahwa beliau telah mencapai Ranah Dewa.”
“Ranah Dewa?”
“Puncak dari segala kultivasi.”
Xuan Han sulit membayangkan seberapa kuat entitas di ranah tersebut. Namun, jika mengingat kembali kemegahan gerbang raksasa sebelumnya, perkataan Meng Chahua ada benarnya. Merenung sejenak, ingatan Xuan Han terlempar pada klan Xuan dan kehidupan masa kecilnya. Ia mendongak kembali dan bertanya, “Nona Meng, apa kau tahu sesuatu tentang Keluarga Xuan?”
Meng Chahua terdiam, tatapannya lurus ke depan. Xuan Han menunggu dengan sabar, tetapi tiba-tiba ekspresi wanita itu berubah drastis. Baru saja Xuan Han hendak bertanya lagi, Meng Chahua menoleh dan berseru panik, “Awas!”
Wanita itu mendorong Xuan Han ke samping hingga tubuhnya nyaris terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Bersamaan dengan itu, seberkas cahaya pedang kuning melesat cepat menghantam dinding gua. Benturan keras itu membuat seluruh gua bergetar hebat dan meruntuhkan bebatuan dari langit-langit.
Kembali menatap ke arah pertarungan, Nona Xie tampak menggertakkan gigi sambil terus menari mengendalikan selendangnya. Di sisi lain, Wang Hao memanfaatkan momentum serangannya untuk melesat maju. Saat selendang Nona Xie menyambar, Wang Hao mengayunkan pedangnya berkali-kali, melepaskan tebasan Qi kuning berbentuk bulan sabit. Energi yang pekat memancar, membuat udara di dalam gua terasa berat dan menyesakkan.
Keduanya bergerak dengan kecepatan luar biasa. Gua terus bergetar. Ratusan kunang-kunang yang berterbangan di udara menjadi korban tak bersalah; banyak yang tertimpa reruntuhan batu, sementara yang lain mati tertebas sisa serangan—sayap mereka patah, tubuh mereka tercabik hancur.
Seiring berjalannya waktu, Nona Xie semakin kelelahan dan peluh membasahi pakaiannya. Menyadari posisinya yang kian terdesak, ia menatap Wang Hao dengan tidak suka sebelum menoleh ke arah Meng Chahua. “Nona Meng, mengapa kau diam saja?!”
Dengan napas terengah-engah, Nona Xie memaksakan diri melesat dan menyerang lagi. Namun, Wang Hao dengan santai menangkisnya menggunakan pedang panjang, seulas seringai licik tersungging di bibirnya.
“Menyerahlah, Nona Xie.”
Qi di tubuh Wang Hao melonjak. Dengan satu ayunan kuat ke depan, hempasan energinya memaksa Nona Xie terdorong mundur hingga memuntahkan darah. Wajahnya seketika pucat pasi. Ia kembali menoleh dan berteriak, “Meng Chahua!”
Mengabaikan teriakan itu, Wang Hao melesat ke udara, tangannya terulur hendak meraih ranting pohon persik.
Wajah Nona Xie dipenuhi kepanikan. “Jika kau tidak bergerak sekarang, Wang Hao akan mengambil semuanya!”
Sambil menekan giginya, Nona Xie memaksakan tubuhnya yang kelelahan akibat menguras banyak energi saat membuka gerbang sebelumnya untuk menyusul. Dengan putus asa, ia melemparkan selendangnya ke udara. Namun, Wang Hao berbalik cepat dan menebas selendang itu hingga tercabik-cabik berkeping-keping.
Meng Chahua tetap bergeming dan hanya menonton rentetan kejadian itu dengan raut wajah tenang. Xuan Han menatapnya dari samping dengan penuh tanda tanya. Apa yang membuatnya setenang itu? Apakah karena luka di tubuhnya belum sembuh sepenuhnya? Xuan Han tidak bisa menebaknya.
Di atas sana, tangan Wang Hao akhirnya berhasil meraih ranting persik tersebut. Senyum kemenangan mengembang lebar di wajahnya. Melihat itu, Nona Xie berniat mengeluarkan sebuah jimat dari balik pakaiannya. Namun, semuanya sudah terlambat.
Dipenuhi rasa tidak terima, Nona Xie memaki, “Wang Hao! Kita sudah sepakat untuk membaginya! Kau sangat serakah!” Ia lalu mendelik tajam pada Meng Chahua. “Dan kau, Nona Meng! Kenapa kau hanya diam saja?!”
Ekspresi Meng Chahua tak goyah sedikit pun. Ia hanya mendongak, menatap lekat ke arah Wang Hao. Mengikuti arah pandangnya, Xuan Han ikut menatap ke atas di mana Wang Hao tengah berdiri angkuh di atas pedang terbangnya. Pria itu baru saja mengeluarkan sebuah jimat dan bersiap menggunakannya, ketika tiba-tiba sesuatu yang ganjil terjadi.
Xuan Han memicingkan mata, menatap serius. Di sisi lain, wajah marah Nona Xie perlahan berganti menjadi kebingungan.
Terdengar suara dengungan yang menyerupai kawanan lebah. Bangkai kunang-kunang yang sebelumnya mati berserakan di tanah tiba-tiba bergerak. Cahaya biru perlahan memancar dari sisa-sisa tubuh mereka, menyatu dan membentuk wujud kunang-kunang baru. Udara seketika dipenuhi kembali oleh ratusan serangga bercahaya yang berdengung dengan nada menyeramkan.
Mereka berputar-putar sejenak sebelum berbondong-bondong melesat ke arah Wang Hao.
Diliputi kepanikan, Wang Hao buru-buru menekan jimat di tangannya. Tidak terjadi apa-apa. Terkepung, ia mengayunkan pedangnya membabi buta, mengirimkan tebasan bulan sabit ke segala arah. Namun, hal mengerikan terjadi; alih-alih terpotong, gerombolan kunang-kunang itu justru seperti menelan energi serangannya, menghancurkannya begitu saja, lalu kembali merangsek maju.
Melihat pemandangan itu, Meng Chahua mengangguk pelan seolah sudah memprediksinya. Sementara itu, secercah harapan muncul di mata Nona Xie; wajahnya terlihat jauh lebih tenang, dan tanpa sadar ia menyunggingkan senyuman.
Di udara, Wang Hao mengerahkan sisa tenaganya. Cahaya kuning meledak dari pedangnya. Ia memutar tubuh, menciptakan badai Qi kuning yang menyapu ratusan kunang-kunang di sekitarnya menjadi serpihan-serpihan kecil. Namun, sebelum serpihan itu menyentuh tanah, mereka bermutasi. Dari potongan-potongan kecil itu tumbuh sayap, tangan, wajah, dan tubuh baru.
Jumlah mereka berlipat ganda seketika, dan dengungan mereka berubah menjadi raungan kemarahan yang bersatu untuk menyerang balik.
Dalam sekejap mata, lautan cahaya biru itu menerjang. Wang Hao mencoba melarikan diri, tetapi kecepatannya tak sebanding. Serangga-serangga itu menyerbunya dari segala arah, menutupi sekujur tubuhnya sepenuhnya. Dari udara, tubuh Wang Hao terlihat menggeliat dan meronta-ronta menahan sakit.
Xuan Han menelan ludah dengan susah payah. Pemandangan itu sangat menjijikkan sekaligus mengerikan. Kultivator sekuat Wang Hao pun sama sekali tak berdaya. Jeritan melengking yang memekakkan telinga terdengar menggema dari balik kerumunan serangga itu, sebelum akhirnya perlahan-lahan melemah dan hilang sepenuhnya. Perasaan waswas mulai merayapi hati Xuan Han.
Tak lama kemudian, kawanan kunang-kunang itu menyebar. Tubuh Wang Hao telah lenyap tanpa sisa. Hanya kerangka putih dan serpihan tulang yang jatuh berdebum ke lantai gua.
Di tengah kengerian itu, ranting pohon persik tersebut mengambang tenang di udara, dilindungi oleh pusaran kunang-kunang yang membentuk formasi menyerupai cincin cahaya biru yang melingkarinya.