Indonesia
NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:443
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 – Cahaya yang Dipaksa Tetap Menyala

“Kadang seseorang tetap datang bekerja bukan karena ia sudah kuat, melainkan karena ia takut akan hancur jika terlalu lama diam.”

--

Pagi itu Jakarta diselimuti langit mendung tanpa matahari yang jelas. Jalanan masih basah oleh hujan semalam ketika mobil Birendra berhenti di depan rumah Maheswari, Alina sudah menunggu di teras dengan blazer krem sederhana dan rambut yang diikat rendah.

Wanita itu tampak lebih rapi dibanding hari-hari sebelumnya, tetapi lingkar hitam dibawah matanya tidak bisa disembunyikan. Saat melihat Birendra turun dari mobil, Alina berjalan mendekat tanpa banyak bicara, pria itu langsung membukakan pintu penumpang untuknya seperti kebiasaan yang selalu dilakukan sejak mereka mulai berpacaran.

Sebelum Alina masuk, Birendra menahan pintu itu untuk sejenak. “Kalau di tengah jalan kamu berubah pikiran, kita pulang.” Ucap Birendra dan Alina langsung menggeleng pelan.

“Aku harus mencoba.” Birendra mengusap punggung tangan Alina singkat sebelum akhirnya menutup pintu mobil. Sentuhan kecil itu cukup membuat napas Alina sedikit lebih tenang.

Perjalanan menuju kantor berlangsung hening, Alina beberapa kali menatap keluar jendela, sementara Birendra sesekali meliriknya untuk memastikan bahwa wanita di sisinya baik-baik saja. Di lampu merah, Alina tiba-tiba menggenggam lengan Birendra.

“Aku takut setiap orang yang melihatku akan langsung bertanya tentang kak Raka.” Mendengar itu membuat Birendra langsung membalikkan tangannya dan menggenggam jemari Alina dengan erat.

“Kalau ada yang membuatmu nggak nyaman, bilang sama aku.” Alina mengangguk kecil. Sejak kecelakaan itu, ia baru menyadari betapa tenangnya dunia ketika ada seseorang yang bersedia berdiri di sisinya tanpa diminta.

Gedung Adhyaksa Jewellery tampak lebih sibuk dari biasanya. Banner bertuliskan Aurora – First Collection Preview tergantung di lobi utama, sementara beberapa staff lalu-lalang membawa kotak display dan perlengkapan acara.

Saat Alina melangkah masuk, percakapan di sekitar lobi mereda untuk sejenak. Beberapa karyawan disana menunduk hormat, sebagian lain menatapnya dengan rasa iba yang sulit disembunyikan.

Alina menelan air liurnya, dan hal itu langsung membuat Birendra berjalan sedikit lebih dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Gestur sederhana itu membuat Alina merasa tidak sendirian menghadapi tatapan orang-orang disana.

“Mbak Alina, saya senang mbak datang.” Maya, sekretaris direksi dengan cepat menghampirinya dan membuat Alina tersenyum tipis.

“Terima kasih.”

“Kalau mbak capek, ruang desain sudah saya siapkan untuk istirahat,” pungkas Maya lagi dengan sedikit keraguan. Birendra menatap Maya singkat dan mengangguk berterima kasih, semua orang di kantor tampaknya mengerti bahwa Alina datang dengan kekuatan yang tersisa sedikit sekali.

Ruang desain terasa seperti dunia lain. Aroma kertas, pensil, dan logam perhiasan langsung menyambut Alina begitu pintu dibuka. Meja kerjanya masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan, sketsa-sketsa Aurora tertata rapi, bahkan cangkir kopi kosong yang sempat ia tinggalkan pun sudah dibersihkan oleh staff.

Alina menyentuh papan inspirasi di dinding, foto bunga melati, potongan kain champagne, dan palet warna fajar masih menempel di sana.

“Aku pikir mereka akan membereskannya,” bisiknya.

“Aku minta jangan ada yang menyentuh meja kamu,” jawab Birendra dari belakang. Alina menoleh, ada sesuatu hangat yang mengalir di dadanya saat mendengar kalimat itu.

Rapat final Aurora dimulai pukul sepuluh pagi. Ruang konferensi dipenuhi oleh tim desain, pemasaran dan direksi. Proyektor menampilkan jadwal acara, daftar tamu media, serta target penjualan koleksi perdana.

Alina mencoba fokus pada presentasi, tetapi beberapa kali pikirannya melayang ke rumah sakit. Ketika salah satu manager pemasaran menjelaskan konsep panggung, suara itu terdengar jauh di telinganya.

“Alina?” Suara Birendra membuatnya tersadar, pria itu menatapnya penuh dengan tanya.

“Maaf,” gumamnya. Tanpa banyak bicara, Birendra menggeser segelas air ke arahnya. Tidak ada yang menyadari bahwa tangan Alina gemetar saat menerima gelas itu, kecuali Birendra, karena pria itu tidak pernah melepaskan perhatiannya sedikit pun dari pujaan hatinya.

Menjelang siang, rapat selesai. Satu per satu peserta keluar ruangan, meninggalkan Alina dan Birendra berdua di depan layar proyektor yang masih menyala redup. Lalu, Alina memijat pelipisnya pelan.

“Aku nggak yakin bisa berdiri dipanggung nanti,”

“Kalau kamu nggak kuat, aku yang jelaskan ke media.” Tutur Birendra yang langsung duduk di sisinya, dan membuat Alina menggeleng cepat.

“Aurora bukan cuma punyamu.”

“Aku tahu.” Jawab Birendra.

“Kak Raka pasti datang kalau masih ada,” bisik Alina tiba-tiba dan membuat Birendra menarik napasnya panjang.

“Dia pasti duduk paling depan dan bilang desainmu yang paling cantik.” Mata Alina langsung basah. Ia menundukkan kepalanya, lalu tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahu Birendra.

Pria itu lekas merangkulnya, membiarkan Alina menangis diam-diam untuk beberapa menit. Tak ada kata-kata lagi, kadang pelukan memang lebih jujur dari pada seribu kalimat penghiburan.

Sore hari mereka turun ke ballroom hotel tempat peluncuran akan berlangsung. Panggung setengah jadi berdiri megah dengan dominasi warna putih keemasan, lampu-lampu kristal menggantung seperti gugusan bintang, sementara etalase kaca untuk koleksi Aurora berjajar di sisi ruangan.

Ketika melihat cincin melati di letakkan di etalase utama, langkah Alina terhenti. “Cantik sekali,” bisiknya. Birendra kemudian berdiri di sampingnya.

“Aku masih ingat malam kamu menggambar desain itu sambil marah karena pensilmu patah.” Alina tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak kecelakaan. Tawa yang pendek, rapuh, tetapi cukup untuk membuat Birendra menatapnya lebih lama dari seharusnya.

“Akhirnya ketawa juga,” ucapnya lembut. Alina kemudian menatap cincin itu lagi.

“Aku kangen jadi Alina yang dulu.” Tutur Alina seraya menatap cincin itu lagi.

“Dia masih ada.” Jawab Birendra seraya menggenggam tangannya. Alina membalas genggaman itu erat-erat, seolah takut kehilangan satu-satunya hal yang masih membuatnya berdiri tegak.

Malam menjelang ketika mereka kembali dari hotel. Alina tampak sangat lelah hingga kepalanya bersandar di sandaran kursi begitu mesin dinyalakan. Beberapa menit kemudian, tanpa sadar kepalanya berpindah ke bahu Birendra. Pria itu mengemudi dengan satu tangannya sementara tangan lainnya menggenggam jemari Alina di atas pangkuannya.

“Besok gladi bersih terakhir,” kata Birendra pelan, dan membuat Alina berdeham pelan. “Lusa peluncuran.” Alina memejamkan matanya.

“Takut.” Gumamnya pelan. Birendra mencium puncak kepalanya singkat ketika mobil berhenti di lampu merah.

“Aku ada di sampingmu.” Kalimat itu membuat Alina akhirnya benar-benar memejamkan mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!