Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Reyhan berdiri di depan cermin wastafel kamar mandi kosannya, membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali.

Jantungnya masih berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.

Pisau lipat milik penguntit itu kini tergeletak aman di atas meja belajarnya.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

"Hakim Sudarsono," gumamnya pelan. "Aku harus mencari tahu siapa dia sebelum memberitahu Alena."

Reyhan mengambil ponselnya dan mengetikkan nama itu di mesin pencari.

Hasil pencariannya membuat Reyhan mengerutkan kening.

Hakim Sudarsono adalah hakim senior yang terkenal sering menangani kasus-kasus besar yang melibatkan pejabat atau pengusaha kaya.

Namun, di forum-forum berita independen, reputasinya sangat buruk.

Banyak desas-desus yang mengatakan bahwa ia adalah hakim "pesanan" yang kebal hukum karena koneksinya yang kuat.

"Sama seperti Hendra Setiawan," batin Reyhan. "Mereka berdua adalah penjahat berdasi yang kebal hukum."

Pola korban mulai terlihat jelas.

Pembunuh ini tidak membunuh orang secara acak, ia menghukum mereka yang tidak bisa disentuh oleh hukum formal.

Reyhan segera menelepon Alena.

"Ada apa lagi malam-malam begini, Reyhan?" suara Alena terdengar lelah dari seberang telepon.

"Aku diserang," jawab Reyhan langsung pada intinya.

Keheningan sejenak terjadi di ujung telepon.

"Kau di mana sekarang? Terluka?" nada suara Alena berubah menjadi sangat siaga.

"Aku di kosan, aku baik-baik saja."

Reyhan menceritakan kejadian di gang sempit itu secara singkat, tentu saja menghilangkan bagian tentang sistem dan kemampuan akting psikopatnya.

Ia menceritakan bahwa ia berhasil melawan penguntit itu karena kebetulan belajar sedikit bela diri saat audisi film laga.

"Aku punya pisau lipatnya," tambah Reyhan. "Dan penguntit itu sempat membocorkan sesuatu."

"Apa yang dia katakan?" tanya Alena cepat.

"Hakim Sudarsono."

"Dia adalah target selanjutnya, dan waktunya kurang dari 48 jam."

Alena terdiam cukup lama.

"Hakim Sudarsono? Kau yakin dengan nama itu?"

"Sangat yakin. Kau kenal dia?" tanya Reyhan balik.

"Tentu saja. Dia baru saja membebaskan seorang gembong narkoba besar karena alasan 'kurang bukti' minggu lalu," jawab Alena, suaranya terdengar geram.

"Kita harus mengamankannya, Detektif," kata Reyhan tegas.

"Tidak semudah itu, Reyhan."

Alena mendesah berat.

"Dia itu hakim senior. Aku tidak bisa sembarangan mengirim pasukan penjagaan ke rumahnya hanya bermodal informasi dari seorang tersangka yang baru saja diserang preman."

"Tapi nyawanya dalam bahaya!" seru Reyhan.

"Aku tahu. Tapi kita butuh bukti atau alasan yang lebih masuk akal untuk Mabes Polri."

"Besok pagi, datanglah ke kantorku."

"Bawa pisau lipat itu. Kita akan bicarakan ini secara rahasia."

Keesokan paginya, Reyhan sudah duduk di kursi depan meja Alena dengan pisau lipat di dalam kantong plastik bening.

Alena mengambil pisau itu dengan sarung tangan dan memeriksanya.

"Ini pisau militer," gumam Alena. "Bukan barang murah yang bisa dibeli preman jalanan."

Ia menatap Reyhan dengan pandangan menyelidik.

"Kau yakin bisa melumpuhkan orang yang membawa pisau ini hanya dengan 'sedikit' bela diri dari audisi film?"

Reyhan tersenyum kaku. "Keberuntungan orang panik, Detektif."

Alena mendengus pelan, jelas tidak sepenuhnya percaya, tapi ia memilih untuk tidak mendebatnya.

"Baiklah. Aku sudah mengecek jadwal Hakim Sudarsono."

"Malam ini dia akan menghadiri acara lelang amal tertutup di sebuah hotel bintang lima."

"Acara itu akan dihadiri banyak orang penting."

"Jika pembunuh itu ingin membuat 'pertunjukan', itu adalah tempat yang sangat tepat," analisis Reyhan.

"Tepat sekali."

Alena membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kartu identitas.

"Ini adalah undangan masuk sebagai staf katering cadangan."

"Aku menggunakan koneksiku untuk memasukkan namamu ke sana."

Reyhan menatap kartu itu dengan terkejut.

"Kau mau aku menyusup ke acara itu?"

"Kita akan menyusup bersama," jawab Alena mantap.

"Aku tidak bisa membawa pasukanku secara resmi, jadi kita berdua yang akan mengawasinya dari dalam."

"Tunggu, kita berdua?" Reyhan merasa ragu. "Bagaimana kalau pembunuh itu mengenali wajahku?"

"Justru itu," Alena tersenyum tipis. "Kau adalah umpannya."

"Pembunuh itu menargetkanmu. Jika dia ada di sana dan melihatmu, dia mungkin akan mengubah rencananya atau melakukan kesalahan."

Reyhan menelan ludahnya. Rencana Alena ini terlalu nekat.

Namun, sebelum ia bisa memprotes, sistem kembali berbunyi.

[Ding! Misi Utama terpicu.]

[Misi: Hentikan 'Pertunjukan' Kedua.]

[Deskripsi: Masuk ke dalam acara lelang amal dan selamatkan Hakim Sudarsono dari kematian.]

[Syarat khusus: Anda harus memerankan peran 'Pelayan yang Ceroboh' untuk mengalihkan perhatian pelaku.]

[Hadiah: Peningkatan Skill Observasi (Tingkat Menengah), Petunjuk Identitas Pembunuh.]

[Kegagalan: Reputasi Host akan hancur lebur dan Detektif Alena akan tewas dalam tugas.]

Mata Reyhan membelalak saat membaca baris terakhir.

Alena akan tewas?

Reyhan menatap Alena yang sedang membereskan berkas di mejanya.

Detektif wanita ini terlihat sangat tangguh, namun sistem tidak pernah berbohong.

Bahaya yang menanti mereka malam ini jauh lebih besar dari yang dibayangkan Alena.

"Baiklah, aku ikut," kata Reyhan cepat, nada suaranya berubah menjadi sangat serius.

"Bagus. Persiapkan dirimu. Nanti malam jam tujuh, kita bertemu di belakang Hotel Grand Mahkota."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!