kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Nina menyatukan kedua tangannya di depan dada, memberikan gestur santun yang sangat lugu. "Karena hari ini hari Minggu... kalau Ayah dan Tante izinkan, Nina mau minta izin ke kamar untuk beristirahat. Badan Nina rasanya sakit semua..."
"Pergilah, beristirahatlah," usir Anggun mengibaskan tangannya dengan nada acuh tak acuh.
Nina mengangguk pelan. "Terimakasih....permisi!. Saat berbalik menuju tangga lantai dua, otak liciknya bekerja kilat. Ia sengaja menggeser tumpuan kakinya, melangkah dengan gaya agak pincang dan canggung, persis seperti cara berjalan yang dibuat-buat saat Tania bercerita setelah kejadian malam pertama, memancing prasangka buruk keluarga tersebut.
Melihat Nina berjalan menyebalkan menyerupai bebek yang kesakitan, Hazel tak sanggup lagi menahan tawa. Ia menutupi mulutnya sembari menyenggol lengan ibunya.
"Lihat tuh, Ma! Jalan aja sampai kayak gitu!" bisik Hazel dengan tawa puas yang tertahan. "Pasti semalam disiksa habis-habisan sama Tuan Jafar! Dijadikan pemuas nafsu tanpa ampun! Mampus, makanya jangan sok suci!"
Anggun hanya tersenyum sinis, menikmati penderitaan anak tirinya.
Namun, reaksi berbeda datang dari Hadin. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya yang tajam dan liar mengekor setiap langkah pincang Nina hingga gadis itu menghilang di belokan tangga. Pikirannya dipenuhi gambaran liar, membayangkan betapa lemahnya gadis desa itu sekarang membuat rasa penasarannya kian menjadi-jadi.
"Ternyata kamu tidak selugu itu sampai bisa selamat dari Tuan Jafar", batin Hadin dengan senyum mesum yang terukir tipis di bibirnya. "Kalau Jafar saja sudah menikmatinya, artinya aku tidak perlu ragu lagi saat mengambil giliran nanti."
Begitu melangkah masuk ke dalam kamarnya di lantai dua, Nina segera mengunci pintu dari dalam. Grendel ganda dipasang rapat.
Seketika itu juga, raut wajah canggung, gaya berjalan pincang, dan binar mata ketakutan Nina lenyap tanpa sisa. Tubuhnya menegak lurus, melangkah dengan anggun dan tegap menuju cermin. Nina menatap pantulan dirinya, mengusap bahunya yang tadi disentuh Faris dengan ekspresi jijik yang amat dingin.
Ia merogoh ponsel,, nya mengirimkan pesan singkat pada Tania.
“Umpan sudah dimakan. serigala -serigala di rumah ini makin lengah. Mulai tahap berikutnya.”
Layar ponsel Nina bergetar, menampilkan nama Tania. Begitu tombol hijau digeser, suara sahabatnya itu langsung menyapa dengan nada canggung dan penuh penyesalan.
"Nin! Ya ampun, aku minta maaf banget soal semalam!" cerocos Tania cepat-cepat sebelum Nina sempat bersuara. "Mas Ameer emang keterlaluan, pakai marah-marah segala. Kamu nggak apa-apa, kan? Nggak kapok telepon aku, kan?"
Nina terkekeh pelan dari balik telepon, rasa malunya semalam sudah menguap digantikan oleh fokus pada rencana besar mereka. "Nggak apa-apa, Tan. Aku yang minta maaf karena nggak tahu situasi kamu."
Ia menghembuskan napas panjang, lalu memelankan suaranya hingga menjadi bisikan serius. "Tan... ada hal besar yang terjadi semalam. Faris benar-benar menjualku. Dan... aku sudah menikah siri."
"APA?!" pekik Tania dari seberang telepon. Hening sejenak sebelum Tania melanjutkan dengan suara bergetar. "S-sama siapa, Nin? Jangan bilang pria tua bangka berperut buncit kolega Faris ,dan kamu di jadikan istri ke 3 atau ke empat...?!"
"Bukan," jawab Nina dingin. "Namanya Jafar. seorang pengusaha yang memiliki banyak pengawal,dan selalu memakai masker, Aku tidak bisa melihat wajah suamiku sendiri... Dan saat ini beliau pergi keluar negri karena ada urusan mendadak"
Telepon di seberang sana mendadak sunyi senyap. Nina bahkan bisa mendengar hembusan napas Tania yang tertahan, sarat akan rasa terkejut yang luar biasa.
"J-Jafar?" bisik Tania, nadanya berubah menjadi sangat tegang dan penuh ketakutan. "Nina... kamu tahu siapa dia?! Dia itu pengusaha paling misterius dan paling berbahaya! Sampai detik ini, tidak ada satu pun media atau peretas yang tahu wajah aslinya di balik masker itu!"
"Aku tahu," sahut Nina tenang. "Dia dingin, kejam, dan membawa pistol semalam."
"Bukan cuma itu, Nin!" potong Tania cepat. "Mas Ameer pernah cerita, Jafar itu penguasa tanpa ampun. Siapa pun yang berani berkhianat atau menyinggung bisnisnya, habis dalam sekejap tanpa jejak. Dia tidak pandang bulu!"
Tania menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri agar bisa berpikir jernih demi keselamatan sahabatnya.
"Nin, dengarkan aku baik-baik," ujar Tania dengan nada yang sangat serius dan penuh kasih sayang. "Aku tahu tujuan awalmu masuk ke keluarga Faris adalah untuk membalas dendam atas kematian ibumu. Tapi sekarang situasinya sudah beda. Kamu sudah terikat pernikahan siri dengan pria paling berbahaya di kota ini."
"Maksudmu?"
"Jangan pernah coba-coba menyinggung atau memancing emosi Jafar," pinta Tania tulus. "Walaupun ini cuma nikah siri di bawah tekanan, bagaimanapun juga secara agama dia adalah suamimu sekarang. Kamu harus tetap menghormatinya dan menghargainya sebagai suami, meskipun kamu belum tahu siapa dia sebenarnya."
Tania menghentikan kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan dengan lembut. "Jadilah seperti Sayyidatuna Asiyah... Istri Firaun. Beliau hidup di samping penguasa paling kejam dan zalim di dunia, tapi tetap menjaga kehormatan, keteguhan hati, serta adabnya. Jadikan pernikahan ini sebagai perisaimu dan ibadahmu, bukan bahan bakar amarah barumu. Mengerti, Nin?"
Nina terdiam di tepi ranjangnya. Kata-kata Tania meresap ke dalam sanubarinya. Bayangan sepasang mata tajam Jafar di balik masker hitam kembali berkelebat di ingatannya, pria yang semalam bisa saja menembak mati Faris, namun memilih menahan diri dan memberinya perlindungan hukum agama.
"Iya, Tan... Aku paham," bisik Nina pelan, jemarinya meremas kain gorden kamarnya. "Aku akan ingat pesanmu. Aku akan tetap menjaga kehormatan dan adabku sebagai istrinya, selagi aku menjalankan rencanaku."
Setelah menutup telepon dari Tania, Nina berdiri di dekat jendela kamarnya. Nasihat Tania untuk menjadi seperti Asiyah, menjaga adab sebagai istri tetap ia pegang. Namun untuk Anggun, wanita yang menghancurkan hidup ibunya demi kemewahan, tidak ada kata ampun.
Nina merogoh ponsel nya dan mengirim satu pesan singkat pada Tania.
“Tan, cari tahu semua aset, atas nama siapa rekening penyimpanan uang 5 miliar dari Faris, dan bisnis kecantikan milik Anggun.”
Hanya butuh sepuluh menit bagi Tania untuk membalas lengkap dengan data rahasia.
Pusat Kecantikan Dan Spa Anggun Beauty ternyata dibangun menggunakan modal awal dari harta peninggalan almarhumah ibu Nina yang dilarikan Faris puluhan tahun lalu.
"Uang 5 miliar bonus dari Jafar disimpan di rekening pribadi Anggun atas nama salon tersebut untuk menghindari pajak bisnis."
"Salon itu menggunakan bahan-bahan kosmetik impor ilegal tanpa izin BPOM demi menekan biaya produksi dan meraih keuntungan melimpah."
Senyum dingin dan mematikan terukir di wajah Nina. "Kamu merebut Ayah dan membunuh Ibu demi harta ini, Anggun? Maka lewat harta ini juga kamu akan hancur."
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰