Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.
Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.
Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.
Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu kembali dengan rasa yang beda
Azarin meringis kecil, "Tapi kan seniorku dulu buncit."
Kalo ga salah ingat, Azarin dulu pernah terjalin suatu hubungan unik dengan seniornya, Dean.
Masa itu masa KKN, sebelum pemberangkatan, Dean, seniornya mendatanginya, dan memberikan sesuatu yang aneh, kalung dengan ukuran unik. Katanya untuk keselamatan.
Masa itu Azarin masih agak bingung, Dean baru kali ini terang-terangan mendatanginya, sebelumnya dia hanya bertanya sekilas.
Waktu itu Dean masih gembul dan chubby, kerap menjadi bahan Bullyan juga, Azarin yang tak tega pun menolongnya.
Sejak saat itulah Dean seperti ada di sekitarnya. Dimanapun dia berada, pasti ada pria itu.
Hanya saja Dean yang dia kenal dulu gendut dan berkacamata. Sementara yang ia lihat kali ini adalah pria tinggi kekar dan juga tampan luar dalam. Sangat berbanding dengan Dean, seniornya.
Namun dari bentuk bibir, dagu dan mata, mirip dengan senior.
Azarin menggeleng cepat, "Ga, gamungkin. Aku pasti salah ingat."
Teringat Dean, Azarin jadi ingat masa-masa kuliahnya dahulu.
Saat itu, kampus cukup sepi. Azarin masa itu duduk-duduk di kursi koridor.
Karena bangunan yang salah bangun di awal, menjadikan plafond di atasnya roboh, dan mengenai dirinya.
Samar-samar Azarin melihat Dean berlari ke arahnya panik. Azarin juga masih ingat Dean lah yang membawanya ke rumah sakit. Sejak saat itu, Azarin tak mengingat lagi.
Sekembalinya ke kampus, ia diberitahu kalau seniornya, Dean, sudah pindah ke luar negeri.
Azarin bahkan belum sempat mengucapkan terimakasih.
"Dean, andai ada waktu aku ingin sekali berterimakasih padanya."
"Bu." tepukan di bahu Azarin membuyarkan lamunan wanita itu.
Azarin tersentak, "Ahh...iya." melongok sekilas ke luar, namun mobil pelanggan tadi sudah tak ada lagi disana.
"Aku pasti salah ingat, yah, salah ingat."
Azarin segera kembali ke dapur, menyiapkan pesanan untuk pelanggan yang baru saja datang.
***
Semenjak hari itu, Dean jadi sering berkunjung ke warung makan Azarin.
Para pekerja saling berbisik, menatap kagum ke arah Dean yang memakan iga manis seperti memakan makanan ala restoran mahal itu.
"Lihat, dia sudah kesini hampir sepuluh kali seminggu ini, apa jangan-jangan dia suka padaku?" bisik Fitri sang kasir heboh.
Temannya, Rina, menggeplak lengan Fitri kuat, "Gausah geer, mungkin aja ke aku yakan?"
"Yee...muka kek lontong kaya kamu mana selera dia." seloroh Fitri.
"Si kampret."
"Silahkan, minumannya."
Azarin letakkan minuman pesanan Dean di ujung sana.
Fitri dan Rina saling rangkulan seraya menatap keduanya intens.
Kening mereka saling mengerut bersamaan saat melihat tatapan Dean terus tertuju pada Azarin.
Bahkan pria itu sedikit mengangkat sudut bibirnya meski samar. Dari bosnya itu datang, hingga masuk kembali ke dalam, tatapan pria itu lekat padanya.
Fitri dan Rina melongo bersamaan, saling berpandangan.
"Jangan-jangan...." bisik Fitri.
"Mas-mas ganteng itu suka sama si bos?" imbuh Rina.
"EKHMMM!"
Mereka berdua langsung merunduk, saling menjauh satu sama lain kala sahabat Azarin, Naya. Masuk ke toko dan menatap sinis ke arah mereka berdua.
Naya menarik nafas panjang, menggeleng lemah.
"Kembalilah bekerja."
Yang langsung dibalas anggukan keduanya.
Tatapan Naya pun berganti ke arah pelanggan yang selalu duduk di pojok samping jendela.
"Siapa dia, kenapa sering sekali datang ke warung Azarin?" lirih Naya.
Namun Naya tak terlalu menghiraukan, baginya pelanggan tetap pelanggan, mungkin karena menu baru Azarin enak.
Ia pun berjalan masuk ke dapur.
"Azarin." panggil Naya.
Sahabat yang tengah mencuci sayur itu menoleh, tersenyum tipis, "Udah ga sibuk apa tokomu, Nay?" tanya Azarin balik.
Naya menggeleng lemah, "Ada sih, tenang aja, dua bocil kematian kita selalu menjaganya."
Yang langsung menghadirkan kekehan kecil di bibir Azarin, "Syukurlah kalo gitu."
Ia kipatkan tangannya untuk mengusir air, mengelap tangannya pada lap-lapan yang tergantung di dinding.
"Kebetulan banget kamu dateng, aku ada perlu yang harus dibeli di minimarket terdekat, bisa titip tokoku dulu?" pinta Azarin.
Naya tersenyum mengangguk, meletakkan sebingkis buah-buahan di meja.
"Aman, kamu hati-hati." yang langsung dibalas anggukan Azarin.
Wanita itu segera keluar dari dapur, melewati meja kasir dan pelanggan.
Melihat Azarin keluar dengan tergesa, Dean tertegun.
Ia berdiri cepat dari duduknya, tatapannya tak lepas dari sosok Azarin yang sudah keluar.
"Saya titip makanan, nanti kesini lagi." ucap Dean pada Fitri dan Rina, yang langsung diangguki oleh mereka berdua.
Sekeluar Dean dari warung, mereka berdua lagi-lagi bergosip.
"Kan, apa aku bilang. Pasti pria itu lagi mepetin Bu Azarin." bisik Rina terkekeh kecil.
"Wajar sih, Bu Azarin cantik, walaupun janda tapi pesona dibalik celemeknya itu ga kalah sama primadona lho." balas Fitri.
"Gimana kalo kita nge-ship mereka berdua?"
"Ide bagus."
Azarin masuk ke dalam minimarket cepat. Ia berniat membeli sabun mandi dan shampo Mia karena sudah habis.
Saat ia memilih barang, ia tak sengaja menabrak seseorang. Azarin merunduk, menatap barang yang terjatuh.
"Ahh...maafkan saya, ini barang an—da..."
Hening.
Tatapan mereka bertemu.
Azarin tatap kosong pria yang berdiri di depannya, Fajar, mantan suaminya.
Fajar melotot kecil, menatap Azarin dari bawah sampai atas.
"Azarin?"
Wanita itu berjongkok cepat, mengambil barang belanjaan tanpa menoleh lagi, berlari ke arah kasir.
"Azarin!"
Fajar menyusul hingga ke meja kasir.
"Azarin apa segitunya kau tak ingin melihatku?"
Fajar balik tubuh Azarin cepat. Tatapan matanya, entah mengapa Azarin melihat tatapan Fajar kali ini penuh akan kekhawatiran.
Fajar genggam kedua bahu Azarin, menatap nanar kondisi Azarin yang semakin tidak terurus itu.
"Apa yang kamu lakukan Azarin? Kenapa kondisimu—!"
Azarin yang saat ini Fajar lihat, begitu berbeda dengan Azarin dulu saat masih jadi istrinya.
Meski dulu Azarin jarang berdandan, wanita itu tampak bersih. Ia selalu memastikan pakaian Azarin rapi dan wangi, serta keperluan perawatan Azarin selalu ia penuhi, meski jarang di sentuh.
Namun sekarang, jauh dari bayangannya. Wajah Azarin yang kering, bibir yang sedikit pecah-pecah, rambutnya yang kusut, serta bahunya yang mulai menunjukkan tulang menonjol.
Air mata Fajar langsung luruh, ia tarik tubuh Azarin ke dalam pelukannya cepat.
"Ada apa denganmu, Azarin? Kenapa kau jadi seperti ini?"
Tak dapat dipungkiri, Fajar merasa sesak.
Sangat sesak.
Azarin jadi wanita tak terawat, bahkan tubuhnya kurus.
Ia tidak mengira hidup Azarin akan seperti ini setelah jauh darinya.
Fajar lepas pelukan cepat, masih menggenggam kedua bahu mantan istrinya.
"Apa kamu masih makan dengan teratur? Apa kamu rutin skrining ke rumah sakit? Apa kamu memperhatikan kesehatanmu? Asam lambungmu tidak kumat kan? Kamu hidup bahagia kan?"
Pertanyaan beruntun dari Fajar membuat Azarin muak.
Sangat muak.
Ia lepas tangan mantan suami dari bahunya. menatap pria itu tajam.
"Kenapa? Kau baru perduli? Meski kondisiku seperti ini itu lebih baik daripada terawat dengan pria pecundang sepertimu!"
Azarin berbalik cepat, membayar tagihan lalu keluar dari sana.
Fajar buru-buru mengejarnya, ia tarik tangan Azarin cepat.
"Selama ini aku mencarimu, Azarin. Kenapa nomerku tidak kunjung kau buka?" seru pria itu, wajahnya yang cemas dan panik menghadirkan tanda tanya besar di benak Azarin.
Wanita itu tersenyum getir, "Kenapa kau perduli? Bukankah kau senang jika aku tidak ada? Aku sudah menuruti keinginanmu."
"Azarin, aku—!"
lanjuut thor.....