Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Dalang Utama
Cassandra membeku di tengah hiruk-pikuk lorong sekolah yang ramai. Matanya terpaku pada layar ponsel, membaca pesan misterius itu berulang kali dengan napas tercekat.
Dokumen sertifikat tanah atas nama almarhum ayahnya terpampang jelas di sana. Kepingan teka-teki masa lalu yang ia kira sudah selesai kini menuntut jawaban baru.
Narendra menghentikan langkahnya saat menyadari Cassandra tertinggal beberapa jengkal di belakang. Cowok itu memutar badan, menatap raut wajah Cassandra yang mendadak pucat pasih.
"Cas, ada apa?" tanya Narendra pelan seraya melangkah mendekat.
Cassandra tidak menjawab secara lisan, melainkan langsung menyodorkan layar ponselnya ke depan dada Narendra.
Narendra membaca teks singkat di layar tersebut dengan dahi berkerut tajam. Sorot matanya yang tenang mendadak berubah keras, memancarkan naluri kewaspadaan yang amat dikenal Cassandra.
"Raja yang sebenarnya...?" bisik Narendra dengan suara berat dan penuh perhitungan.
Ia merebut ponsel Cassandra, jemarinya bergerak cepat menekan beberapa tombol untuk melacak alamat IP pengirim pesan. Namun, sistem enkripsi pesan tersebut langsung memicu protokol penghancuran data otomatis.
BZZZT!
Layar ponsel Cassandra mendadak berkedip hitam, memusnahkan seluruh jejak email anonim itu tanpa menyisakan satu berkas pun.
"Email ini dirancang pakai sistem enkripsi militer tingkat tinggi," kata Narendra seraya mengembalikan ponsel itu. "Bokap gue maupun Pak Hermawan enggak punya akses ke teknologi rumit kayak gini."
"Berarti... selama ini ada sosok lain yang mengendalikan mereka berdua?" suara Cassandra bergetar pelan.
Narendra mengangguk perlahan, merangkul bahu Cassandra lembut untuk menenangkan ketakutan cewek itu. "Kita enggak boleh panik di sini. Kita cari tempat aman buat bahas ini."
Mereka berdua berjalan menuju kantin belakang sekolah yang cenderung lebih sepi dari kerumunan murid. Udara siang yang hangat menyapu wajah mereka, namun rasa dingin di hati Cassandra belum juga surut.
Narendra memesan dua botol jus jeruk dingin, lalu duduk berhadapan dengan Cassandra di meja sudut kayu.
"Sertifikat tanah itu adalah aset utama milik almarhum ayah lu sebelum perusahaan keluarga lu bangkrut, kan?" tanya Narendra memulai pembicaraan.
Cassandra mengangguk pelan seraya menggenggam botol jusnya. "Iya, Ren. Sertifikat itu hilang secara misterius tepat di hari ayah gue meninggal sepuluh tahun lalu."
"Itu artinya pengirim pesan ini menyimpan rahasia terbesar soal kematian ayah lu," simpul Narendra cepat. "Dia sengaja memancing lu menggunakan dokumen itu."
"Tapi kenapa sekarang?" potong Cassandra bingung. "Kenapa dia harus nunggu sampai Baskoro dan Pak Hermawan ditangkap polisi?"
Narendra menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap lurus ke dalam mata Cassandra. "Karena Baskoro dan Pak Hermawan cuma pion penghalang buat dia. Dia memanfaatkan peretasan kita buat menyingkirkan dua orang itu dari papan catur."
Cassandra menarik napas panjang, mencoba memproses seluruh kenyataan baru yang mengejutkan ini. Permainan catur yang ia kira sudah berakhir ternyata hanyalah babak pemanasan dari konspirasi yang jauh lebih besar.
Tiba-tiba, suara denting notifikasi dari jam tangan pintar milik Narendra berbunyi nyaring.
Narendra mengangkat pergelangan tangannya, melihat sebuah simbol lokasi GPS baru yang mendadak muncul di layar jam tangannya secara otomatis.
"Koordinat baru?" tanya Cassandra kaget.
"Bukan cuma koordinat," balas Narendra dengan raut wajah tegang. "Pengirim pesan itu mengirim sinyal undangan resmi ke perangkat gue."
Koordinat GPS tersebut menunjukkan sebuah alamat restoran mewah di kawasan Jakarta Selatan. Sebuah pesan singkat tambahan muncul di bawah koordinat tersebut: Malam ini, pukul 19.00 WIB. Meja nomor sembilan.
Narendra memandang Cassandra dengan sorot mata yang dipenuhi keteguhan tekad. "Gue enggak bakal biarkan dia mempermainkan lu lagi, Cas. Kita datang ke sana malam ini."
Pukul 19.00 WIB.
Restoran mewah bertema klasik itu tampak begitu elegan dengan pencahayaan lampu kristal yang hangat. Suara alunan musik piano lembut mengudara di antara meja-meja para tamu berkelas.
Cassandra tampil anggun mengenakan gaun hitam sederhana, sementara Narendra terlihat gagah dengan kemeja kasual rapi dan penyangga lengan yang masih terpasang.
Mereka berdua berjalan mengiringi pelayan restoran menuju area meja nomor sembilan yang terletak di sudut ruangan bernuansa privat.
Seorang pria paruh baya bertubuh tegap berpakaian setelan jas mahal tampak duduk menanti mereka di meja tersebut. Pria itu menyunggingkan senyum ramah yang sangat elegan saat melihat kedatangan Cassandra dan Narendra.
Namun, begitu pria itu menegakkan posisinya dan melepas kacamata hitamnya, jantung Cassandra rasanya berhenti berdetak seketika.
Pria yang memegang sertifikat tanah ayahnya dan menyebut dirinya sebagai Sang Raja... adalah kakek kandung Narendra sendiri, pemilik utama konsorsium bisnis terbesar di negara ini.