Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.
Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —
Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengguncang Balai Pelelangan
Dua pengawal berbadan tegap berjaga di depan pintu utama Balai Pelelangan Kota Awan, tempat yang tidak sembarangan orang boleh masuk tanpa izin atau bukti kemampuan keuangan yang cukup. Namun begitu mereka melihat Ye Hu dari Keluarga Marquis Ye, mereka tidak boleh meremehkan meskipun dengan dantian rusak. Mereka hanya mengangguk hormat dan membukakan pintu lebar-lebar tanpa banyak tanya — putra seorang Marquis memang berhak masuk tanpa perlu diperiksa.
Belum sempat Ye Hu melangkah masuk sepenuhnya, suara yang penuh penghinaan terdengar dari belakang. “Hah? Bukankah itu si sampah Ye Hu? Berani sekali kau datang ke tempat ini! Apakah kau tidak tahu diri?”
Ye Hu menoleh sekilas. Itu adalah Gao Seng, pemuda yang dulu menjilatnya lalu berbalik menghinanya di toko obat. Kini ia berjalan berdampingan dengan seorang gadis cantik berpakaian mewah, wajahnya penuh kesombongan. Ia sengaja memperbesar langkahnya untuk mengejar dan berdiri di depan Ye Hu, menghalangi jalan.
“Tempat ini bukan untuk orang sepertimu yang tidak berguna. Pergilah sebelum kau mempermalukan dirimu sendiri di hadapan Nona Li,” ucap Gao Seng sambil melirik gadis di sampingnya, berusaha terlihat gagah. Karena Ye Hu tidak bergerak sedikit pun, ia semakin marah dan mengangkat tangannya. “Kalau kau tidak mau pergi sendiri, biar aku yang mengusirmu!”
Tangan itu melesat hendak menampar wajah Ye Hu. Namun sebelum telapak tangan itu menyentuh kulit, sebuah tangan bergerak lebih cepat — terdengar suara PRAK! yang sangat keras, bergema di depan pintu Balai Pelelangan. Gao Seng terlempar ke belakang beberapa langkah, rahangnya ternganga lebar, dua gigi depannya terlepas dan jatuh ke tanah.
Ye Hu menarik tangannya perlahan. Di dalam hatinya, ia menghela napas — tadi ia secara tidak sadar mengaktifkan sedikit Teknik Kekacauan saat tangannya menyentuh wajah Gao Seng. Sebuah benang energi tak kasat mata terbentuk di antara sentuhan itu, menyerap sedikit Qi dari tubuh Gao Seng dan memindahkannya ke dalam dirinya. Sayangnya, teknik ini hanya bisa bekerja selama ada kontak fisik, dan penyerapannya pun terbatas. Namun itu sudah cukup untuk membuat Gao Seng yang berada di Tingkat Empat tiba-tiba merasakan kekuatan di dalam dirinya menyusut drastis, jatuh ke Tingkat Tiga dalam sekejap.
Gao Seng turun satu tingkat namun Ye Hu tidak naik tingkat, itu karena Kultivasi Chaos membutuhkan energi lebih besar dari pada kultivasi biasa.
“Afa hang helyadi?!” teriak Gao Seng panik karena sulit berbicara di saat rahangnya lepas. Gao Seng memegang rahangnya, Tubuhnya gemetar bukan karena sakit, melainkan karena kehilangan kekuatan satu tingkat yang ia banggakan selama bertahun-tahun.
Penjaga yang melihat itu langsung melangkah maju dengan tegas. “Dilarang berkelahi di area Balai Pelelangan! Keluar jika ingin bertarung!”
“Tidak ada yang berkelahi,” jawab Ye Hu dengan tenang, suaranya datar namun berwibawa. “Aku hanya menyingkirkan lalat yang menghalangi jalanku.”
Tanpa menoleh lagi, ia berjalan masuk ke dalam balai, meninggalkan Gao Seng yang masih terduduk di tanah sambil memegang rahangnya yang sakit dan hatinya yang diliputi ketakutan — ia bisa merasakan dengan jelas bahwa Qi-nya berkurang, kultivasinya mundur satu tingkat tanpa sebab yang masuk akal.
Di lantai atas, di balik jendela kaca yang menghadap ke halaman depan, seorang pria setengah baya berdiri memegang cangkir teh, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk. Ia adalah Adipati Wu Ling, seorang bangsawan berpengaruh di kota ini. Di sampingnya duduk seorang gadis muda yang cantik dan berwibawa — Mu Yan, pemilik Balai Pelelangan ini.
“Tuan Adipati terus memandang ke luar jendela. Sepertinya ada sesuatu yang menarik di sana?” tanya Mu Yan dengan suara merdu, matanya ikut melirik ke arah itu.
Wu Ling menoleh perlahan, wajahnya penuh keraguan. “Bukankah anak sulung Marquis Ye Ba itu dantiannya rusak tiga tahun lalu? Semua orang menyebutnya sampah yang tidak bisa berkultivasi lagi.”
“Benar,” jawab Mu Yan sambil menyilangkan tangannya di dada. “Berita itu sudah tersebar luas sejak tiga tahun lalu. Tidak ada yang meragukannya.”
“Kalau begitu… kenapa aku merasakan aura Tingkat Dua dari dirinya?” gumam Wu Ling pelan, seakan berbicara pada dirinya sendiri. “Dan gerakannya saat menampar pemuda tadi… itu bukan gerakan orang yang lemah.”
Adipati mulai merenungkan, Gao Seng di tingkat empat hendak memukul terlebih dahulu namun kalah cepat dengan tangan Ye Hu yang hanya tingkat Dua. Ini sungguh aneh.
Mu Yan tertawa kecil. “Tuan Adipati pasti salah lihat. Kecuali ada dewa yang turun tangan, mustahil dantian yang hancur bisa pulih dalam waktu sesingkat itu. Mari kita lanjutkan pembicaraan kita. Soal putri Tuan Adipati… sungguh aku minta maaf. Jika tabib istana dan toko obat terbesar di kota raja pun tidak bisa menolong, maka kami pun tidak memiliki cara untuk menyembuhkannya secara penuh. Namun ada beberapa alternatif yang bisa mengurangi rasa sakitnya, meski tidak menyembuhkan sepenuhnya.”
Wu Ling menghela napas panjang, menurunkan pandangannya. “Sudah aku duga… biarlah. Setidaknya beri tahu aku cara meringankan penderitaannya.”
Di dalam aula utama Balai Pelelangan, banyak barang berharga dipajang di etalase kaca tanpa melalui lelang terlebih dahulu — senjata, benda keramat, tanaman obat berumur ratusan tahun, dan alat kultivasi. Ye Hu bisa merasakan energi samar yang memancar dari setiap benda itu, dan Teknik Kekacauan di dalam tubuhnya seakan berdenyut ingin menyerap semuanya. Namun ia tahu itu mustahil dilakukan di tempat ramai seperti ini tanpa menarik perhatian. Ia langsung berjalan menuju meja pelayanan dan menyapa petugas wanita di sana.
“Aku ingin menemui manajer tempat ini.”
Petugas itu menatapnya sekilas dengan tatapan tidak acuh. “Maaf, Tuan Manajer sedang sibuk. Jika ada keperluan, sampaikan saja padaku.”
“Apakah kau pikir Balai Pelelangan ini tempat kau bermain-main?” Suara kasar terdengar dari belakang. Ye Du berdiri di sana bersama Ye Gan, Qing Xin, dan dua orang gadis lainnya. Wajahnya penuh ejekan dan kemenangan. “Kau tidak tahu malu, datang ke tempat mewah ini padahal kau hanya sampah yang tidak berguna!”
Gadis di samping Qing Xin ikut menyindir. “Benar, makhluk fana rendahan seperti kau tidak pantas berada di sini. Pergilah sebelum kami memanggil penjaga!”
Ye Gan di sampingnya hanya diam, memperhatikan Ye Hu dengan tatapan penuh perhitungan tanpa berkomentar apa pun.
Ye Hu tidak menoleh sedikit pun, seakan kata-kata itu hanyalah angin yang lewat. Ia mengeluarkan lencana perak berbentuk bunga api dari lengan bajunya dan menyerahkannya kepada petugas wanita itu. Mata petugas itu membelalak begitu melihat lencana itu — lambang yang mewakili Toko Obat Sumber Kehidupan dan alkemis tingkat dua. Tanpa bertanya lebih lanjut, ia langsung berlari menuju tangga menuju lantai atas.
Karena punggung Ye Hu menghalangi pandangan mereka, Ye Du dan yang lainnya tidak melihat lencana itu. Ye Du semakin merasa dirinya hebat dan tertawa keras. “Lihat, dia diam saja karena tahu dia salah tempat! Hei, Qing Xin, bukankah kau dulu pernah bertunangan dengannya? Apa kau tidak malu punya tunangan sampah seperti dia?”
“Cih… siapa yang merindukannya,” ketus Qing Xin dengan wajah jijik. “Kalau jadi aku, lebih baik mati atau pergi dari Kota Awan daripada membawa aib ke mana-mana.”
“Benar sekali,” tambah Ye Du. “Kau sebaiknya menghilang saja agar tidak mempermalukan Keluarga Ye lagi!”
Orang-orang di aula itu mulai berhenti berjalan, menonton pemandangan itu sambil berbisik-bisik. Namun Ye Hu tetap berdiri tenang, kedua tangannya di belakang punggung, seakan sedang mendengarkan ocehan anak kecil yang belum tahu apa-apa. Ye Hu yang berumur ribuan tahun malas meladeni bocah yang umurnya seumur jagung. Selama tidak ada yang bermain tangan maka Ye Hu tidak perduli.
Tiba-tiba langkah kaki berat terdengar dari pintu masuk. Seorang pemuda berwajah marah melangkah cepat ke arah mereka, di belakangnya berjalan Gao Seng yang masih memegang dagunya dengan mulut terbuka, wajahnya bengkak dan merah bekas tamparan.
“Ye Hu!” teriak pemuda itu — Gao Ceng, kakak laki-laki Gao Seng. “Kenapa kau berani menampar adikku hingga rahangnya lepas dan giginya copot dua? Hari ini kau tidak boleh pergi dari sini sebelum kau memberi penjelasan!”
Suaranya menggelegar di seluruh aula. Semua orang menahan tawa melihat Gao Seng yang berusaha bicara tapi hanya mengeluarkan bunyi yang tidak bisa dimengerti. Ternyata mereka semua memang berjanjian bertemu di sini, dan Gao Seng terlambat datang — namun yang menyambutnya bukan sapaan, melainkan kemalangan.
Ye Hu tetap diam, matanya tenang menatap Gao Ceng yang semakin mendekat. Ia sudah bersiap — jika hanya kata-kata, ia akan membiarkannya. Tapi jika tangan diangkat lagi, ia akan membalas jauh lebih kejam.
“HENTIKAN!”
Suara yang keras dan berwibawa terdengar dari arah tangga. Seorang pria berbadan tegap berpakaian rapi berjalan turun — itu Ma Teng, manajer Balai Pelelangan. “Di sini bukan arena bertarung! Siapa yang berani membuat keributan, keluarlah sekarang juga!”
Ia berjalan mendekati Gao Seng, lalu dengan satu gerakan cepat menepuk dan menekan rahangnya kembali ke tempatnya. Gao Seng mengerang kesakitan, tapi setidaknya ia bisa menutup mulutnya kembali. Setelah itu, Ma Teng berbalik menghadap Ye Hu, lalu membungkuk dengan hormat yang dalam.
“Tuan Ye, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Silakan ikut saya ke atas.”
Seluruh orang di aula itu ternganga. Ye Du, Qing Xin, dan gadis-gadis itu terdiam seribu bahasa, mulut mereka terbuka lebar tak percaya. Gao Ceng yang tadinya berniat marah pun tertegun, tidak berani bergerak. Manager Balai Pelelangan memberi hormat kepada seorang sampah.
“Kau… Ku tunggu Kau di luar! Jangan pikir ini berakhir begitu saja!” ancam Gao Ceng dengan nada tercekik sebelum berbalik pergi bersama adiknya.
Di ruang tamu lantai atas yang mewah dan tenang, Ma Teng menyuguhkan teh, lalu duduk dengan sopan. “Tuan Ye, apa hubungan Tuan dengan Tuan Wan Tung, pemilik Toko Obat Sumber Kehidupan? Lencana yang Tuan bawa ini berarti Tuan mewakili kehadiran Tuan Wan Tung sendiri. Bagi seorang alkemis tingkat dua untuk memberikan lencana seperti itu kepada orang lain… sungguh luar biasa.”
“Kami hanya berteman,” jawab Ye Hu singkat tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Ma Teng tidak bertanya lebih jauh. “Baiklah, Tuan Ye datang ke sini pasti ada tujuan. Tadi Tuan menyebutkan ingin membeli tungku perakitan?”
“Ya. Aku butuh tungku yang baik dan kokoh untuk meracik pil.”
Ma Teng mengangguk lalu membuka buku catatan di meja. “Saat ini ada tiga buah tungku yang dijual di tempat kami. Pertama tungku biasa seharga seratus batu roh, kedua tungku perakitan tingkat menengah seharga lima ratus batu roh, dan yang ketiga adalah tungku peninggalan alkemis tua — tungku api ungu, harganya dua ribu batu roh.”
Ye Hu berpikir sejenak. Saat ini dia kekurangan batu roh. “Sebelum itu, aku ingin bertanya. Apakah Balai Pelelangan ini bersedia menjual pil buatanku? Aku bisa menyediakannya secara rutin.” Ia mengeluarkan dua butir Pil Penguat Tubuh Tingkat Dua dari saku dan meletakkannya di meja.
Mata Ma Teng langsung terbelalak begitu melihat kedua butir pil itu. Ia mengambilnya dengan hati-hati, menelitinya dari dekat, napasnya tertahan. “Ini… kemurniannya sembilan puluh sembilan persen! Tanpa cacat sedikit pun! Dan ada garis bercahaya di permukaannya, telebih lagi warna dan aroma lebih pekat dari pada Pil Penguat Tubuh yang umum … ini bukan kebetulan, ini dibuat oleh tangan seorang alkemis ahli! Kedua Pil bisa sangat sempurna! Pil ini bisa memperkuat fondasi kultivator tingkat rendah hingga menaikkan tingkatannya!”
“Tergantung jenis kultivasi yang dijalani,” tambah Ye Hu tenang. “Saya jamin bisa menaikkan dua hingga tiga tingkat sekaligus.”Namun untuk kultivasi Chaos membutuhkan tiga butir pil.
Ma Teng seolah menemukan harta karun yang tak ternilai. Ia langsung berdiri. “Tunggu sebentar, Tuan Ye. Aku harus membawa ini kepada Nona Mu Yan, pemilik tempat ini.”
Di ruangan pribadi yang lebih dalam, Mu Yan dan Adipati Wu Ling masih berbincang ketika Ma Teng masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya penuh kegembiraan dan keterkejutan. Ia meletakkan kedua pil itu di meja.
“Nona Mu Yan … lihatlah ini.”
Mu Yan mengambil pil itu, matanya melebar perlahan kemudian mencium aromanya. “Pil tingkat dua yang sangat pekat … kemurnian sempurna. Bahkan aku pun belum pernah melihat pil sebaik ini. " Mu Yan menimbang dengan tangannya, "Ini lebih berat dan lebih berkualitas dari pada pil yang sama. "
“Yang membawanya adalah Tuan Ye Hu,” lapor Ma Teng.
Adipati berkata, “Orang yang tadi kita lihat dari jendela.
Ma Teng menambahkan, "Tadinya ia hanya orang yang dantiannya hancur, sekarang ia sudah berada di Tingkat Dua. Dan penampakannya… ia terlihat dewasa, berwibawa, tidak seperti anak bangsawan yang manja.”
Wu Ling tersenyum tipis. “Sepertinya ucapanku tadi benar. Dia bukan orang biasa.”
“Dan gerakannya saat menampar Gao Seng tadi…” Ma Teng tertawa pelan. “Dia bergerak begitu cepat hingga Gao Seng tidak sempat bereaksi. "
Mu Yan tidak tertawa. Ia menatap kedua pil itu dengan tatapan tajam dan cerdas. “Mari kita rangkum semuanya. Tiga tahun lalu dantiannya hancur — mustahil pulih kecuali ada dewa yang menolong. Sekarang ia sudah Tingkat Dua. Ia membawa lencana dari Wan Tung yang dihormati alkemis. Dan ia membawa pil tingkat dua dengan kemurnian sempurna — hal yang bahkan alkemis tingkat tiga pun sulit lakukan. Sekarang ia ingin membeli tungku perakitan.”
Kemudian, muncul seorang pria berpakaian gelap dan bertudung masuk ke ruangan — ini orang yang dikirim untuk menyelidiki kebenaran di Toko Obat Sumber Kehidupan.
“Bagaimana hasil penyelidikannya?” tanya Mu Yan.
“Tuan Ma Teng dan Nona,” jawab pria itu dengan suara rendah. “Semua yang dikatakan benar. Seminggu lalu Ye Hu memang masih tidak memiliki kekuatan apa pun. Namun kini ia memiliki guru alkemis tingkat tiga atau lebih yang tidak diketahui identitasnya. Wan Tung sangat menghormatinya. Dan yang paling mengejutkan… informasi dari pegawai toko obat menyebutkan bahwa Ye Hu sendiri yang meracik pil tingkat dua itu di kamar tungku mereka. Bukan gurunya — dia sendiri.”
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Semua orang di sana saling berpandangan, tak percaya mendengar hal itu. Mu Yan perlahan meletakkan pil itu di meja, matanya berkilat penuh arti.
“Jadi begitu… semua pertanyaan sudah terjawab,” ucapnya pelan namun tegas. “Orang seperti ini… tidak boleh kita lewatkan begitu saja. Kita harus menjalin hubungan baik dengannya. Seorang yang dapat membuat pil dengan kemurnian 99 persen. ”
Sebutan 99 persen hanya untuk mewakili kata Sempurna.