Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat Pulau Nirwana.
Semburat jingga kemerahan menghiasi langit senja yang terlihat sangat indah dari pinggir pantai pasir putih.
Sebuah meja makan bundar dengan taplak putih bersih telah disiapkan khusus di bibir pantai.
Lilin-lilin kecil yang menyala redup menambah kesan romantis pada makan malam mewah tersebut.
Ardi duduk dengan santai mengenakan kemeja putih kasual yang kerahnya sengaja dibiarkan terbuka.
Di depannya, Elena duduk dengan sangat anggun mengenakan gaun malam berwarna biru safir.
"Daging sapi wagyu ini benar-benar dimasak dengan sangat sempurna Elena," puji Ardi sambil memotong daging di piringnya.
"Terima kasih Tuan Ardi, koki kepala kami memang yang terbaik di seluruh kepulauan ini," jawab Elena dengan senyum tersipu malu.
Elena tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan bos barunya itu sejak insiden di siang hari tadi.
"Kau tidak perlu memanggilku Tuan saat kita sedang makan berdua seperti ini Elena," ucap Ardi sambil meminum anggur merahnya.
"Panggil saja namaku langsung agar suasana kita lebih santai malam ini," tambah Ardi dengan nada suara yang lembut.
"B-baik Ardi, saya akan mencoba membiasakan diri," jawab Elena dengan pipi yang memerah matang seperti tomat.
Suara deburan ombak malam terdengar sangat menenangkan mengiringi obrolan ringan mereka berdua.
Namun ketenangan itu tiba-tiba dihancurkan oleh suara raungan mesin kapal yang sangat kasar dan bising.
Ardi meletakkan gelas anggurnya dan menatap lurus ke arah lautan gelap di depan mereka.
Lima buah kapal besi berukuran sedang terlihat melaju kencang menerobos masuk ke perairan pribadi Pulau Nirwana.
Kapal-kapal itu menyalakan lampu sorot yang sangat menyilaukan dan mengarahkannya tepat ke meja makan Ardi.
"Astaga, kapal-kapal siapa itu Ardi!" seru Elena terkejut sambil menutupi matanya dari silau lampu sorot.
"Sepertinya kita kedatangan tamu tidak diundang lagi malam ini," jawab Ardi tetap duduk tenang di kursinya.
Suara pengeras suara yang sangat nyaring tiba-tiba terdengar menggema dari arah kapal utama yang berada di posisi paling depan.
"Perhatian kepada pemilik baru Pulau Nirwana, kami dari Grup Mutiara Hitam datang membawa pesan penting!" teriak suara pria parau dari pengeras suara itu.
Elena langsung berdiri dari kursinya dengan wajah sangat panik saat mendengar nama grup tersebut.
"Ardi, mereka adalah perusahaan pesaing bisnis pariwisata terbesar di wilayah perairan ini," lapor Elena dengan suara bergetar.
"Mereka terkenal sering menggunakan cara kotor dan premanisme untuk merebut pulau-pulau resor di sekitar sini," tambahnya memperingatkan Ardi.
"Oh, jadi mereka adalah gerombolan lintah laut yang sedang mencari mangsa baru ya," ucap Ardi tersenyum sinis menatap kapal-kapal itu.
Suara dari pengeras suara kapal kembali terdengar dengan nada yang semakin arogan dan mengancam.
"Kami tahu kau sedang makan malam di sana bocah, dengarkan tawaran kami baik-baik!" teriak pria parau itu dari atas kapal.
"Jual Pulau Nirwana ini kepada bos kami dengan harga sepuluh miliar rupiah malam ini juga, atau kami akan meratakan resor mewahmu ini dengan meriam air!"
"Jika kau menolak, kami pastikan kapal pesiar putihmu yang bersandar di dermaga itu akan tenggelam ke dasar laut besok pagi!" ancamnya tanpa ampun.
Ardi tertawa pelan mendengar ancaman konyol dari sekumpulan preman laut kelas teri tersebut.
Sepuluh miliar rupiah? Harga itu bahkan tidak cukup untuk membayar pajak tahunan dari Pulau Nirwana.
"Ardi kita harus segera menghubungi polisi laut, mereka membawa kapal yang dilengkapi meriam air bertekanan tinggi!" panik Elena sambil mencari ponselnya.
"Tenang saja Elena, duduk dan nikmati sisa makananmu," ucap Ardi menahan tangan Elena dengan lembut.
"Aku sudah menyiapkan kejutan khusus untuk hama pengganggu seperti mereka," lanjut Ardi mengedipkan sebelah matanya.
Ardi menatap layar ponselnya sejenak, namun sebenarnya dia sedang mengakses antarmuka Sistem di dalam pikirannya.
"Sistem, aktifkan seluruh pasukan drone penjaga dan arahkan ke kapal-kapal rongsokan itu sekarang," perintah Ardi di dalam hatinya.
[Mengaktifkan Pasukan Drone Penjaga Tak Terlihat.]
[Target terkunci. Menunggu perintah eksekusi dari Tuan Rumah.]
Ardi berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan mendekati bibir pantai yang tersapu ombak kecil.
Dia mengambil sebuah megafon portabel yang biasa digunakan oleh penjaga pantai dari pos kecil di dekatnya.
"Hei kalian para lintah laut dari Grup Mutiara Hitam!" teriak Ardi menggunakan megafon itu membalas suara mereka.
"Aku beri kalian waktu tepat sepuluh detik untuk memutar balik kapal rongsokan kalian dan pergi dari perairanku!" ancam Ardi dengan suara lantang.
"Jika kalian masih nekat berada di sini pada detik kesebelas, aku akan mengirim kalian semua ke dasar laut untuk memberi makan ikan hiu!"
Suara tawa keras dan mengejek langsung meledak dari atas kelima kapal pesaing tersebut.
"Hahaha! Dengar itu teman-teman, pemuda kota ini mencoba menggertak kita dengan omong kosong!" teriak sang pemimpin kapal lewat pengeras suara.
"Kau pikir kami takut dengan ancaman palsumu itu bocah! Kami punya lima kapal dan ratusan anak buah di sini!"
"Maju semuanya! Hancurkan dermaga kayu mereka sebagai peringatan pertama!" perintah komandan preman laut itu dengan arogan.
Kelima kapal besi itu langsung menambah kecepatan mesin mereka secara serempak menuju ke arah dermaga Pulau Nirwana.
Ardi hanya membuang napas pelan melihat kebodohan manusia yang tidak bisa diselamatkan lagi itu.
"Sistem, berikan mereka satu tembakan peringatan tepat di lambung kapal utama," perintah Ardi dengan nada mutlak tanpa belas kasihan.
[Perintah diterima. Mengeksekusi tembakan peringatan tingkat rendah.]
Tiba-tiba, udara di atas lautan malam itu bergetar hebat menghasilkan suara dengungan elektronik yang sangat mengerikan.
Wush!
Seberkas sinar laser berwarna merah darah menyala terang menyayat kegelapan langit malam dari arah yang tidak terlihat.
Sinar mematikan itu meluncur dengan kecepatan cahaya dan menghantam tepat lambung sebelah kanan dari kapal utama Grup Mutiara Hitam.
Sring!
Terdengar suara besi tebal yang meleleh seketika akibat suhu panas yang tidak masuk akal.
Hanya dalam waktu satu detik, lambung kapal besi itu terbelah rapi seperti mentega yang diiris menggunakan pisau panas.