“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.
“Kau menyukainya?”
“Memangnya itu apa?”
“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”
Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.
****
Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.
Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.
Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.
Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Mendengar sindiran menohok Vincent dari balik pintu, Alessandro berdehem kencang. Ia memalingkan wajahnya yang memerah, berusaha keras meraup kembali sisa-sisa wibawanya yang telah hancur lebur di hadapan seorang gadis desa lugu.
Namun, Lucia yang sejak tadi merasa kasihan melihat betapa tersiksanya Alessandro karena miliknya yang tak kunjung menyusut, justru mengambil inisiatif.
Gadis itu melangkah lebar mendekati pintu yang terkunci, menangkup kedua tangannya di depan mulut dan membalas teriakan asisten mafia itu dengan lantang.
“Paman Vincent! Jangan berisik! Paman Tampan sedang kesakitan karena ular celananya tiba-tiba bangun dan lucunya Paman Tampan tidak tahu cara menidurkannya kembali!” seru Lucia dengan tanpa dosa.
Di luar pintu, terdengar suara Vincent mendadak tersedak hebat. Asisten kepercayaannya itu nyaris mati karena menelan air liurnya sendiri ke saluran pernapasan yang salah.
Suara batuk hebat itu disusul oleh tawa sengau yang ditahan setengah mati.
“Ular? Ular milik Tuan Alessandro bangun?!” gumam Vincent terpingkal-pingkal di lorong.
Air matanya sampai keluar membayangkan bos mafianya yang kejam, dingin dan kaku itu kini sedang kebingungan mengurus peliharaan di balik celananya sendiri.
Di dalam kamar, raut wajah Alessandro mendadak merah padam, menjalar panas hingga ke ujung telinga. Ia nyaris gila. Sang mafia yang biasanya selalu tampil arogan, kini benar-benar mati kutu.
Alessandro menyambar kemeja hitamnya yang tergeletak di atas kasur, mengenakannya dengan kasar yang memancarkan kekesalan, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menekan emosi.
Sebelum Lucia sempat membuka mulut dan berteriak membeberkan aibnya lebih jauh lagi, Alessandro sudah memutar kunci dan menyentak pintu kamar hingga terbuka dengan keras.
“Dasar pengganggu!” umpat Alessandro, menatap Vincent dengan tatapan tajam membunuh yang sanggup mencabut nyawa seratus orang sekaligus di tempat.
Vincent yang kaget karena pintu terbuka mendadak, refleks mundur dua langkah. Tapi matanya secara sangat tidak sopan dan didorong rasa penasaran tingkat tinggi, malah melirik meluncur turun, menatap ke arah area celana bos besarnya yang yah... memang masih tampak sedikit menonjol kaku.
“Apa yang kau lihat, hah?!” maki Alessandro dengan suara bariton yang berat dan sarat akan peringatan berbahaya.
“Bukan apa-apa, Tuan. Saya bersumpah tidak melihat apa-apa. Saya hanya memastikan apakah ular yang dimaksud Lucia tadi bukan ular berbisa dan tidak mematuk anda terlalu keras,” jawab Vincent santai, meski bahunya berguncang hebat menahan tawa yang siap meledak kapan saja.
“Satu kata lagi keluar dari mulutmu, aku pastikan kau pulang dalam kantong mayat hari ini,” desis Alessandro seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Bukannya takut, suasana tegang itu malah dipecahkan lagi oleh Lucia.
“Paman Tampan, jangan marah-marah!” celoteh Lucia, tiba-tiba menyembulkan kepalanya dari balik ketiak Alessandro, mengintip dari balik punggung lebar pria itu.
Tangannya yang mungil menunjuk-nunjuk ke arah Vincent dengan gaya membela diri.
“Paman Vincent tidak salah. Yang salah itu ular Paman yang bandel! Kenapa dia tidak mau tidur padahal Paman sudah lelah dan berkeringat begini? Dasar ular nakal!”
Vincent tidak sanggup menahannya lagi. Pertahanannya jebol. Tawa renyah meledak begitu saja, bergema di lorong mansion, tepat di depan wajah bos mafia paling ditakuti seluruh Italia.
“Astaga, Tuan. Sejak kapan anda memelihara ular liar yang susah diatur begini? Bukankah biasanya semua peliharaan anda selalu patuh?” kekeh Vincent sambil memegangi perutnya yang kram.
“Vincent!”bentak Alessandro, suaranya benar-benar sudah berada di ambang batas kesabaran. “Siapkan mobi!”
“Maaf, Tuan, maaf,” Vincent akhirnya menyerah, mengangkat kedua tangannya ke udara. Ia mencoba menarik napas dan bersikap profesional kembali, meski wajahnya sudah merah padam karena kebanyakan tertawa.
“Mobil dan para pengawal sudah siap di lobi bawah. Klien dari Milan sudah menunggu di markas.”
Alessandro membuang napas kasar melalui hidung layaknya banteng yang mengamuk. Ia memalingkan wajahnya dari Vincent, lalu berbalik menatap Lucia yang masih berdiri di ambang pintu.
Ajaibnya, kemarahan yang tadi memuncak mendadak mencair layaknya salju terkena sinar matahari, begitu melihat sepasang mata jernih Lucia yang menatapnya dengan raut cemas yang tulus.
Gadis itu benar-benar mengkhawatirkan keselamatannya dari gigitan ular fiktif.
Alessandro merendahkan tubuhnya, menangkup sebelah pipi hangat Lucia dengan telapak tangannya yang besar dan kasar. Lalu, ibu jarinya mengusap lembut kulit wajah gadis itu.
“Aku harus pergi bekerja sekarang. Kau diam lah di rumah bersama para pelayan dan jangan buat masalah apa pun selama aku pergi, mengerti?” perintah Alessandro dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.
“Tapi, Paman, bagaimana dengan ular di celanamu? Kalau di jalan nanti dia mengamuk lagi dan menggigit Paman? Siapa yang akan membantumu menidurkannya?” cicit Lucia pelan, mengulurkan tangannya menyentuh lengan Alessandro.
Mendengar kalimat itu, sebuah seringai nakal perlahan terbit di bibir Alessandro. Iblis di dalam dirinya seolah mendapatkan pencerahan.
Alessandro tiba-tiba mengikis jarak di antara mereka. Tanpa ragu, ia mengecup singkat bibir bengkak Lucia yang masih menyisakan rasa manis, membuat gadis desa itu membeku seketika dengan mata membelalak lebar.
“Dia hanya akan mengamuk saat berada di dekatmu, Lucia,” bisik Alessandro tepat di depan bibir yang baru saja dikecupnya. “Jadi bersiaplah nanti malam saat aku pulang. Kita akan belajar mencari tahu cara menidurkannya bersama-sama di ranjang.”
Lucia menelan ludah dengan susah payah. Dadanya berdesir hebat, dan perutnya terasa seperti diaduk-aduk saat Alessandro melepaskan pelukannya.
Pria itu kemudian berbalik, melangkah pergi diikuti oleh Vincent yang masih sesekali terkekeh pelan di belakang bosnya.
Gadis desa itu ditinggalkan sendirian di ambang pintu, berdiri mematung sambil memegangi bibirnya yang terasa panas. Kepalanya dipenuhi tanda tanya besar.
“Kenapa belajar cara menidurkan ularnya harus ditunggu sampai nanti malam?” batin Lucia kebingungan.
makanya sekolahkan dia
biarkan dia cerdas
dia pasti akan memilihmu ,, dalam keadaan apapun
jd aku rasa perlu belajar deh dia biar pinter 🤭
bnr2 saling melengkapi ni si Lucia dg Ale Ale rasa 🍌 ,, 🤭🤭🤭
kasihan Vincent yg trus nahan ketawa ,, takut kembung Dy tuh ,,
semoga Lucia selalu aman dsna jgn sampai ini cuma jebakan biar si ale2 keluar mansion sdang kn target sebenarnya Lucia ,,