Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Jejak Digital yang Tercecer

Suara riuh percakapan bisnis dan deret musik latar ber-volume sedang memenuhi aula utama gedung pusat konvensi.

Intan Saputri melangkah dengan tenang di antara stan-stan pameran berdesain megah.

Blazer abu-abu gelap dan pembawaannya yang tegap membuat beberapa sales perumahan dan perwakilan kontraktor menyambutnya dengan ramah, menyodorkan brosur mengilap serta kartu nama tanpa rasa curiga.

Namun, fokus Intan bukan pada maket apartemen mewah atau penawaran diskon material bahan bangunan.

Matanya yang tajam menyapu papan nama tiap perusahaan, meneliti wajah-wajah pria berjas yang sedang bercakap-cakap dengan investor, serta mendengarkan dengan cermat intonasi suara mereka yang melintas di sekitarnya.

Di sudut aula, dekat dengan area rehat kopi, Intan menarik sebuah kursi tinggi dan duduk bersandar.

Ia membuka tas selempang kulit hitamnya, berpura-pura memeriksa ponsel pintarnya seperti pengunjung bisnis pada umumnya.

Bip.

Ponselnya bergetar. Sebuah naskah pesan pendek dari Maya masuk.

> Maya: Gunakan aplikasi pemindai dokumen yang sudah saya pasang di HP-mu.

> Setiap kartu nama kontraktor area timur yang kamu dapat, pindai QR code atau tautan media sosial mereka.

> Penipu kelas proyek sering kali memakai akun fiktif yang terhubung ke jaringan rekanan yang sama.

>

Intan membalas pesan itu dengan satu ketukan mantap, lalu mulai mengeluarkan tumpukan kartu nama yang berhasil ia kumpulkan dalam satu jam terakhir.

Jemarinya yang kini cekatan mulai mengarahkan kamera ponsel ke arah kode QR dan tautan profil profesional pada kartu-kartu nama tersebut.

Ia memeriksa satu per satu identitas digital yang tertera: direktur operasional, manajer pemasaran, hingga kepala pengadaan material dari belasan perusahaan kontraktor skala menengah.

Awalnya, semua tampak biasa saja. Kebanyakan dari mereka memiliki jejak digital yang rapi—profil LinkedIn yang aktif, situs web resmi perusahaan dengan domain berbayar, serta riwayat pekerjaan yang jelas.

Namun, ketika Intan memindai kartu nama dari sebuah vendor penyedia alat berat bertuliskan CV Sinar Timur Utama, aplikasinya menunjukkan sesuatu yang janggal.

Situs web vendor tersebut memang tampak meyakinkan dari luar, lengkap dengan foto-foto alat berat dan proyek gedung tinggi.

Tetapi saat Intan meneliti lebih dalam pada kolom 'Tim Manajemen' dan akun media sosial perusahaan yang tertaut, matanya tertuju pada sebuah foto dokumentasi penyerahan unit alat berat dua tahun lalu.

Di latar belakang foto tersebut, berdiri seorang pria berpakaian kemeja putih polos dengan topi keselamatan proyek berwarna kuning.

Pria itu membelakangi kamera, namun wajahnya menoleh sedikit ke arah samping.

Jantung Intan seketika berhenti berdetak selama satu detik penuh.

Meski diambil dari jarak cukup jauh dan tertutup bayangan topi proyek, garis rahang itu... bentuk bahu itu... dan cara pria itu menyilangkan tangannya di dada terasa sangat familiar.

Itu adalah postur yang sama dengan foto-foto yang pernah dikirimkan oleh pria bernama 'Rian' saat mereka masih saling berkirim pesan di aplikasi perpesanan beberapa bulan lalu—foto yang dulu selalu berhasil membuat dada Intan berdesir hangat.

"Rian..."

Bisik Intan sangat pelan, hampir tak terdengar di tengah kebisingan aula.

Tangan Intan bergetar tipis, bukan karena takut, melainkan karena gejolak emosi yang tertahan.

Ia segera melakukan tangkapan layar (screenshot) pada foto tersebut dan memperbesarnya (zoom-in).

Pada saku kemeja putih pria dalam foto itu, terdapat logo bordir kecil yang hampir kabur.

Namun, yang lebih menarik perhatian Intan adalah tanda pagar (hashtag) dan label akun media sosial yang tertempel di sudut bawah unggahan foto tua tersebut.

Pembuat unggahan foto itu lupa menghapus tagar lokasi internal dan akun pihak ketiga yang menyewakan kamera dokumentasi: @KreatifStudio_Kota.

"Jejak digital yang tercecer..."

Gumam Intan, mengingat salah satu pelajaran terpenting dari Maya.

Sebesar apa pun seorang penipu berusaha menghapus identitas utamanya, mereka sering kali lupa bahwa orang-orang di sekitar mereka—seperti vendor acara, fotografer lapangan, atau mitra bisnis kecil—tetap mengunggah dokumentasi tanpa enkripsi dan tanpa sensor.

Intan tidak membuang waktu. Ia segera menyalin tautan unggahan tersebut dan mengesimpannya ke dalam folder rahasia di ponselnya, lalu menyebarkannya ke obrolan pribadi dengan Maya.

> Intan: Mbak Maya, saya menemukan foto lama di akun vendor alat berat Sinar Timur Utama.

> Ada pria dengan postur persis Rian di latar belakang. Ada tagar studio foto lokal di sana.

>

Hanya butuh waktu kurang dari dua menit sampai Maya membalas pesan tersebut.

> Maya: Bagus sekali, Intan! Itu celah yang kita cari. Studio foto lokal selalu menyimpan arsip mentah (raw files) dari setiap klien yang menyewa jasa mereka.

>Jangan ambil tindakan apa-apa di lokasi pameran. Keluar sekarang dan temui saya di ruko.

>

Intan menarik napas panjang, merapikan tumpukan kartu nama di mejanya, lalu memasukkan semuanya ke dalam tas selempang.

Ia berdiri tegak, membetulkan letak blazernya, dan melangkah keluar dari area konvensi dengan ketenangan yang dibuat-buat.

Di luar gedung, angin sore yang sejuk menyapa wajahnya. Kota liar ini mungkin dipenuhi gedung-gedung beton yang dingin dan jalanan yang membingungkan, tetapi sore ini, untuk pertama kalinya, Intan merasa bahwa peta perburuannya mulai membiru terang.

Ia naik ke dalam angkutan kota menuju ruko Katering Barokah. Di sepanjang perjalanan, Intan merogoh saku dalam blazernya dan menyentuh buku catatan hitam kecil miliknya.

Ia membuka halaman terbaru dan menuliskan satu kalimat pendek di bawah tulisan PT Rian Cipta Konstruksi:

> Jejakmu tidak sebersih yang kamu kira, Rian. Aku sudah menemukan ujung benangnya.

>

Senyuman dingin dan penuh kendali terukir di bibirnya. Kepolosan gadis desa yang dulu menangis meratapi nasib di sudut kamar kini benar-benar telah digantikan oleh kecerdikan seorang pelacak yang sabar.

Perburuan ini tak lagi sekadar mencari keberadaan sang penipu, melainkan melingkari lehernya perlahan dari bayang-bayang.

Jangan lupa like, komen dan subscribe🤗

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!