Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Keberhasilan tidak pernah datang tanpa badai. Memasuki minggu ketiga, kampanye iklan digital yang dirancang oleh Alesia bersama tim divisi pemasaran berhasil membuahkan hasil yang luar biasa.
Angka penjualan item pre-order melonjak tajam, menembus angka target 1,2% lebih cepat dari waktu satu bulan yang diberikan oleh Dante. Prestasi gemilang ini tentu saja menjadi buah bibir di seluruh penjuru Aetheris Games.
Namun, keberhasilan itu justru melahirkan percikan kecemburuan. Beberapa staf dari divisi lain mulai menyebarkan kasak-kusuk negatif. Mereka menuduh divisi pemasaran sengaja memanfaatkan situasi untuk "cari muka" dan menjilat CEO baru demi mendapatkan bonus atau kenaikan jabatan.
Isu miring ini tak pelak membuat telinga Alesia, Min-ji, dan Hana panas.
Puncaknya terjadi saat jam makan siang. Hari itu, Alesia akhirnya bisa meluangkan waktu untuk makan bersama kedua sahabatnya di kantin kantor setelah sekian lama selalu mengurung diri di kubikel.
Saat mereka baru saja menyuap beberapa sendok makanan, segerombolan wanita dari divisi seberang duduk tak jauh dari meja mereka. Dengan sengaja, mereka meninggikan volume suara agar obrolan sinis itu terdengar jelas oleh Alesia dan teman-temannya.
"Zaman sekarang ya, kalau mau naik jabatan tuh gak perlu bakat. Cukup pamer kerja lembur tiap malam biar kelihatan rajin di depan bos baru. Cari muka banget, najis!" sindir salah satu wanita berambut bob dengan nada angkuh.
Mendengar fitnah mentah-mentah itu, darah Min-ji langsung mendidih. Ia menggebrak meja kantin dengan keras, membuat mangkuk supnya berdenting, lalu berdiri dan melabrak gerombolan itu.
"Heh! Kalau bicara itu punya kaca gak di rumah?! Siapa yang kamu maksud cari muka, hah?!"
Wanita berambut bob itu tidak takut. Ia justru mendengus meremehkan sambil melipat tangan di dada.
"Aduh... ada yang merasa kesindir ya? Lagian kalau merasa gak melakukan, kenapa harus sewot?"
Hana yang ikut tersulut emosi sudah bersiap maju untuk melepaskan makian, namun tangan Alesia dengan cepat menahan lengan kedua sahabatnya.
Wajah Alesia tampak sangat tenang, tidak ada guratan amarah di sana. Ia melangkah satu langkah ke depan, menatap gerombolan wanita itu bergantian, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sarkasme.
"Cari muka itu penting," ucap Alesia, suaranya tenang namun bergema dingin.
"Supaya kita tahu diri dan punya rasa malu. Enggak kayak kalian... yang kerjaannya cuma bisa nyinyirin orang lain dari pagi sampai sore tanpa pernah bercermin seberapa minim kontribusi kalian untuk perusahaan ini."
Wajah wanita berambut bob itu seketika merah padam. "Kamu—!"
"Eittss, sebentar. Saya belum selesai ngomong," potong Alesia cepat, mengangkat satu jarinya ke udara dengan gestur meremehkan.
"Cari muka itu enggak apa-apa, asal ada hasil nyata yang masuk ke rekening perusahaan. Daripada kalian, muka gak punya, hasil kerjaan juga gak ada."
Setelah menjatuhkan kalimat menohok itu, Alesia tersenyum semanis mungkin sebuah senyuman kemenangan.
Tanpa menunggu balasan lagi, ia langsung berbalik, menggandeng lengan Hana dan Min-ji, lalu berjalan pergi meninggalkan area kantin dengan langkah anggun.
Gerombolan wanita di belakang mereka hanya bisa menganga menahan emosi dan malu karena menjadi pusat perhatian seluruh kantin.
Begitu pintu lift karyawan tertutup rapat, pertahanan jagoan mereka langsung runtuh. Hana dan Min-ji spontan tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut mereka.
"Gila sih, Al! Kamu pinter banget cari kata-katanya! Wajah mereka tadi langsung kayak tomat rebus, malu banget pasti!" seru Hana di sela-sela tawanya, menepuk bahu Alesia bangga.
Alesia terkekeh pelan, menyeka sudut matanya. "Orang-orang kayak mereka itu gak perlu dihadapi pakai emosi, Hana. Capek sendiri. Cukup kasih sedikit kalimat yang tepat, udah bikin mereka gak berkutik seumur hidup."
Mereka bertiga tertawa bersama menikmati kemenangan kecil itu. Namun, tepat saat pintu lift berdenting dan terbuka di lantai 35, Alesia mendadak membungkuk. Wajahnya mendadak pias, dan satu tangannya mencengkeram kuat bagian perut bawahnya.
"Aw..." rintih Alesia pelan, desisan sakit lolos dari bibirnya.
"Kenapa, Al?" tanya Min-ji sigap, langsung merangkul pundak Alesia dengan wajah cemas.
Alesia buru-buru menegakkan tubuhnya, memaksakan senyum tipis untuk menyembunyikan rasa sakit yang luar biasa melilit di lambungnya akibat pola makan yang hancur beberapa minggu ini.
"Gak apa-apa kok... cuma kram sedikit. Yuk, balik ke kubikel."
...----------------...
Malam pun jatuh menyelubungi kota Seoul. Waktu telah menunjukkan pukul 20.00. Seluruh rekan kerja di divisi pemasaran sudah pulang ke rumah masing-masing.
Suasana lantai 35 kembali sunyi dan gelap, hanya menyisakan satu lampu kubikel milik Alesia. Gadis itu masih berkutat di depan layar komputer, bersikeras menyelesaikan laporan final kampanye digitalnya agar benar-benar sempurna tanpa celah.
Di lantai teratas, Dante masih duduk di balik meja kerjanya. Pria itu mengalihkan pandangannya ke monitor kecil di sudut meja yang menampilkan live feed CCTV internal kantor.
Jarinya mengklik kamera lantai 35. Begitu layar menampilkan sosok Alesia yang masih berada di kursinya, helaan napas panjang lolos dari bibir Dante.
'Gadis bodoh ini benar-benar tidak punya jam pulang ya?' batin Dante gusar.
Dipicu oleh rasa penasaran dan kecemasan yang egois, Dante akhirnya berdiri dari kursinya. Ia keluar dari ruangan kerjanya dan turun menuju lantai 35 menggunakan lift pribadi.
Langkah kakinya yang berbalut sepatu pantofel mahal sengaja dibuat sepelan mungkin saat memasuki area kubikel pemasaran yang gelap.
Namun, begitu Dante sampai di depan kubikel Alesia, langkahnya terhenti. Gadis itu tidak sedang mengetik. Kepala Alesia terkulai lemah di atas meja kerja, berbantalkan kedua lengannya yang terlipat. Napasnya terdengar teratur dan halus. Alesia telah tertidur pulas karena kelelahan yang menderanya.
Dante berdiri mematung di samping kubikel, menatap wajah tidur Alesia dari dekat. Tanpa ada riasan tebal atau ekspresi tegang seperti saat rapat, wajah Alesia tampak begitu tenang, polos, dan rapuh.
Di bawah temaram lampu kubikel, lingkaran hitam di bawah mata gadis itu terlihat semakin jelas, memicu rasa bersalah yang asing di dada Dante.
Tanpa sadar, tangan kanan Dante bergerak maju. Dengan gerakan yang sangat perlahan dan lembut, jemarinya membenarkan beberapa anak rambut Alesia yang menjuntai menutupi keningnya. Kulit tangan Dante sempat bersentuhan dengan dahi Alesia yang terasa agak dingin.
Begitu menyadari apa yang baru saja dilakukannya, Dante langsung menarik kembali tangannya seperti orang yang tersengat listrik. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Ia berdeham pelan di dalam kesunyian. Melihat tubuh kecil Alesia yang sedikit meringkuk kedinginan karena hembusan AC kantor, Dante perlahan melepas jas hitam potong premium miliknya. Dengan gerakan super hati-hati, ia menyampirkan jasnya ke atas punggung Alesia untuk menghangatkannya.
Dante kemudian berbalik dan kembali ke ruangannya di lantai atas. Ia berniat menunggu gadis itu bangun.
Namun, setelah satu jam berlalu dan melihat melalui CCTV bahwa Alesia masih belum juga beranjak, Dante akhirnya kehilangan kesabaran. Ia tidak bisa membiarkan gadis itu tidur di kantor sampai pagi. Pria itu mengangkat telepon gagang di mejanya dan menghubungi pos satpam di lobi bawah.
"Pak tolong naik ke lantai tiga puluh lima. Ada seorang karyawan perempuan yang tertidur di kubikelnya. Bangunkan dia dan suruh pulang." ucap sang CEO dengan nada tegas namun berbisik.
Sebelum satpam itu menjawab, Dante menambahkan dengan cepat, "Ingat... bangunkan dia dengan sangat pelan dan lembut. Jangan sampai membuatnya kaget."
Menerima perintah langsung dari sang bos tertinggi, petugas satpam paruh baya itu langsung naik ke lantai 35 dengan langkah berhati-hati. Sesuai pesan khusus Dante, satpam itu mendekati kubikel Alesia dan memanggil namanya dengan suara yang sangat lembut.
"Mba Alesia... Mba Alesia..." panggil satpam itu hingga tiga kali.
Pada panggilan ketiga, Alesia mengerang pelan. Matanya mengerjap-ngerjap berusaha menyesuaikan dengan cahaya lampu, sebelum akhirnya terbelalak kaget saat melihat seorang petugas keamanan berseragam lengkap sudah berdiri di samping mejanya.
"Loh... Pak? Kok Bapak ada di sini?" tanya Alesia linglung, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
Petugas satpam itu tersenyum ramah dan menjawab dalam bahasa Korea yang formal.
"Iya, Mba. Tadi saya sedang patroli keliling lantai dan melihat Mba tertidur di sini. Ini sudah malam sekali. Sebaiknya segera pulang dan istirahat di rumah."
Alesia melirik jam di komputernya yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat.
"Ah... iya, Pak. Terima kasih banyak sudah mengingatkan saya," jawab Alesia sopan dalam bahasa Korea formal sambil membungkukkan kepalanya.
Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Alesia buru-buru membereskan tas dan mematikan komputernya.
Karena udara malam yang terasa sangat menusuk dan kepalanya yang masih agak pening, ia langsung meraih kain hitam tebal yang tersampir di punggungnya, mengiranya sebagai jaket cadangan miliknya yang biasa ia tinggalkan di kantor. Tanpa memeriksa lebih detail, Alesia memakai jas hitam besar milik Dante itu ke tubuhnya dan melangkah keluar gedung.
Di tengah perjalanan pulang menuju stasiun bawah tanah, perut Alesia mendadak berbunyi sangat nyaring, diikuti rasa perih yang familier.
Pandangan matanya kemudian tertuju pada sebuah toserba (convenience store) yang lampunya menyala terang tepat di depan area gedung kantornya.
Alesia memutuskan untuk mampir. Ia melangkah masuk ke dalam toserba dan mulai mengambil beberapa makanan instan pengganjal perut: satu cup mi instan pedas, satu sosis siap makan, keju lembaran, telur rebus, dan satu cup kopi hangat.
Setelah membayar di kasir, Alesia memasak mi instannya menggunakan dispenser air panas di sudut toko, lalu membawa nampannya keluar untuk makan di area meja kursi terbuka yang disediakan di depan toserba.
Yang sama sekali tidak disadari oleh Alesia adalah, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam sejak tadi melaju perlahan mengikutinya dari area kantor.
Mobil itu kini terparkir di seberang jalan. Di dalam kemudi, Dante memperhatikan setiap gerak-gerik Alesia dari balik kaca mobil yang gelap.
Melihat gadis itu memakai jasnya yang kedodoran sambil membawa nampan makanan instan, sudut bibir Dante tanpa sadar terangkat tipis.
Dante akhirnya mematikan mesin mobilnya. Pria itu membuka pintu, melangkah tegap menyeberangi jalan yang sepi menuju ke arah toserba.
Ia masuk ke dalam toko, mengambil satu botol minuman dingin secara acak, membayarnya di kasir, lalu berjalan keluar menuju area meja tempat Alesia sedang asyik makan.
Alesia benar-benar sedang fokus dengan dunianya sendiri. Ia sibuk mencampur keju dan telur ke dalam kuah mi instannya yang mengepul panas, lalu menyuapnya dengan lahap sampai pipinya menggembung.
Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran aura mengintimidasi yang berjalan mendekat, bahkan tidak tahu kalau pria itu baru saja lewat di sampingnya.
Sret.
Dante menarik kursi plastik di hadapan Alesia dan langsung mendudukkan diri tepat di depan gadis itu.
Mendengar suara kursi yang bergeser, Alesia baru mendongak dengan mulut yang masih penuh berisi mi.
Begitu manik matanya menangkap sosok pria berwajah rupawan namun berwajah dingin yang kini duduk manis di hadapannya sambil memegang sebotol minuman, mata Alesia langsung melotot sempurna.
Ia tersedak kuah cabai, buru-buru menelan makanannya dengan susah payah hingga tenggorokannya terasa panas.
"Uhuk! Pa-Pak Dante?!" cicit Alesia syok setengah mati.
Dengan panik, Alesia langsung meletakkan sumpitnya, mengelap bibirnya dengan tisu, lalu refleks berdiri dari kursi plastik dan membungkukkan tubuhnya untuk memberikan salam hormat secara formal.
"Selamat malam, Sajangnim! Maaf, saya tidak tahu kalau Bapak ada di sini!" ucapnya terbata-bata dengan bahasa Korea formal yang kaku, sementara otaknya berputar keras memikirkan alasan mengapa bos besarnya yang perfeksionis bisa nyasar di depan toserba malam-malam begini.