Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Acara resmi pun dimulai. Sambutan demi sambutan dari jajaran direksi disampaikan di atas panggung besar.
Hingga akhirnya, tiba saatnya sambutan dari sang CEO baru. Ketika nama Dante Luca Alessio dipanggil oleh pembawa acara, seluruh aula mendadak hening seketika sebelum akhirnya riuh oleh tepuk tangan.
Malam ini, Dante terlihat sangat tampan. Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam potong premium yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Tanpa kacamata yang dipakainya kemarin pagi, mata abu-abunya memancarkan aura karisma yang mutlak dan tak tertahankan.
Hana menyenggol lengan Alesia dengan siku, matanya tidak berkedip menatap panggung.
"Wah... Pak Dante ganteng juga ya. Kalau lagi gak kerja dan gak marah-marah, keliatannya lumayan juga jadi pajangan."
Alesia tidak menyahut. Matanya terpana, terkunci sepenuhnya pada sosok Dante yang sedang berbicara dengan suara beratnya yang berwibawa di depan mikrofon. Jantung Alesia mendadak berdegup dengan ritme yang tidak beraturan.
"Pak Rey juga lumayan ya malam ini, rapi banget," bisik Min-ji ikut berkomentar, menatap asisten pribadi Dante yang berdiri di sisi panggung.
Kang Ji-hoon yang duduk di sebelah mereka langsung memajukan wajahnya, memotong pembicaraan dengan percaya diri.
"Heh, masih gantengan juga aku ke mana-mana!"
Min-ji mendengus geli. "Iya, gantengan kamu... kalau diliatnya dari atas Menara Namsan pakai sedotan."
Seketika, seluruh anggota meja divisi pemasaran langsung pecah dalam tawa tertahan, membuat suasana di meja mereka menjadi yang paling hangat di antara divisi lain.
Setelah sesi sambutan selesai, acara berlanjut ke agenda yang tidak ada di dalam susunan acara awal. Pembawa acara kembali naik ke atas panggung dengan memegang sebuah map emas.
"Hadirin sekalian, malam ini manajemen juga akan mengadakan sesi penerimaan penghargaan khusus. Seperti yang kita tahu, penghargaan tahunan biasanya dilakukan di akhir tahun, namun malam ini, CEO kita memiliki penghargaan apresiasi khusus untuk performa luar biasa bulan ini," ucap MC di atas panggung.
Alesia mendengarkan dengan acuh tak acuh, mengira itu adalah penghargaan untuk para manajer atau direktur divisi. Beberapa kategori dibacakan, dan tepuk tangan terus bergema. Sampai akhirnya, sang pembawa acara membuka lembar terakhir.
"Dan penghargaan terakhir malam ini... kategori Karyawan Lembur Terbanyak dan Kerja Tanpa Lelah yang berhasil membawa kontribusi besar bagi peningkatan pendapatan digital perusahaan... diberikan kepada saudari... Alesia Fiore dari divisi pemasaran!"
Duar!
Tepuk tangan riuh langsung bergema di seluruh penjuru aula hotel. Di meja pemasaran, Hana, Min-ji, dan bahkan Yuri langsung berteriak heboh sambil bertepuk tangan. Namun, sang pemilik nama justru membeku di tempat duduknya. Matanya membelalak sempurna, mulutnya sedikit terbuka karena syok.
"Ha...??? Aku?!" cicit Alesia, menunjuk dirinya sendiri dengan wajah linglung.
"Silakan untuk Nona Alesia Fiore segera naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan langsung dari CEO kita," panggil MC sekali lagi lewat mikrofon.
"Ayo, Al! Maju! Itu namamu dipanggil!" dorong Yuri dengan senyum bangga yang merekah lebar.
"Ayo, Al, maju! Jangan bikin Pak Dante menunggu!" desak Hana ikut menyenggol punggung Alesia.
Melihat semua teman-temannya yang tampak begitu senang dan tulus merayakan namanya, Alesia akhirnya berdiri dengan kaku.
Di dalam hatinya, ia mengembuskan napas pendek dengan pasrah.
'Ternyata... ini jawaban dari perasaan gak enak yang kurasakan sejak siang tadi,' batin Alesia meratapi nasibnya.
Ia sudah tahu pasti, 100% ini adalah rencana ajaib dari otak Dante untuk menjahilinya atau membalas aksi protesnya tadi siang.
Alesia melangkah perlahan menuju panggung. Masalah terbesarnya malam ini adalah... ia belum pernah menggunakan sepatu hak tinggi (high heels) seumur hidupnya.
Sepatu hak setinggi 7 senti yang ia pinjam dari Min-ji ini membuat setiap langkah kakinya terasa seperti berjalan di atas tali seutas kawat. Kakinya bergetar pelan saat menaiki undakan tangga panggung.
Begitu sampai di tengah panggung, Dante melangkah maju dari sisi kanan. Pria itu memegang sebuah plakat kristal mewah dan sebuah amplop bonus tebal.
"Mohon kepada Pak Dante untuk menyerahkan penghargaan kepada pemenang," instruksi MC.
Saat mereka berdiri berhadapan, Alesia mendongak. Tatapan mata bulat Alesia ke arah Dante sudah penuh dengan kedutan kesal yang mengintimidasi, seakan-akan matanya berbicara: 'Maksud Bapak apa bikin acara penghargaan beginian?!'
Dante yang melihat ekspresi wajah kesal Alesia yang tertahan di depan kamera justru tidak merasa terganggu.
Pria itu hanya tersenyum sangat tipis sebuah senyuman yang hanya bisa dilihat oleh Alesia lalu menaikkan sebelah alisnya dengan gestur meledek yang sangat menyebalkan. Dante menyerahkan plakat itu ke tangan Alesia.
"Terima kasih atas kerja kerasmu yang gila kerja, Nona Fiore," ucap Dante dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua saat mereka berfoto bersama di depan kilatan lampu kamera penonton.
"Sama-sama, Pak," jawab Alesia lewat gigi yang mengatup rapat, tetap memaksakan senyum manis di depan kamera.
Setelah sesi foto selesai, Alesia membungkuk hormat sekilas, lalu buru-buru membalikkan badannya untuk turun dari panggung. Ia ingin segera pergi dari sana.
Namun, karena berjalan terlalu terburu-buru dan belum terbiasa mengendalikan keseimbangan di atas hak tinggi, kaki kanan Alesia mendadak terlipat di dekat undakan tangga panggung.
Set!
Tubuh Alesia terpelosok dan kehilangan keseimbangan. Ia memejamkan matanya, bersiap merasakan hantaman keras lantai hotel yang memalukan di depan ratusan karyawan.
Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang. Sebuah lengan kokoh dan besar dengan sigap langsung melingkar di pinggang ramping Alesia, menarik tubuh gadis itu ke atas dalam satu sentakan kuat.
Alesia membuka matanya dengan terengah-engah. Wajahnya kini berada hanya berjarak beberapa sentimeter dari dada bidang Dante.
Wangi parfum maskulin premium milik pria itu langsung mengunci inderanya. Dante menatap lekat-lekat ke dalam manik mata bulat Alesia yang dipenuhi kepanikan.
Aula hotel mendadak riuh oleh pekikan tertahan dari para staf yang menyaksikan adegan drama romantis secara langsung itu.
Dante menatap wajah Alesia yang merona merah, lalu berbisik dengan suara yang sangat rendah di dekat telinga gadis itu.
"Kamu... cantik hari ini," ucap Dante tiba-tiba, dengan tulus tanpa ada nada ejekan sedikit pun.
Mendengar kalimat tak terduga itu langsung keluar dari bibir sang bos diktator, kesadaran Alesia seperti ditarik paksa. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau meledak. Ia buru-buru melepaskan diri dari dekapan Dante setelah berhasil menyeimbangkan kakinya kembali.
"Ah... ma-maaf, Pak! Terima kasih banyak atas bantuannya!" ucap Alesia terbata-bata dengan wajah yang sudah matang seperti kepiting rebus.
Tanpa menoleh lagi, ia langsung setengah berlari menunju meja divisinya dengan langkah yang agak pincang.
Begitu sampai di meja bundar divisi pemasaran, Hana dan Min-ji langsung menyambutnya dengan wajah super cemas bercampur heboh.
"Kamu gak apa-apa, Al? Astaga, tadi jantungku rasanya mau copot melihatmu hampir jatuh!" seru Hana memegangi dadanya.
"Iya, Al! Gak apa-apa, kan? Kakimu gak keseleo, kan?" tanya Min-ji sibuk memeriksa pergelangan kaki Alesia.
Alesia menggelengkan kepalanya cepat, langsung duduk di kursinya sambil memegangi dadanya yang masih bergemuruh hebat akibat bisikan Dante tadi.
"Gak apa-apa kok... gak keseleo. Cuma kaget saja karena belum biasa pakai hak tinggi ini."
"Syukurlah kalau tidak apa-apa," ucap Hana lega.
Namun, tatapan mata Hana dan Min-ji mendadak berubah menjadi penuh selidik saat mereka mengingat bagaimana cara Dante menangkap tubuh Alesia dan menatapnya tadi di atas panggung.
Ada sesuatu yang sangat tidak biasa dari tatapan sang CEO dingin itu, dan malam ini, rahasia di antara Alesia dan sang bos tampaknya akan semakin sulit untuk disembunyikan dari kedua sahabatnya.