"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMPARAN KESADARAN DAN BATAS KESABARAN
"Kenapa lagi, Mas?" ucap Isma tenang seraya membuka pintu rumah dengan wajah tanpa ekspresi.
Yoga tidak menjawab. Tanpa permisi, ia langsung menerobos masuk dengan wajah merah padam dan napas terengah-engah. Matanya liar menyapu seluruh sudut ruang tamu yang luas, mewah, dan beraroma harum itu.
"Kamu pasti punya simpanan kan di sini?!" tuduh Yoga setengah berteriak, menunjuk muka Isma dengan jarinya yang gemetar. "Pasti ini rumah milik laki-laki kaya itu! Mana dia?! Suruh keluar laki-laki yang sudah membiayai kamu dan kasih kamu mobil mewah itu! Mana?!"
Yoga berjalan cepat melintasi ruang tengah, membuka pintu kamar tamu di lantai bawah, memeriksa area dapur, bahkan mengintip ke balik tirai tinggi. Pria itu sibuk mencari sosok bayangan pria lain yang ada di dalam pikiran kotornya sendiri.
Namun, tidak ada siapa-siapa. Rumah itu sepi, tenang, dan hanya menyajikan kerapian interior modern yang elegan.
Isma bersedekap dada di dekat pintu depan, memperhatikan tingkah konyol Yoga yang sibuk bolak-balik bagai orang kesetanan dengan pandangan penuh kasihan.
"Sudah selesai carinya, Mas?" tanya Isma halus, namun nada suaranya begitu menyengat. "Atau kamu mau periksa lantai dua dan kolam belakang sekalian?"
Yoga menghentikan langkahnya di tengah ruangan, dadanya naik turun menahan emosi yang makin tak terkendali. "Jangan berakting ya, Isma! Mana ada wanita yang tidak punya pekerjaan dan cuma mengandalkan suami, tiba-tiba bisa punya SUV ratusan juta dan rumah megah di perumahan elit begini?! Kalau bukan hasil menjual diri atau jadi simpanan, dari mana kamu dapat semua ini?!"
Isma melangkah pelan mendekati Yoga, berhenti tepat dua langkah di hadapannya. Ia menatap mata suaminya lurus-lurus tanpa ada sedikit pun rasa gentar.
"Jangan menyamakan semua orang dengan dirimu dan selingkuhanmu, Mas," ujar Isma dingin. "Kamu pikir semua orang di dunia ini hidup dari memanipulasi dan memanfaatkan orang lain seperti kamu?"
"Lalu ini rumah siapa, Isma?! Jawab!" bentak Yoga murka.
Isma tersenyum tipis, lalu mengambil sebuah map tebal yang terletak anggun di atas meja sudut. Ia memegangnya di depan dada Yoga.
"Ini rumah milik Isma zetri," tegas Isma penuh penekanan. "Sertifikatnya atas namaku sendiri. Dibeli secara sah, lunas, dengan uang hasil kerja keras dan keringatku sendiri. Tanpa uangmu, dan tanpa bantuan pria mana pun."
"Halah! Aku tidak percaya! Kamu pasti berzina di sini!" tuduh Yoga dengan nada menghakimi yang makin memuakkan.
Plakkk!
Suara tamparan keras memecah udara di ruang tengah yang sepi itu. Wajah Yoga terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang membakar di pipi kirinya. Pria itu terpaku memegang pipinya dengan mata membelalak tak percaya.
"Kamu pikir aku wanita murahan seperti Gladis?!" tegas Isma dengan suara bergetar penuh penekanan, menembus seluruh kesombongan Yoga. "Kamu pikir semua wanita serendah dan sehina selingkuhanmu yang mau menempel pada pria beristri demi uang?!"
Yoga memegang pipinya yang berdenyut, napasnya memburu akibat rasa malu yang membakar dada. "Isma! Kamu berani nampar aku?!"
"Aku tidak cuma berani menamparmu, Mas," potong Isma dingin, mengambil satu langkah maju hingga Yoga refleks melangkah mundur. "Aku juga berani menyeretmu ke pengadilan dan memastikan kamu tidak punya sisa muka lagi di depan semua orang!"
Isma menunjuk lurus ke arah pintu keluar dengan pandangan yang tak lagi menyisakan sedikit pun toleransi.
"Keluar dari rumahku sekarang! Sebelum aku panggil petugas keamanan kompleks dan melaporkanmu atas tindakan penyerobotan serta ancaman!" ancam Isma tanpa keraguan sedikit pun. "Terserah kamu mau percaya atau tidak dari mana aku dapat rumah ini. Simpan tuduhan konyolmu itu untuk kamu lontarkan di depan hakim esok hari!"
Yoga menatap Isma dengan rahang mengeras. Rasa malu, marah, dan kebingungan bercampur aduk di dadanya. Melihat Isma yang begitu tegap dan sama sekali tak lagi bisa diintimidasi, Yoga akhirnya menggeram rendah, memutar badan, dan melangkah keluar seraya membanting pintu rumah dengan kasar.
Di luar halaman, Yoga melangkah dengan dada gemetar. Tamparan Isma bukan hanya meninggalkan rasa sakit di pipinya, tetapi juga meruntuhkan seluruh dominasi yang selama lima tahun ini ia banggakan.
Sementara di dalam rumah, Isma menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan yang kembali tenang. Ia mengunci pintu rapat-rapat, mengaktifkan sistem keamanan rumah, lalu melangkah ke kamar utama untuk beristirahat. Esok adalah hari persidangan pertama—hari di mana seluruh sandiwara Yoga dan keluarganya akan berakhir secara resmi di mata hukum.