Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.
Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.
Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Sarang Mafia
Suara deru mesin mobil mewah yang berhenti tepat di depan halaman rumah mendadak membuat suasana di dalam ruang tamu keluarga Sebastian menegang. Sebastian dan Julia segera memasang senyum paling ramah yang terlihat sangat kaku, sementara Ivanna yang sejak tadi mengintip dari balik tirai jendela lantai atas langsung berlari terbirit-birit dan bersembunyi di dalam kamarnya karena ketakutan setengah mati, enggan terseret jika penipuan mereka terbongkar.
Dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam rapi melangkah masuk tanpa banyak basa-basi. Mereka tidak memedulikan sambutan berlebihan atau omong kosong penjilat yang dilontarkan oleh Sebastian maupun Julia. Tatapan mata kedua pengawal itu tajam, mengintimidasi, dan memancarkan aura berbahaya.
"Kami datang untuk menjemput putri Sebastian sesuai perjanjian," ucap salah satu dari mereka dengan suara berat yang datar.
Sebastian buru-buru mengangguk canggung. "Silakan, silakan bawa dia. Dia sudah siap!" teriak Sebastian, tak sabar ingin segera menyingkirkan Serena dari rumahnya.
Tidak lama kemudian, Serena melangkah menuruni tangga dengan tenang. Ia tidak membawa banyak barang, hanya sebuah tas kecil berisi pakaian seadanya. Melihat kedatangan Serena, Zayden pria dengan kulit eksotis yang berdiri di barisan depan sempat melirik sekilas ke arah wajah Serena, mendapati gadis itu sama sekali tidak menunjukkan raut ketakutan ataupun air mata penyesalan.
Tanpa banyak bicara lagi, Zayden dan Calum membawa Serena keluar rumah dan mendudukkannya di kursi belakang sedan hitam berkecepatan tinggi. Pintu mobil ditutup rapat, meninggalkan Sebastian dan Julia yang bernapas lega di teras rumah, merasa berhasil lolos dari maut.
Suasana di dalam kabin mobil langsung terasa senyap begitu kendaraan mulai melaju meninggalkan kawasan perumahan mewah. Serena duduk dengan tenang di kursi belakang, menyandarkan dagunya pada telapak tangan sambil menatap keluar jendelanya yang memperlihatkan pemandangan malam hari. Di kursi depan, dua pengawal kepercayaan Sergio itu duduk berdampingan, menampilkan kontras visual yang begitu tajam hingga memancing rasa penasaran Serena.
Pria yang mengemudikan mobil memiliki kulit putih pucat seperti pualam dengan garis wajah tegas dan sorot mata sedingin es. Sementara di kursi penumpang sebelah, seorang pria dengan kulit eksotis kecokelatan tampak duduk lebih santai, sesekali melirik ke arah kaca spion tengah untuk memperhatikan gerak-gerik gadis di belakangnya.
Serena tersenyum kecil dalam hati, menatap punggung kedua pria di depannya. Dua orang ini benar-benar bagaikan konsep Yin dan Yang, pikirnya geli.
Mobil terus melaju membelah jalanan kota yang mulai sepi, hingga akhirnya berbelok memasuki area pinggiran kota yang dikelilingi oleh lebatnya hutan pinus. Suasana di luar berubah gelap gulita, hanya diterangi oleh sorotan lampu utama mobil yang memantul di jalanan aspal basah. Serena justru tampak sangat terpukau, matanya berbinar-binar menatap lanskap hutan malam yang terlihat mistis namun memesona di matanya. Dunianya yang sekarang benar-benar terasa seperti novel romansa mafia yang sering ia baca.
Zayden, yang sejak tadi mengamati tingkah laku Serena lewat spion tengah, merasa heran dengan ketenangan luar biasa yang dipancarkan gadis itu. Biasanya, gadis-gadis malang yang dijemput untuk diserahkan kepada tuannya akan menangis histeris, pingsan, atau memohon-mohon minta dipulangkan. Tapi gadis ini? Ia justru terlihat seperti sedang berwisata malam.
Zayden menoleh ke belakang sedikit, lalu bertanya dengan nada ramah yang terdengar sopan.
"Apa Nona tidak takut?"
Serena mengerjap, lalu menoleh dengan senyum ceria menghiasi wajah cantiknya. "Dibilang takut sih takut, cuma... Kalau dipikir-pikir sepertinya menarik tinggal bersama mafia," ucap Serena antusias, tanpa ada nada beban sedikit pun di suaranya.
Mendengar jawaban itu, Calum pria berkulit putih pucat yang fokus menyetir mengerutkan keningnya dalam-dalam. Di balik wajah tampannya yang dingin, Calum mencibir sinis. Dalam benaknya, wanita di kursi belakang itu benar-benar tidak tahu diuntung atau mungkin sudah kehilangan akal sehatnya. Calum tahu persis tujuan akhir gadis-gadis yang dibawa ke wilayah selatan markas mereka, mereka biasanya hanya dijadikan mainan atau pemuas nafsu rendahan bagi para bawahan senior sebelum akhirnya dibuang. Tidak ada akhir yang indah bagi tawanan Sergio. Kata pengantin hanya ucapan manis saja, padahal mereka hanya dijadikan budak saja.
Zayden tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah namun menyimpan sesuatu yang misterius di baliknya. Topeng ramah yang ia pasang memang selalu berhasil mengecoh banyak orang, padahal di balik senyuman itu, Zayden adalah salah satu eksekusi berdarah dingin yang tidak punya belas kasihan.
"Omong-omong, nama saya Zayden, dan pria putih pucat di sebelah saya ini namanya Calum," ucap Zayden memperkenalkan diri dengan sopan, tetap mempertahankan senyuman ramahnya.
Serena mengangguk-angguk kecil, matanya melirik Calum yang tetap bungkam dan fokus menyetir.
"Nama yang bagus. Tadinya aku berniat memberikan nama Yin dan Yang untuk kalian berdua karena warna kulit kalian kontras sekali," gurau Serena dengan nada riang, menampilkan senyum manis yang membuat Zayden tertegun sejenak.
Calum melirik tajam lewat spion samping, rahangnya mengeras mendengar ucapan santai gadis itu.
"Mulutmu terlalu banyak bicara untuk ukuran seorang tawanan," desis Calum dingin, suaranya terdengar seperti desisan angin malam yang membekukan.
"Sebaiknya simpan tenagamu, karena malam ini hidupmu akan benar-benar berubah drastis begitu sampai di hadapan Tuan Sergio."
Serena tidak merasa gentar sedikit pun mendengar nada mengancam dari Calum. Ia justru terkekeh pelan, membuat Calum semakin jengkel.
"Santai saja, Tuan Pucat. Marah-marah itu bikin cepat tua, lho," balas Serena santai, sama sekali tidak terintimidasi. Ia lalu mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, menatap Zayden dan tersenyum ramah.
"Ah, kenalkan, nama saya Serena. Senang berkenalan dengan kalian, penjaga pintu gerbang neraka."
Zayden mengangkat sebelah alisnya, sama sekali tidak menyangka bahwa gadis yang akan dijadikan korban oleh tuannya ini memiliki mental baja dan pembawaan yang begitu santai. Zayden sudah melihat ribuan ekspresi ketakutan sepanjang kariernya melayani Sergio, tapi baru kali ini ia mendapati seorang gadis yang justru melemparkan candaan di dalam mobil menuju sarang penjahat paling ditakuti di negeri ini.
"Serena, ya? Nama yang indah," balas Zayden ramah, meskipun di dalam kepalanya ia mulai menilai bahwa gadis di belakang ini cukup unik dan berbeda dari yang lain.
"Kamu memang benar-benar menarik, Nona Serena. Tapi simpan keceriaan itu sampai kamu bertemu langsung dengan Tuan besar kami. Karena setelah itu... entahlah, apakah kamu masih bisa tersenyum manis seperti ini atau tidak."
"Kita lihat saja nanti," jawab Serena ringan, lalu kembali menyandarkan punggungnya dengan santai, mengabaikan tatapan tajam penuh curiga yang dilemparkan Calum dari kursi pengemudi.
Mobil mewah itu kembali terlelap dalam keheningan, terus melaju kencang menembus kegelapan malam, membawa Serena semakin dekat menuju takdir baru yang penuh misteri di dalam dunia mafia yang kejam.
Bersambung...
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔