Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kafe Berwarna
Aku berdiri kaku di depan cermin, menatap pantulan diriku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sweater sederhana dan celana jins. Apakah Mas Adrian bakal ilfil melihat penampilanku yang seadanya ini? Entahlah. Lagipula, kenapa aku harus sepusing ini? Toh, dia bilang hanya ingin mengobrol dan mengenalku lebih dekat.
Tiba-tiba, petuah Ray di masa lalu mendadak berembus kembali di dalam benakku: "Kamu harus tetap jadi diri kamu sendiri, Ser. Jangan pernah berubah cuma demi disukai orang lain."
Tin! Tin!
Suara klakson motor mendadak membuyarkan lamunanku. Sontak aku sambar tas kecilku, mengenakan sneakers putih dengan tergesa-gesa, lalu berlari kecil menuju halaman depan. Di sana, Mas Adrian sudah menunggu di atas motor besarnya.
"Lama ya, Mas? Maaf banget ya," ucapku merasa tak enak.
Mas Adrian melepas kaca helmnya, mengulas senyum hangat yang seketika membuat dadaku berdesir. "Enggak kok. Kamu cantik," pujinya pelan seraya menatap mataku lekat. "Nih, pakai helmnya."
Pipiku menghangat saat meraup helm itu, lalu naik ke boncengan motornya. Kami pun melaju membelah jalanan kota. Di sepanjang jalan, Mas Adrian beberapa kali mencoba mengobrol. Namun, gumpalan suara yang keluar dari mulutnya terdengar samar-samar, tenggelam oleh helm full-face dan deru angin malam yang berembus kencang.
"Hah? Apa, Mas?" teriakku berulang kali di balik kaca helm.
Karena lelah menebak-nebak, aku mendekatkan wajahku dan sedikit berteriak di dekat telinganya, "Nanti aja ngobrolnya di tempat tujuan ya, Mas! Sera enggak denger Mas ngomong apa!"
Tak lama, sepeda motornya melambat dan berhenti di sebuah pelataran parkir. Kami turun dan melangkah masuk ke dalam area kafe. Café Berwarna begitu nama yang terukir anggun di papan kayu depan. Namun saat mengedarkan pandangan ke sekeliling, interior kafe itu justru didominasi warna abu-abu semen mentah dan ornamen serba hitam di setiap sudutnya.
"Nama kafenya Café Berwarna, tapi kok isinya enggak ada warnanya sama sekali sih, Mas?" tanyaku heran, menatap dinding-dinding polos itu.
Mas Adrian terkekeh renyah mendengar kepolosanku.
"Kita duduk di sana yuk. Itu tempat favorit Mas," tunjuknya ke arah area outdoor paling mojok. Tempat itu terasa sejuk dan rindang di bawah naungan pohon besar, dengan bangku tumpukan bata berselimut semen halus dan meja bundar berwarna hitam.
"Mas selalu duduk di sini? Sama pacar Mas, ya?" tebakku memancing.
Mas Adrian tersenyum manis. "Mas enggak pernah bawa cewek ke sini."
"Enggak percaya, ah."
"Kamu mau pesan apa?" tanya Mas Adrian cepat, mengalihkan pembicaraan.
"Air putih, kentang goreng, sama roti bakar cokelat keju... ada enggak, Mas?"
Mas Adrian tertawa kecil, menatapku takjub. "Wih, langka nih. Baru pertama kali Mas nemu cewek yang kalau ditanya mau pesan apa, jawabannya bukan terserah."
"Ah, Mas bisa aja! Ada enggak menu yang tadi aku sebutin?"
"Ada kok. Kalaupun enggak ada, nanti Mas ada-adain khusus buat Sera," godanya seraya mengedipkan sebelah matanya.
Tawa renyah meluncur dari bibirku. Mas Adrian kemudian beranjak melangkah menuju kasir. Dari tempatku duduk, kuperhatikan ia tampak begitu akrab berbincang dengan petugas kasir, sepertinya mereka sudah kenal dekat. Harus kuakui dari kejauhan, Mas Adrian memang memiliki pesona yang kuat. Ia begitu luwes, hangat, dan mudah bergaul. Mungkin benar kata Kania, pacarnya pasti banyak. Namun aku sendiri bingung mengapa aku bisa secepat ini merasa akrab dengannya. Mungkin karena selama ini aku sangat mengidamkan sosok seorang kakak laki-laki... dan berada di dekatnya membuatku merasa begitu nyaman dan terlindungi.
Tak lama, Mas Adrian berjalan kembali dan mendudukkan dirinya di sampingku.
"Lagi dibikin pesenannya, tunggu ya. Enggak lagi kelaparan banget, kan?" tanyanya lembut.
"Enggak kok, Mas, aman."
"Gimana adiknya Mas si Kania? Merepotkan enggak dia di sekolah?"
"Enggak kok, Mas. Cuma emang Kania agak manja ya?"
Mas Adrian tertawa lepas. "Memang manja banget dia itu! Tiap pagi aja selalu susah dibangunin, heran. Padahal udah gede, tapi kelakuannya masih kayak anak kecil."
"Lho, kata Kania dia sering telat itu gara-gara Mas yang susah dibangunin!" sanggahku membela sahabatku.
"Wah, fitnah itu," sahut Mas Adrian terkekeh.
Setelah percakapan singkat itu, keheningan mendadak merayap di antara kami. Suasana terasa sedikit canggung bagiku. Sementara Mas Adrian terlihat begitu santai, seolah sudah terbiasa duduk berdua dalam sunyi bersama seorang perempuan.
Tiba-tiba, dentupan instrumen musik dari panggung kecil di sudut kafe memecah canggung. Sebuah band lokal mulai memainkan lagu milik Green Day yang berjudul 21 Guns. Tanpa sadar, bibirku ikut bergumam menyanyikan liriknya yang familiar.
Mas Adrian memiringkan kepalanya, memperhatikanku seraya tersenyum. "Tahu lagu Green Day juga?"
"Tahu, Mas," jawabku tersenyum.
Tak berapa lama, seorang pelayan datang membawa nampan pesanan kami: semangkuk kentang goreng, roti bakar cokelat keju beraroma manis, dua botol air putih, dan setangkup piring berisi nasi gudeg.
Aku mengernyit heran menatap piring nasi gudeg itu. "Lho, Mas belum makan?"
Mas Adrian tersenyum tipis, matanya menerawang jauh. "Kenapa? Karena Mas pesan nasi gudeg? Mas kasih tahu ya, Sera... Cuma di sini nasi gudeg yang rasanya mirip sama buatan almarhumah Ibunya Mas. Jadi kalau lagi kangen sama masakan Ibu, Mas selalu lari ke sini."
Hatiku mencelos seketika. Rasa bersalah menyusup di dalam dada. "Maaf ya, Mas... Sera enggak tahu."
"Santai aja, Ser. Ayo makan. Mau cobain enggak? Sedikit aja... aaaa," ujarnya ramah, menyodorkan sesuap nasi gudeg dengan sendok ke arahku.
Aku membuka mulut dan menerima suapan itu. "Wah, iya Mas, enak banget!"
"Kamu suka?"
"Suka! Tapi Sera sebenarnya enggak terlalu suka masakan yang terlalu manis, hehe," akuisku jujur.
"Sama dong," sahut Mas Adrian tersenyum manis.
Aku menyantap kentang goreng dan roti bakarku perlahan, sesekali mencuri pandang pada Mas Adrian yang begitu menikmati gudegnya. Setiap kali mata kami tak sengaja beradu, aku terperanjat pelan dan buru-buru memalingkan pandanganku ke arah panggung band. Mas Adrian yang menyadari tingkah canggungku hanya tersenyum santai.
Selesai makan, piring nasi gudeg Mas Adrian ludes tak bersisa. Ia menelan seteguk air putih, lalu merogoh saku jaketnya untuk mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
"Enggak apa-apa kan kalau Mas merokok?" tanyanya meminta izin.
Aku sebenarnya kurang suka aroma asap rokok, tetapi rasanya tak enak hati jika harus melarangnya. "Sera enggak lihat ada tanda dilarang merokok sih di sini, Mas. Berarti boleh-boleh aja," jawabku diplomatis.
Mas Adrian tersenyum renyah, lalu menyesap rokoknya pelan.
"Suara vokalisnya bagus ya, Mas," ucapku mengalihkan perhatian pada panggung.
"Lumayan. Tapi sebenarnya dia enggak terlalu suka nyanyi," sahut Mas Adrian datar.
"Lho? Terus kenapa dia jadi penyanyi?"
Mas Adrian menghembuskan asap rokoknya, menyunggingkan senyum samar yang sulit diartikan. "Tidak semua hal di dunia ini berjalan sejalan sama apa yang kita mau, Sera."
Begitu band selesai menuntaskan lagu mereka, sang vokalis melangkah turun dari panggung dan berjalan menghampiri meja kami.
"Hei, bro! Sehat lo?" sapa pria itu merangkul bahu Mas Adrian akrab.
"Sehat, sehat... Lo gimana?"
"Gue aman. Tumben lo bawa cewek ke sini?"
"Kenalin, ini Sera. Dia bilang suara lo bagus tadi," ucap Mas Adrian mengenalkanku.
Pria itu menyunggingkan senyum ramah padaku. "Hai Sera, gue Bram. Thanks ya pujiannya!"
"Hai Kak Bram, aku Sera. Salam kenal ya! Keren banget tadi penampilannya," balasku tulus.
"Yan, gue duluan ya. Ada *job* di tempat lain soalnya," pamit Bram pada Mas Adrian.
"Wih, laku juga lo?"
"Lumayan lah! Gue duluan ya. Bye Sera, sampai ketemu lagi!" ucap Bram sebelum berlalu pergi.
Mendengar percakapan singkat Bram tadi, batin nuraniku membenarkan bahwa perkataan Mas Adrian soal dirinya yang tidak pernah membawa wanita ke sini ternyata bukan sekadar gombalan murah.
"Teman Mas banyak ya?" tanyaku.
"Kita kan memang harus memperbanyak teman," jawab Mas Adrian tersenyum hangat.
Kami menghabiskan waktu dengan berbincang banyak hal, hingga tanpa terasa sang waktu bergulir kian malam. Teringat janjiku besok, aku pun mengajak Mas Adrian untuk pulang.
"Pulang yuk, Mas, udah malam. Besok Sera ada janji sama teman."
"Ayok."
Kami berdua beranjak menuju meja kasir. Saat Mas Adrian merogoh dompetnya untuk membayar seluruh pesanan kami, mataku tak sengaja menangkap selipan foto seorang wanita di dalam dompetnya. Wanita itu berambut sebahu sepertiku, mengenakan kemeja kotak-kotak yang dimasukkan rapi ke dalam celana jins. Sangat cantik.
Kami keluar dari kafe. Hawa malam kota berembus teramat dingin meresap hingga ke tulang. Mas Adrian memacu sepeda motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Karena tumpaan angin kencang yang menusuk kulit, aku berteriak sedikit keras dari belakang, "Mas, pelan-pelan bawa motornya! Dingin!"
Bukannya memelankan laju kendaraan, Mas Adrian justru meraih kedua pergelangan tanganku, lalu menyilangkannya erat melingkari pinggangnya.
Sontak dadaku berdebar hebat, jantungku serasa melompat dari tempatnya.
"Biar enggak dingin lagi," bisiknya lembut di balik helm.
Setibanya di depan pagar rumahku, aku bergegas turun dan berusaha melepaskan pengunci helm. Karena engselnya agak keras, Mas Adrian ikut turun dan mengikis jarak untuk membantuku melepasnya. Jarak wajah kami yang teramat dekat membuat detak jantungku kembali bermaraton gila-gilaan.
"Udah," ucapnya lembut begitu helm terlepas sempurna.
"Makasih ya, Mas, udah traktir Sera hari ini. Nanti gantian Sera yang traktir Mas ya!"
Mas Adrian terkekeh manis. "Beneran ya? Nanti Mas tagih!"
"Iya, janji!"
"Yaudah, Mas pulang ya. Sana masuk," bisik Mas Adrian penuh kehangatan.
"Hati-hati di jalan ya, Mas."
Aku berdiri membatu memandangi punggungnya sampai deru motornya menghilang di belokan jalan.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar, aku langsung melempar tubuhku ke atas kasur dengan perasaan yang membuncah bahagia. Hari yang sungguh indah, gumamku dalam hati. Aku segera mandi dan berganti pakaian tidur. Selesai bersiap, kuambil ponselku untuk menghubungi Naura, mengingat janjiku ke rumahnya besok.
"Besok lo enggak ke mana-mana, kan? Gue jadi ya ke rumah lo," ketikku mengirim pesan.
Tak sampai satu menit, balasan dari Naura masuk:
"Oke, gue tunggu!"