Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:411.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Aruna Timur tidak ada di peta wisata.

Nama itu muncul sebagai kabupaten kecil di kepulauan timur, jauh dari pusat bisnis Jakarta, jauh dari rumah sakit besar, jauh dari panggung tempat orang-orang seperti Clara biasa memoles nama. Di mesin pencarian, hasilnya hanya sedikit: berita banjir lima tahun lalu, laporan kekurangan dokter, satu artikel tentang konflik lahan, dan foto puskesmas tua dengan cat dinding mengelupas.

Naira membaca semuanya sebelum subuh.

Ia duduk di laboratorium rumah Menteng, laptop terbuka, rekaman suara ibunya diputar berulang dengan volume rendah. Setiap kali suara Sari muncul, dada Naira seperti ditarik dari dalam.

Jangan lanjutkan uji itu.

Mereka memakai pasien tanpa izin.

Cari Aruna Timur.

Tiga kalimat.

Tidak cukup untuk menemukan ibunya.

Cukup untuk membuat Naira tidak bisa berhenti.

Surya masuk pukul lima pagi. Ia tidak tampak terkejut melihat putrinya belum tidur. Mungkin karena wajah seperti itu terlalu mirip Sari.

"Aruna Timur," katanya.

Naira mengangkat wajah. "Papa tahu?"

Surya duduk di kursi seberang. Untuk pertama kalinya sejak pulang, wajah pria itu terlihat benar-benar tua.

"Dulu Sari pernah menyebut daerah itu. Ada program kesehatan ibu dan anak yang disponsori perusahaan farmasi. Katanya program bagus, tapi datanya aneh."

"Cakradinata?"

"Belum jelas waktu itu. Nama sponsornya perusahaan kecil."

"Anak perusahaan."

Surya mengangguk. "Kemungkinan."

Naira membuka folder baru. "Aku butuh data penerbangan, daftar fasilitas kesehatan, laporan BPOM lama, dan siapa saja dokter yang pernah ditempatkan di sana."

"Bagas sudah mulai."

"Aku juga akan minta Prof. Hadi."

"Kamu akan pergi?"

Naira diam sebentar.

Di luar jendela, langit mulai biru gelap. Jakarta belum benar-benar bangun, tetapi di rumah itu orang-orang sudah bergerak. Tim legal, tim keamanan, staf ayahnya. Semua siap begitu ia memberi perintah.

"Belum," katanya. "Aku tidak akan datang tanpa mandat resmi. Kalau ini terkait uji klinik ilegal, aku harus masuk lewat jalur yang tidak bisa mereka bantah."

Surya menatapnya dengan mata yang sulit dibaca.

"Kamu belajar menahan diri."

"Aku belajar dari kesalahan orang-orang yang merusak nama Mama."

Surya tersenyum pahit. "Dia akan bangga."

Naira menatap layar laptop.

"Kalau Mama masih hidup..."

Kalimat itu berhenti.

Surya tidak memaksanya melanjutkan.

Ponsel Naira bergetar. Pesan dari Prof. Hadi.

Aku dengar soal Aruna Timur dari Bagas. Datang ke kampus pukul sembilan. Ada arsip yang dulu tidak berani kubuka.

Naira berdiri. "Aku mandi."

Surya juga berdiri. "Makan dulu."

"Pa."

"Sari juga selalu lupa makan kalau mengejar data. Dulu aku bodoh karena mengalah. Sekarang aku tidak."

Naira menatap ayahnya, lalu menyerah. "Sepuluh menit."

"Lima belas."

"Sepuluh."

Surya menghela napas. "Kamu benar anak ibumu."

Di kampus, Prof. Hadi menunggu di ruang arsip lama fakultas. Arman ada di sana, bersama seorang staf administrasi yang membawa kunci besar. Ruangan itu berbau kertas tua, AC lama, dan debu yang disembunyikan terlalu lama.

Prof. Hadi menyerahkan kotak tipis kepada Naira.

"Ini bukan arsip resmi. Ini salinan yang diberikan ibumu kepadaku sebelum dia menghilang."

Naira membuka kotak.

Di dalamnya ada foto puskesmas Aruna Timur, daftar kode pasien, dan lembar audit internal. Beberapa nama dicoret. Beberapa diberi tanda merah.

Arman menunjuk salah satu halaman. "Kak, lihat tanggalnya."

Tanggal itu lima tahun lalu.

Tiga minggu sebelum Naira diserang di pos medis perbatasan.

"Ini bukan kebetulan," kata Naira.

Prof. Hadi mengangguk. "Ada satu lagi."

Ia mengambil kaset rekaman digital kecil dari amplop.

"Sari menitipkan ini dengan pesan, kalau sesuatu terjadi, berikan kepada Naira hanya jika dia sudah siap. Aku tidak tahu kapan seseorang siap mendengar suara ibunya mungkin meminta tolong."

Naira menatap kaset itu.

Jarinya tidak langsung bergerak.

Arman menunduk. Bahkan ia yang biasanya cerewet tahu kapan harus diam.

Naira akhirnya mengambilnya.

"Putar."

Prof. Hadi memasukkan file ke pemutar.

Suara noise terdengar, lalu suara Sari. Kali ini lebih jelas daripada file dari ponsel burner.

Hadi, kalau kamu mendengar ini, berarti aku gagal menghentikan mereka lewat komite.

Suara Sari terdengar lelah, tetapi tegas.

Mereka tidak hanya memalsukan persetujuan pasien. Mereka memakai kelompok rentan di Aruna Timur sebagai basis uji awal. Ada anak-anak dengan kelainan vaskular yang tidak pernah dilaporkan. Sponsor utama bukan nama di dokumen. Cari Cakradinata.

Naira menutup mata.

Suara ibunya berlanjut.

Kalau aku hilang, jangan percaya berita bahwa aku membawa dana. Aku menyimpan salinan data di tempat yang hanya Naira pahami.

Rekaman berhenti beberapa detik.

Lalu Sari berkata lebih pelan.

Naira suka menggambar perahu di balik buku anatomi ayahnya. Dia selalu membuat layar perahunya menghadap timur.

Rekaman selesai.

Naira membuka mata.

"Perahu," bisik Arman.

Prof. Hadi menatap Naira. "Kamu tahu maksudnya?"

Naira tidak langsung menjawab.

Ingatan kecil datang seperti lampu yang menyala satu per satu. Ia berumur delapan tahun, duduk di ruang kerja ayahnya, menggambar perahu di halaman kosong buku anatomi. Ibunya tertawa dan berkata, "Kalau tersesat, lihat ke mana layar perahumu menghadap."

Di rumah lama Menteng, ada rak buku ayahnya.

Di balik salah satu buku anatomi, mungkin masih ada gambar itu.

Naira berdiri.

"Aku harus pulang."

Di saat yang sama, pintu ruang arsip terbuka.

Dimas berdiri di luar.

Arman langsung mengerutkan kening. "Anda tidak boleh masuk."

Dimas tampak terburu-buru. "Aku datang mencari Prof. Hadi. Ada masalah."

Naira menatapnya dingin. "Masalah perusahaan?"

"Bukan." Dimas menatap Prof. Hadi, lalu Naira. "Clara dibebaskan sementara tadi pagi. Setelah itu dia menghilang. Rendi bilang sebelum dibawa polisi kemarin, dia sempat menyebut nama Aruna Timur."

Ruangan membeku.

Naira melangkah mendekat. "Kamu yakin?"

"Rendi baru berani bilang karena takut terlibat lebih jauh."

"Kenapa kamu memberitahuku?"

Dimas menatapnya lama.

"Karena kali ini aku tidak mau terlambat."

Naira tidak menjawab.

Ponselnya bergetar.

Raka.

Ia mengangkat.

Suara Raka terdengar rendah. "Clara Larasati baru saja terlihat masuk kantor perwakilan Cakradinata Farma."

Naira menatap Dimas.

Untuk pertama kali, informasi dari Dimas dan Raka bertemu di titik yang sama.

Aruna Timur.

Naira menutup telepon.

"Prof, amankan semua arsip. Arman, salin daftar pasien. Maya harus siapkan permintaan resmi ke BPOM dan Kemenkes."

Dimas bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan?"

Naira mengambil tasnya.

"Mencari tempat ibuku menyembunyikan kebenaran."

"Dan Clara?"

Naira berhenti di pintu.

"Kalau dia memilih berdiri bersama orang yang mencuri nyawa pasien, dia bukan lagi sekadar perempuan yang merebut perhatian suamiku."

Matanya dingin.

"Dia bagian dari kasus."

Dimas tidak mampu membantah.

Di luar gedung fakultas, hujan turun lagi. Naira berjalan menembusnya tanpa menunggu payung.

Di tangannya, kotak arsip ibunya terasa ringan.

Tapi arah yang ditunjukkannya membawa beban seluruh masa lalu.

Di kantor perwakilan Cakradinata Farma, Clara duduk di ruang tunggu dengan tangan dingin.

Seorang pria berjas abu-abu baru saja mengambil ponselnya dan memintanya menunggu. Tidak ada teh. Tidak ada senyum. Tidak ada panggilan "Dokter Clara" yang biasa ia terima di rumah sakit.

Ia mulai sadar, di tempat ini ia bukan tamu penting.

Ia alat.

Pintu di depannya terbuka. Pria berjas abu-abu kembali dan berkata, "Ibu Clara, keluarga kami bisa membantu Anda membersihkan nama. Tapi Anda juga harus membantu kami."

Clara menelan ludah. "Membantu apa?"

Pria itu tersenyum tanpa hangat.

"Yakinkan Dimas Mahendra bahwa Naira Atmadja berbahaya. Kalau perlu, buat dia percaya Naira yang menghancurkan ibunya sendiri."

Clara merasa darahnya dingin.

Namun ketika ia mengingat Dimas yang tidak membalas pesannya, wajah Naira di ballroom, dan semua orang yang mulai berpindah arah, ia mendengar dirinya bertanya pelan.

"Apa yang harus saya lakukan?"

Pria itu mendorong sebuah map tipis ke meja.

"Mulai dari ini. Besok, pastikan Dimas melihatnya."

Clara membuka map itu sedikit.

Di dalamnya ada foto lama Dr. Sari Anggraini berdiri di depan puskesmas Aruna Timur bersama beberapa pasien anak. Di bagian bawah foto, ada stempel merah: investigasi dihentikan karena pelanggaran etik.

Clara tahu foto itu belum tentu menjelaskan kebenaran.

Tapi ia juga tahu foto bisa melukai lebih cepat daripada kebenaran.

Ia menutup map.

"Baik," katanya.

1
say't
busyet nih clara sdh tdr sm siapa ja y 🤪 kok berani skl
Sumiyatun Martoyo
iya. ini sudah dilewati
say't
kalo aq jd naira aq racun ni 3 org menjijikkn 🤪
Tuti irfan
seru cerita nya , ak suka ceritanya TDK melulu tentang romansa Ceo penuh intrik dan misteri 😍😍👍👍👍
Katherina Ajawaila
mending pakai topeng langsung aja Dimas, cabut 5 hurup
Katherina Ajawaila
makin seru aja thour, cara dan ibunya sama ja penjahat berkedok mana ada ibu mau membunuh anak nya sendiri. dasar pelakor ngk mutu
Debbie Teguh
seru banget!
Katherina Ajawaila
Clara kamu itu ibarat anak ayam yg BB aru netes jgn sombong di pites juga modar. Dimas mau di andalan, Domas aja parasit yg ngumpet di kaki rok Naira 🫣
Katherina Ajawaila
maka nya jd Suami harus bisa adil kalau sdh brani melangkah kedepan, dasar nya aja kere, mau sombong kacang lupa kulit nya, kalau smua di tarik sm Naira, jadi apa parasit
Katherina Ajawaila
kere tapi belagu, biasa parasit
Ken L
kenapa cerita diulang2 ya...supaya kelihatan isi bab ceritanya penuh?
Abie Mas
raka love naira
Heni Setiyaningsih
heran ya,pemili perusahaan kok gk mau beli rumah sendiri,gk malu apa numpang dirumah calon mantan istri 🤭
Wahyu Kasep
jalan ceritanya bagus menarik tegang tapi sepi pembaca gak ada yang komentar
Nengs
bagus cerita wlpun harus benar2 paham
yuqana
bagus banget novelnya 😍😍😍🥰🥰🥰
Dewa Nara
astagaaaaa... pengulangan lagiiiii
Dewa Nara
kok ada pengulangan lagi 🤭
Dewa Nara
ada pengulangan alinea Thor
Dewa Nara
wah ceritanya bukan hanya masalah rumah tangga nih 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!