Indonesia
NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​Langkah kaki Hanum mengekor di belakang punggung tegap Tian saat mereka memasuki area dalam restoran steik premium tersebut. Desain interior bergaya industrial modern dengan pencahayaan temaram yang hangat serta alunan musik jazz lembut langsung menyambut kedatangan mereka. Seorang pelayan wanita berpakaian rapi dengan ramah menuntun mereka menuju sebuah meja kayu besar yang terletak di sudut ruangan yang cukup privat, tepat di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalanan kota.

​Tian menarik kursi kayu berlapis kulit itu dengan gerakan taktis, lalu duduk dengan tegap tanpa ekspresi manis sedikit pun di wajahnya. Hanum pun mengambil posisi duduk tepat di hadapan Tian, meletakkan tas jinjingnya di samping kursi dengan anggun.

​Pelayan wanita itu dengan sigap berdiri di samping meja mereka, memegang gawai pencatat pesanan digital dengan senyum profesional yang merekah. Namun, kehangatan pelayanan itu tidak mampu mencairkan atmosfer kaku yang mendadak kembali menguar dari tubuh Tian.

​Pria itu melirik sekilas ke arah menu, lalu mendongak menatap Hanum yang hanya duduk diam sambil melipat kedua tangannya di atas meja. Alis tebal Tian seketika bertaut, memancarkan binar protes yang sangat kentara.

​"Kamu tidak pesan?" tanya Tian, nadanya terdengar ketus dan dingin seperti biasanya.

​Hanum tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, Kak. Aku masih kenyang karena tadi siang makan cukup banyak di rumah Mama. Aku di sini hanya menemani Kak Tian makan saja."

​Mendengar kata hanya menemani, rahang tegas Tian justru semakin mengeras. Pria kaku itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Hanum dengan pandangan mata elangnya yang sarat akan rasa risih yang luar biasa. Baginya, konsep hanya menemani saat makan adalah sesuatu yang sangat tidak masuk akal dan mengganggu kenyamanannya.

​"Saya tidak suka dikasihani, Hanum," protes Tian langsung tanpa tedeng aling-aling. "Dan saya jauh lebih tidak suka jika harus menyantap makanan saya sementara ada orang di depan saya yang hanya duduk diam sambil melihat ke arah saya. Itu membuat saya tampak seperti tontonan sirkus."

​Hanum sempat tertegun selama beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas pendek. Dia mencoba bersabar menghadapi tingkat sensitivitas kakak ipar tirinya yang setinggi langit ini.

​"Kak, aku tidak akan melihat Kakak makan," balas Hanum mencoba membela diri dengan nada selembut mungkin. "Aku bisa melihat ke luar jendela kaca ini, atau aku bisa main ponsel selama Kakak menghabiskan steik Kakak. Aku sama sekali tidak berniat menjadikan Kakak tontonan sirkus."

​Namun, bukan Tian namanya jika tidak memiliki argumen balasan yang sarat akan logika kaku dan mutlak. Pria itu mendengus pelan, lalu mengeluarkan sebuah pernyataan yang membuat Hanum seketika kehilangan kata-kata.

​"Kamu duduk tepat di depan saya, Hanum," ucap Tian dengan wajah yang sangat lempeng, menunjuk posisi duduk mereka dengan isyarat dagu. "Secara anatomi biologis, mata manusia itu menghadap ke depan, bukan ke samping. Selama kamu masih duduk di kursi itu, bayangan tubuh saya akan tetap masuk ke dalam kornea matamu. Bagaimana bisa kamu mengklaim tidak akan melihat saya? Kamu sedang mencoba membohongi hukum sains?"

​Mendengar khotbah absurd tentang anatomi biologis dan hukum sains hanya karena urusan posisi duduk di restoran, tingkat kesabaran Hanum yang tadinya setinggi gunung mendadak ambles ke dasar bumi. Rasa kesal yang sejak tadi ditahannya akibat kelakuan labil sang kakak ipar akhirnya mulai menyembul ke permukaan. Wajah anggun Hanum sedikit menekuk, mengekspresikan kekesalannya secara terang-terangan.

​"Ya sudah kalau begitu, Kak," ujar Hanum dengan nada ketus yang mulai tidak bisa disembunyikan lagi. Dia bersiap memegang tasnya, hendak berdiri dari kursi. "Daripada hukum sains kita rusak, saya pindah duduk saja ke meja kosong yang di sebelah sana. Biar Kakak bisa makan dengan tenang tanpa perlu masuk ke dalam kornea mata saya."

​Namun, baru saja Hanum hendak terangkat dari kursi, sebuah teguran dingin kembali meluncur dari bibir Tian, menahan pergerakan Hanum secara mutlak.

​"Jangan pindah," larang Tian, nadanya terdengar mendikte dan sangat menyebalkan di telinga Hanum.

​Hanum seketika kembali terduduk dengan kasar di kursinya. Dia menatap Tian dengan pandangan mata yang mulai menyalang penuh kekesalan. "Loh, kenapa lagi, Kak? Jangan pindah, tapi di sini saya dianggap merusak pemandangan Kakak karena duduk di depan. Kakak kan tadi sendiri yang bilang kalau saya bakalan melihat Kakak terus-menerus selama makan!"

​Tian memperbaiki posisi duduknya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi yang luar biasa datar dan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

​"Saya tidak suka makan sendirian," jawab Tian pendek, seolah kalimat itu adalah kesimpulan paling logis dari seluruh perdebatan kusir mereka sejak tadi. "Kalau kamu pindah meja, itu artinya saya makan sendirian di restoran ini. Saya benci terlihat seperti pria kesepian yang tidak punya teman."

"​Astagfirullah!"

​Hanum langsung diam seribu bahasa, sementara di dalam dadanya, seluruh urat sarafnya rasanya ingin putus satu per satu. Napasnya tertahan di tenggorokan karena menahan gejolak emosi yang luar biasa absurd.

​"Laki-laki ini... ya Tuhan! Kenapa ada manusia seegois, segengsi, dan semenyebalkan ini di dunia?! Di depan dibilang merusak kornea mata, disuruh pindah malah dibilang bikin dia kelihatan kesepian! Mau kamu apa, Tuan Monster Es?! Kalau bukan karena kamu sudah menolong aku dan anak-anak dari Hanif, sudah aku siram muka kaku kamu itu pakai es teh manis!." Hanum berteriak frustrasi di dalam batinnya.

​Dia mencaci-maki Tian habis-habisan di dalam pikirannya sendiri, meskipun di dunia nyata dia hanya mampu mengepalkan tangannya di bawah meja dan membuang muka dengan napas yang memburu kesal. Dia benar-benar tidak memiliki keberanian mutlak untuk mengeluarkan umpatan itu secara lisan di depan wajah menyeramkan Tian.

​Sementara itu, pelayan wanita yang sejak tadi berdiri setia di samping meja mereka hanya bisa berdiri mematung dengan gawai digital yang masih menyala di tangannya. Pelayan itu berulang kali mengembuskan napas pelan secara tersembunyi, matanya melirik canggung bergantian ke arah Hanum yang wajahnya sudah memerah menahan kesal, dan ke arah Tian yang masih memasang wajah lempeng tanpa dosa. Pelayan itu sepertinya merasa sedang terjebak di tengah-tengah pertengkaran rumah tangga sepasang suami istri yang sedang mengalami krisis komunikasi tingkat tinggi.

​Menyadari bahwa situasi ini sudah mulai menarik perhatian dan membuat sang pelayan menunggu terlalu lama karena perdebatan konyol mereka, Hanum akhirnya memilih untuk mengalah demi menjaga kesopanan di tempat umum. Dia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menstabilkan detak jantungnya yang sempat melonjak akibat ulah Tian.

​"Maaf ya, Mbak... maaf," ucap Hanum akhirnya dengan nada suara yang dibuat seikhlas mungkin, meskipun senyumnya terlihat sangat dipaksakan. Dia kemudian menoleh ke arah pelayan wanita di sampingnya. "Mbak, maaf ya membuat menunggu lama. Kalau begitu, saya mau memesan camilan saja.

Tolong beri saya satu porsi truffle fries dan satu cangkir chamomile tea hangat."

​Mendengar Hanum akhirnya memutuskan untuk memesan makanan, Tian bukannya merasa lega atau berterima kasih karena perdebatan mereka berakhir. Sebaliknya, pria kaku itu justru mendengus sinis, melirik Hanum dari sudut matanya, dan langsung melayangkan kalimat menyebalkan lainnya yang kembali menyalahkan Hanum sepenuhnya atas kejadian barusan.

​"Nah, kan..." ketus Tian dengan nada suara yang sangat menyebalkan, seolah dia adalah pihak yang paling benar sejak awal. "Kamu tinggal pesan camilan dari tadi, jadi tidak perlu membuat Mbaknya ini berdiri menunggu terlalu lama dan membuang waktu kerjanya secara tidak efisien. Kamu ini selalu suka memperumit hal yang sebenarnya sangat sederhana."

​Hanum seketika meremas sapu tangan di bawah meja dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Jika pandangan mata bisa membunuh, Tian dipastikan sudah mencair menjadi genangan air akibat tatapan maut yang dilayangkan Hanum saat ini.

​"Heh, Tuan Dingin! Yang membuat Mbak ini menunggu lama itu KAMU, ya! Yang memperumit masalah sains dan kornea mata itu KAMU! Kenapa sekarang malah aku yang dibilang bikin lama?!." umpat Hanum lagi di dalam hati, dadanya naik turun menahan rasa gemas yang teramat sangat untuk mencakar wajah kaku kakak ipar tirinya itu.

​Tian kemudian kembali menoleh ke arah pelayan dengan gerakan kaku yang sarat akan wibawa otoriter. "Untuk saya, satu porsi Wagyu Ribeye tingkat kematangan medium rare dengan saus mushroom. Dan minumnya air mineral dingin saja. Ini saja, Mbak. Terima kasih," ucap Tian, menutup buku menu dengan ketukan pelan yang tegas.

​"Baik, Tuan, Nyonya. Mohon ditunggu pesanannya, ya," jawab pelayan wanita itu dengan senyum yang tampak sangat lega karena akhirnya bisa melarikan diri dari pusaran energi kaku di meja tersebut.

​Pelayan itu segera berbalik dan berjalan cepat menuju dapur belakang, meninggalkan dua orang dewasa yang kini kembali terperangkap di dalam keheningan yang sarat akan rasa kesal yang tertahan di satu pihak, dan rasa lempeng tanpa dosa di pihak lainnya.

1
Ning Suswati
benar juga sih, lapar dg kelaparan beda jauh, dasar pebisnis, setiap kata2 akan membunuh lawan secara telak
Ning Suswati
awas lho kak tian, jgn sampai kesandung kakinya sendiri dlm mengawal hanum🤭🤭
Ning Suswati
selaku ortunya hajum jelas2 emosi mendengar anaknya di sakiti oleh laki2 gk tau diri, tapi besan yg dlm hukum orang lain berani memasang badan untuk anaknya, dan sampai mobil beriringan berarti banyak dong bawa pengawal
Ning Suswati
dasar manusia watak gk akan berubah, penampilan bisa dirubah, bagi manusia gk tau diri jadi besar kepala dan sombong
Ning Suswati
waaaw keberuntungan masih ada di pihak hanum, sdh dihianati suami dan mertua tapi orang lain bahkan sangat peduli
Ning Suswati
kaya nya kak tian ada sesuatu deh
Ning Suswati
jangan2 kak tian menunggu jandamu🤭
Ning Suswati
masih ada y manusia berhati malaikat, menyayangi menantu dr anak bawaan isteri, begitu mulia hatinya, tapi jgn sampai ada udang dibalik gandum dong
Ning Suswati
bagus deh, hukumannya rasanya setimpal, tapi ini belum selesai, bahkan pertunjukan ini baru mulai
Ning Suswati
syukur deh kalau pa2 tirinya hanif sdh ada, bisa dilihat mereka bukanlah siapa2 dan bukanlah apa2
Ning Suswati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
bagus deh, mokondo aja belahu bawa2 madu kerumah utama, aq suka harum beraksi jadi sakit perut, mules menghadapi suami gk tau diri
Ning Suswati
ya tuhan, laki2 mokondo gk tau diri banget, semoga siksaan dan karma telah menghianati isteri sah
Ning Suswati
coba aja kalau berani mau tinggal satu atap dg hanum yg kepemilikannya sah secara hukum,
Ning Suswati
hhhhh nikmatilah hanif yg akan menikah karena ibadah, terus sama isteri sah itu statusnya apa y, satu aja gk mampu ngasih nafkah, dasar mokondo
Ning Suswati
waaau aq rasa segera menyelamatkan jantung q coy, istirahat dulu deh🤣🤣, tegang terus sih di mana2 yg namanya perselingkuhan itu menguras tenaga, pikiran dan jantung
Ning Suswati
jangan sampai hanif ingkar untuk mememberikan tanda tangannya, demi restu dari isteri sah biar nafsu iblisnya dapat cepat dia gapai bersama sarah, dan satu lagi belum nikah aja kok sarah sdh dianggap isteri pertama, padahan kan minggu depan baru nikahan sirih
Ning Suswati
semoga rencana hanum berjalan lancar, dg alasan sdh memberikan izin untuk dimadu, kalau laki2 jantan tdk akan melakukan hal2 bodoh, yg dikendalikan nafsu iblis ingin paligami🤣🤣🤣
Ning Suswati
waaauuuu jadi ikutan emosi, sebaiknya hanum segera memberi tahu segera kepada kepala keluarga yg sangat dihormati laupun ayah tiri.
Ning Suswati
bagus deh, jadikan gembel seluruh kekuarganya, emang laki2 itu harus diberikan pelajaran yg setimpal, alasan bakti pada ibu, ibu seperti itu pendosa besar,
Sriza Juniarti
wow kereen...ini baru namanya...wanita independen .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!