Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Rantai besi raksasa yang menopang Jembatan Gantung Batu Kapur berderit pelan setiap kali terpaan angin jurang bertiup kencang.

Di bawah jembatan, jurang kabut putih terhampar sedalam seribu meter, menelan bebatuan runcing di dasar tebing yang tak terlihat oleh mata fana. Jembatan gantung ini merupakan satu-satunya jalur penghubung antara Paviliun Puncak Utama dan kompleks Balai Pedang.

Gu Ran melangkah santai di atas papan kayu jembatan, mengunyah sepotong manisan buah kering dengan tempo lambat.

Di sampingnya, Xiao Zhu yang kini mengenakan jubah pelayan sutra abu-abu baru tampak berjalan hati-hati sambil memeluk kotak makanan giok. Di belakang mereka berdua, Song Ming mengekor dengan wajah kaku dan sepasang mata yang terus melirik ke bawah jembatan, memastikan papan kayu yang diinjak Gu Ran tidak ada yang lapuk.

Namun begitu mereka tiba di sepertiga jembatan, langkah kaki mereka terhenti.

Tiga pemuda berjubah biru laut bersulam benang perak berdiri menghadang di ujung jembatan batu. Di pinggang mereka masing-masing, tergantung pedang pusaka dengan rumbai giok biru yang menandai status mereka sebagai murid inti terbaik Balai Pedang.

Pemuda yang berdiri di tengah bernama Fang Chen. Rambut hitamnya terikat mahkota perak tinggi, sementara dagunya terangkat dengan ekspresi angkuh menatap ke arah Gu Ran.

Kabar mengenai budak penempa yang mendadak menaiki tandu emas dan memperbudak Tuan Muda Sekte telah membakar amarah seluruh murid inti selama tiga hari terakhir. Bagi mereka yang menghabiskan belasan tahun berlatih pedang demi kehormatan sekte, pemandangan ini adalah penghinaan terbesar.

“Sekte Pedang Langit benar-benar sudah kehilangan martabat,” ujar Fang Chen dengan suara lantang yang membelah desau angin jurang.

Dua murid inti di sampingnya tertawa sinis, menyilangkan tangan di depan dada.

“Seorang budak ber-meridian cacat yang biasa mencuci arang di tungku,” lanjut Fang Chen sambil menatap jubah sutra putih Gu Ran dengan tatapan merendahkan, “kini mengenakan sutra kekaisaran dan berjalan bebas di jembatan suci para pendekar pedang.”

Song Ming yang berdiri di belakang Gu Ran seketika tersentak kaget. Seluruh bulu kuduk di tubuh sang Tuan Muda meremang hebat saat melihat tangan kanan Fang Chen mulai menyentuh gagang pedang di pinggangnya.

“Fang Chen! Tutup mulutmu!” teriak Song Ming dengan suara melengking panik.

Song Ming melompat maju ke samping Gu Ran. Matanya melotot liar ke arah ketiga murid inti tersebut.

“Kalian bertiga sudah gila?!” bentak Song Ming dengan napas tersengal menahan ngilu di dadanya. “Cepat berlutut dan buang pedang kalian ke jurang! Jangan berani-berani bernapas kasar di depan Tuan Muda Gu!”

Fang Chen mengerutkan keningnya, menatap Song Ming dengan pandangan tak percaya.

“Tuan Muda Song,” kata Fang Chen dengan nada kecewa bercampur ejekan. “Kami mengira kabar tentang Anda menjadi pesuruh budak ini hanyalah fitnah keji sekte musuh. Tapi melihat Anda membentak saudara seperguruan sendiri demi melindungi sampah penempa ini… rupanya nyali pendekar Anda sudah benar-benar remuk.”

“Bajingan bodoh, kalian tidak tahu apa-apa—” jerit Song Ming frustrasi.

“Cukup!” potong Fang Chen tajam.

SRING!

Fang Chen mencabut pedang pusakanya dari sarung perak. Bilah pedang berdesing nyaring di udara, memancarkan hawa dingin bertekanan Qi Tingkat 8 Pemurnian Qi yang langsung membekukan kabut tipis di sekeliling jembatan.

Ujung pedang itu terarah lurus ke kening Gu Ran.

“Aku tidak peduli sihir sesat apa yang kau gunakan untuk membodohi Kakek Leluhur dan Patriark,” desis Fang Chen dengan mata menatap tajam ke arah Gu Ran. “Tapi di Balai Pedang, hanya ada hukum bilah pedang. Parasit pengecut yang tidak bisa memegang pedang sepertimu tidak berhak menginjakkan kaki di tanah ini!”

Xiao Zhu memucat ketakutan, buru-buru bergeser ke belakang Gu Ran dengan tubuh gemetar.

Song Ming panik setengah mati. Tangan kanannya meraba sarung pedangnya sendiri, berniat menyerang Fang Chen demi mencegah ujung pedang itu mendekati Gu Ran.

Namun sebelum Song Ming sempat bergerak, Gu Ran mengulurkan tangan kanannya, menahan dada Song Ming dengan gerakan santai.

Gu Ran melangkah maju satu langkah.

Wajah pemuda berambut putih itu tetap tenang tanpa riak emosi sedikit pun. Sepasang mata kelabunya yang sayu memandang bilah pedang tajam di depan hidungnya seolah sedang memandang sebatang ranting pohon yang patah.

Tangan kiri Gu Ran meraih kerah jubah sutra putihnya sendiri.

Dengan gerakan perlahan dan tanpa ragu, Gu Ran menarik kerah bajunya ke samping, menyingkap kain sutra hingga memperlihatkan kulit dada dan ulu hatinya yang putih pucat tanpa perlindungan pelindung Qi sedikit pun.

Sudut bibir Gu Ran terangkat tipis dalam senyuman datar yang mengejek.

“Pedangmu mengkilap bagus,” kata Gu Ran dengan suara pelan dan serak santai. “Ujungnya tajam, hawa pedangnya juga lumayan dingin.”

Gu Ran mengetuk tulang rusuk kirinya dua kali dengan jari telunjuknya.

“Tusuk tepat di sini,” ujar Gu Ran santai sambil menatap lurus ke pupil mata Fang Chen. “Jangan meleset. Tusuk sedalam tiga inci sampai tembus ke belakang kalau kau memang punya nyali.”

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!