Indonesia
NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Secangkir Kopi dan Kenangan Lama

Setelah beberapa hari melelahkan menyusun strategi menghadapi Ratna, Raka menyarankan agar Kirana sesekali mengambil waktu untuk dirinya sendiri, mengingat kondisi Bapak sudah cukup stabil untuk ditinggal sejenak di bawah pengawasan perawat dan anggota keluarga lainnya.

"Kamu terlihat kelelahan," ujar Raka suatu sore, saat kebetulan berpapasan dengan Kirana di lorong rumah sakit. "Kapan terakhir kali kamu benar-benar istirahat?"

"Aku tidak ingat," Kirana tertawa kecil, meski matanya menunjukkan kelelahan yang nyata. "Rasanya sudah berhari-hari aku hidup dari kopi dan kekhawatiran."

"Bagaimana kalau kita cari kopi yang lebih enak dari yang ada di kafetaria rumah sakit?" tawar Raka, senyumnya menampilkan sedikit kejenakaan yang mengingatkan Kirana pada sosoknya semasa remaja. "Aku tahu tempat bagus tidak jauh dari sini. Kau butuh jeda sebentar, dan aku juga baru selesai shift."

Kirana ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. "Kenapa tidak."

Mereka berjalan bersama menuju sebuah kedai kopi kecil beberapa blok dari rumah sakit, tempat yang ternyata sudah lama menjadi langganan Raka di sela-sela waktu istirahatnya yang jarang. Suasana kedai itu tenang, dengan pencahayaan hangat dan musik instrumental pelan yang mengalun di latar belakang, jauh berbeda dari suasana rumah sakit yang selalu tegang.

"Jadi," Raka memulai setelah pesanan mereka datang, "bagaimana rasanya kembali ke kota ini setelah delapan tahun?"

Kirana menghela napas, memainkan sendok kecil di cangkir kopinya. "Rumit. Menyakitkan, tapi juga... entahlah, ada semacam kelegaan juga, meski situasinya jauh dari ideal."

"Aku bisa bayangkan," Raka mengangguk paham. "Aku dengar soal Denis dari beberapa orang di rumah sakit yang kebetulan tahu keluargamu. Tapi aku tidak pernah menyangka kamu akan menghadapinya dengan cara sedewasa ini."

"Aku tidak selalu dewasa soal ini," Kirana tertawa getir. "Awalnya aku hampir menghancurkan semuanya dengan amarahku. Tapi entah kenapa, situasi memaksa kami semua untuk cepat belajar berdamai, atau setidaknya berusaha."

Mereka terdiam sejenak, menikmati kopi masing-masing sambil membiarkan keheningan nyaman mengalir di antara mereka—keheningan yang mengingatkan Kirana pada masa kecil mereka, saat mereka bisa duduk berjam-jam tanpa perlu mengisi setiap detik dengan kata-kata.

"Aku sering memikirkanmu, tahu," Raka akhirnya berkata, suaranya lebih pelan, hampir seperti pengakuan yang sudah lama ia tahan. "Setelah kamu pergi delapan tahun lalu, tanpa kabar sama sekali. Aku sempat mencoba mencarimu, tapi kamu seperti menghilang begitu saja."

Kirana merasakan sesuatu bergejolak di dadanya—rasa bersalah bercampur haru. "Aku minta maaf, Raka. Waktu itu aku terlalu terluka untuk memikirkan siapa saja yang mungkin kutinggalkan, termasuk kamu."

"Aku tidak menyalahkanmu," Raka cepat menjawab, tangannya sedikit terulur di atas meja, seolah ingin menggenggam tangan Kirana tapi menahan diri di detik terakhir. "Kita semua masih muda waktu itu, dan situasimu jauh lebih rumit dari yang kubayangkan. Aku hanya... aku hanya senang kamu akhirnya pulang, meski dengan alasan yang menyakitkan."

"Aku juga senang bertemu kamu lagi," Kirana tersenyum tulus, merasakan kehangatan yang familiar namun juga baru di saat bersamaan. "Kamu banyak berubah. Dalam artian baik."

"Kamu juga," Raka membalas senyum itu. "Lebih kuat dari yang kuingat, meski aku tahu betapa beratnya yang sedang kamu jalani sekarang."

Percakapan mereka mengalir alami setelahnya, membicarakan berbagai hal—kenangan masa kecil yang lucu, perjalanan karier masing-masing selama delapan tahun terpisah, hingga impian-impian yang dulu pernah mereka bicarakan namun kini terasa jauh berbeda dari kenyataan yang mereka jalani.

"Kamu masih ingat waktu kita berjanji akan keliling dunia bersama setelah lulus kuliah?" tanya Kirana, tertawa mengenang kenaifan masa muda mereka.

"Tentu saja," Raka tertawa juga. "Rencana yang sangat ambisius untuk dua remaja yang bahkan belum pernah naik pesawat sebelumnya."

"Hidup benar-benar tidak sesuai rencana, ya," Kirana menghela napas, meski kali ini dengan nada yang lebih ringan dari sebelumnya.

"Tidak selalu buruk juga," Raka menanggapi. "Aku jadi dokter, seperti yang selalu aku impikan sejak kecil. Dan kamu jadi desainer grafis yang cukup sukses, kalau yang aku dengar benar."

"Bagaimana kamu tahu itu?" Kirana terkejut.

Raka sedikit tersipu. "Aku... sesekali mencari kabarmu di media sosial. Bukan untuk menguntit, hanya penasaran bagaimana kabarmu."

Kirana tertawa mendengar pengakuan jujur itu, merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan dalam hubungan dengan siapa pun. "Tidak apa-apa, aku juga sesekali melakukan hal yang sama."

Mereka saling pandang sejenak, ada sesuatu yang tidak terucap namun terasa jelas mengalir di antara mereka—benih perasaan lama yang mungkin tidak pernah benar-benar padam, hanya tertidur menunggu waktu yang tepat untuk kembali tumbuh.

Ponsel Kirana tiba-tiba berbunyi, memecah momen intim itu. Ia melihat layarnya—pesan dari Sari.

*"Kirana, ada masalah. Ibu tiba-tiba pingsan di rumah sakit. Sekarang sedang diperiksa dokter."*

Wajah Kirana langsung berubah panik. "Aku harus kembali. Ibu pingsan."

"Ayo," Raka segera bangkit, meninggalkan uang di meja tanpa sempat menunggu kembalian. "Aku antar kamu."

Mereka bergegas kembali ke rumah sakit, momen hangat yang baru saja mereka nikmati kini digantikan oleh kekhawatiran baru yang mendesak. Di sepanjang perjalanan, Kirana tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan terburuk—apakah kelelahan mengurus Bapak akhirnya berdampak pada kesehatan Ibu juga?

Sesampainya di rumah sakit, mereka mendapati Sari duduk gelisah di ruang tunggu, wajahnya pucat.

"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Kirana cepat.

"Dokter bilang cuma kelelahan dan tekanan darah rendah karena kurang istirahat dan makan," jelas Sari, meski masih terlihat khawatir. "Tapi mereka menyarankan Ibu untuk rawat inap semalam untuk observasi."

Kirana merasakan kelegaan bercampur rasa bersalah. Mereka semua begitu fokus pada kondisi Bapak dan ancaman dari Ratna, hingga lupa memperhatikan kesehatan Ibu yang juga menanggung beban emosional luar biasa selama beberapa hari terakhir.

"Kita perlu lebih memperhatikan diri kita sendiri juga," gumam Kirana, lebih pada dirinya sendiri. "Kalau kita semua jatuh sakit, siapa yang akan menjaga Bapak?"

Raka menepuk pundaknya lembut, memberikan dukungan tanpa kata-kata. Malam itu, sekali lagi, keluarga Wijaya diingatkan bahwa perjuangan mereka bukan hanya soal menghadapi ancaman dari luar, tapi juga soal menjaga diri mereka sendiri agar tetap kuat menghadapi apa pun yang akan datang berikutnya.

Kirana duduk di samping ranjang Ibu setelah wanita itu dipindahkan ke kamar rawat inap sementara, memperhatikan wajah lelah yang selama ini selalu berusaha tampil tegar di depan anak-anaknya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa besar beban yang ditanggung Ibu sendirian—menjaga suami yang sekarat, mengelola konflik dengan anak yang baru pulang, sekaligus menghadapi kenyataan pahit soal Denis yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan.

"Bu," bisik Kirana pelan, menggenggam tangan Ibu yang mulai terlelap karena obat penenang ringan yang diberikan dokter. "Maafkan aku kalau selama ini aku terlalu fokus pada amarahku sendiri, sampai tidak menyadari betapa lelahnya kau menanggung semua ini."

Ibu tidak menjawab, sudah terlelap dalam tidurnya, namun jari-jarinya sedikit meremas tangan Kirana, seolah merespons kehangatan yang disampaikan putrinya meski dalam kondisi setengah sadar. Kirana duduk di sana untuk beberapa waktu lebih lama, menemani ibunya beristirahat, menyadari bahwa penyembuhan keluarga ini bukan hanya soal menghadapi ancaman dari luar, tapi juga soal saling menjaga satu sama lain dari dalam.

---

*Bersambung ke Bab 16...*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!