Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Rumah besar di kawasan elit itu berdiri seperti raja yang menyendiri. Pagar besi tempa menjulang tinggi, menjaga setiap sudut halaman rumput yang terawat sempurna. Di mata masyarakat, keluarga Wijaya adalah definisi kesuksesan. Adrian Wijaya, pemilik Wijaya Corporation, sering muncul di sampul majalah bisnis dengan ekspresi datar dan tajam. Tidak banyak yang tahu bahwa di balik tatapan dingin itu, ada seorang suami yang menyimpan segelas susu hangat untuk istrinya setiap pagi dan seorang ayah yang rela begadang hanya untuk mendengar detak jantung anaknya yang baru lahir.
Rumah itu terlalu besar untuk dua orang, tetapi Adrian dan Elena Maharani Wijaya telah terbiasa dengan kesunyian yang menyelimuti ruang-ruang kosong. Elena sering berkata bahwa rumah ini terasa seperti museum, indah dipandang tetapi dingin untuk ditinggali. Adrian hanya tersenyum kecil mendengar keluhan istrinya, lalu berjanji bahwa suatu hari nanti, tangis bayi akan memecah kesunyian itu.
Dan tangis itu akhirnya datang pada suatu pagi di bulan Juni. Adeline Adrian Wijaya lahir dengan suara tangisan yang begitu nyaring, seolah gadis kecil itu ingin memberi tahu seluruh dunia bahwa dia telah tiba. Elena menangis bahagia ketika petugas medis meletakkan bayi mungil itu di dadanya. Adrian yang terkenal dingin di ruang rapat, terlihat kaku dan canggung saat pertama kali menggendong putrinya. Jari-jarinya yang terbiasa menandatangani kontrak miliaran rupiah itu gemetar halus saat menyentuh kulit lembut bayinya.
"Kamu akan menjadi wanita hebat," bisik Adrian pada bayinya, suaranya bergetar. "Ayah akan melindungimu dari apapun."
Adeline membuka matanya. Mata itu jernih dan dalam, seolah menyimpan sesuatu yang lebih tua dari usianya. Untuk sesaat, Adrian merasa gadis kecilnya menatap tepat ke dalam jiwanya. Perasaan aneh itu cepat sirna, digantikan oleh kebahagiaan yang membanjiri dadanya.
Hari-hari pertama Adeline di rumah besar itu seperti angin segar yang menerobos setiap ruangan. Elena yang dulu sering sendirian di ruang keluarga, kini selalu ditemani oleh suara rengekan dan aroma bedak bayi. Adrian yang terbiasa pulang larut malam, mendadak selalu berusaha pulang lebih awal. Dia ingin melihat putrinya tersenyum, ingin mendengar tawa kecil yang entah bagaimana mampu mencairkan kebekuan di hatinya.
Namun seiring berjalannya waktu, Elena mulai menyadari sesuatu yang aneh. Adeline bukanlah bayi yang biasa. Saat genap berusia satu tahun, gadis kecil itu sudah bisa mengucapkan beberapa kata. Tetapi kata-kata yang diucapkannya sering kali tidak terduga. Suatu sore, ketika seorang pembantu rumah tangga datang sambil tersenyum lebar, Adeline yang sedang digendong Elena tiba-tiba meronta dan menangis. Bayi itu menunjuk ke arah pembantu tersebut dan mengucapkan kata yang belum pernah dia ucapkan sebelumnya.
"Sakit."
Elena terdiam. Pembantu itu tertawa canggung dan berkata bahwa mungkin Adeline sedang tidak mood. Tetapi keesokan harinya, Elena mengetahui bahwa pembantu tersebut baru saja menerima kabar bahwa keluarganya di kampung terkena musibah. Wanita itu terus tersenyum selama bekerja, tetapi hatinya hancur. Elena menatap putrinya yang sedang tertidur dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bagaimana seorang bayi bisa merasakan kesedihan yang disembunyikan orang lain?
Adrian menganggap itu hanya kebetulan. "Kamu terlalu banyak membaca buku psikologi anak, Sayang," katanya sambil mengecup kening Elena. "Bayi sering menangis karena naluri, bukan karena mereka memahami perasaan orang dewasa."
Tetapi kejadian aneh terus berulang. Ketika Adeline berusia tiga tahun, kakeknya, William Wijaya, datang berkunjung. Pria tua yang merupakan pendiri Wijaya Corporation itu terlihat sehat dan penuh semangat. Dia menggendong Adeline dan tertawa keras saat cucunya bermain dengan kumisnya. Namun tiba-tiba, Adeline menghentikan tangannya. Gadis kecil itu menatap tajam ke arah kakeknya dan berkata dengan suara polos.
"Kakek sedih. Kakek takut."
William tersentak. Senyumnya langsung mengeras. Elena dan Adrian saling pandang dengan cemas. William selama ini dikenal sebagai pria tangguh yang tidak pernah menunjukkan kelemahan. Tetapi malam itu, ketika semua orang sudah tidur, Elena mendengar suara isak tangis dari kamar William. Pria tua itu menangis karena ketakutan akan kematian dan kerinduan pada istrinya yang sudah tiada.
Sejak saat itu, Elena tidak bisa lagi menganggap kemampuan putrinya sebagai kebetulan. Tetapi Adrian masih berusaha mencari penjelasan logis. "Mungkin Adeline sangat peka, seperti anak-anak pada umumnya. Mereka bisa membaca bahasa tubuh tanpa sadar," katanya suatu malam saat mereka berdua duduk di ruang keluarga. Elena hanya menggeleng. Dia tahu ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kepekaan biasa.
Adeline tumbuh menjadi gadis kecil yang manis dan penuh kasih sayang. Setiap pagi, dia akan berlari ke kamar orang tuanya dan memeluk erat leher Adrian. "Ayah, mimpi Adeline tadi indah," katanya sambil tertawa. Adrian akan mengacak-acak rambut putrinya dan merasa bahwa semua masalah di kantor lenyap seketika. Namun ada saat-saat tertentu di mana Elena melihat bayangan kecemasan melintas di mata Adeline. Gadis kecil itu akan diam tiba-tiba di tengah keramaian, lalu menatap ke arah orang-orang dengan tatapan yang terlalu dalam untuk seusianya.
Pada ulang tahun Adeline yang kelima, keluarga besar Wijaya berkumpul. Rumah besar itu penuh dengan tawa dan obrolan. Victor Wijaya, paman Adrian, datang bersama istrinya Marissa dan putra mereka Kevin. Victor tersenyum ramah sambil membawa kado besar untuk keponakannya. Dia menepuk punggung Adrian dan berkata bahwa bisnis keluarga akan semakin maju di bawah kepemimpinan mereka berdua. Marissa juga tak kalah manis, memuji Elena yang tetap cantik meskipun telah melahirkan.
Tetapi ketika Marissa mendekati Adeline untuk mencium pipinya, gadis kecil itu mundur selangkah. Adeline menatap Marissa dengan tatapan kosong, lalu menoleh ke arah ayahnya. "Tante Marissa tersenyum, tapi hatinya tidak suka dengan Ibu," kata Adeline dengan suara pelan tetapi cukup jelas untuk didengar oleh beberapa orang di dekatnya.
Suasana ruangan mendadak sunyi. Marissa tertawa kaku. "Astaga, anak kecil ini pandai sekali bercanda, ya. Pasti dia belajar dari ibu atau ayahnya." Victor ikut tertawa, tetapi rahangnya mengeras. Elena buru-buru meraih tangan Adeline dan membawanya ke dapur. Adrian mencoba mencairkan suasana dengan mengangkat gelas dan mengajak semua orang bersulang.
Di dapur, Elena berlutut di hadapan putrinya. "Sayang, kenapa kamu berkata seperti itu?" tanyanya lembut. Adeline menunduk, jari-jari kecilnya memainkan ujung gaun barunya. "Aku mendengar, Bu. Aku mendengar suara Tante Marissa di kepalanya. Dia memanggil Ibu dengan nama yang jahat. Dia ingin Ibu pergi dari rumah ini." Elena merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia memeluk putrinya erat dan berbisik bahwa semuanya baik-baik saja.
Setelah pesta usai dan semua tamu pulang, Adrian duduk di ruang kerjanya dengan kepala tertunduk. Dia mengingat semua kejadian aneh sejak Adeline lahir. Selama ini dia menganggap itu sebagai imajinasi liar atau kebetulan belaka. Tetapi malam ini, sesuatu yang berbeda terjadi. Untuk pertama kalinya, rasa tidak percayanya mulai retak. Dia menatap foto putrinya yang tersenyum di atas meja dan bertanya dalam hati.
Apa sebenarnya yang bisa kau dengar, Nak?
Pintu ruang kerja terbuka perlahan. Adeline masuk sambil membawa boneka beruang kesayangannya. Gadis kecil itu mendekati ayahnya dan menaiki pangkuan Adrian. "Ayah sedang pusing," katanya, sambil meletakkan tangan mungilnya di kening Adrian. "Adeline bisa dengar. Kepala Ayah penuh pertanyaan." Adrian tertegun. Dia menatap mata jernih putrinya dan merasa bahwa gadis kecil ini benar-benar bisa melihat ke dalam pikirannya.
"Ayah, apa yang Adeline dengar itu buruk?" tanya Adeline. "Apakah Ayah marah?" Adrian menggeleng cepat. Dia memeluk putrinya dan mengecup puncak kepalanya. "Tidak Sayang, Ayah tidak marah. Ayah hanya bingung. Tapi Ayah janji, Ayah akan selalu mendengarkanmu, apapun yang kamu katakan." Adeline tersenyum, senyum polos yang hanya dimiliki anak-anak seusianya.
Malam itu, ketika Adeline sudah tertidur di kamarnya, Adrian dan Elena duduk berdua di teras belakang. "Kita harus mencari bantuan, Adrian," kata Elena dengan suara serius. "Putri kita istimewa. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi dia benar-benar bisa mendengar sesuatu yang tidak bisa kita dengar. Jika kita tidak membantunya memahami hal ini, dia akan tumbuh dengan beban yang terlalu berat untuk seorang anak kecil."
Adrian menghela napas panjang. Dulu dia berpikir untuk melindungi putrinya dari dunia luar, tetapi sekarang dia menyadari bahwa dunia luar justru sedang mencoba menyakiti mereka. Victor dan Marissa, senyum mereka, tatapan mereka. Semuanya tampak begitu sempurna di permukaan, tetapi seberapa dalam kebencian yang mereka simpan? Dan bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa mengetahui semua itu?
"Aku akan mencari psikolog anak terbaik," jawab Adrian akhirnya. "Dan aku juga akan memanggil pengacara pribadi kita, Daniel. Jika apa yang dikatakan Adeline tentang Victor benar, maka kita sedang duduk di atas gunung api yang siap meletus." Elena menggenggam tangan suaminya erat. Mereka berdua menatap langit malam yang gelap, menyadari bahwa kehidupan sempurna yang selama ini mereka bangun mungkin hanya ilusi belaka.
Dan di kamarnya yang diterangi lampu tidur berbentuk bulan, Adeline terbangun sejenak. Gadis kecil itu menatap langit-langit kamarnya dan mendengar bisikan-bisikan dari seluruh penjuru rumah. Ada rasa takut yang datang dari kamar kakeknya. Ada iri yang merambat dari sebuah sudut gelap di lantai atas. Ada juga kepanikan pelan yang bersumber dari ruang kerja ayahnya.
Adeline memejamkan mata dan memeluk boneka beruangnya lebih erat. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya, tetapi satu hal yang dia tahu: rumah besar ini menyimpan banyak rahasia. Dan dia, gadis kecil manis yang baru berusia lima tahun, tampaknya menjadi satu-satunya orang yang bisa mendengar semua itu.
Akhirnya, kelelahan mengalahkan rasa cemasnya. Adeline tertidur dengan mimpi tentang taman bermain yang cerah, di mana semua hati orang berbunyi seperti musik yang indah. Dia tidak tahu bahwa esok hari, dunia orang dewasa akan mulai runtuh, dan dia akan menjadi pusat dari semua kekacauan itu.