Sebagai seorang wanita karir dengan gaji milyaran pertahun, Raisya tidak keberatan membantu keluarga suami nya.
Termasuk membiayai kebutuhan keluarga kakak ipar nya, serta biaya kuliah adik ipar nya. Bahkan semua kekuarga suami nya minta tinggal bersama di rumah nya, Raisya tidak keberatan.
Tapi saat Neta hamil di luar nikah, mertua nya meminta Raisya untuk mengadakan acara pernikahan mewah untuk putri nya.
Raisya menolak keinginan mertua nya, sehinga semua kebaikan Raisya selama ini langsung lenyap dalam waktu sekejap.
Mertua dan keluarga suami nya Raisya bahkan dengan tega membawa wanita lain sebagai calon madu untuk Raisya, agar dia mau menuruti keinginan mereka.
Raisya menolak dan memilih untuk berpisah, tapi malah Raisya yang di usir dari rumah nya sendiri.
Raisya tidak tinggal diam di tindas oleh suami dan keluarga nya, dia membalas semua nya dengan menghentikan semua bantuan keuangan yang selama ini dia berikan, dan dia mengusir mereka semua dari rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Alvin membaca surat itu, dia lalu tersenyum sinis pada Raisya.
"Aku tidak perduli jika kau dan Dimas akan berpisah, tapi aku pasti akan tetap tinggal di sini!" Alvin berkata sambil memamerkan seringai licik nya.
Raisya menoleh pada pak Rt, seakan memberi kode bahwa dia menyerahkan semua ini pada pak Rt.
"Pak Alvin, mbak Raisya dan Dimas akan segera berpisah. Sedangkan rumah ini murni milik Mbak Raisya, jadi pak Alvin beserta keluarga tidak bisa lagi tinggal di sini!" Pak Rt memberikan pengertian pada Alvin.
"Siapa kau berani mengatur ku hah?" Alvin membentak pak Rt.
"Saya adalah ketua Rt di lingkungan ini, jika pak Alvin tidak bisa di bilang secara baik - baik maka kami akan membawa masalah ini ke ramah hukum!" Seperti nya pak Rt mulai terpancing emosi dengan sikap nya Alvin.
"Kurang ajar, berani nya kalian mengancam ku!" Alvin berkata sambil menggebrak meja.
"Silahkan keluar dari rumah ku, karena rumah ini bukan lah tempat penampungan!" Raisya mengusir mereka dari rumah nya.
"Raisya, kami ini adalah saudara ipar mu. Kau tidak bisa memperlakukan kami seperti ini!" Cika ikut membela sang suami.
"Calon mantan ipar, ingat ya calon mantan bukan lagi ipar. Dengar ya, semenjak kalian membawa orang ketiga di dalam rumah tangga ku, semenjak itu pula aku mundur menjadi donatur kalian. Jadi silahkan pergi dari rumah ku!" Raisya menunjuk ke arah pintu keluar.
"Kami tidak akan pergi!" Jawab Alvin cepat.
"Baik lah, jika kalian tidak bisa di bilang baik - baik. Maka bersiap lah, kalian akan mendekam di dalam penjara malam ini!" Raisya berkata dengan tegas.
"Raisya, berani nya kau mengancam ku!" Ujar Alvin dengan geram.
"Pak Rt, malam ini kalian yang menjadi saksi nya bahwa mereka tidak may pergi dari rumah ku. Aku akan telepon polisi!" Ujar Raisya sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya.
"Tidak Raisya, kami akan pergi!" Tiba - tiba Alvin dengan cepat berkata.
"Bagus, cepat keluar!" Ujar Raisya sambil tersenyum.
"Awas kau Raisya, malam ini kami akan pergi dari sini. Tapi lain kali aku pastikan aku akan kembali lagi ke rumah ini, dan aku akan membuat perhitungan dengan mu!" Alvin berkata sambil memandang Raisya dengan tatapan tajam.
Tapi Raisya tidak takut sama sekali dengan ancaman Alvin, karena rumah ini memang milik nya. Alvin keluar dari rumah Raisya, sambil membawa koper milik mereka. Raisya pun akhir nya bisa bernafas dengan lega.
"Pak Rt, terima kasih banyak karena telah membantu saya!" Ucap Raisya pada pak Rt.
"Tidak papa Mbak Raisya, jika mereka datang lagi maka jangan segan untuk memberi tahu saya!" Jawab Pak Rt.
"Baik lah pak!" Jawab Raisya.
"Kami permisi mbak Raisya!" Pak Rt dan beberapa orang yang tadi datang bersama nya pamit pulang.
"Iya pak Rt, silahkan!" Ujar Raisya.
Setelah Raisya pergi, Raisya menjatuhkan bokong nya di sofa. Bi Lilis datang menghampiri nya sambil membawa segelas minuman dingin.
"Nyonya, mereka sudah pergi?" Tanya Bi Lilis.
"Sudah bi!" Jawab Raisya.
"Nyonya, kenapa mereka terus menganggu ketenangan kita?" Tanya bi Lilis.
"Karena uang bi, saat ini tidak ada lagi orang yang mau menanggung semua kebutuhan mereka!" Jelas Raisya.
Bi Lilis hanya bisa menggelengkan kepala nya, selama ini bi Lilis melihat sendiri bagai mana pengorbanan Raisya untuk mereka. Raisya lah yang memenuhi semua kebutuhan mereka, tapi mereka semua tidak pernah menghargai Raisya. Saat Raisya sudah tidak mau lagi menjadi donatur untuk mereka, baru lah mereka merasakan akibat nya.
Sementara itu, di jalanan yang masih cukup ramai, Alvin dan Cika sedang berjalan sambil menyeret koper mereka.
"Ma, Bela capek Ma!" Ujar gadis kecil itu.
"Sama Bela, Mama juga capek!" Jawab Cika.
"Pa, Bela udah gak kuat lagi buat berjalan!" Bela berkata pada Alvin.
"Ya udah kota cari kontrakan saja ya!" Ajak Alvin.
"Iya mas, aku pengen istirahat. Kaki ku pegel semua!" Ujar Cika.
Kebetulan sekali tidak jauh dari tempat itu ada sebuah lorong kecil, di. sana tertera tulisan bahwa ada kontrakan di dalam lorong itu.
"Ayo, di sana seperti nya ada kontrakan!" Ajak Alvin.
Tanpa banyak bicara lagi mereka segera memasuki lorong sempit itu, lorong yang hanya bisa di lalui oleh sebuah motor dan pejalan kaki saja. di ujung lorong, mereka bertemu dengan seorang wanita bertubuh gempal. Alvin bertanya pada nya tentang kontrakan yang di maksud.
"Bu, kata nya di daerah sini ada kontrakan ya?" Tanya Alvin.
"Oh iya mas, itu rumah lam saya sendiri. Dari pada kosong lebih baik saya kontrak kan saja, karena saat ini saya tinggal di rumah di ujung sana!" Jawab Wanita itu.
"Wah kebetulan banget bu, saya lagi cari kontrakan!" Alvin kembali berkata.
"Kalau begitu, ayo ikut saya!" Ajak wanita itu.
Alvin dan keluarga nya mengikuti langkah kaki perempuan itu, mereka menuju ke sebuah rumah kecil yang berada tidak jauh dari tempat itu. Rumah yang sangat sederhana, hanya ada satu kamar, ruang tamu dan juga dapur. Sumur dan kamar mandi nya ada di luar.
"Silahkan pak!" Wanita itu membuka pintu dan mempersilahkan Alvin masuk.
Cika mengikuti Alvin dari belakang, rumah ini sangat jauh dari ekspektasi nya.
"Berapa harga sewa rumah ini, bu?" Tanya Alvin.
"500 ribu perbulan, di luar biaya listrik. Untuk listrik nya itu ada meteran nya, silahkan di isi sesuai dengan keinginan kalian!" Wanita itu kembali berkata.
"Mas, yakin kita mau tinggal di sini?" Tanya Cika sambil berbisik di telinga nya Alvin.
"Kita tidak punya pilihan lain, kau mau kita tinggal di jalanan malam ini!" Jawab Alvin.
Cika mengerucutkan bibir nya, dia tidak menyangka bahwa nasib mereka akan seburuk ini. Alvin mengeluarkan uang yang tadi di berikan oleh Mama Rika pada nya, dia membayar untuk satu bulan penuh.
"Ini uang nya bu!" Alvin menyerahkan uang sejumlah 500 ribu rupiah.
"Baik lah, terima kasih ya. Semoga kalian betah!" Ucap wanita itu dengan mata berbinar karena menerima uang sewa rumah nya.
Wanita itu melenggang pergi meninggal kan Alvin dan Cika di dalam rumah itu, Bela duduk di bangku kayu yang sudah reyot.
"Mas, kenapa kita gak sewa hotel saja. Masa kita tinggal di tempat yang kumuh begini!" Omel Cika.
"Kau pikir uang kita banyak buat sewa hotel, udah lah ini hanya sementara. Aku akan paksa Dimas buat beli rumah untuk kita!" Alvin berkata pada Cika.
Cika tampak cemberut, di rumah ini tidak ada apa - apa selain perabotan yang usang. Cika yang sudah terbiasa hidup mewah di rumah Raisya, kaget dengan keadaan nya yang sekarang.
raisya ga ktmu sm jdohnya yg lbh baik????😁😁😁....
mksh crtanya kk....smnggttt....😘😘😘
skrng nkmti aja ksmbongn klian....
udh d usir sna sni,bntr lg jg d pcat....
mkanyaaa....hdp tu mst brsykur,jgn songong....😫😫😫