Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Di sudut paling redup Kafe Sudut Temu, Arka duduk menyerupai bayangan mematikan yang sengaja memisahkan diri dari peradaban.
Secangkir americano panas bersanding dengan Black Card di atas meja, namun matanya yang setajam elang itu tidak lepas dari pergerakan Alea.
Gadis itu mondar-mandir mengantar nampan, tersenyum paksa pada pelanggan rewel, dan mengomeli mesin pembuat espresso yang macet seolah benda mati itu punya telinga.
Bagi Arka, rutinitas ini sangat membosankan. Namun, melihat gadis absurd ini bertarung mati-matian demi recehan entah bagaimana memberikan hiburan yang lebih memuaskan daripada melihat musuh-musuhnya bertekuk lutut.
Ketenangan itu pecah ketika pintu kafe didorong dengan sangat kasar. Lonceng bergemerincing panik. Tiga pria berwajah preman dengan jaket kulit imitasi dan tato pudar melangkah masuk.
Bau alkohol murahan dan asap rokok seketika mencemari pendingin ruangan. Para pelanggan yang didominasi mahasiswa sontak menunduk, buru-buru memasukkan laptop mereka ke dalam tas.
"Heh! Mana bos kalian?! Udah tanggal lima, mana jatah keamanan kita?!" bentak preman paling depan, menggebrak meja kasir hingga mesin EDC terpelanting.
Bukannya gemetar atau menangis seperti pelayan normal, Alea justru membusungkan dada. Urat lehernya menegang, menatap nyalang ketiga pria berbadan besar itu dengan raut wajah penuh perhitungan kerugian.
"Keamanan mata lo peyang, Bang?!" sembur Alea dengan volume maksimal, mengabaikan fakta bahwa ia bisa saja dihabisi di tempat.
"Lagian semenjak abang-abang sering nongkrong di depan, spion motor driver ojol hilang! Terus helm bogo pelanggan juga ikut raib tiga hari yang lalu! Kalau mau minta jatah keamanan, minimal kasih garansi replacement barang hilang dong! Kerja kok nggak ada Standard Operating Procedure-nya sama sekali! Kalian preman apa debt collector magang, sih?!"
Wajah preman itu memerah padam karena dihina secara profesional oleh seorang pelayan kafe rendahan.
"Wah, nantangin nih cewek! Mulut lo belum pernah disekolahin, ya?!"
Tangan preman itu terangkat tinggi, bersiap menampar wajah Alea. Gadis itu refleks memejamkan mata. Otaknya dengan cepat mulai mengkalkulasi skenario terburuk. "Kalau rahang gue geser, biaya rontgen di rumah sakit bisa habis tujuh ratus ribu, belum termasuk obat anti-inflamasi... dan jika gue ngelawan mereka bisa-bisa properti di ruangan ini akan hancur lebur dan itu artinya pengeluaran bisa berkali-kali lipat lebih besar."
Namun, rasa sakit dan tagihan itu tidak pernah datang.
Sebaliknya yang terdengar malah bunyi tulang retak.
KRAK!
Suara yang sangat nyaring dan memuakkan, disusul jeritan melengking yang membuat bulu kuduk seluruh isi kafe berdiri tegak.
Alea gegas membuka matanya dengan cepat, hal yang pertama ia lihat adalah sosok Arka yang sudah berdiri tepat di sampingnya, seolah berteleportasi dari sudut ruangan.
Tangan kiri pemuda itu masih mencengkeram pergelangan tangan sang preman dengan sangat santai, seakan hanya mematahkan sebatang ranting kering.
Namun, sudut pergelangan tangan preman itu sudah berputar pada arah yang sama sekali menyalahi ilmu anatomi manusia.
Sorot mata Arka telah berubah menjadi palung laut yang gelap dan hampa. Hawa membunuh menguar begitu pekat, mencekik oksigen di dalam kafe. Dua preman di belakang mendadak lumpuh ketakutan, tak mampu menggerakkan kaki melihat iblis sungguhan yang kini berdiri melindungi mesin kasir tersebut.
"Jauhi tangan kotor lo darinya," bisik Arka pelan, suaranya sangat tenang namun membawa teror absolut yang menembus tulang.
"Gue paling benci... jika ada hama yang berani menyentuh orang yang gue lindungi."
Dengan satu sentakan kecil yang mematikan, Arka melempar preman bertubuh besar itu layaknya karung beras. Tubuh pria itu melayang dan menghantam rak display tumbler kafe.
Prang!
Bunyi benda-benda berjatuhan memecah keheningan. Menyadari mereka sedang berhadapan dengan malaikat maut, ketiga preman itu bangkit tertatih-tatih, berteriak panik, dan lari terbirit-birit keluar tanpa berani menoleh.
Arka merapikan lengan kemejanya yang sedikit berkedut. Lalu menoleh pada Alea, berekspektasi gadis itu akan menatapnya dengan kekaguman, atau setidaknya memeluk lengannya sambil gemetar karena syok.
Namun, Alea justru menatap lantai dengan horor yang sesungguhnya. Matanya terbelalak ngeri melihat kekacauan di bawah rak kayu tersebut.
"Tamat riwayat gue!!" jerit Alea histeris, menjambak rambutnya sendiri bak orang frustrasi.
"Itu tumbler merchandise kafe edisi terbatas! Harganya seratus lima puluh ribu per biji! Ada tiga yang pecah! Terus meja nomor empat?! Pelanggannya kabur belum bayar red velvet gara-gara takut sama lo! Total kerugian kafe ini enam ratus ribu, dan lo tahu siapa yang bakal disuruh potong gaji buat ganti semua ini?! GUE, BOS! GUE!!"
Arka membeku. Hawa membunuh di sekitarnya seketika menguap tanpa sisa, digantikan oleh keheningan yang luar biasa canggung.
Alea menuding tepat ke dada bidang Arka dengan jari telunjuk yang bergetar emosi.
"Mana Black Card lo! Cepat gesek enam ratus ribu di mesin ini, atau gue seret lo ke kantor polisi pakai pasal berlapis perusakan properti UMKM!"
Sang ketua klan mafia paling mematikan di dunia bawah tanah itu memejamkan mata sesaat, menelan ludah pelan. Untuk kesekian kalinya, iblis di dalam dirinya takluk total. Bukan oleh peluru, melainkan oleh perhitungan akuntansi brutal seorang pelayan kafe yang terancam potong gaji.
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂