Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.
Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.
Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.
Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.
Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
POV Dante Herrera
Cahaya keemasan aula besar markas Mafia menerangi setiap detail tempat yang sarat tradisi itu. Lampu-lampu gantung kristal raksasa memantul di atas marmer yang tak bercela, sementara para tetua menempati tempat mereka di meja utama.
Selama bertahun-tahun, orang-orang itu telah mengikuti perjalanan keluarga Herrera. Mereka menyaksikanku tumbuh, memikul tanggung jawab, memimpin negosiasi, dan menghadapi perang-perang yang hanya diketahui segelintir orang.
Tapi ada satu hal yang tak pernah berhenti mereka tuntut.
Sebuah pernikahan.
Seorang penerus bagi nama Herrera.
Seorang wanita di sisiku.
Dan malam itu, akhirnya, mereka akan memperoleh jawaban mereka.
Jantungku berdetak lebih cepat saat kulihat pintu-pintu aula terbuka.
Mary masuk di sisiku.
Ia bagai keluar dari sebuah mimpi.
Gaunnya mempertegas kecantikan alaminya, tapi kilau di matanyalah yang menawan perhatianku. Wanita yang dulu hidup di balik tembok sebuah biara kini melangkah dengan kepala tegak di hadapan salah satu organisasi paling berkuasa di negeri ini.
Dan ia tak menunjukkan rasa takut.
Sebaliknya.
Ia seolah memang pantas berada di tempat itu.
Kualihkan pandangan ke saudara-saudaraku.
Giovanni menjaga Bárbara di sisinya.
Kevin menggenggam tangan Graziela.
Dan bahkan Natália, yang bersikeras berpura-pura tak tersentuh apa pun, melangkah di samping Pietro yang tersenyum.
Aku tersenyum.
Mungkin inilah momen yang kami semua nantikan tanpa menyadarinya.
Aku berhenti di depan meja para tetua.
Keheningan menguasai aula.
Semua menanti kata-kataku.
Aku menarik napas dalam-dalam.
"Tuan-tuan... selama bertahun-tahun kalian menekan aku dan saudara-saudaraku soal pernikahan, ahli waris, dan masa depan keluarga Herrera."
Beberapa dari mereka saling bertukar tatapan geli.
Mereka tahu persis apa yang kubicarakan.
"Nah... kalian boleh berhenti mengeluh."
Beberapa tawa bergema di aula.
Kupandang Mary.
Ia tersenyum gugup.
Kugenggam tangannya dan aku melanjutkan,
"Karena di hadapan kalian berdiri para wanita yang kami pilih untuk berbagi hidup bersama kami."
Seluruh aula meledak dengan tepuk tangan.
Para tetua tersenyum puas.
Beberapa bahkan terharu.
Aku sepenuhnya berbalik menghadap Mary.
Saat itu juga, segala hal lainnya lenyap.
Tak ada para tetua.
Tak ada Mafia.
Tak ada dunia.
Hanya dia.
Wanita yang mengubah hidupku.
Wanita yang mengajariku bahwa aku bisa mencintai tanpa rasa takut.
Kubawa salah satu tanganku ke saku dalam jasku.
Mary membelalak.
"Dante..."
Aku tersenyum.
Lalu aku berlutut.
Seluruh aula menahan napas.
Kulihat air mata seketika muncul di matanya.
Kuambil kotak beludru kecil itu.
Kubuka.
Cincin itu berkilau di bawah cahaya aula.
Tapi tak lebih terang daripada dirinya.
Suaraku keluar sarat emosi.
"Mary Mendez... aku menemukanmu saat aku paling tak menyangka. Kamu membawa kedamaian bagi hati yang terbiasa dengan perang. Kamu membawa cahaya ke hari-hari yang gelap dan menunjukkan padaku bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada kekuasaan."
Air mata sudah mengalir di wajahnya.
Emosiku sendiri nyaris menguasaiku.
"Aku tak menjanjikan hidup yang sempurna. Tapi aku berjanji kamu tak akan pernah menghadapi apa pun sendirian. Aku berjanji akan mencintaimu, menghormatimu, melindungimu, dan berjalan di sisimu setiap hari dalam hidupku."
Kugenggam tangannya.
"Mary... maukah kamu menikah denganku?"
Ia membawa tangan bebasnya ke mulut, berusaha menahan tangis.
Tapi gagal.
Air mata jatuh tak terkendali.
"Ya..."
Suaranya keluar lirih.
Lalu ia tertawa dan menangis di saat bersamaan.
"Ya! Aku mau!"
Aula meledak dengan tepuk tangan.
Aku cepat-cepat berdiri dan menariknya ke dalam pelukanku.
Mary melingkarkan lengan di leherku dan menciumku.
Ciuman yang penuh cinta.
Penuh kerinduan.
Penuh janji.
Penuh masa depan.
Ketika kami menjauh, kusematkan cincin itu di jarinya.
Ia memandangi perhiasan itu beberapa detik sebelum kembali memelukku.
Di samping kami, Giovanni memberanikan diri dan turut berlutut di hadapan Bárbara.
Untuk pertama kalinya, wanita paling keras kepala yang pernah kukenal itu kehilangan kata-kata.
Ketika ia menerima, sambil menangis dan tertawa di saat bersamaan, Giovanni tampak menjadi pria paling bahagia sedunia.
Tak lama kemudian giliran Kevin.
Saat melamar Graziela, suaranya berulang kali tersendat karena haru.
Dan ketika Graziela berkata "ya", ia langsung memeluknya erat, tak mampu menyembunyikan air matanya.
Tepuk tangan bergema di seluruh aula.
Consuelo menyeka matanya diam-diam.
Ia mengamati setiap anaknya dengan bangga.
Suaminya menggenggam tangannya sambil tersenyum.
Keluarga Herrera akhirnya lengkap.
Para tetua berdiri sebagai tanda hormat.
Yang tertua di antara mereka mengangkat gelasnya.
"Untuk para Herrera dan para wanita yang telah menaklukkan hati mereka."
Semua mengangkat gelas mereka.
"Untuk para calon pengantin!"
Bersulang itu diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai.
Sementara aku mendekap Mary ke dadaku, aku menyadari sesuatu yang tak pernah kubayangkan akan kurasakan.
Kedamaian.
Setelah bertahun-tahun bertempur, kehilangan, dan memikul tanggung jawab, akhirnya aku menemukan rumahku.
Dan rumah itu bukan sebuah mansion.
Bukan sebuah imperium.
Bukan Mafia.
Rumahku ada dalam pelukan wanita yang kini mengenakan cincinku di jarinya dan menempati ruang abadi di hatiku.
Sementara Giovanni dan Kevin merayakan pertunangan mereka, tepuk tangan terus bergema di seluruh aula. Para tetua puas, dan suasana yang biasanya diwarnai formalitas dan keseriusan kini digantikan oleh kegembiraan yang tulus.
Lalu beberapa pasang mata beralih ke satu-satunya dari keempat sahabat yang belum mengenakan cincin pertunangan.
Natália.
Ia tampak begitu anggun, melangkah di samping Pietro, mempertahankan sikap tegar seperti biasa. Yang tak banyak disadari orang adalah bahwa, di balik semua ketenangan itu, ia sangat tak nyaman dengan perhatian mendadak itu.
Salah satu tetua tersenyum.
"Dan kamu, Nona Natália? Berniat membiarkan pemuda ini menderita lama-lama?"
Aula pecah dalam gelak tawa.
Natália seketika memutar bola matanya.
"Sudah kuduga aku harusnya tetap di biara saja."
Tawa kembali bermunculan.
Pietro membawa salah satu tangannya ke dada, berpura-pura tersinggung.
"Lihat, kan? Beginilah yang kuhadapi setiap hari."
"Drama. Banyak drama," sahut Natália.
"Aku menyebutnya cinta bertepuk sebelah tangan."
"Aku menyebutnya kesabaran tanpa batas dari pihakku."
Para tamu terhibur mengamati keduanya.
Sejak mereka berkenalan, Pietro tampaknya menjadi salah satu dari sedikit orang yang mampu menghadapi Natália tanpa takut pada balasan-balasan tajamnya.
Dan, diam-diam, Natália menyukai hal itu.
Lalu Pietro menggenggam tangannya.
Kali ini, senyum jenakanya berganti dengan tatapan yang tulus.
Tatapan yang membuat Natália kehilangan balasan berikutnya.
"Natália..."
Natália menatapnya.
"Apa?"
"Terima kasih."
Natália mengernyit.
"Terima kasih untuk apa?"
"Karena kamu ada."
Jawaban itu menangkapnya tak siap.
Untuk pertama kalinya malam itu, Natália kehilangan kata-kata.
Pietro melanjutkan,
"Kamu kuat, keras kepala, kadang mustahil dihadapi..."
"Kadang?"
"Baiklah... hampir selalu."
Aula kembali tertawa.
Bahkan Natália akhirnya tersenyum.
"Tapi kamu juga setia, berani, dan punya hati yang jauh lebih besar daripada yang kamu tunjukkan pada orang lain."
Senyum Natália memudar.
Kata-kata itu tulus.
Sungguh tulus.
Pietro membawa tangan Natália ke bibirnya dan mengecupnya lembut.
"Aku tidak buru-buru. Aku bisa menunggu selama yang diperlukan."
Mata Natália berbinar.
Ia bukan wanita yang mudah menunjukkan emosi.
Tapi saat itu ia merasakan sesuatu menghangatkan hatinya.
Sesuatu yang menakutkan sekaligus menenangkannya.
Ia mengeratkan genggaman pada tangan Pietro.
"Aku masih belum akan memberimu cincin untuk kamu pamer-pamerkan."
"Jadi masih ada harapan?"
"Mungkin."
"Mungkin?"
"Pietro, jangan merusak momennya."
Pietro tersenyum.
"Berarti suatu hari aku boleh melamarmu?"
Natália berpura-pura berpikir beberapa detik.
"Bertahan hiduplah sampai saat itu, dan kita lihat nanti."
Gelak tawa serempak menguasai aula.
Pietro mendekat dan mencium kening Natália dengan sayang.
Dan, untuk pertama kalinya dalam sekian lama, Natália membiarkan dirinya sekadar menikmati momen itu.
Di samping para sahabatnya.
Di samping keluarga yang telah mereka temukan.
Dan di samping pria yang, sedikit demi sedikit, tengah menaklukkan ruang yang dulu ia bersumpah tak akan pernah ia serahkan kepada siapa pun.