Zaman baru di mulai setelah perang langit besar berakhir. Memusnahkan dua ras terkuat di tiga dunia , darah para dewa dan iblis mengotori dunia manusia. Di tengah tengah badai petir merah dan hujan darah , suara Isak tangis anak kecil pecah di antara puing puing patung dewa yang kepalanya telah patah. Ia bernama Shen Yan , membawa kekuatan kuno mata dewa yang berbahaya. Desas desus mengatakan "Jika mata dewa terbangun sepenuhnya maka dunia akan di lahirkan kembali atau membawa dunia dalam kehancuran".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elz., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Menarik Perhatian Semua Orang
Bab 16 : Menarik Perhatian Semua Orang
_________
Setelah menyelamatkan Gu xiyao dari luka lukanya , beberapa Tetua kembali ke panggung utama. Arena Naga yang telah pulih sepenuhnya akhirnya bisa di gunakan kembali untuk pertandingan selanjutnya.
"Pertandingan selanjutnya! Shen Yan dari Puncak Meditasi melawan Fa Tian dari Puncak Hukum!"
Stadion Arena Naga kembali bergemuruh , Fa Tian yang terkenal dingin tapi mematikan akan melawan kuda hitam dari Puncak Meditasi. Kedua peserta naik ke panggung Arena Naga bersama sama.
"Adik , jaga dirimu!" ucap Fa Tian.
"Baik , aku juga tidak akan menahan diri!" jawab Shen Yan.
"Dung Dung Dung Dung Dung"
"Jaring Hukum Langit!" teriak Fa Tian.
Ia benar benar tidak menganggap remeh Shen Yan , ia langsung mengeluarkan Jaring Hukum Langit atau Gui Ze Tian Wang untuk membuka serangannya. Shen Yan terus bergerak menghindari Jaring Hukum Fa Tian yang terus memaksanya tunduk. Itu cukup merepotkan jika itu terus terjadi , dengan cepat Shen Yan mundur lalu menyabut Tian Zhan miliknya melawan balik.
"Po Wan Fa!"
Shen Yan balik menyerang , ia mengeluarkan teknik penghancur 10.000 hukum. Itu membuat Tetua Gui Ze Zun dari Puncak Hukum menyipitkan matanya.
"Anak ini punya banyak teknik pedang! Kenapa ia justru tinggal di Puncak Meditasi!" ucap Tetua Gui Ze Zun.
"Kau benar , Tetua Gui! Sebelumnya anak ini juga melawan muridku Qin Yun dengan teknik perusak teknik lain seperti ini!" ujar Tetua Jin Wanshang.
Leluhur Wu Chen tersenyum , lalu ia melontarkan pujian kepada Ming Yue karena memiliki murid yang berbakat.
"Boom"
Ledakan keras terdengar akibat bentrokan teknik kedua pemuda di bawah. Fa Tian meringis menahan nyeri di tubuhnya , ia tak menyangka ia menderita kerugian di awal serangan. Sementara itu Shen Yan terlihat terbang mundur ke belakang.
"Kau memang hebat! Aku akan serius kali ini!" teriak Fa Tian.
Ia lalu melemparkan Mistar emas miliknya ke udara , 9 karakter emas muncul dari permukaannya.
"9 Bab Hukum Langit!"
Karakter emas itu terbang ke segala arah , satu karakter merupakan satu serangan hukum yang kejam. Karakter pertama , langit mulai mendung. Dari tengahnya lalu muncul pusaran emas yang penuh dengan petir menggelegar.
"Duar!"
Sambaran petir emas hampir menghancurkan tubuh Shen Yan jika ia tak menahannya dengan Tian Zhan. Ia melompat mundur , tangannya sedikit mati rasa. Ia berpikir cepat , jika ia tak melakukan perlawanan maka tamat sudah riwayatnya.
"Wu Ming Yi Jian!" teriak Shen Yan.
Pedang Tian Zhan melepas satu segelnya menjadi artefak tingkat suci dalam sekejap. Itu cukup menarik perhatian para Tetua bahkan Leluhur Wu Chen.
"Pedangnya!" ucap Tetua Jian.
Semua orang yang bermata tajam akan menyadari keanehan pusaka yang di miliki oleh Shen Yan. Tekanan yang di berikan tiba tiba berubah dalam sekejap. Shen Yan mengayunkan Tian Zhan lurus dari bawah ke atas menciptakan tebasan pedang setinggi 20 meter menyerang mistar emas Fa Tian.
"Krek"
Mata Fa Tian terbelalak , ia terkejut karena ia tahu Mistar emas miliknya mengeluarkan suara nyaring.
"Patah?? Tidak mungkin!" teriaknya.
Fa Tian merasakan Mistar emas nya gemetar ketakutan di depan Pernah Tian Zhan milik Shen Yan. Ia lalu dengan cepat menariknya kembali. Ia melompat mundur dengan nafas tidak teratur.
"Maaf! Aku menang!" gumam Shen Yan.
Tubuhnya berkedip , Shen Yan melesat maju , hanya bayangan merah yang terlihat saat Shen Yan berniat menghajar tubuh Fa Tian. Dan sesuatu yang membuat semua orang terkejut datang dari mulut Fa Tian.
"Aku menyerah!" ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya.
Shen Yan segera berhenti dengan cengkeraman tangan yang hampir menyentuh leher Fa Tian dengan kejam. Pemandangan itu membuat seisi stadion hening , tanpa suara.
"Aku menyerah! Kau memang hebat , Shen Yan! Aku mengaku kalah!" ujar Fa Tian.
Seluruh penonton kembali bergemuruh dan bertepuk tangan mengakui keberanian Fa Tian yang mengaku kalah di depan banyak mata manusia. Semua orang memang tahu pertandingan itu tidak bisa ia menangkan setelah Mistar emas nya patah. Para Tetua juga menganggap itu adalah keputusan yang benar.
"Pemenangnya ! Shen Yan dari Puncak Meditasi!"
Tepuk tangan yang meriah menggema di seluruh area stadion. Para tetua memuji kemampuan murid baru Puncak Meditasi dengan berdiri memberi pengakuan. Ming Yue tersenyum puas melihat muridnya kembali membuat bangga puncaknya.
"Itu hampir saja!" gumam Shen Yan.
Ia berjalan turun dari Arena Naga dengan tenang , semua mata peserta kini tertuju kepadanya. Anak dengan ikat penutup mata , kuda hitam yang mengancam mereka secara diam diam.
Pertandingan berikutnya adalah Ye Chen dari Puncak Pedang melawan Fa Yan dari Puncak Hukum dan Wen Zhi dari Puncak Pengetahuan melawan Zhen Ling dari Puncak Formasi.
_________
Malam hari setelah pertandingan babak kedua usai , di Puncak Meditasi.
"Adik Yan! Penampilan mu hari ini sangat bagus!"
"Kau kebanggaan kami!"
Beberapa teman Shen Yan memujinya , merayakannya hingga larut malam. Ming Yue hanya memandangi mereka dari kejauhan , ia telah lama tak merasakan kehangatan puncaknya seperti ini. Baginya kehadiran Shen Yan kali ini benar benar membuat suasana Puncak Meditasi menjadi hidup kembali.
"Ada yang datang! Siapa orang tua ini?" batin Shen Yan.
Shen Yan melihat dari balik penutup matanya , lelaki tua dengan rambut putih berdiri tenang sedang menatapnya dari jarak 100 Zhang.
"Kak , tubuhku terasa sakit! Aku harus beristirahat!" ucap Shen Yan.
Akhirnya mereka semua kembali ke kediamannya masing masing , Shen Yan berjalan cukup pelan kali ini. Ia bisa melihat dengan jelas orang tua misterius itu telah berada 50 Zhang dari dirinya dan terus mendekat.
"Kau sepertinya telah merasakan kehadiranku , anak muda?"
Suara serak dan berat terdengar di telinga Shen Yan hingga ia harus membalikkan tubuhnya. Orang tua itu ternyata telah berdiri di atas gerbang halaman kediaman Shen Yan tanpa menimbulkan kecurigaan siapapun bahkan Tetua Ming Yue sekalipun.
"Kakek , siapa kau sebenarnya? Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Shen Yan terlihat polos.
Orang tua berambut putih itu tertawa pelan , ia lalu melangkah menapaki udara dan turun dengan ekspresi tersenyum. Ia lalu memperkenalkan dirinya dengan sebutan Kakek Chen.
"Kakek Chen bisa berada disini dengan leluasa , anda pasti salah satu Tetua Puncak?"
Mendengar ucapan Shen Yan , orang tua itu hanya tertawa kecil. Ia menggelengkan kepalanya pelan , lalu mengelus jenggotnya. Kemudian ia berjalan menghampiri Shen Yan dengan santai.
"Orang tua ini kemampuannya sangat tinggi! Apakah dia pemimpin Puncak Terang?" batin Shen Yan.
"Kau jangan takut , aku tidak akan menyakitimu! Aku hanya sedang berjalan jalan dan tak sengaja melihatmu sedang bersantai!" ujar Kakek Chen yang ternyata adalah Leluhur Wu Chen.
"Hormat Leluhur!" ucap Shen Yan yang akhirnya bisa menebak siapa orang tua di hadapannya kini. Ia menangkupkan kedua tangannya kepada Leluhur Wu Chen dengan hormat.
"Aku sedang berjalan jalan , kau tidak perlu bersikap formal seperti itu! Kau bisa memanggilku kakek Chen , jika kau mau!" ucap Leluhur Wu Chen.
Kejadian ini sangat tidak biasa , karena selama ini Leluhur Wu Chen adalah keberadaan yang sangat tertutup dan misterius. Jika malam ini ia bisa berjalan jalan menemui seseorang , itu berarti ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
_________